Cerpen

Jalan Lain

December 27, 2022

Cerpen Indra Agusta

Dengan penuh sukacita aku melenggang menuju halaman. Mesin Vespa Sprint sudah dipanasi, setengah berlari aku segera naik dek depan meski kendara masih dijagrak dua. Tuas gas kuputar beberapa kali, raungan dan kepulan asap terasa meriah secerah hari.

Ayahku melenggang dengan kaos oblong dan celana pendek, tangan kirinya menenteng seperangkat alat pertukangan dan listrik dari dalam rumah lalu memasukkannya ke jok samping vespa.

Segeralah kami berangkat menuju gereja.

“Pegangan,” tutur ayahku.

Turut bersamaan dengan ucapan itu, kedua jemari kuletakkan di atas spedometer vespa, mengail-ngail apa yang bisa dijadikan pegangan. Perjalanan menuju gereja terasa menyenangkan, langit cerah meskipun pagi sudah mulai terasa gerah.

***

Ayahku seorang tukang kebun di sebuah SD Kristen di kota. Setiap hari ia sibuk di sekolah bekerja dan membersihkan apa saja. Tak hanya itu, ayah juga tukang kayu yang handal. Dengan tangannya yang piawai segala perkakas sekolah yang patah dan rusak bisa ia perbaiki.

Di rumah pun begitu, setiap kali pintu diketuk oleh tetangga, ayah selalu menerima keluhan dan kemudian disempatkan untuk ke rumah tetangga dan menyelesaikan masalah mereka. Memperbaiki apa saja. Talang bocor, jalur listrik mati, genting pecah, hingga membantu membenahi kandang ayam juga pernah dilakukan oleh ayahku.

Tidak seperti sekolah negeri, sekolah ayahku biasanya memang libur lebih dahulu jika menjelang natal. Seperti biasanya, hari libur pun tak mengurangi porsi ubêt-nya ayahku. Selain membantu ibuku membersihkan seluruh rumah, men-service kompor lalu mencat ulang ruangan, ayahku akan membuatkan pohon natal versi terbaiknya. Tiap tahun selalu berbeda. Terkadang pohon natal itu dibuat dari pohon utuh, lalu dari kardus, ada lagi dari botol plastik bekas, tahun ini ayahku membuatnya dengan ranting-ranting kering. Selalu ada kejutan setiap akhir tahun.

***

Kami sampai di jalan depan gereja, suara latihan paduan suara lantun terdengar. Lalu suara vespa seperti menyambar nada indah bertalu. Setelah bebek besi terhenti, aku berlari menuju pastoran, ayahku berjalan di belakang. Melihat kami datang, Pak pendeta menyambut, ketika berhadapan ia tersenyum lalu mengelus rambutku. Ayahku mempercepat langkahnya.

“Maaf Pak Pendeta perjalanan molor, tadi kami harus memutar jalan karena jembatan dusun kami rusak terkena banjir semalam.”

“Ah, tak masalah Pak Yosef, masih ada jalan yang lain menuju kemari, tho? Mari masuk dulu.”

Selepas banyak kelakar tentang kabar, pak pendeta kemudian mengajak kami ke ruangan utama gereja. Ruangan yang sebenarnya hanya disekat tripleks dengan ruang tamu pastoral tempat kami menyeduh teh buatan ibu pendeta.

Beberapa jemaat sudah di situ menghias pintu dan dinding dengan pita dan balon. Sebuah salib besar dari kayu jati menggantung persis di belakang mimbar, aku sangat kenal salib itu, salib yang dibuat juga oleh ayahku. Sebuah pohon natal kecil ditaruh di atas kursi berbahan besi supaya terlihat lebih menjulang tinggi terletak di samping kanan mimbar. Ruang tempat pak pendeta memberikan kotbah jadi lebih meriah.

“Begini Pak Yosef, saya ingin ada palungan kecil nanti ditaruh di bawah pohon natal itu, bisakah njenengan membuatnya, supaya mengingatkan kita pada kelahiran Sang Juru Selamat.”

“Tentu saja bisa Pak Pendeta, namun apakah Pak Pendeta punya kayu untuk bahan membuatnya?”

Pak pendeta hanya termenung cukup lama. Ia tampak kebingungan dan mulai menggaruk kepalanya.

“Atau apa saja, Pak. Ndak harus kayu.”

“Coba kau lihat di gudang saja, Pak Yosef.”

Pak pendeta kemudian mengajak ayahku ke belakang bangunan gereja, ke gudang pribadinya. Aku mengekor di belakang. Tempat yang dinamai gudang ini sebenarnya lebih mirip kandang domba karena hanya berwujud kotakan sederhana dari bambu lalu diberi atap sekenanya dari tripleks bekas. Di situ ayahku membolak-balik beberapa barang, kemudian menemukan keranjang sepeda yang sudah tak terpakai.

“Nah ini saja, Pak.”

Dengan sigap ayahku kembali ke Vespa, mengeluarkan peralatannya, memotong beberapa bagian keranjang bekas itu supaya lebih pendek dan menjadi mirip peti kecil. Lalu dengan agak malu meminta beberapa lembar kapas kecantikan milik ibu pendeta untuk ditempelkan pada peti tersebut. Ibu pendeta hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tak kurangnya akal ayahku. Keranjang sepeda bekas sekejap kemudian menjadi palungan putih bersih dan kosong. Setelah dihaturkan ke pak pendeta, lalu beliau sendiri yang meletakkan di bawah pohon natal. Tersenyum kembang bahagia pak pendeta.

“Selalu ada jalan lain kan, Pak Pendeta,” kelakar ayahku.

Menjelang tengah hari, ibu-ibu paduan suara tadi bersama ibu pendeta memasakkan mie instan untuk kami makan bersama. Sederhana namun sangat nikmat.

Seperti tidak sabar aku mandi pagi-pagi sekali, ayahku sudah menyemir sepatunya, sementara ibuku tak masak hari ini. Ia memilih membeli bubur di tetangga supaya segera bisa tepat waktu ke gereja. Ayahku menggunakan setelan jas terbaiknya, sedang ibu mengenakan  dres berwarna biru.

Setelah sarapan, dan segala sesuatunya siap, ayahku memimpin doa jelang berangkat. Vespa Sprint itu dipanasi lagi. Setengah berlari aku segera naik dek depan meski kendara masih dijagrak dua. Tuas gas kuputar beberapa kali, raungan dan kepulan asap terasa meriah secerah hari.

Setelah penyalaan lilin dibarengi dengan Malam Kudus, Pak pendeta memulai kotbah Natalnya. 

“Mari kita buka Alkitab kita, Matius 2;

Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.

Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.”

Demikianlah, ayahku hanya tersenyum sembari manggut-manggut melirikkan matanya ke arah palungan.

Selalu ada jalan lain.**

Selamat Natal.

Sragen, 24 Desember 2022.


Indra Agusta, tinggal di Sragen, alumni kelas kepenulisan Cerpen KOMPAS (2020), dan kelas resensi KOMPAS (2021). Novel pertama Padma Jalma (Rusamenjana, 2022). Bergiat aktif di komunitas pencinta Jawa Kuna Sraddhasala dan Maiyah Suluk Surakartan. Bisa dihubungi di panawijen@gmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *