Cerpen

Granky

October 29, 2019

Cerpen Win Han

Kucing jantan berbulu oranye itu mengeong-ngeong keras menyerupai gertakan. Cakarnya menggapai-gapai udara dengan bola mata bening mengilat tajam. Zain tidak pernah suka pada cara kucing tersebut bersikap. Ia membalas tatapan tajam kucing itu dengan tatapan tak kalah tajam, seolah-olah sepasang pedang mencuat dari mata mereka dan beradu di udara.

“Jangan begitu, Granky.” Nada menghampiri kucingnya, mengelus-elus, dan memintanya untuk menjaga sikap. Granky, kucing itu, bergeming. Udara dari saluran pernapasannya terasa panas. Ada bara yang belum padam di dada makhluk itu. Lelaki di sofa seberang—Zain—menyaksikan kucing di dekapan kekasihnya dengan dahi mengerut.

Miiiaaauuuwww.

Granky melompat dalam kecepatan kucing marah menuju sofa di seberangnya.

Sekuntum bunga plastik dalam pot keramik di atas meja tersenggol, mengguling ke lantai. Pot keramik pecah menjadi serpih-serpih runcing berceceran di lantai antara meja dan sofa. Erangan kecil memercik dari mulut Zain. Lengan kirinya tersayat dan berdarah. Tiga garis luka cakaran masih terlihat segar di lengan lelaki itu.

“Granky!” seru Nada dengan leher menegang. Ia mencengkeram leher tertutup bulu tebal Granky, mengangkat tinggi-tinggi kucing itu. Dengan langkah cepat, Nada membawanya ke halaman belakang dan melempar Granky seperti melempar buntalan sampah. Granky mendarat dalam posisi kaki agak tertekuk. Ia membisu. Nada meninggalkannya persis seperti meninggalkan sampah.

Di ruang tamu, Nada meminta maaf kepada Zain lantaran kelakuan buruk kucingnya. Dibarenginya permintaan maaf itu dengan hujatan-hujatan pada Granky—suatu hal yang tidak pernah Nada lakukan semenjak menerima Granky sebagai hadiah ulang tahun dari bibinya dan memeliharanya lima tahun silam.

Gadis muda berambut lurus panjang itu mengambil perban dan obat cair dari kotak obat di sisi pintu. Sambil meneteskan obat dan memasang perban ke lengan Zain, Nada kembali meminta maaf seakan-akan ia telah melakukan suatu dosa yang sangat besar.

“Sudah, lupakan saja. Tidak apa-apa, kok,” kata Zain. Jari-jemari Nada masih berkelana di lengan Zain. Zain melepaskan jari-jari itu dari lengannya, berganti menggenggam lengan Nada, erat. Seperti kucing jantan berahi, kepala Zain bergerak liar menuju muka Nada, menggeranyangi pipi dan bibir Nada dengan dengus napas panas dan gegas.

Dering telepon berkali-kali berbunyi dari ponsel di saku celana Zain. Sementara di halaman belakang, Granky menyisakan jejak kakinya di rerumputan hijau kering. Sebuah tembok setinggi bahu orang dewasa membatasi halaman belakang dengan jalanan. Seekor kucing baru saja meloncat ke luar tembok itu.

***

Telah tiga hari tiga malam Granky tak pulang ke rumah.

Nada sudah mencari Granky ke mana-mana, ke tempat-tempat yang biasa Granky pijaki, tetapi ia tetap tak menemukan kucing kesayangannya itu. Ia bahkan membayar salah seorang penjaga keamanan untuk berkeliling komplek mencari Granky, tapi hasilnya masih sama: nihil.

Sehari setelah menghilangnya Granky adalah jadwal rutin Nada memeriksakan Granky ke dokter hewan dan membeli pakan untuk satu bulan ke depan. Namun pada hari itu, Nada tidak ke dokter hewan. Ia hanya membeli pakan kucing di petshop dekat pasar. Pakan kucing itu masih penuh. Belum berkurang sedikit pun. Ia menatapi pakan kucing dalam bungkus plastik itu dengan masygul. Dengan penyesalan dan rasa marah pada diri sendiri terpanggul di pundaknya.

Nada merindukan bulu-bulu lebat nan lembut Granky yang biasa ia usap dan belai tiap hari. Tangannya terasa kering dan kurang tanpa menyentuh Granky. Ia tak pernah berpisah dengan Granky lebih dari satu hari. Dua tahun lalu, ketika acara perpisahan SMA yang mengharuskannya menginap beberapa hari, Nada turut membawa Granky bersamanya. Meskipun pihak sekolah melarang, ia tetap kukuh dan akhirnya diperbolehkan dengan syarat kucing itu tak membuat gangguan.

Ia merindukan suara ngeongan Granky. Suara manja yang biasanya terdengar lebih sering apabila waktu makan Granky tiba. Kucing itu akan pergi ke tempat di mana Nada berada, mengeong-ngeong, memandanginya dengan wajah memelas. Lalu Nada akan mengambil pakan kucing dari atas lemari dapur, menuang secukupnya ke mangkuk kecil, dan ia akan sangat bahagia melihat Granky makan dengan lahap. Sudah tiga hari momen itu tak terjadi. Tinggal sesal dan rindu bertengkar di ruang hati Nada.

Pada hari keempat, Nada menghubungi Zain melalui sambungan telepon. Ia meminta kekasihnya itu menemaninya mencari Granky ke tempat yang agak jauh, ke pusat kota dan keramaian. Ia berharap akan menemui Granky jika ia mencarinya sedikit lebih jauh. Dalam hatinya, Nada pun yakin Granky tidak akan pergi terlalu jauh. Sebelumnya, Granky pun memang tidak pernah pergi jauh—tidak kecuali bersamanya.

“Kenapa kamu masih peduliin kucing itu?” ketus suara di seberang telepon. Nada tahu Zain tidak menyukai Granky. Tetapi, ia ingin Zain tahu bahwa biar bagaimanapun ia dan Granky telah bersama sekian lama, jauh lebih lama daripada dirinya mengenal Zain—yang baru dikenalnya beberapa bulan belakangan. Ia tidak mungkin mengabaikan dan membenci Granky begitu saja.

Nada kecewa dengan tanggapan Zain yang acuh tak acuh. Namun ia juga tidak bisa memaksa lelaki itu untuk menuruti kemauannya. Terakhir kali Nada memaksakan sesuatu pada Zain, Zain marah-marah. Padahal waktu itu ia cuma ingin meminjam ponsel Zain sebentar. Nada menutup telepon tanpa mengatakan apa pun. Ia memandangi bungkus pakan kucing yang kini diletakkannya di atas meja. Memandangnya lamat-lamat seraya menghimpun ingatan-ingatan perihal Granky.

Nada akan mencari Granky seorang diri.

Bayangan Nada sudah memanjang di jalanan ketika ia meminta seorang tukang ojek langganan di gerbang komplek untuk mengantarnya. Ia akan berkunjung ke pusat kota, ke tempat-tempat yang hiruk.

Sepanjang perjalanan melewati gang komplek, kemudian keluar ke jalan besar, mata Nada tak henti bergerak-gerak menoleh ke kanan-kiri. Berharap sesosok kucing berbulu oranye tebal akan nampak. Tidak ada kucing berbulu oranye tebal di sisi jalan. Beberapa orang dan kucing memang berlintasan, tetapi mereka bukan berbulu oranye tebal—mereka bukan Granky.

Setibanya di pusat kota, mata Nada tetap tak bisa diam. Bukan hanya ke kanan dan kiri, kali ini Nada mengamati segala arah. Ke pedagang kaki lima, lalu lintas ramai, pos polisi, halaman-halaman ruko, dan sebuah restoran tempat ia biasa dinner bersama Zain. Restoran dengan beberapa meja di bagian luar itu terlihat sepi. Hanya ada beberapa pasangan lelaki-perempuan menempati meja berbentuk persegi panjang.

Nada merasa lapar dan ia memutuskan untuk memesan makanan terlebih dahulu di restoran itu sebelum melanjutkan pencarian Granky. Ia belum makan sejak pagi.

Tatkala kaki Nada selangkah lagi masuk ke pintu kaca restoran tersebut, sepasang lelaki-perempuan keluar dan menabraknya. Tubuh Nada terdorong ke belakang. Hampir terjatuh.

“Kalau jalan lihat-lihat dong!” bentak lelaki itu. Nada heran. Seharusnya ia yang lebih berhak mengatakan hal tersebut. Sebab ia sudah berjalan pelan dan tenang, namun lelaki-perempuan itulah yang tergesa saat keluar dari dalam restoran.

Mendengar suara bentakan lelaki itu, Nada tidak marah, ia hanya heran. Selebihnya biasa-biasa saja. Namun, begitu ia melihat wajah pemilik suara tersebut—yang masih menggenggam pergelangan tangan seorang perempuan berpenampilan seksi yang tak pernah Nada lihat—tubuhnya terasa beku. Lidahnya kelu. Sesuatu bergejolak dan membara di kedalaman dada Nada. Lelaki itu adalah Zain.

Nada seharusnya marah. Ia seharusnya menghardik lelaki itu, menampar, atau memukul-mukulnya dengan tas kecil di bahunya. Tetapi semua itu tak Nada lakukan. Ia membalikkan tubuhnya. Tidak jadi membeli makanan. Ia menuju ke tukang ojek yang masih menunggunya. Pergi melaju menjauh dari Zain dan perempuannya yang berdiri mematung dengan muka pucat dan tolol.

***

Di depan pintu rumah, suara tak asing yang beberapa hari tak Nada dengar menyambutnya. Suara ngeongan Granky. Entah sejak kapan, kucing itu sudah kembali ke rumah Nada. Begitu Nada datang, Granky dengan ekor panjangnya yang mekar segera menghampiri Nada, bergelung manja di sela tumit majikan sekaligus sahabatnya itu.

Selama perjalanan pulang tadi, perasaan Nada campur aduk antara marah-kecewa-sedih-dan-semacamnya. Saat ia sampai di rumah dan menemukan Granky kembali, ia seakan lupa pada apa yang sebelumnya terjadi dan kondisi perasaannya sendiri. Ia begitu gembira dengan kehadiran Granky yang telah berhari-hari dicarinya. Nada menggendong Granky, membawanya ke dalam rumah. Ia membuka bungkus pakan yang terletak di meja, menuang sedikit ke mangkuk kecil, dan membiarkan Granky menyantap pakannya. Sepertinya Granky lapar sekali. Kucing itu makan sangat lahap. Nada berbinar-binar menyaksikannya. (*)

Bandung, September 2018


Win Han, tinggal di Bandung. Menulis cerpen dan puisi. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Bisa dihubungi melalui surel: winhan11112018@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *