Cerpen

Jejak Sang Politikus

October 4, 2022

Cerpen A. Warits Rovi

Mat Juking melesakkan sebelah tangannya ke dalam saku baju bagian bawah. Lembut terasa remasan kertas itu, bersebelahan dengan sepotong setanggi yang pendeknya menyerupai telunjuk. Di saku itu juga ada korek api yang kemarin lusa ia comot dari meja sebuah depot saat dirinya membeli nasi. Ia tertarik karena korek itu bergambar wajah perempuan rupawan.

Lokasi pemakaman sangat sunyi dan mencekam. Ia berharap bulan tipis bersinar temaram yang mematung di ujung pucuk kemboja itu segera lenyap. Karena pekat, cekam dan segala bentuk kesunyian kuburan telah menjadi teman karib yang membuat dirinya yakin hajatnya akan terkabul.

Ia berharap musang, kucing, burung hantu, bahkan—jika ada—ia ingin kuntilanak di sekitar pemakaman itu segera berbunyi dengan nada yang paling seram. Karena suara seram adalah bumbu bagi ritualnya supaya keinginannya tercapai.

Setanggi telah ia nyalakan dengan sebatang korek bergambar wajah perempuan rupawan. Setelah mengembalikan korek itu ke dalam saku, giliran kertas penuh remasan yang ia ambil. Diratakan di datar pusara dengan bantuan telapak tangan yang digosokkan perlahan dan berkali-kali, hingga kertas itu samar-samar menampakkan foto seorang calon kepala desa bernama Risun.

Mat Juking tersenyum. Sebentar menatap langit seraya menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.

“Semoga kau sukses jadi kepala desa,” gumam Mat Juking. Sepasang matanya menatap potret Risun yang berkumis dan berjas biru di remasan kertas itu.

Mat Juking sadar, calon itulah yang empat tahun lalu membunuh ayahnya, dan mestinya hari ini dirinya menjauhi orang itu. Tapi uang telah mengubah segalanya.

***

Politik selalu membuat Mat Juking jadi bunglon. Adaptasi warna bagi Mat Juking adalah cara mempertahankan hidup, agar pancuran uang mengarah pada hidupnya yang haus harta dan penghormatan, agar perutnya terus buncit dalam kemakmuran, dan agar Sulima, istrinya setia kepada dirinya serta tak berontak jika suatu saat dimadu dengan beberapa wanita lain di kampung Baliyan.

Baginya, ukuran kesetiaan memperjuangkan seseorang yang mencalonkan diri jadi kepala desa adalah tergantung pada seberapa banyak uang yang diberikan kepadanya. Tak hirau calon itu punya watak kancil atau buaya, yang penting memberi uang banyak, maka urusan akan lancar. Dan Mat Juking selalu beranggapan, dirinya pro-demokrasi, merasa jauh lebih bermakna ketimbang para tetangganya yang merantau untuk cari uang di luar pulau Madura dan mereka tidak pulang saat pemilihan.

Siang itu ia bergegas ke belakang gedung bekas sekolah dasar yang sudah dilabur kerak lumut kering yang menghitam. Tangan kanannya merogoh kertas remasan yang berhari-hari disimpan di saku bajunya dan setiap dini hari selalu ia bacakan mantra di kuburan. Sebentar mengamati potret Risun itu dengan teliti. Ia tersenyum seolah tengah mengungkapkan sesuatu pada potret itu. Kemudian tangan kirinya meraih kertas remasan itu dari tangan kanannya. Tangan kanannya merogoh saku baju dan mengeluarkan korek api. Setelah sejenak mengamati sekitar dan ketika dirinya yakin tak ada siapa-siapa, ia lalu membakar kertas remasan itu hingga berubah jadi arang. Angin menghempasnya hingga hancur luluh menjadi abu yang menyatu dengan pasir.

Semua itu ia lakukan setelah ada seorang calon lain berjas kuning memakai peci yang memberi uang lebih banyak kepadanya, dan ia berjanji akan menikahkan Mat Juking dengan perempuan rupawan seperti gambar di korek api itu.

Mat Juking tersenyum memandangi gambar korek yang sedang ia angkat dan dibiarkan menggantung oleh jimpitan jarinya.

***

Tak ada remasan kertas, tak ada setanggi, dan tak ada korek api di saku bajunya. Malam itu ia hanya membawa sebilah bambu yang panjangnya sejengkal bertulis nama calon kepala desa yang di sepanjang jalan kampung balihonya sudah berjajar ramai terpacak di pohon, tiang listrik, dan cagak bambu; memakai jas kuning dan berpeci hitam: SURAKNA namanya.

Semuanya berawal dari obrolan kecil di warung Mastoni. Mulanya Surakna membayar nasi yang Mat Juking makan beserta seluruh lauk dan camilannya. Mat Juking bilang “Tidak usah”, tapi Surakna memaksa bahkan ia menyelipkan amplop ke saku baju Mat Juking sambil berbisik “Itu masih tahap awal, jika kamu membantuku dalam Pilkades maka akan ada banyak tambahan uang, kamu akan diangkat jadi perangkat, dan kamu akan kunikahkan dengan seorang wanita cantik yang wajahnya sebanding dengan itu.” Surakna menunjuk gambar korek api di tangan Mat Juking. Mat Juking sekadar tersenyum dan tidak mengangguk, tetapi setiba di rumahnya, setelah tahu isi amplop itu tujuh juta, ia pun langsung menuju bekas gedung sekolah dasar itu dan membakar potret Risun.

“Beginilah politik. Uang Surakna lebih banyak. Dia masih menjanjikan jabatan dan wanita cantik. Dia juga tidak pernah terlibat konflik dengan keluargaku. Rasanya lebih waras jika aku lebih baik membela Surakna daripada membela Risun si pembunuh ayah itu,” timbang Mat Juking saat itu sambil bergegas pulang setelah selesai membakar potret Risun di belakang gedung bekas sekolah dasar.

Ia mengingat bagaimana empat tahun lalu ayahnya meninggal dalam keadaan babak belur dan mayatnya dibuang ke jurang kampung tanpa sehelai kain. Seminggu kemudian terungkaplah bahwa pembunuhnya adalah Risun. Alasan ia membunuh hanya masalah sepele; karena ayah Mat Juking mengambil selembar daun pisang untuk diberikan pada kambingnya. Tapi anehnya, ia terbebas dari hukum, hidupnya tetap tenang, seperti tak ada apa-apa, membunuh ayah Mat Juking seolah hanya membunuh seekor semut yang tak perlu terbebani oleh bayangan dosa, dan malah ia mendekati Mat Juking dua bulan menjelang Pilkades. Mat Juking pun merasa dirinya tak perlu memperhitungkan dia sebagai pembunuh ayahnya setelah sepuluh uang kertas seratus ribuan ia julurkan.

Tapi kini, setelah Surakna memberi uang yang lebih banyak, Mat Juking berubah haluan. Sekeras mungkin ia berusaha untuk memenangkan Surakna di Pilkades. Salah satunya, seperti yang biasa ia lakukan pada calon kades yang minta bantuan; datang ke sebuah kuburan, membawa benda-benda yang berhubungan dengan si calon, lalu ia membaca mantra, ya mantra, bukan doa.

Malam itu, nama Surakna di sebilah bambu ia taruh di atas kuburan, lalu tangannya kembali merogoh saku bajunya. Bukan korek api atau setanggi yang ia ambil, namun sehelai tali kutang warna biru. Tali itu ia ikat kuat pada bilah bambu yang bertuliskan nama Surakna. Itu bukan tali kutang sembarangan, Mat Juking mengambilnya dari kutang milik istri Risun di suatu malam yang senyap dengan langkah awas dan hati-hati.

“Kejayaan akan jadi milikmu, Bos Surakna,” suara Mat Juking dihalau angin. Di langit tak ada bulan. Beberapa ekor kelelawar bercericit di rimbun kemboja. Mat Juking kemudian menatap langit kelam sembari tersenyum.

“Logika dalam berpolitik bagiku tak lebih dari sekadar menyimpulkan ikan berenang dalam akurium sebagai sosok bidadari, dan itu akan kulakukan tergantung uang yang diberikan oleh si calon,” ucapnya pelan. Sebelum akhirnya duduk bersila, terpejam, dan membaca mantra. Tangannya memutar bilah bambu itu hingga tali kutang menggesek debu di permukaan kuburan.

Hari setelah itu, istri Risun ribut saat mendapati tali kutangnya hilang. Surakna terbahak-bahak mendapat bilah bambu bertulis nama dirinya terikat tali kutang. Mat Juking semakin yakin dirinya akan mendapat uang yang banyak, jabatan mentereng, juga istri yang cantik.

***

Tanpa terasa, hari pemilihan kepala desa sudah tiba. Surakna melompat girang sambil bernyanyi-nyanyi, lalu bersujud syukur setelah penghitungan suara selesai dan dirinya dinyatakan jadi pemenang. Sedang Risun termangu mengelus dadanya yang renyuh seperti dipatuk puluhan kapak. Tak terasa air matanya menetes. Orang-orang yang kemarin jadi tim pemenangan satu per satu menjauh lalu menghilang. Ia kini hanya berdua bersama istrinya mengenyam luka setiap waktu. Istrinya kadang menghubung-hubungkan tali kutangnya yang hilang dengan kekalahan Risun.

Bulan berikutnya Mat Juking tak pernah menduga Surakna akan jadi kacang yang lupa kulitnya. Saat ia menagih janji kepada Surakna, ia malah dibentak dan dipukul. Surakna membantah jika hasil kemenangannya karena hasil mantra Mat Juking. Sudah tidak menepati janji. Beberapa bulan kemudian, ia malah mengambil Sulima dari Mat Juking, dan menikahinya.

Cerita politik memang kelabu dan cepat berlalu, Mat Juking kembali berpihak kepada Risun. Suatu pagi, ia mendatangi rumah Risun dengan tergopoh dan dada penuh dendam. Lantas ia bercerita, bahwa Surakna telah mencuri tali kutang istri Risun untuk dijadikan bahan guna-guna demi memenangkan Pilkades. Risun naik darah. Megepal tangan dan meninjukannya ke meja.

***

Malam itu lokasi kuburan sangat senyap. Mat Juking mengeluarkan remasan kertas bergambar wajah Surakna. Risun duduk di sebelahnya, fokus mengamati apa yang dilakukan Mat Juking dengan tatap redup dengan bantuan cahaya bulan yang hampir tenggelam. Kembali tangan Mat Juking terbenam ke dalam saku bajunya, mengambil korek api, yang ketika gambarnya dilihat, ia jadi teringat perempuan rupawan yang dijanjikan Surakna. Diam-diam hatinya teriris, karena janji Surakna ternyata bualan belaka, sudah begitu, ia malah menikahi Sulima.

“Ini kuburan ayahku yang kaubunuh empat tahun lalu. Kau memang pembunuh yang lembut. Aku dan almarhum ayah akan memaafkanmu asal kamu mau membunuh Surakna malam ini juga dengan korek api ini. Kamu pasti punya cara yang lembut. Buatlah Surakna seperti ini,” Mat Juking membakar potret Surakna penuh dendam.

Lalu sebatang korek api ia selipkan di saku baju Risun. Keduanya tersenyum. Tak menunggu waktu lama, Risun langsung bergegas untuk melaksanakan perintah Mat Juking. Mat Juking yakin, Risun akan membakar rumah Surakna hingga Surakna mati atau minimal mengalami kerugian. Ia juga yakin, Risun pasti akan ditangkap dan juga dibunuh oleh warga, tapi Mat Juking lupa bahwa Risun pasti akan menyebut Mat Juking sebagai pesuruhnya.***


A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di pelbagai media. Juara II Lomba Cipta Cerpen ICLaw Pen Award 2019.  Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018). Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Surat menyurat surel: waritsrovi@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *