Cerpen

Kejahatan Sempurna

January 29, 2019

Cerpen Dadang Ari Murtono

Jam delapan lebih empat belas pagi, Sam sarapan lahap sekali. Remah-remah roti berhamburan dari mulutnya yang tak henti mengeluarkan suara decap. Ponsel di samping piringnya bergetar. Nul sibuk dengan pulpen dan kertas di sisi meja yang berseberangan dengan tempat duduk Sam.

“Halo.” Sam mengusap mulutnya. “Iya, tentu aku bisa. Itu urusan kecil. Jadi, jadi. Aku tidak lupa. Tidak, tidak. Kau tidak perlu kuatir. Sebentar lagi aku berangkat. Ya, aku sedang sarapan. Ya, akan lebih cepat selesai bila kau tidak menggangguku dengan panggilanmu. Ya, aku akan bersama Nul. Tentu dia bisa. Dia harus bisa. Tidak, tidak. Ya, tunggu saja. Baiklah, sampai jumpa.”

Sam mengembalikan ponsel ke tempat semula.

“Siapa?” Nul meletakkan pulpen dan  mengangkat kepala.

“Hanya urusan kecil,” jawab Sam. “Apa yang kau kerjakan?”

“Hanya beberapa pekerjaan sepele. Kau tahulah, membenahi pilihan kata dan tanda baca. Juga memperbaiki logika. Ide selalu datang tanpa bisa kita duga-duga. Kau tahu itu. Hal-hal wajar bagi seorang penyair.”

“Syukurlah. Sudah selesai?”

“Ya. Kau bisa menganggapnya sudah selesai. Atau sebaliknya, kau bisa menganggapnya sama sekali belum selesai. Menulis puisi adalah hal yang unik. Kau pahamlah apa maksudku. Tapi sudahlah, kudengar kau menyebut-nyebut namaku tadi.”

Sam menggelengkan kepala. Mulutnya masih sibuk mengunyah potongan terakhir roti. Tangan kanannya meraih gelas susu. Hanya dengan sekali tenggakan kasar, ia menandaskan isi gelas yang tinggal separuh itu.

Nul bangkit. Lantas mengambil serbet dan berjalan ke meja makan. “Kau sudah selesai dengan sarapanmu?”

“Tentu. Kau bisa membereskannya,” ujar Sam. Ia mengambil sebatang rokok. Lantas menyulutnya. Sebuah ritual yang selalu ia kerjakan sehabis makan.

“Kau belum mengatakan kenapa kau menyebut-nyebut namaku dalam percakapanmu tadi.”

“Kau akan tahu, Nul Sayang. Kau sudah lihat apa yang ada di atas kulkas?”

“Apa?” Nul menengok ke arah kulkas. “Aku tergesa-gesa menyiapkan sarapanmu sementara pikiranku penuh dengan kata-kata baru sejak aku bangun tidur tadi. Aku membuka kulkas buru-buru hanya untuk mengambil susu. Aku tidak sempat memeriksa isi kulkas dengan seksama.”

“Di atas kulkas. Bukan di dalam kulkas.”

Nul mengangkat piring. Mengelap meja. Lantas membawa piring ke wastafel. Meletakkannya begitu saja. Lalu ia menuju kulkas.

“Apa ini?”

“Bukalah.”

Nul membuka kotak kardus kecil berwarna coklat itu. Ia tertegun untuk beberapa detik.

“Apa ini, Sam? Tumben kau begitu manis?”

“Kau lupa? Ada surat kecil di situ. Bacalah.”

Nul memang menemukan secarik kertas di bawah cincin emas yang bersarang di dasar kotak itu. Ia membuka lipatan kertas tersebut. Ada empat kata yang tertera di sana. Selamat Ulang Tahun, Sayang.

“Demi Tuhan, Sam. Aku lupa kalau sekarang ulang tahunku. Terima kasih, Sayang. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa jadinya aku tanpamu.”

“Kau akan tetap jadi penyair hebat, Sayang. Ayolah, siapkan dirimu. Aku punya sesuatu yang lain untuk merayakan hari luar biasa ini.”

“Oh, Sam. Apa lagi? Sebuah kejutan yang manis dalam sehari sudah cukup menakjubkan bagiku.”

“Ayolah Nul. Kau tidak berulang tahun setiap hari.”

“Tunggu sebentar. Lima menit.”

Nul berlari ke kamar. Nyatanya, ia mengingkari janjinya sendiri. Ia menghabiskan dua puluh dua menit untuk memilih baju dan mengenakan riasan. Ia kemudian keluar dengan pakaian andalannya—celana jeans dan kemeja kotak-kotak biru. Pipinya bersemu merah. Bibirnya dipulas lipstik coklat. Rambutnya dibiarkan tergerai.

“Bagaimana Sam?”

“Sempurna. Kau tak pernah terlihat secantik ini.”

“Ah, jangan berlebihan. Aku sudah sering memakai ini.”

“Ya. Tapi kali ini, entah mengapa, kau terlihat menakjubkan. Mungkin efek dari hari baik.”

“Bukan. Ini efek dari kejutan dan sikap manismu.”

“Oke. Tak masalah apapun itu. Kita harus segera pergi.”

“Kemana?”

“Aku meminta Marni buka lebih awal. Khusus buat kita.”

“Oh, Sam. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Ini benar-benar hari yang sempurna.”

Mereka keluar dari rumah. Belok kiri. Berjalan dua blok. Lantas belok kanan. Lurus hingga tiga ratus empat puluh meter. Belok kiri sejauh empat puluh meter. Lalu berhenti di depan sebuah kedai.

“Aku tidak punya banyak uang untuk membayar Marni agar menghias kedainya dengan bunga-bunga. Jadi, kumohon maafkan aku bila kau tidak menemukan hiasan yang tidak seperti biasanya. Tapi aku berjanji kepadamu, kau bisa minum sebanyak apapun wiski yang kau mau.”

“Kau yang terbaik, Sam. Kau yang terbaik,” Nul mendaratkan sebuah ciuman di pipi Sam.

Marni menyambut mereka dengan senyum termanis yang pernah mengembang di mulutnya. Perempuan tiga puluhan tahun yang masih betah melajang itu tampil dengan segala kebesaran dan keanggunannya. Gaun merah berdada rendah, memperlihatkan sebagian payudaranya yang berkilauan.

“Kau cantik sekali, Marni,” kata Nul. “Kau lebih terlihat sebagai orang yang dirayakan ulang tahunnya ketimbang aku.”

“Aku tak ingin membuat pestamu berantakan,” jawab Marni. “Selamat ulang tahun. Aku tak tahu ini ulang tahunmu yang keberapa. Dan aku tidak ingin bertanya. Bukankah tidak sopan bertanya usia kepada perempuan?”

“Tiga puluh tiga, Marni. Tidak apa, toh, cuma kita bertiga di sini.”

Sam menggeser kursi. Membanting pantatnya di sana. Lantas mengeluarkan rokok dari saku bajunya.

“Sialan, korekku ketinggalan,” keluhnya.

Marni merunduk di balik meja bar. Ketika kepalanya kembali muncul, ia berkata sedikit keras, “Tangkap ini, jagoan.” Sam dengan tangkas menangkap korek api yang melayang ke arahnya.

“Kau tak pernah mengecewakan, Marni.”

“Ya. Kaulah yang selalu mengecewakan. Kau nyaris membikin jantungku copot sepagi ini. Kau tahu, Nul, aku benar-benar kuatir kalau Sam lupa bahwa dia harus membawamu ke sini untuk merayakan ulang tahunmu. Karena itu aku tadi meneleponnya.”

“Kalian merencanakan ini dengan sangat hebat,” kata Nul seraya tertawa kecil. “Baiklah. Mari kita mulai. Apa arti perayaan ulang tahun tanpa sedikit alkohol?”

“Sabar manis. Aku sudah menyiapkan wiski yang luar biasa. Kau akan menyukainya. Dan untukmu, Sam, seperti biasa, vodka yang ganas.”

“Kau memang yang terbaik, Marni.”

“Eh, tunggu dulu,” kata Marni. “Karena Sam memintaku membuka kedai lebih awal khusus buat kalian dan Sam juga bilang tak ingin ada orang lain selain kita bertiga di sini, kupikir kalian memang menginginkan semacam privasi dan jauh dari gangguan. Apakah tidak sebaiknya kalian mematikan ponsel? Atau kalian mau merekam pesta ini dan memacaknya di media sosial?”

Sam mengangkat bahu. “Aku ingin momen berharga seperti ini kami nikmati sendiri saja. Tak perlu ada orang lain yang tahu. Kau tahu kan, berdasarkan sebuah penelitian yang pernah aku baca, orang-orang yang suka memamerkan kemesraan dengan pasangannya di media sosial cenderung menyimpan masalah dan tidak harmonis? Yah, tapi karena ini adalah pesta Nul, semua terserah kepadanya. Bagaimana Nul?”

“Aku setuju denganmu, Sam Sayang. Hubungan kita baik-baik saja. Sangat baik, malah. Kita benar-benar pasangan yang harmonis. Bukankah kau juga berpikir begitu, Marni?”

“Tentu. Tentu saja. Aku tidak pernah melihat ada pasangan yang lebih harmonis ketimbang kalian.”

Gelas berdentang. Nul minum dan tertawa. Sam minum dan mengepulkan asap rokok dan tertawa. Marni menuangkan minuman dan ikut minum bersama mereka—sekali ia mengambil dari botol jatah Nul, dan sekali dari botol jatah Sam.

“Kau tak boleh minum terlalu banyak, Marni. Kau harus memastikan kami tidak terlalu mabuk dan melakukan hal buruk,” kata Sam.

“Jangan kuatir. Aku bisa menjaga diriku. Nah, sekarang giliranmu, Nul. Kau harus minum lebih banyak karena ini hari istimewa buatmu.”

“Tentu saja. Aku akan minum langsung dari botol.”

Mereka tertawa. Mereka tertawa. Dan mata Nul mulai merah.

“Ia sudah hampir menghabiskan isi botolnya.”

“Ya, Marni. Dan aku menepati janjiku padamu. Inilah saatnya.”

“Tidakkah kita mesti menunggu beberapa saat lagi, Sam?”

“Ini sudah cukup. Nul sudah sangat mabuk. Enam tahun kami bersama dan itu sudah cukup membuat aku mengenali detail-detail kecil dari dirinya. Aku tahu ketika matanya sudah seperti itu, itu artinya ia sudah benar-benar mabuk. Sini, mendekatlah.”

“Oh, Sam, jantungku berdebar-debar. Ini luar biasa. Sensasi yang menakjubkan. Ini benar-benar kejahatan yang sempurna.”

“Ya, ya. Sebuah kejahatan yang sempurna. Tak ada sensasi yang lebih luar biasa dari ini. Berselingkuh di depan mata orang yang kita selingkuhi.”

Mata Nul berkabut. Samar-samar, ia melihat tangan Sam meraih dan menarik kepala Marni. Lantas ciuman. Lantas pakaian yang tanggal. Nul mengucek-ucek matanya. Kepalanya semakin berat. Dan nanti, setelah pengaruh alkohol menguap dari batok kepalanya, ia tidak akan mengingat kebrutalan birahi yang terjadi di depan matanya.
***

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *