Cerpen

Insiden Martapura

September 29, 2020

Cerpen Han Gagas

Satu minggu setelah kota ini dikuasai Corona, gempa bumi menggulung rumah semua penduduk. Lori menyelamatkan diri dengan cara sembunyi di kolong meja. Nyawanya selamat, hanya kakinya nyaris lumpuh karena kena runtuhan balok rumah. Dengan usahanya sendiri sebisanya ia memulihkan luka itu walau hanya memakai obat-obatan terbatas yang kebetulan disimpan keluarganya.

Gagak berkerumun di setiap tonggak pohon yang tersisa. Langit nyaris kelabu setiap hari, mendung setiap waktu, malam tak ada bintang, udara menjadi dingin. Tak ada sinar matahari yang cukup bisa menerobos tebalnya mega-mega. Rumah-rumah yang telah kosong akibat kematian massal oleh corona membeku dalam kesunyian.

Lori menangis saat menyadari bahwa seluruh anggota keluarganya mati. Adiknya, Rara kena longsoran dan tertimbun rumah. Istrinya, Widuri juga mengalami nasib sama, termasuk kedua anaknya, Banu dan Margo. Ia nyaris bunuh diri, merasa sebatang kara, dan sejauh matanya memandang, tak ada lagi kehidupan yang terhampar di mukanya, selain dengung lalat dan kaok gagak yang memenuhi angkasa.

Tapi kehidupan berpihak padanya, sembari menyembuhkan diri sendiri, dan makan apa saja yang tersisa, ia mencoba bangkit. Lori mengayunkan satu kakinya, berjalan pincang menuju jalan. Ia tahu satu kakinya telah mati rasa, dan sadar bahwa tak ada orang di desanya yang selamat. Tak ada suara rintihan bahkan embusan napas dari binatang sekalipun.

Awalnya ia hendak meratap pada langit, namun saat langit pun terasa digulung mega hitam, ia menyadari bahwa alam tak sanggup melawan kekuatan gelap ini. Tampaknya hanya kekuatan gelap yang tega memporak-porandakan seluruh kehidupan.

Lori tak ingin percaya pada Tuhan, walau dulunya saat kehidupan masih normal sebelum corona mewabah, setiap pekan ia selalu sembahyang, namun melihat ini semua rasanya ia pilih tak punya iman. Iman tak bisa mencegah bencana menggulung kehidupan.

Martapura, Martapura, kampung yang semula indah menawan hingga mengundang banyak turis datang, kini seperti bak sampah yang dituangi isi comberan dan buangan limbah. Lori melangkah pincang dan saat badai debu beterbangan menutup pandangan, ia melihat sebuah lampu berkedip-kedip mendekat. Ia mencoba melambaikan tangan, walau lemah, pengemudi itu tahu ada setitik kehidupan di depannya. Lampu mobil menyala terang, dan sebelum badai debu menerjang masuk, ia membuka pintu, Lori meloncat masuk.

“Syukurlah kau selamat, Nak.”

Lori hanya mengangguk, memandang si pengemudi yang seperti ia kenal, namun lupa di mana mereka pernah bertemu.

“Kau lupa padaku?”

“Sesungguhnya kita kena apa?” Tak menjawab, Lori malah bertanya.

“Petaka, Nak. Petaka.”

“Tak adakah bantuan?”

“Virus, Nak. Tak baca beritakah kau, sebelum gempa bumi dan badai debu, virus menyebar lebih cepat.”

“Virus?”

“Ah kau, dasar lelaki tak kenal peradaban!”

“Sejak tiga bulan ini tak ada pasokan koran ke desa kami. Telepon telah lama dibuang karena tak ada sinyal, tak ada berita apa pun, yang kudengar dari seorang sejawat yang baru datang dari kota, negeri sedang genting, virus menyerang ganas. Kukira itu hanya khayalan, kau lihat sendiri, bukan perang yang menghancurkan kami, tapi si kutu kecil, kecil.”

“Iya, dan gempa.”

***

Kini Lori ingat, pengemudi itu teman ayahnya dahulu. Ia bernama Sukarta. Ayahnya sering bercerita tentang dia, lelaki bermoyang leluhur dari Jawa yang suka semadi, yang tak mengenal agama modern, yang selalu hidup dari satu kuburan ke kuburan lain, kuburan yang dikeramatkan penduduk lokal.

“Ia lelaki kuburan, tiap hari menggelandang berjalan dari satu makam ke makam lain, menolak tumpangan. Ia dituduh gila,” kata ayahnya suatu kali.          

Jamala, jamala sikile sèwu, jamala, jamala sikile sèwu,” Sembari menyetir Sukarta mengucapkan sesuatu.

“Bahasa apa kau ucap itu?”

“Jawa Kuno, dari negeri sebelum Majapahit berkuasa.”

“Bagaimana kau tahu virus bisa musnah karena mantra itu?”

“Dia tak bisa dimusnahkan, hanya saja aku masih ingin hidup, Nak. Bukankah kau juga begitu?”

“Artinya, mantra ini hanya semacam tolak bala?”

“Hmmm, semoga.”

Lori mencoba menirukan kata-kata itu. Lidahnya sempat selip karena sukar mengatakan sesuatu dari bahasa asing yang sama sekali belum ia kenal.

“Tenanglah, dan pelan-pelan,” ucap bibir si tua itu.

“Sing aama sing awulu, padha sira suminggaha, balia mring asalneki

Sukarta seperti bernyanyi, namun suaranya terdengar aneh, membuatnya seperti terisap ke alam lain, magis.

“Apa kau menyanyi?”

“Ini nembang, nak.”

“Bah, sulit sekali menirukannya!”

“Dalam keadaan yang kalut begini, hanya kesabaran dan ketenangan yang bisa menyelamatkan kita. Semua telah mati, kan?”

Kesadaran Lori seketika terisap. Hidup sehari-hari kecuali sepekan sekali yang ia harus bersembahyang, diisinya dengan mabuk. Lori heran kenapa orang seperti dia yang justru selamat, bukan istri atau adiknya, Rara yang saleh. Mereka rajin beribadah, melakukan pelayanan darma sosial, dan bermurah hati, sedang dia selain mabuk, juga suka main perempuan. Pelacur telah banyak ia tiduri. Namun anehnya wajah para pelacur itu tak satupun yang bisa ia ingat. Bahkan bayangan sosoknya sekali pun.

Kini yang terlihat justru puing-puing bangunan yang berserakan, tiang-tiang lampu kota yang ambruk, yang syukurnya kabel-kabelnya tak menghalangi jalan mobil mereka. Kawanan gagak terbang rendah dan melayang-layang di depan mereka. Jasad-jasad tubuh manusia dan hewan bergelimpangan. Bau busuk dan anyir telah menumpulkan penciumannya sejak lama.

Sukarta menaikkan semua kaca mobilnya hingga tertutup sempurna, namun anehnya bau busuk tetap menembus ke dalam mobil, tampaknya lewat berbagai lubang mesin dalam kap, dan menembus pori-pori karpet lantai di bodi mobil.

“Brakkkk!” Mereka tersentak kaget.

Tiba-tiba gagak-gagak mendekat dan sebagian menabrakkan dirinya ke kaca mobil, menciptakan secarik darah merah kental membercak di kaca. Untungnya tak menghalangi seluruh pandangan Sukarta buat menyetir. Setelah mengurangi gigi perseneling, ia menginjak pedal gas.

“Kita harus segera pergi meninggalkan tempat terkutuk ini.”

Perasaan Lori masih tercekat. Sukarta melihat wajahnya yang pucat macam mayat.

“Tenanglah, Nak. Perilaku mereka tambah aneh dan berbahaya, apalagi kalau malam, kelelawar lebih ganas, tetapi tenanglah.”

Jalan yang dipenuhi debu menghalangi pendangan, namun Sukarta seperti punya mata batin dan indera ke-6, selaksa kilat mobil melaju kencang.

Perbukitan sedikit terlihat di depan, dengan jalan berkelok-kelok dipenuhi hutan pinus yang kelabu. Daun-daunnya membercak putih terlengketi debu.

“Hendak ke mana kita?” tanya Lori.

“Ke makam di atas bukit.”

“Kuburan?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Hanya di sana tempat yang aman.”

“Kenapa?”

“Tempat itu diselubungi medan energi yang amat besar, ah kau tutup mulutlah.”

Martapura, Martapura, kini desa itu telah jauh di belakang mereka, meninggalkan kenangan yang menyumpal pahit di hati Lori. Rara, Widuri, Banu, dan Margo. Perasaan Lori gemetar hebat. Tanpa ia sadari matanya telah berkaca-kaca.

“Masih jauh perjalanan, tidurlah, kita akan sampai sana menjelang malam.”

***

Makam yang aneh. Sepanjang sepuluh meter. Di nisan tertulis Datuk Sanggul. Lori pernah mendengar nama ini. Seperti nama yang akrab dengannya tapi ia lupa menaruhnya di laci ingatan yang mana.

Kabut memenuhi seluruh hamparan makam yang diayomi Pohon Judas besar dengan jutaan daun-daun kecil yang berguguran kala ditiup angin. Berbeda sama sekali dari Martapura, area makam ini tampak kehijauan seperti terlindungi dari gempa. Benar apa yang dikatakan Sukarta, tak ada kerusakan sedikit pun, dan bahkan alam sekitar makam terlihat alami dan damai. Medan energi positif makam serasa menyebar ke sekitarnya. Seekor burung sendirian terbang berputar-putar di atas mereka, itu adalah elang yang putarannya seolah melakukan tawaf pada makam ini.

Sukarta duduk termangu, lalu ia tiba-tiba berdiri, membacakan sajak aneh yang terasa seperti nyanyian tembang dari bahasa antah berantah. Walau Lori tak mengerti artinya, bulu kuduknya berdiri, nyalinya tergelincir dari geming, suara itu menyatu dalam keheningan alam.

Teriak elang membahana, suaranya menghunus, memusar bersama desau angin. Dan angkasa tiba-tiba dipenuhi oleh titik-titik hitam. Jutaan titik-titik itu bergerak membesar, membentuk sesuatu yang mulai tampak mengerikan.

“Jangan gentar.”

Ternyata sajak itu telah selesai. Mulutnya menggetarkan kembali mantra yang aneh. Bibirnya komat-kamit, wiridan.

Jutaan titik-titik hitam itu ternyata ribuan kelelawar yang terbang dengan latar mega-mega yang menggumpal pekat dan hitam, tampak mengancam. Keserempakan itu seperti menatap nyalang ke arah mereka.

Tubuh Lori menggigil ketakutan.

Tanpa sepenuhnya Lori sadari, mulutnya mendaraskan segala doa yang masih bisa ia ingat. Hafalannya sejak kecil nyatanya tak bisa ia andalkan, banyak ayat-ayat yang terpotong, namun kali ini entah kenapa hatinya bergetar saat menyebut nama Tuhan.

Rara, Widuri, Banu, dan Margo. Mereka hadir seperti diturunkan begitu saja oleh Tuhan di hadapan Lori menjadi tameng yang aneh.

Sukarta meneriakkan kata-kata abstrak, seperti orang gila, ia berlari-lari memutari makam sembari menunjuk-nunjuk langit. Hawa terasa jadi begitu dingin, angin merajam tulang, dan rongga langit membesar, ada lubang hitam yang muncul dari dalamnya, menyedot apa saja.

Tiba-tiba Lori teringat wajah para pelacur itu, membayang jelas satu per satu di pelupuk matanya. Dosa membaur dalam pengakuan. Lelaki tua menyentuh bahunya, dan berkata, “Inilah saatnya.” Tangan keriputnya mendorong Lori hingga terjatuh.

Lori terduduk dan menitikkan air mata. Ia teringat sepuluh larangan dari Tuhan yang semuanya telah ia langgar.

Jutaan kelelawar menyebarkan jala hitam ke seluruh dunia. Lori tak berdaya.***


Han Gagas, penulis kumpulan cerpen Catatan Orang Gila (Gramedia Pustaka Utama, 2014), novel Orang-orang Gila (Buku Mojok, 2018), dan novel Jack dan Si Gila (Rua Aksara, 2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *