Cerpen

Hutan itu Berwarna Kelabu, Sayang

February 12, 2020

Cerpen Y Agusta Akhir

Vila itu masih vila yang dulu juga. Bahkan setelah tigapuluh tahun berlalu, rasanya tak ada yang berubah: warna cat yang kusam dan tak bergairah, yang dulu kau berkata, kalau kabutlah yang membuatnya seperti itu. Ada begitu banyak vila di sini, tapi entah kenapa, kala itu kau lebih memilih vila itu daripada yang lain, yang kupikir lebih bagus dari vila pilihanmu. ‘Vila yang terasing’. Begitulah kau menyebut, lantaran hanya bangunan itu yang berada di anak bukit sana itu; berbeda dengan vila-vila lain yang berjajar dan berhimpit satu sama lain di kanan dan kiri jalan . Dan kita tak pernah tahu, mengapa ada orang yang sengaja membangun vila di sana. Hari ini, aku datang sengaja mengenang kebersamaan kita di sini. Kau tahu, inilah kali pertama aku kembali datang ke sini, sejak kau menghilang entah kemana, yang sampai detik ini masih jadi misteri.   

Seolah kau baru saja pamit pergi beberapa waktu lalu, dan aku menunggumu di sini, di beranda vila yang menghadap hutan yang merenggutmu dariku itu. Dan tak bisa kusangkal, sepotong peristiwa itu berbondong-bondong menyerbu ingatanku yang sesungguhnya mulai merapuh ini. 

Hutan itu berwarna kelabu, bisikmu pada sebuah pagi yang masih berkabut, tigapuluh tahun lalu. Kala itu aku sedang mencoba mengakrabi dingin yang agaknya tak ingin bersahabat denganku. Kini, kau tahu, dingin kala itu kembali menyiksaku. Meremukkan tulang belulangku. Menyesakkan napasku.

Sungguh, kesunyian ini maha panjang. Jauh lebih menyiksa dari sekadar dingin yang membekukan darahku.

Hutan itu berwarna kelabu. Kalimat pendek di pagi buta, yang bahkan mendung masih menyembunyikan matahari (atau bersembunyi di balik cakrawala?). Semula aku mengira itu akan menjadi kalimat paling romantis untukku. Rupanya aku salah. Atau, akulah yang justru membuatnya jadi salah. Aku menyangkal apa yang kau katakan perihal hutan itu. Hutan yang menghampar di hadapan kita; seperti hanya beberapa jengkal dari beranda vila itu, tempat dimana kita sedang bercakap.

Apalagi, kalau sedang turun hujan. Itu kalimatmu yang berikutnya. Masih dengan suara berbisik; kukira hanya beberapa inci saja jarak bibirmu dengan daun telingaku. Bahkan, aroma parfum yang mulai samar di tubuhmu, masih bisa kubaui sampai saat ini. Ah, wangi yang kautabur sebelum akhirnya kita bercinta habis-habisan malam itu.

“Hujan itulah yang membuatnya bertambah kelabu, Sayang!” ucapmu lagi.    

Beberapa kali aku terbatuk sebelum kusangkal ucapanmu itu. “Aku bahkan tak bisa melihat hutan itu!”

“Ayolah, Sayang. Bukan waktunya bercanda. Atau kau sedang mengolokku? Mataku tak mungkin rabun!”

Kau memelukku dari belakang. Aku bisa merasakan bagian tubuhmu yang aku yakin berukuran sama dan proposional itu menekan punggungku. Tapi itu tak cukup penting untuk dipanjang-panjangkan di sini. Sejak awal, cerita ini tidak dibangun berdasarkan asas kemesuman. Kukira kau setuju itu.

“Kukira, aku ingin pergi ke sana,” bisikmu lagi.

Aku hanya bergeming. Kau mencium tengkukku. Bibirmu yang basah dan dingin, serupa sepotong es batu kristal yang menempel di belakang leherku. Dan mendung tiba-tiba tersibak. Perlahan-lahan cahaya matahari berpendar, menerobos sela-sela antara awan hitam dan putih, jatuh di atap-atap rumah yang tampak suram oleh suasana pagi yang entah kenapa, terasa sedikit muram. Cahaya itu, lalu sampai juga di ujung-ujung daun pepohonan hutan itu.

 “Lihatlah, hutan itu berwarna kelabu!” Kau bersorak, merenggangkan pelukanmu. Mengguncangkan bahuku, seolah memintaku untuk membenarkan apa yang sedang kau saksikan.

Hutan kelabu. Dalam hujan…

Kau bersenandung lirih. Aku masih mengingatnya dan di kemudian hari tahulah aku itu penggalan puisi Sapardi.

Sungguh, aku belum sepenuhnya mengerti; ada apa dengan hutan yang berwarna kelabu itu, sehingga bisa membuatmu bergitu gembira. Tentu saja, hutan itu berwarna kelabu, terutama saat matahari pagi menyiramkan sinarnya ke bumi, ke atas hutan itu. Dan itu sesuatu yang biasa. Warna kelabu itu, entah karena oleh kabut atau hal lainnya, bagiku bukanlah suatu yang istimewa. Tapi aku tak mengatakan itu padamu. Aku tak hendak memupus kegembiraanmu. Seperti biasanya, aku lebih baik diam yang kemudian kau artikan sebagai sikap persetujuan.

“Aku ingin pergi ke sana! Ayolah. Aku bukan perempuan konyol yang menginginkan seekor anak kucing seperti dalam cerita Hemingway, yang sudah kaubaca berulang-ulang itu! Aku hanya ingin pergi ke hutan itu. Kau kira, untuk apa kita berkunjung ke sini, hah?”

“Kita baru sampai tadi malam. Setidaknya kau bisa menundanya besok,” Akhirnya aku membuka suara juga. Datar saja.

Kau bersorak. Memutar tubuhku, lalu menghujaniku dengan ciuman yang bertubi-tubi. Padahal, seandainya kau tahu, aku sungguh berharap hujan datang malam nanti atau esok pagi, sehari penuh. Tapi nyatanya, harapanku tak terkabul.

Sepanjang hari itu, kita bersepakat tak kemana-mana, kecuali hanya untuk makan di warung seberang vila. Atau membeli Koran meski kita sudah membawa beberapa novel yang belum sempat terbaca. Sepanjang hari itu, kau tampak begitu sumringah dan bersemangat. Berulang-ulang kau melihat hutan itu. Kau juga banyak bercerita tentang hutan-hutan di belahan bumi yang pernah kau kunjungi atau pernah kaubaca entah di buku apa.

Kau bercerita tentang Schwarzwald, yang oleh orang Romawi dinamai Black Forest. Kau bercerita tentang Sherwood Forest, hutan tempat bersembunyinya Robin Hood dan Merry Man, katamu. Kau bercerita tentang Aokigahara, di utara dasar Gunung Fuji,Jepang. Hutan yang mengerikan. Hutan yang sangat gelap, dipenuhi gua-gua besar, pohon-pohon raksasa tapi tak memiliki margasatwa dan menjadi tempat bunuh diri. Kau, bercerita tentang Dark Entry Forest, hutan sangat lebat di Connecticut. Hutan yang menjadi sarang hantu-hantu. Kau juga bercerita tentang  Betung Kerihun, Lore Lindu, Arfak, dan hutan-hutan lain yang ada di negeri ini.

Sungguh kau ini, perempuan pencinta hutan. Kadang aku berpikir, kau yang gila atau aku yang gila karena telah mencintai perempuan sepertimu. Mendengar ceritamu saja, nyaliku sudah ciut. Lalu, keindahan macam apa yang bisa kaunikmati dari hutan-hutan yang menakutkan itu?

 “Menulislah cerita tentang hutan, Sayang!”  

  Kau membisikkannya usai kita bercinta untuk ke tiga kalinya di malam itu. Tapi segala minat seperti menguap kecuali tidur dan memimpikanmu. Tapi dalam tidur pun kau enggan hadir. Setidaknya untuk malam itu. Mungkin hutan kelabu itu telah mencurinya dari mimpiku.

Pagi berikutnya aku tak mendapati dirimu di sampingku. Aku tak mendapatimu di beranda vila. Aku juga tak mendapati dirimu di manapun di sekitar vila itu. Maka hutan yang kausebut kelabu itu satu-satunya tempat yang menyembunyikan keberadaanmu. Dan semakin jelas ketika kubaca tulisanmu di sehelai tisu yang kutemukan di atas lantai. Mungkin terjatuh. Mungkin semula kau menaruhnya di atas bantal.

Itu hutan yang sangat indah. Penghuni kamar sebelah memberitahukan padaku. Aku duluan. Kau begitu pulas. Tampaknya kecapaian. Maaf, semalam sebagai ungkapan rasa terimakasihku padamu.

Tapi aku tak menemukan jejakmu di hutan itu. Selain suara-suara asing yang membuatku gemetar, adalah hening yang mencekam. Kuteriakkan namamu, tapi hanya gaung yang menjelaskan ketiadaanmu. Suatu kali kau pernah berkelakar, hutan itu tempat yang begitu misteri. Kalau ingin aman, simpanlah rahasiamu di dalam hutan!

Itukah yang sedang kaulakukan?

Sampai sekarang aku tak kuasa menjawabnya selain hanya menganggapmu hilang. Hutan itu telah menelanmu. Dan kukira aku sedang membuat cerita tentang hutan, sebagaimana yang pernah kaubisikkan bertahun-tahun lalu.

***

Tigapuluh tahun berlalu. Hutan itu terbakar, entah sudah ke berapa kali sejak kau menghilang di sana. Hutan itu akan tumbuh, lalu dibakar atau terbakar. Tumbang atau ditebang lalu tumbuh lagi meski butuh waktu yang panjang untuk kembali seperti sedia kala. Tapi kau?

Tigapuluh tahun berlalu. Aku kembali ke vila ini. Vila yang dulu juga. Aku memandang ke hutan yang baru saja terbakar. Memang berwarna kelabu. Kali ini aku tahu, hutan itu kelabu oleh asap pepohonan yang terbakar.  

Hutan itu berwarna kelabu, Sayang. Aku bisa merasakan bulu-bulu lembut di tengkukku tiba-tiba meremang. Aku mencium wangi tubuhmu. Aku bisa merasakan kembali bagian tubuhmu yang kuyakini berukuran sama, proporsional, yang menekan lembut punggungku. Dan belakang leherku yang dingin seperti ada sebutir es kristal. Aku mendengar suara sendiri bergetar: menyebut namamu.*** 


Y Agusta Akhir, penikmat sastra dan aktif di komunitas sastra alit, Solo. Menulis puisi, cerpen dan novel. Beberapa karyanya berupa puisi dan cerpen pernah dimuat di harian joglosemar(Solo), Solopos (Solo), buletin sastra Pawon (Solo), antologi cerpen Waktu yang Bercerita dan Secabik jejak (Alit, Solo), antologi cerpen Joglo (TBJT Surakarta), dll. Novelnya yang berjudul Requiem Musim Gugur terpilih sebagai salah satu pemenang pada lomba Grasindo Publishers tahun 2013 dan Novel Kita Tak Pernah Tahu Kemanakah Burung-burung Itu Terbang menjadi juara III sayembara novel yang diadakan oleh UNSA Press tahun 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *