Cerpen

Gerimis Ungu dan Perempuan Bersyal Biru

January 18, 2022

Cerpen Afri Meldam

Saya suka berjalan-jalan, terlebih pada waktu sore dan malam hari. Biasanya, sehabis mengguyur tubuh dengan air hangat yang disediakan Imah, saya segera bersiap-siap: memakai beberapa lapis baju yang kemudian saya padankan dengan sepotong syal dan sweater. Tak lupa pula—di dalam kantong sweater—saya selipkan beberapa batang rokok, sekadar pengusir dingin dan serangan nyamuk.

Malam ini saya akan ke pelabuhan. Katanya, malam ini, ada pasar malam di sana. Tentu orang-orang akan ramai berkunjung. Siapa tahu, di sana saya akan kembali bertemu dengan perempuan bersyal biru itu…

***

Perempuan bersyal biru itu selalu hadir dalam setiap mimpi saya.

Saya bertemu pertama kali dengannya secara tidak sengaja di sebuah pesta taman, setahun yang lalu. Layaknya sebuah pesta, undangan yang hadir umumnya mempunyai pasangan masing-masing, kecuali saya. Saya hanya datang sendiri ke pesta itu. Sebentar saja, rasa bosan telah menguasai saya, sementara orang-orang asyik bercengkerama dengan pasangan masing-masing. Saya pun kemudian berniat untuk segera pulang. Namun, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada seorang perempuan cantik yang tengah duduk di sudut taman. Ia sendirian. Seketika pikiran saya berubah. Saya melangkah ke sana, menghampiri perempuan itu. Ia tersenyum. Saya berdebar.

“Sendiri?” tanya saya.

Ia mengangguk.

“Boleh saya temani?”

Ia kembali mengangguk.

“Boleh saya duduk di sini?”

Ia mengangguk lagi.

Aneh, kok perempuan ini tak membalas pertanyaan saya dengan kata-kata, hanya dengan sebuah anggukan? Begitu mahalkah suaranya? Atau, jangan-jangan perempuan cantik ini bisu?

Kali ini ia menggeleng. “Saya nggak bisu,” katanya santai.

Lho kok ia bisa mendengar kata hati saya?

“Kadang, kata hati lebih pantas didengar dan lebih objektif dibandingkan kata-kata yang terucap di bibir,” lanjutnya kemudian, menimpali pertanyaan yang tadi terlontar di hati saya.

Saya penasaran. Lalu saya berniat untuk bertanya padanya. Namun, baru saja saya akan buka mulut, ia segera mendahului: “Bukan. Saya bukan peramal.” Lalu ia tersenyum.

Untuk kesekian kalinya saya dibuat tak berkutik oleh perempuan cantik itu. Ia seolah mempunyai indra yang begitu tajam, yang bisa meraba segala kemungkinan yang bakal terjadi. Bahkan, kata-kata yang sebenarnya baru tersusun dalam otak, sudah mampu ia baca. Saya betul-betul kagum.

“Kopi?” Ia mencoba memecah hening di antara kami.

Saya mengangguk,”Ya, kopi pahit.”

Ia lantas memanggil pelayan pesta dan memesan dua cangkir kopi. Satu dengan gula, untuknya, dan yang satu lagi kopi pahit, untuk saya. Tak lama berselang, pesanan pun tiba. Dua cangkir kopi panas menjadi teman ngobrol kami malam itu. Percakapan pun terasa lebih akrab dan mengalir tenang. Ia bercerita panjang lebar tentang kehidupannya pada saya. Mulai dari ketika ia diterima bekerja di sebuah perusahaan asing hingga kisah cintanya dengan seorang pemuda yang berakhir dengan airmata: mereka berpisah karena kekasihnya menerima perjodohan dengan seorang peragawati dan meninggalkannya tanpa sepatah kata pun terucap.

Saya pun tak mau kalah. Saya ceritakan kepadanya tentang perjalanan hidup saya mulai dari saya kecil hingga tua seperti sekarang. Saya ceritakan juga kepadanya tentang bagaimana perasaan saya ketika berhasil meraih gelar doktor di salah satu universitas terkemuka di London, tentang kucing-kucing saya, juga tentang pembantu saya, si Imah yang pandai memasak dan membuat kue-kue enak.

“Bagaimana dengan anak dan istri Anda? Rasanya tak satu pun dari mereka yang Anda ceritakan kepada saya?”

Sudah saya tebak, ia pasti akan bertanya tentang hal itu pada saya.

“O..itu! Lain kali saja. Kalau kita bertemu lagi, akan saya ceritakan kepada Nona semuanya. Sepertinya malam sudah larut. Para undangan sudah banyak yang pulang, lihatlah!”

Ia memandang ke sekeliling, lalu mengangguk.

“Terima kasih, Anda telah menemani saya malam ini.” Ia menghabiskan sisa kopi di cangkirnya.

“Sayalah yang sepatutnya berterima kasih,” jawab saya sambil kemudian berdiri. Tiba-tiba, saya teringat satu hal: Siapakah nama perempuan cantik ini? Setelah sekian jam kami berbincang-bincang, tapi tak satu pun dari kami yang menyadari kalau kami belum saling mengenal satu sama lain. Tapi, sebelum saya berucap—seperti biasa—ia mendahului saya, ”Julia. Nama saya Julia,” katanya. “Dan Anda Pak Martin. Betul?”

Ya, tentu saja ia sudah tahu nama saya!

Malam itu terasa begitu mendebarkan. Dan saya pulang dengan langkah yang begitu bersemangat. Entah kenapa…

***

Saya tiba di pelabuhan ketika gerimis mulai turun. Pendar lampu jalan dan penerangan dari stan dan wahana pasar malam membuat gerimis tampak berwarna ungu.

Orang-orang sudah banyak yang berdatangan, berjubelan. Tua-muda berbaur dalam hiruk-pikuk pasar malam. Beberapa bocah tampak asyik menaiki komedi putar yang berada persis di tengah-tengah arena. Tidak jauh dari tempat itu, beberapa orang tampak asyik menonton aksi seorang pesulap yang berpakaian serba hitam. Pesulap itu menyuruh para penonton untuk memejamkan mata dan memikirkan sesuatu. Setelah itu, ia menebak apa yang ada dalam pikiran masing-masing penonton, satu per satu.

“….Anda yang berbaju merah memikirkan istri Anda yang Anda tinggalkan di rumah bersama mertua Anda. Kalau yang memakai kerudung abu-abu, Anda mengingat pacar Anda yang kini berada di perantauan. Dan, Anda yang berbaju hijau sedang membayangkan kemungkinan promosi jabatan yang sempat disinggung atasan Anda…”

Semua penonton bersorak-sorai, bertepuk tangan. Mereka tampak begitu takjub. Tumpukan uang melayang ke arah pesulap.

Tiba-tiba saya teringat seseorang. Perempuan cantik di pesta itu! Bukankah ia juga memiliki kemampuan seperti pesulap ini? Apakah mereka saling mengenal atau mereka pernah belajar di tempat yang sama, atau jangan-jangan  pesulap ini tak lain adalah perempuan cantik di pesta itu?

”Ya, Anda betul. Sayalah perempuan itu!”

Saya terlonjak kaget. Tiba-tiba, pesulap itu sudah berada di dekat saya. “Maaf, saya telah membuat Anda kaget,” tambahnya kemudian di tengah kecamuk dalam benak saya. “Oh, ya! Saya ingat satu hal. Dulu Anda berjanji untuk bercerita tentang keluarga Anda kepada saya, bukan? Anda masih ingat, kan, Pak Martin?”

“O…tentu! Tentu saya masih ingat,” balas saya gugup.

“Sepertinya gerimis makin deras. Ayo kita cari tempat berteduh. Saya sudah tidak sabar ingin mendengar cerita Anda!”

Ia menarik tangan saya dan membawa saya ke sebuah kafe yang terletak di bibir pantai.

“Anda mau makan apa, Pak Martin?” tanyanya ketika pelayan kafe datang membawakan daftar menu ke meja kami.

“Terserah Nona. Saya percaya, Nona tahu keinginan saya.”

“Baiklah kalau begitu,” ujarnya sembari menyebutkan menu yang kami pilih pada pelayan kafe. Ia memesan satu piring udang goreng saus padang, kentang rebus keju serta segelas jus nanas. Untuk saya dipesannya seporsi kakap panggang plus secangkir kopi pahit, persis seperti apa yang ada dalam pikiran saya.

Selesai makan, perempuan itu mendesak saya untuk bercerita. Entah kenapa ia kelihatan begitu bersemangat ingin mendengar cerita saya. Bukankah ia mampu membaca pikiran orang? Lalu kenapa ia tak mampu…

“Tidak semuanya. Ada hal-hal tertentu yang tak dapat dibaca. Ya, seperti cuaca. Kita tak mampu menebaknya dengan pasti, hanya menerka dengan segala keterbatasan kita,” tuturnya.

Setelah didesak-desak terus, akhirnya saya bercerita kepadanya…

Suatu sore, ketika saya berjalan-jalan di sebuah taman, saya bertemu dengan seorang perempuan bersyal biru. Ia duduk sendirian di sebuah bangku kayu di bawah persis di sebelah lampu taman. Saya datang menghampiri perempuan itu. Gerimis ungu turun.. Perempuan itu hanya diam. Saya mendekat. Tiba-tiba ia berdiri dan memegang tangan saya. Tanpa saya duga, perempuan bersyal biru itu mencium saya. Saya terkesima dan tak mampu berbuat apa-apa.

Sore berikutnya kami kembali bertemu di taman itu. Gerimis ungu juga turun seperti kemarin. Perempuan itu kembali mencium saya. Begitu juga pada sore berikutnya dan sore berikutnya lagi. Kami bertemu di taman itu dan ia selalu menyambut kehadiran saya dengan sebuah ciuman lembut. Akhirnya kami menikah. Hidup di bawah atap yang sama. Mempunyai anak. Lalu tiba-tiba saja penyakit bersarang di paru-parunya. Ia meninggal. Saya menjadi orangtua tunggal bagi anak-anak. Saya gagal mendidik mereka. Ketika mereka beranjak dewasa dan mempunyai kehidupan yang mapan, mereka membuang saya ke tempat ini. Begitulah…

Saya mengakhiri cerita saya sampai di situ. Hanya itu yang mampu saya ingat, tak lebih.

Perempuan itu menyeka air matanya. “Maaf, saya tidak bermaksud membuat Anda bersedih,” ujarnya menyesal.

“Tidak apa-apa”

Setelah itu kami lebih banyak diam. Hanya debur ombak yang sesekali memecah hening. Saya mengisap habis semua rokok yang tadi saya selipkan dalam saku sweater.

Kami meninggalkan kafe saat gerimis masih cukup lebat. Di tengah jalan, perempuan cantik itu berhenti. Ia memegang tangan saya. Tiba-tiba saja saya merasakan ada getaran hangat yang mengalir dari tubuhnya. Saya memejamkan mata. Perempuan itu mencium saya dengan lembut. Dan entah kenapa, saya baru sadar bahwa ada syal berwarna biru yang melilit di lehernya.

***

Malam ini, Imah melarang saya pergi jalan-jalan.

”Bapak sakit. Sebentar lagi dokter Jose datang. Tidurlah. Saya akan membuatkan kopi pahit buat Bapak,” bujuk Imah setelah mengompres kening saya dengan sehelai handuk kecil.

“Buatkan dua cangkir, Imah. Tapi yang satunya dengan gula. Saya akan menelepon dan meminta Julia datang ke sini.”

”Julia? Teman Bapak?”

Saya mengangguk. Setelah itu, Imah berlalu, meninggalkan saya seorang diri dalam kamar.

Ketika saya akan mengambil ponsel, terdengar seseorang mengetuk pintu. Saya bergegas ke sana. Seorang perempuan bersyal biru berdiri di sana.

“Julia!” Saya terkesima. “Anda betul-betul bisa membaca pikiran orang!”

Ia tersenyum, lalu mencium kening saya.

Dari jendela, saya lihat gerimis turun dengan lebat. Gerimis yang selalu berwarna ungu. ***

Simpang Haru, 28 0ktober 2005-Bekasi 2020


Afri Meldam, lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, “Hikayat Bujang Jilatang” terbit pada 2015. Noveletnya yang berjudul “Di Palung Terdalam Surga” bisa dibaca di Pitu Loka (2019). Sekarang bekerja sebagai guru BIPA di Jakarta.

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published.