Buku Resensi

Kembali ke Akar Kata

March 26, 2019

Oleh: Alexander Robert Nainggolan

Puisi acapkali bersinggungan dengan kondisi keseharian penyairnya. Setidaknya ia menghimpun sejarah panjang yang melingkupi dari peristiwa itu. Maka apa yang dituliskan Kiki Sulistyo dalam kumpulan puisinya, dengan kembali ke dalam khazanah lokal (keseharian) dari lingkungan kehidupan menjadi sebuah cara unik untuk tetap menggali akar tradisi yang ada.

Jarang penyair yang mengangkat kultur kehidupan lokal yang ada. Dalam pembukanya Kiki mengisahkan perjalanan puisi-puisi yang terhimpun dalam buku ini, ia bercerita tentang sebuah dusun, kehidupan berpindahnya yang turut merekam segala peristiwa. Komunikasi yang kerap “mengganggunya”, namun menjadi bahan dasar dalam puisi-puisinya. Adalah bahasa Sasak sebagai komunikasi verbal yang juga turut imbas dalam gubahan puisinya. Maka insulin itu pulalah yang menjadi pemacu, saat ia merasa ada gangguan, namun lewat percakapan itu, Kiki justru menemukan sebuah instrumen yang baru. Istrumen yang kembali ia endapkan ulang, sebagai suatu nada yang bersahutan. Temali dengan imajinasinya.

Keunikan tradisi yang turut pula memengaruhi puisi-puisinya. Terasa memang bagaimana Kiki menghimpun diksi-diksi, dengan merangkum pelbagai alat, benda, tanda,  nama panggilan, tempat, ataupun aura bunyi yang terasa mistis. Ini yang menjadikan puisi-puisi dalam buku ini begitu unik.

Dan Kiki menulis: kusebut tenggara saat kau sebut pertengkaran, -antara mereka,/kelasi dan pencuri di kapal yang berlayar menuju Ampenan//…duyung itu bibi, datang pada suatu hari dengan rambut/berkepang//matanya lengkung limau muda, kulitnya lempung pulau sokotra//…hanya kelasi yang mengerti mengapa kini kota ini sekisut kuping/bayi//sebab ia tua oleh suara ombak menolak usia, ia celaka oleh upaya menjadi baka//(“Rawi Tanah Bakarti”, Hal. 12-13)

Ihwal Pasar Malam turut dicatat Kiki dalam puisi. Sebuah pasar malam, menjadi sebuah penanda permainan yang ada di dalamnya: kuda sirkus, bayi, orang kerdil, dan pembaca kartu. Ia menulis:

Perempuan itu datang membawa kartu/ di belakangnya seekor anjing buta/ menyeret sembilan tempurung, suaranya berdengung/setiap ia melulung, di angkasa ruh-ruh berwarna biru/ bergerak baghai wabah/perempuan itu menyalakan pelita, api berkedip/seperti mata siluman dalam botol limun/yang berkilau-kilau/kartu-kartu di tangan perempuan itu terbuka satu per satu/gambar-gambar di dalamnya jatuh ke tanah/hidup dan tumbuh:/cacing air yang terus-menerus mengisap cahaya/wayag yang meniup bayangannya sendiri/seorang menak tanpa kepala, tangan kiri yang merayap seperti kepiting./perempuan itu menunjuk ke ladang, bintang-bintang/padam di rambut setiap orang// (“Pembaca Kartu”, hal. 26). Terasa bagaimana Kiki menjaga keutuhan diksi puisinya. Rimanya terjaga dan tertib. Ia seperti tidak menyisakan celah lain, kata-kata menjadi lebih hidup dan menggambar maknanya sendiri.

Buku ini terbagi jadi empat bagian: Rawi Tanah Bakarti, Kitab Batu, Rumah Juru Tenun, Bakar Padi di Bakarti. Di setiap bagian, puisi-puisi saling bersinggungan, sehingga menciptakan peristiwa-peristiwa yang baru. Terasa bagaimana Kiki konsisten menjaga setiap bagian-bagian puisinya agar senantiasa berhubungan antara satu dengan lainnya.

Beberapa puisi menghadirkan pengulangan kata. Kata yang diulang tersebut menciptakan landai panjang saat membacanya, namun tetap menciptakan kelindan lain. Saat kata bertemu dengan kata yang lainnya. Pengulangan kata-kata itu menciptakan harmonisasi, yang lebih mirip nada pada sebuah lagu.

Bakarti

Sebagian besar buku ini, mengambil tema tentang Bakarti. Kiki merincikan dalam pelbagai pilahan, yang sekaligus meminta hasrat untuk tetap terjaga membacanya. Membentuk untaian, meramunya dengan pelbagai mitos dan dongeng yang kerap terjadi. Ia, meskipun tidak melakukan penelitian secara khusus, namun terasa bagaimana keseriusan yang dikerjakannya. Kiki seakan terjaga untuk tetap mengamati, setiap hal—ihwal yang terjadi di Bakarti. Dengan rinci, Kiki menjabarkan setiap peristiwa, lalu memberikan sentuhan metafora yang kadang tak terduga.

Tidak hanya Bakarti, Kiki juga memotret dengan lugas tentang penantian seorang Ibu akan kepulangan anaknya. Namun ternyata ada luka kehilangan yang kemudian ditemui:

Ibu tidur di beranda. Siaran radio meresap kulitnya./Sebelum tidur ia dengar suara pesawat melintas lambat./ Ia bayangkan putranya di dalam sana, hendak pulang./ Ia bayangkan hutan-hutan sawit melengkungkan punggung/remaja/yang potret masa kecilnya buram di dinding kamar.//Tunas tomat merekah tanah, sedikit di sebelah kanan rumah./Tapi tak ada pekerjaan, cara menghabiskan usia/di bawah langit yang sama semenjak sepasang pendosa/dibuang dari surga. Juga untuk menerima/bahwa para pembuat pepatan telah berdusta. Tak ada surga./Tak ada tongkat. Dan batu-batu tak diangkat derajatnya.// Ibu tidur di beranda. Dalam tidurnya, ia saksikan perahu kayu/mengangkut penumpang gelap. Hanyut ke rawa-rawa berasap./Sirine, sorot lampu, teriakan-teriakan dalam bahasa Melayu./Ia bayangkan putranya diturunkan dari pesawat. Terbaring pucat/ dalam peti yang engsel-engselnya mulai berkarat,// (“Ibu Tidur di Beranda”, hal. 95)

Kiki telah menciptakan langkah yang baru bagi perkembangan puisi. Pelbagai kosakata baru mengerubungi puisi-puisinya. Yang ternyata menciptakan makna baru pula, ia seperti mengorek ke akar kata. Membiarkan puisi-puisinya dihuni dengan kata-kata yang jauh dari kelaziman.

Melalui buku ini, Kiki telah memberikan corak yang baru dalam dunia perpuisian kita. Ia telah menghadirkan bentuk puisi yang baru, kembali ke tradisi lokal, hal yang mulai terlupakan selama ini. Ia kembali jauh di kedalaman akar kata, bagi puisi-puisinya.
P

Alex R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Saat ini bekerja di Jakarta. Tulisannya berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di pelbagai media cetak mauapun online. Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016). Bisa dihubungi : alexr.nainggolan@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *