Cerpen

Jika Ada Cara Termanis untuk Mati

June 25, 2019

Cerpen Marcelina Chintia Devi

Jika ada cara termanis untuk mati, aku pasti akan memilihnya. Hanya saja, mengatur kematian nyatanya adalah sebuah kepahitan. Semua baju-bajumu kulipat rapi di lemari, barangkali kau akan pulang sebentar, untuk mengambil sisa-sisa barangmu. Secangkir kopi dan sepiring roti bakar, mungkin sudah berjamur, aku masih menunggumu untuk menghabiskan sisanya. Maaf jika ada beberapa barangmu tak kau lihat tampak di kamarmu atau rumah kita ini, sebagian kubuang, tak lama setelah kau memutuskan pergi dari rumah ini.

Awalnya kukira semua sempurna. Kau yang saat itu masih mahasiswa semester awal, begitu aktif di berbagai kegiatan kampus, hingga bertemulah kita di lapangan basket itu. Kau tidak memiliki sanak saudara di kota ini, dan toh aku sendirian di rumahku sepeninggal orangtuaku. Kutawarkan satu kamar di rumahku, dengan biaya yang tak semahal kosan yang lain. Aku tahu kau tak cukup mampu untuk membayar kos, maka tanpa pikir panjang kau mengiyakannya.

Lantas banyak waktu kita habiskan bersama. Di antara anak-anak kos yang lain kau yang paling menarik perhatianku, menurutku. Kau tak banyak bicara, tak seperti yang lain selalu meriuh sampai tengah malam. Bahkan mereka baru pulang tengah malam, sambil menggandeng perempuan masuk ke kamar. Erangan-erangan menjelang pagi selalu saja kudengar. Tanpa merasa bersalah mereka yang masih berbalutkan selimut melingkar di badannya yang telanjang duduk di ruang tamuku sembari merokok. Aku tidak suka dengan sisa-sisa abu yang berjatuhan di mana-mana. Kau selalu membantuku bersih-bersih keesokan harinya.

Kau yang paling sering mengantarku pergi, mungkin karena kau hampir setiap hari di rumah. Seringkali aku menyapu halaman atau menyiram tanaman-tanamanku diiringi biolamu yang terdengar sendu dari luar kamarmu. Kau bantu aku mencuci mobil, memperbaiki semua barang yang rusak, dan kau sangat menghormati aku. Ketika anak kos yang lain tidak betah dan beranjak pergi dari sini, hanya kau yang akhirnya tetap tinggal. Seringkali kau menceritakan sanak saudaramu jauh di sana, dan aku tahu, kau adalah anak kesayangan bapakmu.

Empat tahun berlalu, kukira semua baik-baik saja, sampai suatu waktu kau hampir tak pernah pulang selama sebulan. Akukhawatir, kesepian, rinduku memuncak. Kau bilang sedang urus skripsimu, mungkin butuh waktu untuk menyelesaikannya. Aku pikir itu hal yang biasa, tapi kemudian ada hal yang berbeda kutemukan di kamarmu. Dengan kunci serep kubuka kamarmu, dan tentu saja yang sudah sering kulakukan, membelai-belai bantalmu, atau memeluk gulingmu sampai tertidur. Saat aku menciumi baju-bajumu, aku mencium aroma yang lain. Kamarmu yang biasanya selalu rapi, kali ini berantakan dan tak beraturan. Ingin rasanya aku merapikannya, dan mencucikan semua bajumu, tapi nanti kau akan tahu, aku sering masuk kamarmu.

Suatu malam, ketika aku setengah terbangun, kudengar langkah kakimu, tetapi tidak sendiri. Tampak lirih suara perempuan berbisik, jantungku terasa berhenti, kutahan untuk tidak menangis, dan kugenggam erat guling di kamarku.Sesak napasku setiap kali mendengar erangan itu, semakin malam semakin keras. Kudengar deru napasmu menikmati perempuan itu, membuatku semakin tegang mengerang, namun di sisi lain, hancur pula hatiku. Teringat setiap kali tanpa kau sadari, aku mengintipmu dari lubang jendela yang jarang kau tutup tirainya, kau tidur hampir telanjang, aku bisa melihatmu sepuasnya kala itu, atau ketika terdengar nyanyianmu ketika mandi, membuatku tak sungkan menikmatinya sembari mengintip dari kamar mandi sebelah. Aku hancur, dan aku menyadari, tak lama lagi kau akan pergi.

Pagi itu, dengan mata sembab, aku mencoba keluar kamar, dan mendapatimu duduk di ruang tamu, bersama seorang perempuan yang tersenyum di pelukanmu. Perempuan macam apa itu, tidak pulang dan malah menginap di kamar kosan laki-laki, mengerang sepanjang malam, dan merebut semuanya dariku dalam sekejap. Dikenalkannya dia sebagai pacarmu. Aku mencoba tersenyum, meskipun aku tahu, semakin aku melihatmu bahagia, semakin tajam pisau menancap di jantungku.

Sebulan kemudian kau pamit padaku, kau bilang skripsimu sudah selesai, dan kau sudah serumah dengan perempuan jalang itu, mungkin dalam waktu dekat kalian akan menikah. Kau peluk aku untuk pertama dan terakhir kalinya, aku mencoba untuk melakukan pelukan formalitas menyambut hangatnya badanmu, meskipun ingin rasanya aku memelukmu lebih lama dan erat.

Kucetak dan kukumpulkan semua foto-fotomu yang diam-diam kuabadikan, setiap malam aku memandanginya, sambil sesekali kulepaskan semua penat dan nafsuku semalaman. Beberapa lembar bajumu yang mungkin kau rasa hilang sebelum kaucuci, kujadikan teman tidurku setiap hari. Kali ini semua sudah kucuci, dan kubereskan, kuletakkan di meja kamar ini dengan rapi. Foto-foto itu untuk kamu, barangkali istrimu mau menyimpannya.

Sudah lama aku memendam perasaan ini, seperti halnya aku memendam jati diriku sebenarnya. Kucoba untuk menghindar dari diriku sendiri. Perempuan-perempuan yang nyatanya setiap hari selalu dating di rumahku, yang membuatmu dan teman-teman kosmu dulu menganggapku hebat dengan seringnya membawa mereka pulang bergantian, toh mereka semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang coba kucari jawabannya. Meskipun aku tahu jawabannya, dan jawabanku adalah kamu.

Tidak mudah bagiku untuk memahami diriku sendiri, bahkan meskipun aku semakin lama semakin meyadari siapa aku ini. Jika pendapat masyarakat tidak berbeda dengan cambukan keras bapakku ketika melihatku memakai rok kakakku, untuk apa aku mengakuinya, dan itu berat. Menahan keinginanku untuk memelukmu setiap kali kau tertidur dengan pintu terbuka, atau melihatmu keluar kamar mandi seenaknya dengan berbalut handuk kecil di kemaluanmu, lantas aku harus segera berlari ke kamar untuk melepaskan semua, kamar yang tak pernah dibuka oleh siapapun, bahkan perempuan- perempuan jalang itu.

Aku sudah selesai, dan tidak mau tersiksa seperti ini, jika manusia sepertiku ini tidak bisa menjadi apa adanya, kenapa aku diciptakan? Lantas aku hanya akan membawa luka yang tertoreh sepanjang waktu,dan cintaku padamu hanyalah angan tak bermakna.

Maka, jika kau merasakan pahit yang sama, minumlah kopi itu bersamaku.

***

Selesai kubaca surat itu, ada perasaan ngeri sekaligus kasihan yang kurasakan. Sembari mencari-cari apalagi yang bisa kujadikan barang bukti, sementara menunggu tim yang lain datang untuk mengevakuasi mayat itu. Miris rasanya, melihat lelaki setampan itu, hanya terduduk kaku di kursi samping tempat tidur, dengan tubuh telanjang dan mulut berbusa.Nampaksemua barang-barang di rumah itu sudah tertata rapi, seolah dipersiapkan untuk menyambut kunjungan kami, atau entah siapa yang dia harapkan datang.

Tak berapa lama beberapa lelaki datang, tetap dengan tenang namun tampak haru, mencoba melihat kondisi kamar tersebut. Kuberikan surat itu kepada mereka. Sejenak mereka membacanya, berubahlah raut muka mereka dengan tajam, dan seorang yang paling muda di sana, yang tinggi besar dan berwajah pemalu, tanpa berpikir panjang langsung lari keluar rumah dengan pandangan nanar dan jijik.

***


Marcelina Chintia DeviLulusan S1 Arsitektur UNS dan S2 Magister Perencanaan Arsitektur Pariwisata (MPar) UGM. Berporses bersama beberapa teman membentuk studio arsitektur bernama oarchstudio, dan bekerja paruh waktu di Yayasan Rumah Karya Kreatif Indonesia sebagai pendamping dalam perencanaan kawasan Desa Wisata Plumbon, Tawangmangu, Karanganyar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *