RAGAM

Kala Seniman Bicara Krisis Lingkungan

May 14, 2019

Pameran Seni Rupa “Fish Out of Water”

Plastik hadir di muka bumi ini diawali oleh Alexander Parkes yang pertama kali memperkenalkannya pada sebuah eksibisi internasional di London, Inggris pada tahun 1862. Plastik temuan Parkes disebut Parkesine ini dibuat dari bahan organik dari selulosa. Namun, setelah beberapa dekade yang singkat sejak manusia menggunakan plastik, ia menjadi salah satu momok dalam  persoalan lingkungan. Selain sebagai limbah yang merusak daratan dan mengotori lautan, sampah plastik juga termakan dan meracuni hewan-hewan laut.

Poster Pameran Seni Rupa: Fish Out of Water

Menurut Ocean Conservacy Report 2015, setiap tahunnya, ada delapan juta ton sampah plastik yang mengambang di laut. Kira-kira, per menit, ada satu truk sampah plastik yang dibuang ke sana. Dampaknya? Lihatlah bagaimana kondisi hutan bakau Vietnam yang dipenuhi dengan kantung plastik, seekor paus di Thailand mati akibat menelan sampah plastik, dan limbah menyelimuti pantai-pantai Indonesia. Perlahan tapi pasti, persoalan plastik menjadi potret suram mengenai krisis yang mencengkeram Asia.

Lebih dari setengah jumlah tersebut berasal dari negara-negara seperti Tiongkok, Indonesia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Indonesia menyumbang sampah plastik terbanyak nomor dua di dunia. Pada saat itu, berat sampah plastik yang disumbang mencapai 187,2 juta ton. Meski angka ini di bawah China dengan volume sampah mencapai 262,9 juta ton. Kemudian disusul oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka tentu persoalan plastik ini tidak bisa terus menerus dibiarkan menghantui peradaban.

Di tengah kekhawatiran itu, Art Xchange Gallery meresponnya dengan menggelar pameran seni rupa bertajuk “Fish Out of Water” yang digelar pada 16 Mei – 13 Juni 2019 di Townhouse Cordoba No.77, Pantai Indah Kapuk. Pameran yang menggabungkan berbagai media yang berbeda dari seni lukis, patung, desain produk hingga desain mode, yang kesemuanya dibuat dengan menggunakan bahan plastik atau memiliki tema terkait tentang masalah plastik.

Foto-Foto: Dok. Art Xchange Gallery

Ada 14 perupa yang ikut serta, di antaranya ada nama Camelia Mitasari Hasibuan, Ignasius Dicky Takndare, Ang Che Che, Budi Asih, Burhanudin Reihan Afnan, Dedi Imawan, Deny Nugraha, Hendro Hadinata, I Made Santika Putra, Denny Rasyid Priyatna, Ahmad Subandiyo, Walid Syarthowi Basmalah, Pardiyanto Semper, dan S. Soneo Santoso.

Tentu saja, sesuai tema perhelatan seni itu nanti, Anda akan dapat melihat bagaimana para perupa merespon sebuah masalah lingkungan melalui karya-karyanya. Sebut saja Ignasius Dicky Takndare, perupa yang memilih kulit kayu sebagai media dan ciri khas karya seni dari Papua itu memamerkan salah satu karyanya yang berjudul “The Long Walks Contemplations”. Menurut Dicky, karya tersebut lahir dari kegelisahannya mengenai persoalan-persoalan lingkungan dan kemanusiaan pada tanah kelahirannya.

“Karya itu berbicara tentang siklus kehidupan. Meskipun ciri khas Papua sangat kuat, tetapi itu berbicara tentang kehidupan semua manusia. Siklus kehidupan dan pertarungannya akan dapat kita lihat serupa gerak dari jarum jam. Dalam karya itu, akan kita temui fase keharmonisan manusia dan alam, fase manusia mulai serakah, fase ketika manusia dengan benda tidak bisa dibedakan lagi, hingga pada akhirnya akan kembali pada fase permulaan zaman,” ungkap Dicky.

Sedangkan bagi Camelia Mitasari Hasibuan, tema tentang alam, lingkungan, ekosistem, dan sampah bukan hal asing lagi bagi perupa perempuan ini. Pada pameran itu nanti, Camelia akan menampilkan dua karyanya. Pada  lukisan “Which One is My Food?” dan  “Harapan yang Tersisa”, ia menjelaskan begitu banyak sampah di lautan saat ini. Hingga lautan yang semula jernih, sekarang menjadi lautan tak ubahnya tempat pembuangan sampah.

Baginya, ini sangat memengaruhi kehidupan ekosistem di lautan. Salah satunya burung pelikan. Burung pelikan adalah salah satu jenis burung yang hidupnya sangat bergantung dengan laut. Burung pelikan biasa mencari ikan-ikan di laut sebagai makanannya. Namun, karena masalah sampah seringkali burung pelikan sulit untuk membedakan antara ikan dan sampah.

“Begitu banyak tempat di bumi ini dipenuhi dengan sampah-sampah hasil dari perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab, bahkan hingga ke hutan. Habitat bagi binatang-binatang dan beragam tumbuhan serta tempat mencari makan hingga tempat berkembang biak saat ini tidak hanya menghadapi ancaman pembalakan liar, tetapi juga mulai dipenuhi dengan sampah. Jadi akibat sampah ini, tidak dihadapi oleh manusia, tapi juga hewan dan tumbuhan. Hewan dan tumbuh-tumbuhan dalam hutan tidak memiliki pilihan lain kecuali beradaptasi dengan situasi ini,” ujar Camelia.

Direktur Art Xchange Gallery, Benny Oentoro mengatakan, pemilihan judul “Fish Out of Water” seperti sebuah ungkapan. Polusi yang disebabkan oleh plastik, merusak dan mencemari lingkungan kita dapat disamakan dengan ikan yang tidak dapat bernapas jika berada di luar habitatnya. “Seperti ikan, manusia juga akan mati lemas dan tercekik ketika udara yang kita hirup terus menerus terpapar oleh berbagai jenis polusi, termasuk lingkungan kita yang tercemar oleh limbah plastik,” kata Benny.

Melalui pameran ini, Benny berharap, seorang seniman dan karyanya  dapat berperan dan menjadi bagian dari inisiatif global dalam memerangi limbah dan polusi. Karena bagaimanapun, persoalan ini adalah bagian dari dunia tempat kita hidup, dan itu adalah tugas manusia, termasuk seniman untuk melindunginya.

“Kami berusaha menciptakan kesadaran tentang polusi limbah plastik yang telah menjadi ancaman global. Kita harus mulai memainkan peran kita sebelum terlambat. Sebisa mungkin membantu selamatkan planet kita. Dan sebagian dari hasil penjualan karya seni yang kita pamerkan, akan kami sumbangkan untuk komunitas di TPA Bantar Gerbang,” ujar Benny. [] Wahyu Indro Sasongko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *