Cerpen

Ia Tak Ingin Dicintai

March 31, 2020

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Ia tidak ingin dicintai, katanya. Bukan sekadar tidak ingin, tapi lebih daripada itu, ia tidak segan-segan membunuh setiap lelaki yang nekat mengutarakan cinta kepadanya. Itulah sebabnya mengapa dirinya tidak pernah tinggal berlama-lama di suatu kota. Bahkan lebih gilanya lagi, pernah dalam satu tahun ia pindah tiga kali. Ti-ga ka-li. Bisa kaubayangkan? Berapa laki-laki yang mati konyol karena mencintainya pada setahun itu? Kau pasti terkejut apabila mendengarnya. Empat orang. Ya, bukan tiga, tetapi empat. Karena sebelum kepindahannya kali ketiga, ada dua pemuda yang berlomba-lomba mengungkapkan perasaan cinta kepadanya.

Alona, nama perempuan tersebut, berusia hampir tiga puluh. Namun, bila dilihat dari wajah dan penampilannya, maka siapa pun akan setuju dengan apa yang saya katakan, bahwa perempuan itu tampak lebih muda tujuh tahun dari usia yang sebenarnya. Kecantikannya memang tidak terlalu mencolok, tetapi, lelaki mana saja yang melihatnya pastilah merasa betah. Belum lagi jika lelaki itu sudah berinteraksi dan tahu bagaimana Alona bersikap, tentu laki-laki itu tidak akan pernah merasa bosan. Dan itu yang saya rasakan. Enggan beranjak darinya. “Sebaiknya engkau pulang sekarang, sebelum kau mulai mencintai saya, dan saya akan membunuhmu kemudian,” ujarnya mengingatkan–apabila saya sudah terlalu larut di apartemen mungilnya.

“Apa masalahnya bila dicintai?” tanya saya kesal.

“Masalahnya,” ia menggiring saya ke pintu keluar, “saya benci dicintai.” Alona sedikit mendorong–memastikan pintu itu tidak mengenai saya ketika ditutup.

“Kau terlalu takut, Alona!”

Usai meneriaki dan menudingnya sebagai makhluk aneh yang jelas-jelas menolak dicintai oleh siapa pun, seperti biasanya, saya melangkah dengan pikiran yang lumayan membingungkan. Begitu pula ketika berkendara menuju Danau Hefner, sepanjang perjalanan, saya memikirkannya–tentu dengan pikiran yang sedikit kacau. Baru kali ini, ada orang yang justru mengancam akan membunuh orang yang sampai nekat mengutarakan cinta kepadanya. “Sakit!” hardik saya–sembari melemparkan sebuah kerikil sekencang-kencangnya ke tengah-tengah danau.

Di sebuah bar yang cukup populer, di kawasan barat laut Oklahoma City, di sanalah saya pertama kali melihatnya–yang kemudian, beberapa hari berikutnya, saya berkenalan dengannya. Ia pelayan baru di bar tersebut. Saya tahu karena saya rutin berkunjung ke sana, hampir setiap petang. Jadi, saya hafal betul wajah-wajah mereka. Dan, yang menarik perhatian saya adalah senyuman Alona. Ia memiliki senyum yang sederhana, tapi tulus dan dalam–entahlah, agak sulit menjelaskannya, tetapi saya yakin, tidak banyak yang mempunyai senyum seperti itu, setidaknya di kota ini. Juga caranya melayani pelanggan; seperlunya, namun tetap ramah.

“Apa pekerjaanmu?”

“Saya penjual lukisan.”

“Penjual? Bukan pelukis?”

“Saya punya banyak kawan yang pintar melukis,” jawab saya sambil menyusuri jalan mengantarkannya pulang, “semoga itu cukup menjelaskan.”

Ia kembali tersenyum–bahkan tertawa kecil.

“Engkau sama sekali tidak bisa melukis?”

“Sebaiknya saya mengatakan tidak,” saya menoleh kepadanya, “daripada kritikus-kritikus itu membenci profesinya gara-gara melihat lukisan saya,” kali ini kami sama-sama tertawa.

“Jadi, dari negara bagian mana kau berasal? Utara? Selatan?”

“Bisa dari mana saja.”

“Biasanya tidak sesulit ini bagi saya untuk menebak seseorang,” saya menoleh lagi, “sepertinya kau telah menghilangkan aksenmu.”

“Mungkin karena sudah terlalu sering berpindah tempat,” ia menghentikan langkahnya sejenak, “sejak saya masih berusia delapan belas,” kemudian kembali meneruskan.

“Tenggara, benar?”

“Kau hampir saja benar,” jawabnya tanpa menoleh.

Lantas kami lanjut berjalan disertai obrolan-obrolan ringan–memperbincangkan hal-hal umum yang biasa diperbincangkan oleh orang-orang yang baru saja saling kenal. Hingga kami berada persis di depan apartemen mungilnya–ia menyewa sebuah kamar yang tidak jauh dari pintu darurat.

“Sepertinya saya akan sering menemanimu pulang,” seru saya sebelum ia masuk ke apartemennya.

“Asalkan kita berjalan kaki,” sahutnya singkat lalu tersenyum.

Kemudian saya bergegas kembali ke bar guna mengambil kendaraan yang tadi saya parkirkan di sana. Alona menolak menggunakan mobil. Ia lebih suka berjalan. Lagi pula, hanya memerlukan waktu dua puluh menit, tidak terlalu jauh, katanya.

Semenjak itu, saya mengubah jadwal berkunjung saya ke tempat tersebut. Tidak lagi petang hari, melainkan pada malam hari menjelang Alona bersiap-siap pulang. Dan, terkadang, saya datang ke apartemennya kala ia sedang tidak bekerja. “Saya berharap kau hanya bertujuan ingin berteman dengan saya,” ucapnya ketika tengah menyiapkan makan malam di dapur mininya.

“Apakah akan ada masalah jika saya menginginkan hal lain?”

Alona mengangguk, lalu tersenyum dan memandangi saya untuk beberapa saat sebelum melanjutkan meletakkan hidangan ke meja makan. “Masalah yang seperti apa?” tanya saya penasaran.

“Apa sebenarnya kau telah bersuami?”

Ia menyodorkan piring yang telah tersaji hot dog dan irisan kentang goreng di pinggirnya.

“Sebaiknya kita makan dulu.”

Saya mengambil makanan yang ia suguhkan. Dan, selama kami menikmati makan malam, saya semakin bertanya-tanya dalam hati–sementara Alona seolah-olah tidak memedulikan rasa penasaran yang kian menyelimuti saya.

“Jadi, ada apa sebenarnya? Masalah apa? Kenapa? Apakah ada sesuatu yang sangat serius yang saya lewatkan?” saya memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan begitu kami menyelesaikan makan malam.

“Jangan pernah mengatakan bahwa kau mencintai saya.”

“Kenapa?”

“Karena saya akan membunuhmu.”

“Kenapa?”

“Karena mencintai hanya akan memberikan penderitaan bagi orang-orang yang ada di sekitar seseorang yang dicintainya.”

Saya diam cukup lama. Melihat saya yang kebingungan, Alona kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya pernah terjadi. Ia menceritakan tentang masa lalunya. Tentang bagaimana ia dan kakaknya diabaikan oleh ibu mereka setelah dicintai seseorang. Pria itu sudah sejak lama menaruh perhatian kepada ibunya; semenjak ayah mereka meninggal dunia. Ia adalah pria yang sangat baik pada awalnya–sebelum akhirnya menjadi lelaki yang amat serakah. Lelaki itu lalu menguasai ibu mereka sepenuhnya. Mengajak ibu mereka pergi meninggalkan mereka setelah menikahinya. Padahal, Alona baru berusia sebelas tahun, dan kakaknya berusia tujuh belas.

“Meninggalkan kalian? Pergi begitu saja?”

“Ya, begitu saja. Dia dan laki-laki itu pergi ke Eropa.”

Hanya secarik kertas yang tergeletak di meja ruang tamu. Hanya itu–dengan satu kalimat yang teramat singkat: jaga diri kalian baik-baik, aku dan Mike akan tinggal di Eropa. “Dia pergi sebulan setelah pernikahan. Dan tak pernah kembali,” jelas Alona.

“Kau pernah mencari mereka?”

“Untuk apa? Mereka bisa berada di mana saja, Eropa terlalu luas. Dan, saya tidak punya waktu untuk itu,” jawabnya dingin.

Kemudian saya menatap ke arah lain. Kesedihan yang terpancar dari wajahnya terlampau dalam. Saya dapat merasakannya. Sebenarnya, saya pun mengalami hal serupa, kendati tidak setragis yang dialami Alona. Dulu, ketika seorang perempuan yang mencintai ayah saya berhasil masuk ke dalam kehidupan kami, saya juga merasakannya. Diabaikan. Ayah saya jadi lebih sering memerhatikan kekasihnya. Lebih peduli terhadap perempuan itu ketimbang saya. Dan, hal itu berlangsung cukup lama, hingga saya beranjak dewasa dan menjadi terbiasa dengan keadaan tersebut, sampai pada akhirnya sayalah yang meninggalkan mereka.

“Lima tahun kemudian, giliran kakak saya melakukan hal itu,” air mata Alona menetes, “dia dan suaminya pergi meninggalkan saya.”

“Meninggalkanmu sendirian?”

Alona tersenyum–getir.

“Hanya saja kota yang mereka tinggali masih bersebelahan.”

Lalu, ia mengusap air matanya dan berusaha tenang. Kemudian menyuruh saya untuk pulang. Sebelum pulang saya katakan kepadanya bahwa saya turut merasa prihatin. “Tidak perlu. Saya baik-baik saja. Saya hanya ingin memastikan kau tidak akan mencintai saya, terlebih mengutarakannya,” tegasnya. Saya mengiyakan–mengingat ketika itu ia mengatakannya dengan serius.

Malam-malam berikutnya Alona menjadi lebih terbuka kepada saya. Ia banyak bercerita ihwal para lelaki yang coba mendekatinya. Mencoba membuatnya jatuh cinta, namun percuma. “Sebab, pada akhirnya, kau membunuh mereka semua, iya, kan?” timpal saya.

Ia tertawa–seakan-akan hal itu menyenangkan.

“Sudah saya peringatkan sebelumnya,” ia teguk anggurnya, “jangan salahkan saya,” lalu meletakkan cawan tersebut dan meraih kotak rokok yang ada di sampingnya.

“Lantas, bagaimana caramu membunuh mereka semua?”

“Engkau sungguh ingin tahu?”

Saya mengangguk penuh semangat. “Bagaimana?”

“Setiap kali usai mengutarakan cintanya,” Alona berhenti sejenak, “saya akan membisiki mereka sesuatu.”

“Apa yang kaubisikkan?”

“Ma-ti-lah.”

“Lalu mereka mati?”

“Ya, tentu saja, mereka akan mati.”

Sulit rasanya memercayai apa yang ia katakan, tetapi Alona mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Ia tidak berbohong. Kemarin malam, ia melontarkan kata itu kepada saya. “Matilah!” Ia tidak berbisik; justru meneriaki saya–yang saya heran, mengapa ia melontarkan kata itu kepada saya sementara saya belum mengutarakan apa-apa kepadanya.

Dan, sore tadi, saya tidak melihat Alona di bar. Ia tidak masuk kerja. Saya mendatangi apartemennya, namun ia telah pergi. Menghilang begitu saja. Lantas saya kembali ke bar dan menghabiskan banyak minuman. Sekarang ini, yang ingin saya lakukan hanyalah menceburkan diri ke dasar danau ini–dan, seharusnya kau tak berada di sekitar sini, harusnya kau di sana, di dekat mercusuar sialan itu. ***


Abdullah Salim Dalimunthe, tinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *