Cerpen

Kami Harus Pulang ke Rumah

August 28, 2019

Cerpen Aris Rahman P. Putra

Jep adalah salah satu teman yang dapat kupercaya, maka aku  berinisiaif mengajaknya bersama Med untuk melihat rumah Bik Merian, tempat yang sebetulnya terlarang untuk kami kunjungi. Ben kerap menceritakan tentang kebiasaan mengerikan Bik Merian.

“Kau tahu, Bik Merian suka dengan anak kecil seperti kalian! Kalian akan direbus dalam sebuah kuali besar dan akan dijadikan sop bening!” kata Ben.

“Mengapa ia melakukan itu?” tanya Med agak gemetar.

“Untuk dijadikan ramuan awet muda!”

Apa yang dikatakan oleh Ben tentang Bik Merian membuat Med berjanji untuk tak pernah bermain di sekitar rumahnya, apalagi sampai memasuki pagar. Tapi itu sama sekali tidak menurunkan rasa penasaranku. Kupikir ia sedang berupaya membohongi kami. Sama seperti kebohongannya tentang danau di belakang sekolah yang menjadi tempat tinggal Kadal Buntung atau keberadaan Macan Berkepala Manusia di hutan Jati.

Maka dari itu, pagi-pagi sekali aku mengajak Med dan Jep untuk mengintai rumah Bik Merian. Tapi sebagaimana bisa ditebak, Med menolak ajakanku mentah-mentah.

“Aku tak ingin dijadikan sop bening!”

“Tak akan ada yang menjadikanmu sop bening, Med!”

“Apa kau lupa apa yang pernah diceritakan Ben?”

“Apa kau benar-benar percaya apa yang dikatakan Ben?”

“Oh, ya, Tuhan, apa kau tak percaya apa yang dikatakan Ben, Ris?”

“Ayolah … apa kau tidak penasaran dan ingin membuktikannya sendiri?”

Sementara aku dan Med berdebat, Jep masih terdiam memandangi setumpuk buku bacaan yang ada di kamar kami. Ia memerhatikan sampul dan membuka beberapa buku dan tak lama kemudian menaruhnya kembali di tempat semula.

“Gimana menurutmu, Jep?” tanyaku.

Jep tampak kaget dan segera mengalihkan pandangannya dari tumpukan buku itu. “Oh, Ris. Kau tentu tahu di sana juga ada banyak kucing garong!”

“Apa yang perlu ditakutkan dari kucing garong?”

“Kucing garong bisa lari kencang, memiliki kuku yang cukup tajam untuk mencongkel bola matamu, dan memiliki taring seperti pisau untuk mencincang daging empuk seperti punya kita.”

“Dari mana kau dapat informasi seperti itu?” tanya Med.

            “Jangan bilang kau mendengarnya dari Ben?” potongku.

“Aku memang mengetahui hal itu dari dia. Dia tinggal di sini lebih dulu daripada kita bertiga dan dia mengenal desa kecil ini seperti ia mengenal saudaranya sendiri.”

Mendengar jawaban itu aku sedikit muak. Memang benar bahwa Ben tinggal di daerah ini lebih dulu  dan juga ia setahun lebih tua dari kami. Beberapa saat lalu ia berkata padaku bahwa ada Kadal Buntung di danau belakang sekolah. Aku yang tak langsung percaya pun sepulang sekolah langsung pergi mengamati danau hingga langit nyaris gelap, tapi aku hanya melihat ikan kecil-kecil dan kodok dan sama sekali tidak melihat kadal raksasa berwarna hijau yang menyembul dari dalam air. Mulai sekarang, selama apa yang dikatakan Ben tak terbukti, aku tidak akan memercayai apa pun yang keluar dari mulutnya. Seseorang tidak bisa lagi dilarang melakukan sesuatu tanpa diberi penjelasan mengapa ia tak boleh melakukan hal tersebut, apalagi diberi penjelasan yang sama sekali tidak masuk akal, itu sama saja pembodohan! 

“Baik, lupakan soal apa yang telah dikatakan Ben,” kataku kemudian. “Bagaimana kalau kita membuktikannya sendiri?”

“Apa kau sudah gila, Ris?” kata Med.

“Tidak, tidak, aku bakal menyusun strategi agar kita bisa tetap dalam kondisi aman. Atau kalau perlu, aku akan mengajak Ben.”

“Baiklah, tapi ingat, kita mesti sudah pulang sebelum langit gelap.” kata Jep sambil menatap langit dari jendela kamar

Sebelum genap pukul tiga siang, kami dan Ben sudah sepakat untuk melakukan penyelidikan terhadap rumah Bik Merian. Pada awalnya ia bersikeras tak mau menemani kami karena ia tak mau berakhir menjadi sop bening. Ia mengatakan kembali pada kami bahwa Bik Merian adalah seorang dukun yang menguasai ilmu tenung, lalu bersembunyi ke desa kami untuk melarikan diri setelah membunuh seorang gadis berusia 12 tahun dan merebusnya menjadi sop bening untuk ramuan awet muda. Ia berkata bahwa apa yang akan kami lakukan cukup gila dan berbahaya. Namun, setelah aku memaksanya dengan sedikit menyindir bahwa ia hanya seorang penakut yang hobi membual, ia kemudian setuju untuk ikut dengan kami. Karena bisa jadi penyidikan ini akan benar-benar sangat berbahaya bagi kami, maka masing-masing dari kami berinisiatif untuk membawa barang-barang yang mungkin akan sangat dibutuhkan saat penyelidikan.

Ben membawa segenggam bawang putih yang ia ambil dari dapur rumahnya. Ia berkeyakinan bahwa Bik Merian tidak akan suka dengan anak yang bau bawang. Jadi ketika nanti ia tertangkap oleh Bik Merian, Ben akan buru-buru makan bawang putih itu supaya Bik Merian melepaskannya dan tidak menjadikannya sebagai sop bening. Itu ide yang baik, setidaknya bila apa yang diperkirakan Ben benar, kami bisa minta bawang putih kepadanya dan kami bisa menyelamatkan diri. Tapi aku sendiri tak benar-benar yakin dengan bawang putih karena kupikir itu hanya mempan untuk drakula dan Bik Merian bukan drakula. 

Jep tentu lain cerita, ia pulang ke rumah dan kembali lagi dengan membawa tasbih. Ia merasa yakin bahwa dengan membawa tasbih tersebut, ia akan terhindar dari energi yang jahat atau marabahaya apa pun yang mengancamnya. 

Sementara itu, aku dan Med memilih membawa barang-barang kesayangan kami. Aku membawa topi Timnas dan Med dengan boneka dinosaurus berwarna ungu. Jep dan Ben mengatakan kepada kami bahwa benda-benda yang kami bawa sama sekali tak akan berguna. Tapi aku dan Med sendiri memiliki alasan kenapa harus membawa barang tersebut. Ya, bila memang nantinya kami akan benar-benar menjadi sop bening. Aku dan Med sangat berharap bahwa barang-barang itulah yang akan membuat orang tua kami mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah semua sudah berkumpul di depan pagar sekolah, aku mulai menyusun rencana. Dalam hal ini, aku akan menjadi pemimpin dalam operasi yang kuberi nama “Kami Harus Pulang ke Rumah”.

“Baik teman-teman, mari kumpul,” kataku. “Jadi begini, misi yang akan kita lakukan ini sangat mudah. Yang perlu kita lakukan adalah menyusup ke rumah Bik Merian, melakukan penyelidikan, lalu pulang ke rumah sebelum langit gelap.”

“Lalu, gimana kita bisa masuk ke rumahnya?”  tanya Jep ragu. 

“Emm … kita bisa lewat pagar di samping rumahnya.”

“Bagaiamana cara kita bisa meloloskan diri dari kucing-kucingnya?”

“Astaga, tak ada yang perlu ditakutkan dari kucing-kucing itu, Jep!”

“Apa kalian tak tahu kalau kucing-kucing Bik Merian bahkan bisa membunuh anjing?” timpal Ben.

“Baiklah, kita bisa membawa beberapa batu di saku celana masing-masing.”

“Apa itu cukup?” tanya Jep.

“Setidaknya kita berempat. Kita bisa saling menjaga. Apa ada lagi yang perlu ditanyakan?”

Semua menggeleng dan kami pun segera memulai operasi yang akan kami lakukan. Rumah Bik Merian letaknya tak terlalu jauh dari sekolah kami, namun cukup terpencil dan terpisah dari rumah yang lain. Kami berjalan dengan perasaan campur aduk hingga kemudian kami melihat rumahnya yang tampak gelap dan muram, seperti istana milik penyihir dalam kartun yang tiap Minggu kami tonton. Pada dindingnya kau akan dapat melihat tanaman-tanaman hijau merambat dan pohon-pohon besar dengan dedaunan yang berserakan di halaman dibiarkan begitu saja. Pagarnya telah berkarat sementara kaca jendelanya telah pecah di beberapa bagian. Atap rumahnya berlubang di sana-sini. Dan seperti yang dikatakan Ben dan Jep,  ada beberapa kucing hitam berkeliaran di dalamnya.   

Aku masuk lebih dulu melalui celah di pagar samping, lalu disusul Jep, Med, dan Ben yang terakhir. Kami berupaya melangkah seperlahan mungkin agar tidak menarik perhatian kucing-kucing Bik Merian. Setelah sampai pada sebuah pohon, kuperintahkan mereka untuk berhenti sejenak. Aku sendiri merangkak menuju jendela yang berhadapan langsung dengan pohon tersebut dan mengintip keadaan di dalam rumah.

Kupikir, apa yang selama ini kubayangkan tentang Bik Merian tak terlalu jauh dengan apa yang kulihat sekarang. Kemuraman yang tampak di luar rumah, tak terlampau berbeda dengan apa yang ada di dalam. Sofa yang mestinya bewarna putih, dipenuhi debu-debu dan bekas terbakar di beberapa bagian. Jahitannya juga telah robek sehingga kapas-kapas bertebaran di atasnya. Mejanya penuh dengan robekan-robekan kertas.

“Bagaimana, Ris?”

Aku menoleh dan mengacungkan jempolku kepada teman yang lain.

“Ben, coba kau cek pintu belakang.”

“Aku sendiri?”

“Jep akan bersamamu.”

“Lalu bagaimana dengan kau?”

“Aku akan melihat pintu depan dan mencari pintu masuk lain. Kau ikut denganku, Med. Tigapuluh detik lagi kita harus kembali ke sini.”  

Dalam sekejap kami segera berpencar.

Aku memegangi lengan kanan Med dan kami mengendap-endap menuju halaman depan rumah, mencoba merangkak melewati rerumputan dan dedaunan kering. Sementara tangan kirinya masih memegang erat boneka kesayangannya.

“Sedikit cepat, Med.”

Med kemudian berhenti dan menarik kaosku.

“Apa sebaiknya kita pulang saja, Ris?”

“Apa maksudmu?”

“Kubilang kita sebaiknya pulang saja.”

            “Kita sudah sejauh ini dan kau mengajak untuk pulang?”

“Ya, kita sudah melangkah sejauh ini dan sebaiknya kita segera pulang.”

“Kenapa?”

“Perasaanku tidak enak …”

“Oh, ayolah, kau hanya takut. Sini, pegang tanganku.”

“Tidak, Ris, aku benar-benar merasa tidak enak.”

“Kalau kau memang ingin pulang, sana pulang sendiri!”

Aku tak menghiraukan Med dan terus merangkak menuju bagian depan rumah. Apakah Med benar-benar akan pulang, aku sudah tak lagi mempedulikannya. Semua rencana yang kususun telah berjalan dengan baik dan dalam tahap ini, aku telah semakin dekat dengan kebenaran.

Syukurlah di halaman tak ada kucing-kucing sehingga tak ada lagi yang perlu ditakutkan. Semua benar-benar berjalan lancar. Langkah terakhir yang perlu dilakukan adalah membuka pintu ini dan mengetahui semuanya.

Aku menjinjit dan berusaha mengintip keadaan di dalam rumah melalui kaca yang ada di pintu depan. Dan, apa yang sedang kulihat sekarang benar-benar tak dapat dipercaya.   

Di salah satu kamar di samping toilet, terlihat Bik Merian sedang bercakap-cakap dengan seorang laki-laki di atas ranjang, dan yang mengagetkan, laki-laki itu mirip ayah Ben, Pak Rasmusin. 

Rambut Bik Merian terlihat berantakan dengan hanya mengenakan pakaian dalam saja. Sedang ayah Ben juga terlihat bertelanjang dada meski ia memakai celana dalam. Mereka terlihat bahagia dan apa yang sedang mereka lakukan tampak seperti sepasang orang dewasa yang telah menikah.

Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi sehingga kuputuskan untuk menyelinap ke dalam. Pintu depan tak terkunci sehingga mudah untuk dibuka. Aku mengendap-ngendap masuk dan lekas besembunyi di bawah meja di ruang tamu. Dari sini, aku dapat mendengar percakapan Bik Merian dan ayah Ben meski agak samar-samar.

“Jadi kapan kita akan menikah?”

“Sebentar lagi …”

“Dulu juga kau bilang begitu, sebelumnya juga, sebelumnya juga…”

“Kali ini aku serius. Aku telah mengurus surat cerai.”

“Benarkah?”

“Tentu benar, sayang.”

“Bagaimana keadaan anakmu, Ras?”

“Ia akan ikut ibunya.”

“Mengapa tidak kita rawat dia, Ras? Aku bosan dengan kucing-kucing.”

 “Ia takut denganmu, ia menganggapmu dukun tenung.”

 “Apa penampilanku semenyeramkan itu Ras?”

“Tidak, kau adalah wanita tercantik yang pernah kukenal. Namun harus kuakui aktingmu sangat bagus hingga dapat mengelabui anak kecil, bahkan setiap orang. Juga keadaan rumah ini … sempurna, sangat sempurna!”

“Tapi aku ingin merawat seorang anak Ras. Aku bosan dengan kucing-kucing.”

“Kita akan memilikinya segera. Kalau perlu kau akan melahirkan 3 atau 4 anak dan kita akan memulai hidup yang baru bersama-sama, meninggalkan masa lalu masing-masing.”

Percakapan yang sedang kudengar benar-benar terdengar jelas dari sini dan aku benar-benar terkejut mendengar apa yang sedang dibicarakan meski aku tak memahami seutuhnya. Namun sialnya, seekor kucing peliharaan Bik Merian terlihat datang mendekat dan mengeong ke arahku.  Spontan aku berusaha melarikan diri dan berhasil keluar dari pintu dan menghambur ke luar rumah secepat yang kubisa. Di pohon, kulihat Ben dan Jep sedang menungguku dan aku memberi isyarat kepada mereka agar segera keluar dari tempat ini. Sampai di depan sekolah kami menghentikan langkah kami dan menarik napas sejenak.

“Ada apa sebenarnya, Ris?”

“Tidak apa-apa. Kurasa kita harus segera pulang ke rumah. Setelah ini aku akan membuatkan kalian es jeruk. Emm … dan untukmu Ben, kuharap kau jangan terlalu memercayai apa yang dikatakan oleh ayahmu.”

“Sebenarnya apa yang baru kaulihat, Ris?”

“Tidak, tidak ada apa-apa. Kuharap Med telah sampai di rumah sekarang. Kuharap di lain hari ia berhasil mencegahku berbuat aneh-aneh. Kuharap Kadal Buntung benar-benar ada. Ah, mari kita segera pulang.” ***

(2019)


Aris Rahman P. Putra, lahir di Sidoarjo, 12 Juli 1995. Alumni Universitas Airlangga Jurusan Antropologi. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive diterbitkan oleh Penerbit Basabasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *