Cerpen

IA

March 5, 2019

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Ia ingin mati sekali lagi, tapi tidak di sini, tidak dengan keadaan seperti ini. Ia lalu pergi–setelah menandaskan bir yang tinggal setengah. Menyisakan tanya yang kini bersarang di kepala saya. Ada banyak pertanyaan, tetapi, yang paling mengganggu adalah: siapa sebenarnya lelaki itu? Dan, apa tujuannya berkata seperti itu kepada saya? Saya tidak mengenalnya. Atau, lebih tepatnya, saya tidak mengenal orang-orang yang berada di sini. Tidak seorang pun.

Saya kerap melihatnya tiap-tiap datang kemari–maksud dari “tiap-tiap” di sini hanyalah beberapa kali, paling baru empat atau lima kali, karena saya memang belum lama akrab dengan tempat semacam ini, baru sekitar dua atau tiga minggu kemarin. Ia terbiasa duduk di bar stool paling ujung, dekat dengan dinding. Di situ cahaya tidak terlalu terang. Mirip dengan meja yang selalu saya pilih. Cukup remang. Di sudut yang berseberangan dengan sudut di mana laki-laki itu terbiasa menikmati minumannya. Hanya saja, di sini lebih hening dan cukup jauh dari konter bar. Saya tidak ingin tergoda untuk meminum lebih dari segelas koktail. Ya, segelas koktail dan dua atau tiga batang rokok untuk mendengarkan beberapa buah lagu yang diputar di tempat ini. Sekadar melepas penat usai bekerja. Dan, melupakan sejenak persoalan yang terjadi antara saya dan Bastian. Hubungan saya dengan tunangan saya itu tengah mengalami kemunduran. Saya merasa, hubungan kami saat ini menjadi renggang. Sangat renggang.

***

Ia memperhatikan saya sejak saya memasuki tempat ini. Saya bisa merasakannya di setiap langkah saya. Tatapannya seakan rekat pada saya. Bahkan, setelah berada di meja yang selalu saya pilih, laki-laki itu tetap menatap saya. Ia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Laki-laki itu bukan tipe lelaki yang beraninya cuma curi-curi pandang seperti lelaki yang banyak saya temui. Ia tipe pemburu. Tatapannya bagai tatapan seekor harimau lapar dengan ketenangan yang purna. Ia masih menatap. Saya mencoba untuk tidak memedulikannya. Lagi pula, saya merasa terganggu atas sikap dan ucapannya kemarin.

Masih terekam jelas dalam ingatan, bagaimana laki-laki itu menghampiri saya. “Boleh saya duduk di sini?” tanya lelaki itu dengan raut muka yang datar. Saya tidak menjawab; hanya membalas tatapannya. Namun, ternyata, laki-laki itu memiliki kesimpulannya sendiri dalam merespons tatapan saya. Dengan santai ia menarik kursi lalu duduk. Meneguk bir yang dibawanya, kemudian menyalakan sebatang rokok. Ia tidak berbicara sepatah kata pun. Cukup lama. Sesekali ia berangguk-angguk mengikuti irama lagu yang sedang diputar. Hingga sebatang rokok yang ia sesapi akhirnya kandas. “Saya ingin mati sekali lagi, tapi tidak di sini, tidak dengan keadaan seperti ini,” katanya, lalu pergi usai menandaskan bir yang tersisa di gelasnya.

Ia berdiri. Dari gelagatnya, saya bisa menebak, ia akan datang menghampiri saya seperti kemarin. Mungkin sebaiknya saya berterus terang saja kali ini. Saya akan bilang padanya: “Saya tidak butuh ditemani siapa-siapa.” Barangkali dengan begitu ia langsung mengurungkan niatnya untuk duduk semeja dengan saya. Dan, seandainya pun ia tetap memaksa, tidak sulit bagi saya untuk mengusirnya. Saya pikir di tempat ini, akan banyak laki-laki yang bersedia menolong saya. Dua atau tiga lelaki yang sedang berada di tempat ini cukup untuk menaklukkan otot kekar laki-laki itu dan melemparkannya ke luar sana.

 “Boleh saya duduk di sini?”

 “Maaf, saya tidak….”

 “Kau pasti ingin tahu.”

“Apa? Maaf, tahu soal apa? Apa yang ingin saya ketahui?”

Ia menarik kursi lalu duduk dengan cuek; membiarkan pertanyaan saya menguap begitu saja. Ia bahkan tak menghiraukan tatapan saya yang menuntut kejelasan dari perkataannya barusan. Di benak saya pertanyaan-pertanyaan itu kembali muncul: siapa sebenarnya lelaki ini? Apa maunya?

“Dulu, saya pernah mati, sekali,” ia berbicara dengan nada yang agak gusar.

Saya diam–mencoba bersikap tenang guna mendengar penuturannya. Ia menekuri gelas yang masih terisi penuh. Saya menunggu laki-laki itu meneruskan cerita. Hingga berpuluh-puluh detik kemudian, ia belum juga melanjutkan ceritanya. Seolah-olah sedang memikirkan sesuatu. Atau, boleh jadi, laki-laki itu tengah menanti reaksi saya terlebih dahulu. Kami pun terdiam selama berpuluh-puluh detik berikutnya. Dan, ponsel saya tiba-tiba berbunyi; sebuah pesan masuk.

Ia tampak gelisah. Jemarinya sibuk merogoh-rogoh saku kemeja.

“Rokok?”

Ia menolak sekotak rokok yang saya sodorkan. “Ini saja,” dengan cepat ia raih sebatang rokok yang masih menyala dan tergeletak di atas asbak–sebatang rokok yang saya letakkan tadi ketika hendak membalas pesan. Terpaksa saya cabut lagi sebatang kemudian menyalakannya.

“Bukan kematian itu yang saya sesalkan,” ujarnya seraya menatap saya, “karena setiap orang pasti akan mati.”

Ia menghentikan penuturannya sewaktu seorang pelayan mengantarkan pesanan. “Terima kasih,” sambut saya lantas berdehem ke pelayan tersebut. Saya menginginkan pelayan itu segera pergi–saya kurang nyaman dengan tatapan pelayan yang penuh tanda tanya itu.

“Seharusnya dia berterima kasih pada saya, bukan malah membunuh saya,” lanjutnya lagi setelah pelayan itu menjauh.

“Kau dibunuh? Kenapa?”

“Menurutmu apa yang menyebabkan seseorang ingin meledakkan kepala orang lain jika bukan karena cemburu?”

“Cemburu?”

“Ya, sejak dia menyadari saya dan kekasihnya itu saling menyukai.”

Mendadak saya tertawa. Bukan karena apa yang baru saja ia katakan, melainkan lebih dikarenakan laki-laki itu jadi terlihat lucu. Ia yang mengaku-aku pernah mati, dan kini ia mengomel karena kematiannya itu disebabkan oleh rasa cemburu orang lain? Ternyata penilaian saya kemarin salah, ia bukan seekor harimau. Ia cuma seekor anjing kurap yang coba-coba bermain dengan perasaan orang lain. Dan mengeluh selepas merasakan akibatnya.

“Saya bersungguh-sungguh,” laki-laki itu lebih mencondongkan badannya ke arah saya; seakan tidak terima dengan reaksi saya barusan, “seharusnya dia berterima kasih.”

Saya lalu diam–agar dirinya tak kehilangan selera untuk kembali bercerita.

“Karena saya telah membahagiakan perempuan yang dia cintai.”

“Dengan melukai perasaan dan harga dirinya?”

“Kenapa harus terluka? Bukankah saya melakukan sebuah kebaikan? Saya menyukai kekasihnya dan memberikan kesenangan buat kekasihnya itu. Apa itu salah? Seharusnya kaulihat betapa bergembiranya kekasihnya itu ketika saya mencumbuinya di sebuah kamar hotel. Perempuan itu menikmati setiap sentuhan yang saya berikan.”

“Hentikan! Kau terdengar menjijikkan.”

“Hei, ada apa denganmu? Kenapa kau begitu marah?”

Entah mengapa, tiba-tiba saya merasa menjadi sangat haus. Bergegas saya basahi kerongkongan saya dengan segelas koktail sampai habis. Kemudian saya memesannya segelas lagi.

“Padahal, saya hanya ingin menjelaskan, bahwa laki-laki itu harusnya berterima kasih kepada saya,” tukasnya lalu menyesapi rokok hingga tuntas.

Saya menggeram–wajah saya memanas.

“Setidaknya dia jadi tahu, kekasihnya itu tidak sesetia seperti apa yang kerap dia gembar-gemborkan pada orang-orang,” pungkasnya lantas berdiri dengan wajah kesal.

Ia beranjak meninggalkan saya yang juga merasa kesal. Bukan cuma kesal, bahkan muak. Bahkan lebih daripada itu; terlintas dalam pikiran saya untuk membunuhnya, kalau saja ia tidak segera lenyap dari penglihatan saya. Ia benar-benar lenyap setelah sebelumnya berubah menjadi segumpalan awan yang melayang-layang di udara dan lesap menerobos langit-langit. Saya tertegun beberapa saat sebelum akhirnya terkesiap tatkala pelayan tadi kembali meletakkan segelas koktail di meja saya. “Cepat tinggalkan meja ini!” bentak saya kepada pelayan itu.

Saya menenggelamkan muka pada kedua telapak tangan. Pikiran saya benar-benar kacau.

“Maaf, saya terlambat. Kamu sudah dari tadi di sini?” seorang perempuan duduk di hadapan saya. “Kamu tampak kusut. Kamu baik-baik saja?”

Perempuan itu Shasha, sahabat saya sejak lama–sejak kami sama-sama kuliah.

“Sepuluh tahun kenal sama kamu, saya baru tahu kamu suka ke tempat seperti ini.”

Ia mengamati sekeliling. Ia juga memperhatikan apa-apa yang ada di atas meja. Memandangi satu per satu: segelas bir yang tersisa setengah, segelas koktail yang telah kosong, dan, segelas koktail yang masih terisi penuh. Ia juga melihat ke arah asbak.

“Sejak kapan kamu merokok?”

“Belum lama.”

“Kamu lagi ada masalah?”

“Sepertinya begitu.”

Ia mengernyit, kemudian menatap saya cukup lama.

“Kamu ingin cerita?”

Saya menggeleng, lalu meraih wristlet. Ia menatap saya dengan heran.

“Kenapa?”

Saya tidak menjawab. Akan tetapi, demi mengurangi kecemasan Shasha, saya tersenyum. Kendati pikiran saya kembali sesak. Apalagi ketika indra pencium saya mengendus sesuatu yang sangat saya akrabi. Sesuatu yang selalu membuat saya bergairah. Sesuatu yang senantiasa saya ingat. Dan, sesuatu itu menguar dari tubuh Shasha. Saya tetap tersenyum. Perlahan-lahan tangan saya menyelinap masuk ke dalam wristlet. Membelai sebuah revolver yang terasa dingin di ujung jemari saya, sambil menimbang-nimbang apakah saya harus berterima kasih padanya, atau….

*******

Catatan:
Bar stool         : kursi berkaki tinggi
Wristlet           : tas berukuran kecil menyerupai dompet

Abdullah Salim Dalimunthe,tinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *