Cerpen

Jihad

March 18, 2019

Cerpen Panji Sukma

“Setelah ibumu melangkah keluar dari pintu rumah, segala kemungkinan bisa terjadi. Dan jika akhirnya hal buruk yang menimpa, percayalah, ibumu sedang menjalankan jihadnya,” ucapmu di tiap penghujung malam, di saat embun belum sepenuhnya datang, dan salat subuh usai kau tegakkan.

Ciuman penuh takzim dari Puspa, anak bungsumu mendarat di punggung tangan kananmu. Sudah menjadi kebiasaanmu selalu berangkat menunaikan tugas lebih awal dari yang diwajibkan. Sebab itu kadang rasa bersalahmu muncul karena tak bisa seperti ibu pada umumnya, menunjukkan rasa sayang dengan menyiapkan sarapan dan mengantar sekolah anak. Namun rasa bersalahmu perlahan pudar semenjak kau menyadari bahwa kau dianugerahi dua anak dengan darah pejuang mengalir di diri mereka, seperti pula yang mengalir di dirimu, mereka dapat benar-benar mengerti bahwa setiap manusia lahir telah memikul takdir masing-masing, dan kewajiban manusia hanya mempertanggungjawabkan dengan sebaik mungkin atas takdir yang diterima. Kakekmu memang salah satu pahlawan kemerdekaan, bahkan hal itu pula yang menjadi alasan ia bersemayam dalam kebanggaan. Sebab itu teguh keyakinanmu untuk menjalankan tugas sebagai seorang pejuang, tentu dengan cara yang berbeda menyesuaikan dengan zamanmu, dan kau berhasil tanamkan pula pada anakmu pemahaman itu. Selalu ada yang dirampas ketika ada yang dilebihkan.

Aku ibumu hanya ketika di rumah. Jangan lupa, ketika telah melangkah keluar pintu rumah, ibumu milik seluruh warga kota. Isi pesan yang suatu hari pernah kau kirim pada anakmu dengan berat hati. Memang kau begitu teguh, sama sekali tak tergambar dari pesan itu bahwa sebenarnya kau begitu berat untuk menyampaikannya. Bukan perkara mudah, saat itu kau menolak hadir di penyerahan penghargaan untuk anakmu, saat upacara bendera di sekolahnya. Hati ibu mana yang tak bergetar ketika harus melewatkannya, tak mampu memenuhi kewajiban yang seolah mudah bagi siapa saja untuk melakukannya. Sebuah sidak sedang kau gelar, bahkan kau pimpin sendiri. Laporan yang kau terima pada hari sebelumnya membuatmu begitu geram dan membuatmu merasa wajib segera menuntaskannya. Dengan kepala yang masih dibalut perban, seorang nelayan mengungkapkan bahwa ia kehilangan mata pencarian, Satpol PP telah menyita perahu ikannya karena telat membayar pajak melaut. Mengetahui fakta itu, naluri kemanusiaanmu dan fakta beradu. Jihadmu diuji. Seperti yang kau pahami, jihad seorang pemimpin bukanlah maju di medan perang, tapi memastikan bahwa rakyat kecil menerima haknya atas perlindungan tanpa harus seorang pemimpin melanggar aturan. Meski pernah beberapa kali dalam kasus lain yang hampir serupa dengan kasus ini, kau berteriak lantang di depan bawahanmu, dalam situasi tertentu, pertimbangan akhlak harus lebih dikedepankan ketimbang hukum. Pemahaman itu pula yang membuatmu meminta pada kepala Satpol PP di kotamu untuk mengembalikan perahu si nelayan, dan membayarkan tunggakan pajak dengan uang pribadimu. Entah sudah berapa kali kau melakukan hal semacam itu. Nuranimu tak pernah tega melihat tangis, dan ketika kau menjadi saksi hal-hal semacam itu, kau memilih untuk menuntaskannya secepat mungkin, sebelum berita tersebar hingga banyak orang tahu kepahlawananmu. Siapapun pasti mengamini jika sulit menjumpai sosok seperti dirimu di zaman penuh pencitraan ini, dimana kebaikan harus dikabarkan, bahkan yang buruk disulap seolah baik. Sungguh beruntung hidupmu karena tak harus ambil pusing dengan hal-hal semacam itu, kau hanya menerima mandat, dan menjalankan tugas sebaik mungkin dengan konsekuensi yang membuntutinya.

Kematian suamimu sempat menjadi titik terberat dalam hidupmu, bahkan sempat menggoyahkan keteguhanmu. Tepat sebelum menghembuskan nafas terakhir di ranjang rumah sakit, suamimu mengungkapkan kekhawatiran padamu karena melihat dunia perpolitikan yang semakin sulit dibaca. Arus bisa berubah kapan saja tergantung kepentingan, tak ada kawan abadi. Seperti beberapa kasus yang telah terjadi, siapapun harus siap terusir ketika kelompoknya merasa dia tak memberi untung, atau membuat keputusan yang dapat merugikan kelompok, sekalipun itu keputusan yang baik untuk rakyat. Dan bagian terburuknya, harus rela busuk di balik jeruji karena jebakan yang dipasang teman sendiri. Syukur kau sempat menjawab kekhawatiran yang disampaikan suamimu,dan itu membuatnya pergi dengan tenang. Mas, ini adalah jihadku. Jangankan hanya untuk mendekam di penjara karena hal yang tidak kulakukan, nyawa pun aku relakan jika itu memang kehendak Gusti Allah.

Pernah suatu kali kau besuk seseorang dari masa lalumu yang kini berstatus tersangka, Fahri, seorang anggota legislator yang dijerat undang-undang tipikor dan tinggal menunggu vonis hakim. Para petinggi partaimu begitu melarang keras agar kau tak menjenguknya, mereka menganggap jika besukan itu akan berdampak buruk pada citramu bila sampai diketahui media, takut ada anggapan kau bagian darinya. Tapi kau tak peduli, kau tetap menjenguknya sebagai kawan seperjuangan semasa pergerakan kampus. Kedatanganmu menjenguk Fahri nyatanya mengungkap perihal kebenaran tentang partaimu, Fahri korban jebakan suap yang sengaja dirancang para petinggi partaimu. Sebagai legislator, Fahri dinilai terlalu kritis, sebagaimana Fahri yang kau kenal sejak dulu. Fahri tak salah, sebab kau tetap seorang manusia, tak luput dari kelenaan dan kekurang tajaman, beberapa kebijakanmu sempat dikritisi oleh Fahri. Kau pun tak keberatan, memang seperti itulah tugas legislator, terlebih oposisi, berdiri sebagai penyeimbang dan mengawasi laku demokrasi. Namun sayangnya para petinggi partaimu tak seperti dirimu, mereka tak mampu ambil pusing dan memilih jalan pintas. Sekalipun hanya sebatang, rumput yang tumbuh di sawah wajib dibasmi.

Mungkin ini juga salah satu titik terberat dalam hidupmu, dimana kau harus rela melepas camar yang kau pelihara sejak kecil ke alam liar, dengan kesadaran-kesadaran yang telah kau miliki selama ini. Dua hari lalu pengumunan resmi para legislator baru pemenang pemilu dikabarkan media dengan besar-besaran, kader dari partaimu yang menduduki kursi terbanyak. Keresahan perlahan namun pasti menggelayuti batinmu, namun hal itu tak diikuti oleh gadis yang saat ini kepalanya rebah di pangkuanmu. Rambut hitamnya kau belai dengan lembut, doa kau haturkan pada Tuhan untuk Laras, anak sulung perempuanmu yang baru dua tahun ini kembali pulang, usai studi di London yang ia selesaikan dengan hasil memuaskan. Takdir mengantarmu menjemput kewajiban. Ia menjadi salah satu kader partaimu dan sekaligus menjadi bagian dari kemenangan di pemilu. Itu berarti kelak ia harus mampu menjaga dirinya sendiri, mempertanggungjawabkan tugasnya, dan teguh dengan jihad politik seperti yang kau pilih. Nasihat terus kau haturkan, terlebih perihal godaan kekuasaan yang kerap merubah manusia tanpa mereka sadari, bahkan bisa menjelma lingkaran gelap yang tak lagi memiliki kemungkinan keluar darinya, atau mungkin malah mereka sendiri yang akhirnya tak mau keluar karena telah terbuai dengan fasilitas dan pelayanan. Dan ketika menyadari kesalahan, semua sudah terlambat. Serupa kata pepatah, Ketika telah terbiasa diistimewakan, maka disetarakan akan terasa seperti sebuah penindasan.

***

Langkahmu tak mengalir sebagaimana biasanya, pun juga dengan dzikir yang kau rapal. Usai kau lepas genggaman tangan pada dua tiang jeruji. Tatapanmu kosong. Bel berbunyi kencang menandakan waktu dimana para tahanan diperbolehkan keluar sel, melanjutkan kegiatan seperti di hari sebelumnya, kerja bakti membersihkan seluruh sudut penjara yang telah disesaki rumput liar. Namun kau memilih menjadi anomali di sana, duduk di alas mushala bergambar masjid megah dengan lima menara. Mungkin tahanan lain menganggap yang kau lakukan hanya sebuah alasan agar tak harus memeras keringat bersama mereka, ibadah adalah sakral, tak ada yang boleh mengusik, sekalipun kau seorang tahanan. Dzikirmu berhenti ketika seorang sipir memberi tahu bahwa ada yang menjengukmu. Kau sudah tahu ia akan datang lagi, seperti pada minggu-minggu sebelumnya.

Sesampainya di ruang jenguk kau memilih untuk tetap dengan sorot wajah yang sama, datar dan kosong. Duduk seorang lelaki yang kau kenal, kalian hanya dipisahkan meja sebuah meja cokelat, di atasnya terdapat tiga kotak kue yang ia bawa. Garis wajahnya telah jauh menua ketimbang saat terakhir kali kenangan ia buat untukmu, saat kembang gula berwarna merah kau terima darinya di antara hingar-bingar bianglala di malam itu

“Aku senang akhirnya kau mau menemuiku. Sepertinya kejadian tiga hari lalu bisa kau maknai dengan baik,” ucap lelaki itu. Duduknya menegak, ia satukan kedua tangan di atas meja.

“Syukurlah kalau sudah tahu.”

“Iya, aku mendapat kabar dari temanku. Sayang sekali aku tak sempat mengantar Wani.” Lelaki itu terdiam sepanjang tarikan nafas yang dalam. “Aku juga sudah tahu semuanya,” lanjutnya.

“Maksud, Paman?”

Sebenarnya kau merasa lega karena tak perlu menjelaskan, lelaki itu sudah mengetahui alasanmu harus tinggal di balik tembok penjara, tapi itu tak cukup untuk menutupi rasa penyesalanmu yang kembali berkelindan, membanjiri isi kepala, hingga pecah di pipi.

“Mungkin sudah saatnya kau tahu. Aku sangat mengenal ibumu, kami sangat dekat, mungkin jauh dari yang pernah kau bayangkan selama ini.”

Menit demi menit bergulir, jam demi jam berganti. Kemelut hatimu perlahan berubah menjadi rasa penasaran tanpa henti, mengikuti cerita napak tilas masa kuliah lelaki itu bersama orang yang telah kau kecewakan. Yah, ternyata lelaki itu dan ibumu dulu pernah menjalin hubungan kekasih, saat mereka masih sama-sama menjadi aktivis kampus di bidang hak asasi manusia. Keringat perjuangan, barikade, gas air mata, bahkan darah sudah sangat akrab dengan mereka. Hubungan mereka berakhir ketika telah sama-sama lulus kuliah dan melanjutkan studi, di kota yang berbeda. Di penghujung perpisahan, sebelum jumpa akan menjadi asing, sebelum kebersamaan berubah menjadi kerinduan, mereka mengucap janji. Menjadi apapun kita kelak, tetaplah menegakkan jihad dalam perjalananmu. Dan satu lagi, jangan pernah putus salatmu, sebab Tuhan akan selalu menjagamu. Janji yang dibuat bukan tanpa sebab, ibumu telah dijodohkan dengan seorang perwira angkatan darat yang akhirnya menjadi ayahmu.

Kini kau mengerti ternyata nasihat dan semangat jihad yang ditanamkan ibumu bukan ia dapat dari kakekmu yang seorang pahlawan, meski itu pun tak sepenuhnya salah. Namun kau tak bisa menampik, telingamu sendiri yang telah mendengar, diungkap dengan narasi pasti, ibumu menghembuskan janjinya dalam pelukan yang basah, tergaris dada lelaki itu oleh ujung hidung ibumu sembari ia mengusap peluh.

“Sudahlah, jangan kau sesali, anggap saja ini bagian hidup yang akan membuatmu naik tingkat. Tempat ini tak terlalu buruk, sebab tak seluruhnya orang salah yang ada di sini.”

“Contohnya kamu kan, Paman? Sayangnya aku bukan bagian dari itu, aku di sini karena aku memang bersalah.” Tangismu kembali pecah, wajahmu kini hampir tertutup penuh dengan kedua telapak tanganmu. Isi kepalamu berkelindan, mengingat kembali alasan yang membuatmu ada di tempat ini.

“Hidup belum berakhir. Jika kau telah gagal berjihad di duniamu yang sebelumnya, lanjutkan jihadmu di tempat ini. Bagilah ilmu yang kau miliki.”

“Apa itu bisa menghapus kesalahanku?”

“Sebut satu saja nama orang yang tidak pernah bersalah.”

Mendengar jawaban itu, kau bergeming, matamu kehilangan kedip. Seketika kehidupan baru lahir di kepalamu, menjejali ketidakmungkinan-ketidakmungkinan yang selama ini kau khawatirkan hingga akhirnya ketidakmungkinan itu terlempar.

“Baiklah. Aku harus pergi, aku harus berangkat ke Palembang sebelum ketinggalan pesawat. Jangan khawatir, aku akan sering ke sini.” Lelaki itu berdiri dan melihat jam di tangannya. “Kuharap, usai salat magrib selalu kau kirimkan doa untuk ibumu. Semoga Wani tenang di sisi-Nya, telah ia tunaikan jihad hingga akhir hayat,” sambungnya.

***

Di penghujung pertemuan yang tak direncakan sebelumnya, di antara hingar-bingar bianglala dan wangi kembang gula, pelukanmu semakin rapat pada gadis kecil di gendonganmu. Ia masih terlalu kecil untuk paham dengan obrolanmu dengan Fahri. Yang gadis itu mengerti hanya merasa sangat senang ketika kembang gula ia terima dari temamu, sebuah jajanan yang selama ini kamu larang untuk ia memakannya.

“Kudengar kamu mau maju jadi calon Walikota? Apa sudah kamu pikirkan matang-matang?” tanya Fahri. Sebelumnya ia telah berpamitan, namun langkahnya terhenti dan menanyakan hal yang sedari tadi sebenarnya hendak ia tanyakan. Kekakuan memang masih jelas tergambar dari dua orang yang dulu pernah menjalin kasih, dan kini telah sama-sama menikah.

“Kupikir aku akan bisa jauh memberi manfaat jika aku memiliki kekuasaan. Kamu masih ingat kata Prof Mardian saat kuliah dulu?” Kau mengecup kening gadis kecil di gendonganmu.

“Tentang apa?”

“Aturan tanpa kekuasaan adalah angan-angan, kekuasaan tanpa aturan adalah kelaliman.”

Tawa pecah dari dari Fahri.

“Baiklah.”

“Maksudnya?”

“Sepertinya kamu harus tahu. Aku juga sedang maju untuk menjadi calon legislator, dan itu berarti mungkin saja akan membuat kita saling berhadapan di beberapa sidang.”

Kau kembali mengecup kening gadis kecil di gendonganmu, namun kali ini lebih dalam dari yang sebelumnya. “Kadang hidup ini memang sulit ditebak. Tapi aku yakin, Tuhan pasti punya rencana dari semua ini.”

“Kuharap kau juga mengerti, kini kau wajib menunaikan jihad lain.”

“Apa itu?”

“Jihad sebagai seorang ibu,” ucap lelaki itu sembari melanjutkan langkah yang sempat terhenti, dengan senyum yang belum sepenuhnya surut.

***

Panji Sukma Her Asih atau yang lebih akrab disapa Panji Sukma, lahir di Sukoharjo, 1 Maret 1991. Saat ini mengasuh Sanggar Semesta Bersua dan anggota Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia bidang kepemudaan. Bergiat di Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar dan Literasi Kemuning. Karya yang telah terbit, novel Astungkara (Penerbit Nomina, 2018), Semesta Bersua Zine (2016), Antologi Puisi Perjamuan Kopi di Kamar Kata. Beberapa cerpennya telah dimuat baik di media lokal ataupun nasional. Surat-menyurat: bersualahsemesta@gmail.com. Twitter dan Instagram: @buruhseni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *