Cerpen

Kabar dari Jauh

February 2, 2021

Cerpen Jeli Manalu

Kujual tiga puluh ekor ayam, empat puluh ekor bebek, dan dua ekor anjing kesayangan. Uang hasil penjualannya kubelikan dua ekor anak lembu. Jadi, apakah sudah ada calon kakakku itu, Abang?

Hari-hari berlalu setelahnya. Musim juga berganti. Pepohonan menggugurkan daun, tumbuh lagi dan gugur lagi. Saat Natal tiba, Salomo pulang dari perantauan dan Anggoni yang tinggal di kampung menyambutnya dengan hati gembira. Tetapi malam itu satu peristiwa menegangkan terjadi. Salomo anak paling tua. Empat bulan lagi usianya genap tiga puluh enam tahun. Dua saudari mereka telah lebih dahulu berumahtangga, dan masing-masing sudah memiliki keturunan. Anggoni sendiri anak bungsu, tengah menjalin hubungan dengan seorang perempuan, dan orangtua sang perempuan acap kali menyuruh anak gadisnya menanyakan Anggoni kapan akan mempersunting putri mereka.

“Menikahlah, Abang,” satu kalimat yang terlontar pelan namun memantul seperti bola keras di kepala Salomo—itu perkataan dari adik kesayangannya, Anggoni, yang kemudian menyebabkan sebuah ledakan di rongga dada Salomo.

Malam itu, di tengah rapat keluarga serta bola-bola lampu yang dipasang pada pohon cemara tampak indah bercahaya, Salomo tertunduk memandangi pusaran kopi hitam di bagian atas cangkir. Ia berpikir apakah ke dalam gelas kopinya ia perlu menambahkan satu sendok gula lagi, atau sesekali perlu memvariasikannya dengan krimer kental manis—supaya hidup sedikit lebih manis? Ah ya, belum sempat Salomo memutuskan yang mana dari keduanya, Anggoni bicara lagi, “Kupikir sudah waktunya Abang berumahtangga.”

Dengan bibir bergetar Salomo menjawab bila sampai hari itu juga, belum ada perempuan yang mau diajak hidup bersamanya.

“Aku tak percaya. Abang itu ganteng, tidak perokok, tidak peminum, rajin pula ke gereja. Pokoknya, menikahlah Abang.”

Salomo membisu, tidak tahu dengan cara apa lagi dirinya menjelaskan kenyataan itu.

“Soal dana, kubantu pun nanti. Abang jangan khawatir,” Anggoni melanjutkan kata-kata yang memang sudah ia persiapkan sebelumnya, meski saat itu, ia tidak menjelaskan tentang dana yang dimaksud adalah dua ekor anak lembu yang sudah ia beli dan rawat dua tahun.

Mendengar Anggoni menyinggung soal uang, Salomo kian geram. Ia merasa adiknya itu bukan saja mendesaknya perihal menikah tetapi sudah sampai pada tahap merendahkan dirinya soal mata pencaharian. Lantas, Salomo menyarankan adiknya itu agar berhenti mengusik hatinya dengan lebih baik mengurus kehidupan masing-masing saja. Dan di hadapan segelas kopi yang belum ditambahkan apakah gula atau krimer kental manis serta di sudut rumah bola-bola lampu yang dipasang pada pohon cemara bersinar indah Salomo meninggalkan rapat keluarga. Ia menemui kegelapan malam agar tak seorang pun melihat betapa sakit dirinya, lalu esok harinya ia pergi padahal semua orang seharusnya berkumpul untuk bergembira bersama.

Pada perjalanan sendu yang entah ke mana arahnya kali itu, Salomo terus mengutuki nasib. Ia ingat kisah cintanya yang tak pernah berjalan mulus. Gara-gara ditolak gadis pada masa SMA, ia jadi siswa yang tak bisa diatur. Ia memakan uang SPP dan suka cabut dari kelas. Kata orang yang pernah melihatnya hingga melapor ke guru mengatakan, ia jadi preman di sekitaran toko dan berlagak sebagai juru parkir atau tukang pungut uang kebersihan. Saat mendapat surat panggilan dari sekolah hingga terancam tak bisa mengikuti ujian akhir karena tidak membayar SPP, ibunya panik namun berupaya mencari jalan keluar dengan menjual dua karung buah kopi tanpa sepengetahuan bapak.

Sepanjang merantau dan menjadi orang baik, Salomo sering memikirkan bagaimana kelak ia akan menikah. Ia mulai rajin bertanya tentang besaran sinamot (mahar) untuk anak gadis orang yang profesinya sebagai perawat. Ia pun makin sering menghadiri berbagai undangan adat yang datang padanya. Ragam serta kualitas ulos juga ia pelajari: mana buatan pabrik dan mana hasil tenunan. Ia merasa seandainya kelak menemukan jodoh, dirinya yang sudah merantau lama dan konon di telinga orang bekerja di sebuah perusahaan asing itu kurang pantas saja bila pernikahannya dirayakan terlalu biasa—ia tidak ingin masyarakat sekampung bicara macam-macam ke depannya.

Pernah persiapannya mencapai tujuh puluh persen. Tanpa ada firasat Salomo mendapati hatinya teriris. Mulanya ia menghadiri satu undangan dari kerabat. Di sana, di acara yang dihadirinya itu, ia saksikan kekasihnya bermesraan dengan lelaki lain. Kekasihnya merangkul erat tangan lelaki lain itu. Dilihatnya lelaki lain itu masih kalah ganteng ketimbang dirinya. Apa kurangku, apa salahku?—ia bertanya pada hati yang lebam.Kata-kata makian sempat terlontar dari bibirnya.Hampir saja ia melayang untuk membanting tubuh lelaki lain itu namun apa daya, si perempuan, toh tak menjadikannya sebagai pusat tujuan.

Saat begitu galau, ia rajin menulis status di facebook. Banyak akun menaruh simpati akan keadaannya, termasuk adiknya, Anggoni mengirim emoji mata yang menangis. Di sisi lain, waktu itu, Salomo tidak tahu kalau Anggoni sebetulnya sudah tak sabar menunggu Salomo supaya menikah secepatnya, agar abangnya itu jangan pula ia langkahi sebagaimana dilakukan dua saudari mereka—Anggoni cemas seandainya itu ia lakukan maka dalam bayangannya Salomo bisa-bisa bernasib sial, yakni tidak mendapatkan jodoh sampai ubanan, dan Anggoni, tak ingin itu terjadi. Ia ingin Salomo bahagia selamanya. Akan tetapi Salomo tidak mengerti hutan hati Anggoni, adik kesayangannya itu. Ia tidak tahu bila Anggoni sudah merasa terdesak agar segera mengakhiri masa lajang. Ia tidak tahu Anggoni berada dalam kegelisahan yang apabila terlalu lama menunda untuk melamar, gadis pujaannya dikhawatirkan malah diembat orang—ada satu teman Anggoni ditinggal menikah sang pacar karena merasa digantung meski alasan temannya itu jelas, yakni menyelesaikan studi di luar negeri yang bersisa tak lebih dari sepuluh bulan.

Sejak rapat keluarga ketika pulang merayakan Natal di kampung yang membuat keduanya sama-sama terluka itu, setahun lamanya Salomo dan Anggoni saling menghindar. Tidak menelepon dan tidak saling berkirim pesan. Suatu hari sewaktu Salomo mengaktifkan lagi aplikasi messenger-nya, ada pesan yang mengakibatkan perasaannya sulit untuk didefinisikan. Pesan itu sudah dua tahun dikirim, pesan ketika dirinya masih akur-akurnya dengan Anggoni, pesan ketika ia belum putus cinta dengan perempuan yang berprofesi sebagai perawat, pesan yang tidak tahu bagaimana itu bisa lolos dari perhatian Salomo.

Kujual tiga puluh ekor ayam, empat puluh ekor bebek, dan dua ekor anjing kesayanganku untuk membeli dua ekor anak lembu, supaya ketika mereka besar nanti, bisa kita pergunakan untuk lauk daging pada masing-masing pesta pernikahan kita. Jadi, apakah sudah ada calon kakakku itu, Abang?

Salomo menyesal. Bibirnya bergetar menyadari kebaikan hati sang adik yang ternyata telah menyiapkan banyak untuk pernikahan mereka kelak. Ia menyesali pertengkaran yang tak menghasilkan apapun itu. Seandainya waktu itu ia tidak langsung tersinggung. Seandainya ia membiarkan adiknya mengutarakan maksud terlebih dahulu, sehingga ia paham akan orangtua kekasih dari adiknya sudah mendesak Anggoni supaya menikahi putri mereka. Salomo kini bersedih. Dalam pikirkannya sekarang hanyalah memperbaiki hubungan dengan sang adik, lebih tepatnya ia merestui Anggoni agar menikah lebih dahulu.

“Halo. Bapak?”

“Ya, aku.”

“Bagaimana kabar Anggoni?”

“Kau tidak tahu kabar?”

“Kabar? Kabar apa?”

“Sudah berapa lama kau tidak mau bicara dengannya?”

Salomo diam, menebak apa yang sedang terjadi.

“Kalian berkelahi lagi, kan?”

“Sudah lama ia tidak meneleponku.”

“Kalau ia tak meneleponmu, kaulah yang meneleponnya.”

Salomo tersentak dengan ponsel yang masih menempel di telinga, belum pernah ia dengar suara bapak ketus begitu. Biasanya bapak senang bercanda. Kali ini bapak terkesan menyerang seakan Salomo sudah melakukan kesalahan yang amat fatal.

Salomo lalu membuka facebook dan mencari nama Anggoni yang sudah sempat ia unfollow itu. Ia gulir ke bawah, ketemu foto adiknya. Posisinya duduk. Kedua tangan beserta dahi bertumpu di lutut. Pose dalam foto itu diambil dari samping. Dibuat gambar lembu sebagai bingkainya. Di bagian tengahnya terdapat tulisan. Salomo men-zoom-in supaya bisa membacanya.

Suatu pagi, aku begitu bahagia karena Tuhan masih memberiku kesempatan menolong orang yang lagi kesusahan. Ada yang menggedor-gedor pintu mencari lembu untuk dimasak di sebuah pesta sebab ia tahu aku memiliki apa yang mereka butuhkan. Dua orang yang datang pagi itu tampak begitu memelas. Wajahnya tak tega untuk kutolak. Mereka menawariku dengan harga satu setengah kali lipat atas dua ekor lembuku. Kata mereka, hewan yang mereka persiapkan mendadak pingsan lalu mati dalam perjalanan. Aku pun memenuhi permintaan mereka, mengira seandainya hal serupa menimpaku menjelang pesta pernikahanku kelak—bila itu terjadi, seseorang mungkin sudi membantu karena aku sudah terlebih dahulu melakukanya. Sehari kemudian, setelah daging lembu itu dimasak lalu diantarkan kepadaku sebagai ucapan terima kasih dan aku memakannya begitu lahap karena masakan itu sangat enak, aku baru tahu kalau yang menikah itu ternyata calon istriku.***

Riau, 2017-2020


Jeli Manalu, lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Ia saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya Kisah Sedih Sepasang Sepatu tahun 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *