Cerpen

Jabik dan Hewan Kesayangannya

April 19, 2022

Cerpen karya Erwin Setia

Kau tidak bisa mencegah seseorang menyukai hewan tertentu, sekalipun hewan itu dianggap najis dan menjijikkan bagi kebanyakan orang. Demikianlah tidak ada yang kuasa mencegah Jabik untuk tidak menyukai tikus got melebihi kucing atau kelinci atau hewan apa pun yang lebih layak dicintai. “Apa hakmu melarangku mencintai sesama makhluk?” Lelaki ceking itu selalu berkilah seperti itu tiap kali teman atau keluarganya mencecar soal preferensinya yang ganjil. “Tapi hewan busuk itu bisa membawa penyakit, Bik.” Jabik membantah, “Siapa bilang, buktinya aku yang setiap saat bersamanya tidak terkena penyakit apa-apa.”

Perdebatan tidak pernah berakhir. Kini Jabik sudah genap dua bulan memelihara Andre—tikus got hitam pekat—dan tikus itu terus bertambah gemuk. Keresahan juga menyubur di benak orang-orang terdekat Jabik. Bagaimanapun mereka masih terus khawatir. Mereka khawatir suatu saat tikus itu bakal menyebarkan wabah penyakit dan mereka khawatir Jabik sudah tidak waras.

Jabik selalu menyangkal itu. Ia menekankan bahwa dirinya baik-baik saja, tidak suka mengamuk, tidak melakukan hal-hal aneh. Singkatnya ia sewaras lelaki berumur dua puluh empat tahun pada umumnya. Perihal kesukaannya terhadap tikus, ia bisa membawakan sejumlah argumen. Ada orang yang suka mengoleksi benda tajam, menonjok wajah orang lain atas nama olahraga, membeli hewan-hewan buas dan langka, mempunyai lebih dari satu istri, dan kelakuan tak lazim lain, lalu kenapa kalian mempertanyakan kewarasanku hanya karena aku memelihara seekor tikus, begitu Jabik kerap memberi jawaban kepada orang-orang yang melulu mempertanyakannya.

Dua bulan lalu ketika Jabik memungut Andre kecil yang baru saja keluar dari gorong-gorong, hatinya sedang kacau. Ia ingin menendang dan memukul benda-benda yang dilihatnya. Ia ingin berteriak sekeras-kerasnya sampai penduduk langit dan bumi mendengar suaranya. Ia ingin melakukan semua hal yang dapat membuat dadanya lega. Sore itu ia berjalan sendirian di jalan yang lengang dan sepi. Ia berjalan tergesa. Ia baru pulang dari suatu rumah yang tak akan lagi ia kunjungi. Hujan belum lama berhenti ketika Jabik mencapai jalan itu, suatu jalan di mana sekitar dua meter dari tempatnya berdiri ia melihat seekor tikus merambat pelan dengan bulu-bulu kaku. Memandangi makhluk itu, suatu perasaan sentimentil mengguncang Jabik. Ia menghampirinya, memungut si tikus, membawanya pulang ke rumah seperti seorang perempuan yang tak bisa hamil memungut seorang bayi yang dibuang, dan menamainya malam itu juga dengan nama yang belakangan melulu terlintas di kepalanya, Andre.

Ia merawat Andre dengan telaten. Ia memberinya makan, mengajaknya bermain, dan rutin membersihkan tubuhnya. Jabik tak peduli kendati ayah, ibu, serta para tetangga mencibirnya. Ia bilang ia bukan memelihara tuyul atau boneka santet, jadi tak seharusnya mereka mencurigainya terus-menerus seolah-olah tikus piaraannya dapat membobol berangkas atau mengirimkan jarum api ke rumah mereka.

Makin hari hubungannya dengan Andre kian karib. Jabik senang melihat polah lucu Andre. Ia suka mendengar cericit Andre yang terdengar semerdu kicau burung piaraan ayahnya. Seiring dengan itu, perasaan Jabik yang sebelumnya semrawut perlahan kembali tertata. Ia merasa udara yang dihirupnya lebih segar dan batu-batu yang menyesaki dadanya lenyap. Ia sudah bisa tertawa lebar dan tak lagi berhasrat untuk menghancurkan benda-benda atau menusukkan sebilah pisau ke leher seseorang.

Ayah dan ibu Jabik sesungguhnya tahu apa yang melatari keanehan anak mereka itu. Pagi sebelum Jabik memungut Andre, Jabik izin pergi ke suatu tempat. Tempat itu cukup jauh dari rumahnya. Jabik memohon doa kepada ayah-ibunya. Ia pergi ke tempat itu dengan niat baik dan setumpuk harapan indah tentang hari depan. Ia menumpangi bus antarkota dengan berbunga-bunga. Sepanjang perjalanan, pandangannya mengarah ke luar jendela dan ia kerap tersenyum-senyum. Ia membayangkan wajah seorang perempuan. Seorang perempuan jelita yang sangat dicintainya. Ia membayangkan hari pernikahan, suatu hari ketika dirinya menjadi seorang ayah, suatu masa ketika dirinya menjadi kakek, dan sebingkai foto berisi potret keluarga besarnya di masa depan.

“Apa ini tidak kelihatan terburu-buru, Bik?” tanya ayahnya sebelum Jabik berangkat.

“Tidak, Yah. Jabik sudah yakin dengan Maya.”

“Tapi kamu baru mengenalnya beberapa minggu, loh,” timpal ibunya.

“Jabik bahkan pernah mendengar ada sepasang suami-istri yang menikah padahal mereka baru saling kenal tiga hari. Dan pernikahan mereka masih langgeng. Sekarang mereka sudah dikaruniai tiga orang anak.”

“Tapi kan itu beda, Bik.”

“Jabik dengan Maya juga beda, Yah.”

“Bik.”

“Tenang saja, Bu, Yah. Jabik tahu apa yang harus Jabik lakukan. Ayah dan ibu tunggu saja di rumah. Jabik pasti akan pulang dengan membawa kabar gembira.”

Sorenya Jabik pulang dan ia tidak membawa apa-apa, selain seekor tikus got yang muram dan sangat kotor. Selama berhari-hari ayah dan ibu Jabik tidak bertanya apa-apa kepadanya dan Jabik juga tidak menceritakan soal apa pun kepada kedua orang tuanya. Hari demi hari berlalu. Ayah dan ibu perlahan memahami apa yang sebetulnya terjadi. Mereka hidup bersama Jabik sejak pemuda itu masih bayi merah. Bukanlah sesuatu yang mengherankan ketika mereka bisa mengetahui nasib buruk yang menimpa Jabik meskipun Jabik tidak pernah membicarakannya sekata pun.

Awalnya mereka risih dengan mainan baru sang anak. Bukan hanya karena tikus dikenal sebagai hewan menjijikkan, tapi juga omongan tetangga yang terasa pedas dan tiada habisnya. Namun, manakala mereka melihat keberadaan tikus itu menimbulkan perkembangan positif pada diri Jabik, pelan-pelan mereka dapat menerima kenyataan itu. Pada hari-hari awal keberadaan si tikus, Jabik menjelma pendiam yang murung dan suka mengurung diri. Ia hanya menengok si tikus yang diletakkannya di suatu kandang kayu kecil saat pagi dan sore. Ketika Jabik mulai aktif bercengkerama dan beraktivitas bersama tikusnya, barulah kemurungan dan kebisuan Jabik menghilang. Ia kembali menjadi Jabik seperti yang dikenal ayah-ibunya. Bahkan kali ini Jabik terlihat lebih ceria. Ia tetap ceria walaupun para tetangga tak pernah berhenti menegur dan menggunjingkannya. Ia seperti tak peduli lagi dengan tanggapan orang-orang. Yang ia pedulikan hanyalah bagaimana ia bisa merawat Andre dengan sebaik-baiknya. Saban melihat Jabik dan Andre bergaul akrab, ayah dan ibu Jabik selalu terharu. Jabik adalah anak mereka satu-satunya, yang baru lahir selepas ulang tahun kesepuluh pernikahan mereka. Mereka ingin Jabik bahagia. Mereka ingin Jabik mendapatkan yang terbaik. Apabila seekor tikus got dapat membuat Jabik bahagia dan merasa mendapatkan yang terbaik, mereka tidak bisa melarangnya. Mereka tidak mau merusak kebahagiaan Jabik.

Suatu hari ketika Jabik sedang menonton televisi di ruang tamu dengan Andre di pangkuannya, seseorang mengetuk pintu. Jabik tidak menghiraukan suara ketukan itu. Ia terlalu fokus menonton sinetron yang tersaji di layar televisi bersama Andre. Ia mengajak bicara Andre seolah-olah tikus itu dapat mengerti perkataannya. Ia menertawakan kekonyolan aktor di depan Andre seolah-olah tikus itu memedulikannya. Pintu itu terketuk untuk ketiga kalinya ketika layar televisi menayangkan iklan dan Andre mencericit. Ibu Jabik muncul dari dalam kamar sambil menggeleng-geleng. Ia membuka pintu, sementara Jabik mengelus-elus tubuh Andre penuh kelembutan. Seseorang di ambang pintu menyerahkan sesuatu kepada ibu Jabik, lalu beranjak pergi.

“Bik.”

“Iya, Bu,” sahut Jabik.

“Ini,” kata Ibu Jabik seraya mengangsurkan selembar kertas undangan berplastik kepada Jabik.

Jabik meraihnya.

“Jadi, Maya menikah dengan sepupumu, Andre anaknya Pak Dirman?”

Jabik tak menanggapi ucapan ibunya. Ia sedang memandangi undangan di tangannya dengan geram. Dadanya berdentam-dentam. Ia memelototi undangan itu. Di sampingnya, Andre si tikus bergelung tenang menyandarkan tubuhnya yang tambun ke paha Jabik.

Beberapa detik kemudian, ketika televisi kembali menayangkan sinetron dan ayah Jabik keluar dari dalam kamar, Jabik merobek-robek undangan tersebut. Ia pergi ke dapur, lalu kembali lagi ke ruang tamu menggenggam sebilah pisau. Ia menghampiri Andre si tikus. Ia mencengkeram tikus gempal itu. Dengan mata berkilat-kilat Jabik mengiris leher Andre si tikus. Ibunya pingsan. Ayah Jabik menahan tubuh ibunya. Saat tangan ayah Jabik mendekap punggung ibunya, Jabik menyunggingkan senyum tipis sambil mendengarkan cericit terakhir Andre si tikus yang terdengar sangat memilukan. **

Tambun Selatan-Bekasi, 28 November 2019


Erwin Setia lahir pada 14 September. Penulis lepas. Menulis cerpen dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Cerpennya terkumpul antara lain dalam antologi bersama Dosa di Hutan Terlarang (2018) dan Berita Kehilangan (2021). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: erwinsetia2018@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published.