Buku Resensi

Menemukan Kembali ‘Homo Ludens’

May 21, 2019

Oleh Joko Pinurbo

Kumpulan sajak ini mengingatkan kita akan pentingnya jati diri manusia sebagai homo ludens, makhluk yang suka bermain. Ia terbit di momen yang tepat, yaitu ketika kehidupan sosial kita kian didominasi oleh perangai homo faber, makhluk yang suka bekerja, dan homo politicus, makhluk yang suka berurusan dengan politik dan kekuasaan.

Kesuntukan manusia sebagai homo faber membuat manusia terperangkap dalam belenggu deadline demi mengejar kepentingan ekonomi dan materi. Dalam kecenderungannya yang ekstrem, homo faber berkembangmenjadi manusia yang gila kerja atau manusia yang mabuk kerja. Kesuntukan dan kegilaan bekerja yang berlebihan menjadikan manusia hidup dalam tekanan mental yang besar karena setiap saat ia ditanya dan ditagih oleh angka. Hidup adalah memburu, bukan menikmati. Hidup diliputi oleh ketergesaan.

Di sisi lain, nafsu dan perilaku manusia sebagai homo politicus telah menjerumuskan manusia ke dalam kancah pertarungan dan persaingan sengit yang kadang sangat barbar dengan hoaks, kebencian, dan politik identitas sebagai peralatannya. Dalam wataknya yang negatif, bagi homo politicus, hidup adalah berebut, bukan berbagi; memangsa, bukan memberi; memukul, bukan merangkul; memangsa, bukan mencinta. Hasilnya ialah lunturnya cinta kasih sosial, melemahnya semangat persahabatan dan persaudaraan.

Memudarnya jati diri manusia sebagai homo ludens di satu sisi dan kian dominannya nafsu manusa sebagai homo faber dan homo politicus di sisi lain, ditandai dengan menghilangnya mutiara-mutiara jiwa yang berharga: kesabaran, sikap rileks, selera humor, dan kegembiraan.Manusia-manusia yang dijajah oleh kekuasaan rezim homo faber dan homo politicus adalah manusia-manusia yang mengalami gangguan kesehatan mental: tegang, gampang sedih, dan murah marah. Menjadi homo ludens, dengan demikian, merupakan penyeimbang bagi dominasi homo faber dan homo politicus, dan itulah yang secara metaforis mau diwartakan oleh sajak-sajak Yuditeha.

Melalui kumpulan sajak ini kita dapat berjumpa kembali dengan aneka dolanan atau permainan tradisional yang pernah mengiringi pertumbuhan sekian banyak anak sebagai homo ludens. Yuditeha bukan hanya mendata dan mendeskripsikan kembali berbagai bentuk dolanan; ia juga menempatkan makna aneka dolanan tersebut sebagai bagian dari pendidikan karakter. Dengan demikian, sajak-sajaknya mau menunjukkan dan nilai-nilai falsafi—di samping niilai-nilai estetis—dalam dolanan.

Permainan atau dolanan memang bukan simulasi dan duplikasi dari kehidupan nyata. Ia merupakan dunia yang direka atau diciptakan dengan kekuatan dan keliaran imajinasi. Ia tidak dikendalikan oleh nilai-nilai pragmatis. Namun, justru karena sifatnya sebagai dunia rekaan, ia memiliki nilai penting sebagai sarana pembebasan. Pembebasan dari kehidupan rutin yang diwarnai oleh perhitungan untung-rugi. Dolanan merupakan bentuk rekreasi dan relaksasi yang mengingatkan kita bahwa keindahan, kebahagiaan, kelucuan dan kekonyolan bisa dinikmati dan dirayakan bersama. Dolanan merupakan sarana untuk menjaga keseimbangan mental.

Meskipun merupakan dunia rekaan, dolanan—secara langsung atau tidak langsung—mengandung nilai-nilai ideal, nilai-nilai falsafi, atau nilai-nilai edukatif yang relevan bagi pengembangan karakter manusia. Menyelami sajak-sajak Yuditeha, kita bisa menemukan setidak-tidaknya lima butir keutamaan dolanan: (1) kegembiraan, (2) kebersamaan; hubungan antarpribadi, (3) kesabaran, ketenangan (4) empati, (5) kearifan: jujur, adil, ksatria (bisa menerima kekalahan dan kemenangan secara wajar).

Sajak berikut ini kiranya merupakan contoh bagus tentang bagaimana sebuah dolanan bisa merefleksikan nilai-nilai ideal dalam kehidupan manusia.

BAN-BANAN

Menggelindinglah di atas papan kayu

yang dijaga dengan ketenangan,

dan hanya jiwa yang jauh dari dengki

yang mampu melakukan perhitungan.

Tak bisa kau hidup sendiri

di tengah belantara masalah.

Hanya kompromi yang bisa menyelamatkan

manusia dari dunia rapuh,

hingga kelak akan diakui sebagai prajurit

yang pantas untuk melakukan

tugas sebagai ketua pandu yang terampil

dan paling disegani.

Sesungguhnya puisi pun merupakan dolanandolanan bahasa—yang menyuburkan dan menyegarkan kembali imajinasi; yang membebaskan kata-kata dari penjara kerutinan yang memiskinkan dan mematikan; yang ingin menghidupkan kembali kewarasan. Puisi adalah sebentuk rekreasi dan relaksasi bahasa yang anehnya sering dilakukan dengan cara yang tidak “waras”. Puisi adalah makhluk kesayangan homo ludens.

Selamat menunaikan ibadah puisi.

Yogyakarta, 20 Mei 2019


Joko Pinurbo, penulis puisi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *