Cerpen

Kemboja Putih

October 25, 2022

Cerpen Ruly R

Telah direnggut segala yang ada di diriku. Habis sudah segala yang kupunya kecuali nyawa yang melekat, mungkin ini juga tidak berguna lagi. Aku terbuang, jauh dari segala yang kuidamkan dan kucintai. Di tubuhku ini darah hanya mengalir, sebatas itu, karena memang tidak ada hal yang bisa menggantikan harga diri. Aku sudah selesai, semuanya sudah dirampas….

Jo terbatuk. Mata lelaki berambut perak itu menerawang ke luar jendela. Tampak bunga azalea di seberang jalan. Dalam pandangannya, bunga itu seperti bunga kemboja yang seakan anomali di tengah padatnya pemukiman. Bunga yang dilihat Jo membawa pada ingatan masa lalu. Tentang dia yang sebelum menahan beban dan keterasingan.

Jo masih ingat persis. Segalanya mencekam, malam itu seorang teman yang masih indekos di asrama yang sama dengan Jo ditangkap. Sedikit beruntung karena Jo saat itu sedang keluar bersama beberapa kawan lain. Dia tidak sampai dibawa oleh yang konon katanya petugas, meski segala tentang berkas-berkas dan perihal administrasinya raib—disita.

Keesokan hari di sebuah surat kabar memasang headline tentang penangkapan beberapa mahasiswa yang dicap komunis. Jo tahu dan sadar tapi semuanya seakan terlambat. Kuliahnya terkatung, hidupnya juga. Menjadi pelarian—dari Belanda ke Rumania, singgah sebentar di Belgia lalu kembali lagi ke negeri kincir angin itu. Terasing di sana, dan pasrah yang akhirnya itu juga dia gadaikan untuk bekerja di sebuah bengkel, meski kemampuannya tak seberapa, hanya bisa utak-atik sepeda ala kadarnya seperti yang dia lakukan di kampung dulu.  

Jalanan lengang, hanya beberapa pejalan kaki yang tampak di pelupuk mata lelaki tua itu. Di kamar, Jo melambungkan pandangan ke arah birunya langit. Biasanya jalanan padat dan ramai meski bisa dikata tempat tinggal Jo ada di daerah Amsterdam pinggiran. Salah satu sebab jalanan kota ramai selain saat hari kerja adalah karena ada pertandingan sepak bola. Mengingat permainan bola kaki itu dada Jo sesak. Ingatan terus berkelindan, tak bisa dicegah terus saja berdesakan hingga akhirnya meruncing pada kaki-kaki dekil, bola lusuh, tanah becek, serta berbagai kegembiraan yang sekarang semua itu hanya sisa, abadi dalam sebatas bulir-bulir kenangan. Segala tak pernah kembali, batin Jo. Semua pupus, lalu sirna bagai debu jalan yang dihempas angin Amsterdam tanpa terkecuali harapannya. Dia lelaki tua yang tidak lagi percaya akan hal itu. Ditaruhnya harapan di dalam lubuk hati, lalu pintu hati ditutup rapat dan dikunci bagai lemari kayu yang ada di kamarnya dulu. Kamar di mana dia dilahirkan dan dirawat lentik jemari ibunya.

Satu hal dan seakan hanya itu yang ingin dikatakannya, dan sebab itu dia mengguratkan penanya di atas secarik kertas meski untuk saat ini—saat matanya menerawang ke luar kamar, dia seakan mengambil jeda untuk menarikkan tinta-tinta pena. Dia kini melangkah kecil, asbak di meja dekat lampu duduk diambil, tangannya merogoh saku kanan celana. Satu kretek diloloskan. Jo terbatuk, riak kental dan menguning keluar, ditutup dengan telapak tangan. Tapi tetap saja rokok dihisap dalam, diembuskan, asap keluar deras bagai kereta uap Belanda menyemprotkan sisa pembakaran.

Kembali dan selalu pandangan Jo tertuju pada jalan yang ada di bawah kamarnya. Di balik kacamata, dua bola mata itu seakan berisyarat bahwa dia ingin bebas, sebebas terbangnya burung di desanya dulu. Dia ingin hidup yang benar-benar hidup, bukan hidup yang terus menerus berjalan dengan membawa beban masa lalu yang ia sendiri tidak pernah tahu dengan persis kesalahannya.

“Andai,” begitu gumam Jo. Tapi pengandaian menjadi kekeliruan yang besar. Sudah tidak ada baginya kejayaan. Masa lalu yang dia ingat hanya tentang keriangan yang sekarang sungguh kabur dan berjarak jauh. Masa lalu tak ubahnya suara yang keras di pikiran, namun lamat di telinga.

 ….. maaf. Jika memang kata itu pantas dan kiranya aku tidak punya kata yang lain lagi. Bukan aku menduga atau berpikir tentang segala yang buruk, tapi aku berpikir kalau ibu dan bapak sudah mati. Aku memang terlampau brengsek, dan untuk saat ini aku sudah benar-benar kalah. Kuakui, aku memang pecundang, tapi bukan di mata mereka. Aku pecundang karena tidak bisa menjagamu, membanggakan kedua orangtua kita, dan malah menjadi orang asing di negeri asing pula. Semua dalam hidupku mungkin telah keliru. Untuk itu aku minta maaf.

Umurku mungkin sudah tak lama lagi. Bukan aku hendak mendahului keputusan Tuhan, tapi begitu yang kupikirkan. Betapa kematian tidak lagi menakutkan karena beban yang berhimpit di dalam hati dan pikiran ini yang selalu dan terus saja membuatku menggigil setiap malam.

Kembali Jo berhenti menulis. Dalam duduknya dia memandang jendela, tak ubahnya jendela itu jeruji besi yang mengungkungnya selama ini. Rumah susun dengan cat warna cokelat tanah dipandanginya lama dari balik jendela. Matanya nanar menatap itu. Tanpa satu aba-aba, air matanya menetes. Bayangan masa lalu tentang harapannya meninggalkan Indonesia dengan penuh bangga kini seakan koyak. Hanya menjadi luka batin yang dalam.

Ingatan Jo seakan kembali ditarik. Sebuah desa bernama Kepuh gempita bukan main, seluruh warga tampak mengantar Jo yang bernama asli Sumarjo untuk melanjutkan kuliah di negeri yang berpuluh ribu kilometer jauhnya. Jo tak mungkin lupa, setidaknya orangtuanya yang hanya buruh tani bisa membanggakan dirinya, putra sulung mereka. Marwanto dan Hartini kedua adik Jo yang saat itu masing-masing masih terlalu dini untuk tahu tentang arti sebuah perpisahan tidak pernah mengira bahwa hari itu menjadi hari terakhir mereka bertemu kakaknya. Begitu juga dengan Jo yang tidak terbesit sedikit pun kecemasan saat harus meninggalkan tanah kelahirannya. Tanah yang saat ini begitu dirindukannya.

Saat perpisahan itu ibunya juga membawakan sebuah kemboja putih yang memang menjadi kebiasaan ibunya dalam setiap pagi mengumpulkan kemboja. Dulu Jo menganggap ibunya sekadar iseng atau memang tidak ada pekerjaan lain, tapi karena ingatan tentang kemboja itu, Jo kini sangat rindu akan segala yang telah lampau berlalu. Luka pikiran dan batin, geram, mengutuk pada suratan nasibnya sendiri, Jo meneteskan air mata, terus saja menetes. Bulir lembut air mata bagai genangan masa lalu yang tak bisa dihindari.  

Sebuah klakson mobil yang terdengar keras membuyarkan lamunan Jo. Matanya melihat sedan kecil berwarna perak, seperti milik seorang sahabat bernama Theo. Ya karena seorang kawan itu juga Jo merindukan tanah air.

Di sebuah bar tempat biasa klub penggemar musik blues berkumpul, Jo dan Theo bertemu. Lelaki berdarah Belanda-Maluku yang bisa sedikit berbicara bahasa Indonesia namun dengan aksen Belanda kental dan mahir memainkan harmonika itu mulanya mengawali pembicaraan dengan Jo lewat cerita bahwa dia baru saja pulang dari Indonesia, tanah nenek-kakeknya. Lelaki yang berumur tak beda jauh dengan Jo itu juga mengatakan kondisi Indonesia saat ini sudah aman dan kondusif. Pemimpin di sana sudah berganti.  

“Apa kamu tak rindu keluargamu?” tanya Theo usai bercerita panjang lebar tentang politik Indonesia. Cerita yang disampaikan dengan sangat antusias dan semangat.

Jo diam seribu bahasa. Matanya merah, antara kemarahan dan rasa penuh harapan ada di dua bola mata lelaki itu. Theo seakan paham dengan perasaan kawannya. Kebisuan dan keheningan milik mereka jelas kontras dengan suasana bar yang riuh. Jo mengambil gelas yang ada di meja dengan tangan yang bergetar.

“Apa barang sedikit kau tidak bisa berdamai dengan masa lalu, Jo?” tanya Theo setelah beberapa saat diam dan hening milik masing-masing menguasai meja mereka. Kembali Theo menyampaikan pandanganya, “Jika kau memang rindu pada keluargamu sebaiknya kau pulang. Jangan permasalahkan segala yang telah berlalu.”

Jo hanya mengangguk seakan mahfum dengan hal yang sedang diutarakan Theo. Tapi Theo menatap Jo dengan penuh heran, tidak tahu mesti memberi nasihat macam apa untuk kawannya itu, karena bukan sekali ini saja Theo memberi masukkan pada Jo.

“Jelas kau terlalu egois, Jo,” ucap Theo lirih.

Jo masih saja diam. Dia menandaskan minumannya dalam satu kali tegukan. Kemarahan tampak dari air muka lelaki tua yang menjadi pelarian itu.

Theo menatap Jo dengan saksama. Tapi yang ditatap itu justru mengarahkan pandang ke panggung kecil yang ada di bar. Sudah jelas tidak ada hal lain yang memang dipikirkan Jo kecuali perkataan Theo. Kembali Theo menyapa Jo dan kali ini ditambah gerakan kecil ke bahu. Beberapa pengunjung bar tampak memicingkan mata penuh heran ke arah mereka.

“Kau benar. Jelas benar. Aku memang rindu keluargaku tapi jika kau katakan tentang pulang. Lain. Jelas ini lain!” Jo meloloskan sebatang rokok seolah mencari ketenangan tapi dalam raut muka itu masih saja ketegangan yang tampak.

“Kupikir kau paham tentangku. Kau yang kuanggap sahabat ternyata tidak semua kau mengerti. Jelas aku rindu keluarga, rindu kampung halamanku. Tapi sudah habis segala yang kupunya. Aku orang gelap di sini. Pulang dengan apa? Aku harus bagaimana? Aku sendiri tidak tahu. Bukan aku mengungkit tentang harga diri tapi ini semua justru tentang aku yang menahan agar segala masa lalu tidak lagi muncul. Telah kukubur segalanya. Aku hanya berpikir, ada kalanya sebuah dendam tidak perlu lagi kutuntaskan dengan hal apapun. Dalam hal ini, aku memilih tidak melakukan apa-apa lebih berarti terutama bagiku sendiri, karena hal itu yang telah kupilih.” Panjang lebar Jo mengatakan itu usai dia mengembuskan kepulan asap yang tebal dari mulutnya. Sebentar setelah itu Jo pamit, hanya kata pendek yang diucapkannya pada Theo, lantas dia meninggalkan bar.

Saat itu jam belum terlalu larut meski angin yang berembus cukup membuat gigil tubuh Jo. Dalam perjalanan pulang menuju apartemen yang Jo sewa dengan harga cukup murah bayangan datang. Sekat antara masa lalu dan keinginan pulang beradu dalam pikiran Jo, terus berputar dan terus begitu. Hingga dia sampai rumah pikiran tentang kata-kata Theo terus mengejar Jo.

Air mata menetes, kertas surat menyerap air itu. Kembali Jo mengarah pandang ke luar jendela. Ada suara berisik, di kamar sebelah seorang ibu sedang membentak anaknya. Segala yang sentimental dan nostalgik menarik ingatan Jo tentang orangtuanya yang kerap marah. Terutama ibunya sendiri. Bukan Jo serba tahu tapi jika rambutnya saja sudah memutih, dia berpikir orangtuanya pasti sudah meninggal dunia, meski dia tidak tahu bagaimana persisnya. Prediksi dari kelogikaan, pikir Jo.

Kabar kematian memang tidak didapat Jo, dia sadar dan tahu sekalipun kabar itu ingin disampaikan, adiknya pasti tidak tahu persisnya harus bagaimana mengirimkan kabar duka pada Jo. Lagi, bayangan kematian bukan kedukaan karena bagi Jo duka sudah menempel lekat dalam sisa umur hingga sekarang, bahkan untuk ke depannya.

Jo melangkah kecil. Menuju dapur, mengambil sebotol air putih dan meneguknya. Setelah itu dia kembali ke kursinya, kembali mengambil pena dan bersiap menggoreskan tinta-tinta hitam pada kertas.

Kertas yang semula telah dibubuhi tulisan dirobeknya. Kata-kata seperti mati bagai jiwanya dalam segala keterasingan selama ini. Ditulis ulang surat itu dengan kalimat yang hampir sama dengan sebelumnya. Yang kali ini berbeda perihal permintaan maafnya yang ditulis di bagian awal surat.

Entah kenapa menulis surat untuk kali ini seperti siksaan yang secara tidak langsung terus bertalu dalam dada Jo. Gemuruh hatinya jelas tampak ketika mata tuanya kembali menerawang ke arah luar jendela. Terus saja mata Jo ke arah yang sama, seakan dia tidak kehabisan kata-kata tentang hal yang selama ini dia rindukan namun tidak bisa ditulisnya. Hanya pada kaca dia seperti meminta pengertian. Sendiri.

Kamar sunyi, amukan tetangga hilang setelah diakhiri dengan bantingan pintu yang sangat kuat. Sudah biasa bagi Jo, bahkan hampir saban hari dia mendengar pertengkaran ibu dan anak itu. Jo sudah tidak memedulikan karena segala yang terus dia pedulikan seperti sudah tidak membutuhkannya. Dalam duduknya kembali pengandaian itu keluar. Ya seandainya dia tidak mendapat beasiswa studinya ke luar negeri untuk meneruskan sebagai insinyur tentu sekarang dia bisa menikmati masa tuanya di tanah air. Terpandang syukur, jadi buruh tani tak masalah bagi Jo, asal masih tetap di tanah airnya sendiri. Bukan bekerja sebagai seorang montir di sebuah bengkel meski bengkel itu ada di luar negeri. Tapi satu yang jelas dalam hidupnya, dan itulah yang dia inginkan, bukan hidup dalam keterasingan dan pengasingan yang sampai mati harus dia terima.

Seperti telah puas menatap jendela, Jo mengarah pandang pada kertas surat. Beberapa buku yang ada di meja juga tak luput dari pandangannya. Merah mata Jo dibakar marah begitu dia melihat buku itu. Tapi Jo seperti tersadar segala marah tiada menemui guna. Bertahun lalu begitu tentang konflik politik itu pecah sempat dia ingin membakar buku-bukunya, tapi hal itu dia urungkan. Tidak tega Jo membakar buku miliknya. Buku yang padahal bukan dengan uang Jo membelinya, melainkan dengan rasa persahabatan. Ya, seorang sahabat kerap membawakannya buku-buku itu. Yang tersisa dari persahabatan itu tak lain tinggal buku dan kenangan. Tidak ada lagi hal lain, karena setelah konflik itu pecah sahabat Jo tidak pernah lagi terlihat. Rumor berkembang tentang dia yang diculik oleh sekelompok orang.

Kalian mungkin menganggapku sudah mati karena aku tidak pernah pulang bahkan mengirim kabar pun tak pernah. Sampai saat ini bahkan hingga aku menulis surat ini, aku merasa malu atas hidupku. Memang aku tak pernah mendengar kabar dari kalian, tapi aku yakin kalian bernasib lebih baik daripada aku. Tentang Indonesia aku kerap mendengar dari kawan atau membaca di surat kabar. Kondisi di sana setidaknya tidak lebih buruk dari puluhan tahun yang berlalu. Aku tidak tahu persisnya, tapi pada intinya, aku harap semua baik-baik saja.

Sudah kutulis segala dalam hidupku berantakan. Jangan pernah pikirkan kakakmu ini. Memang begitu adanya waktu yang masih saja misteri. Aku tidak hendak membela diri tapi memang aku tidak mau secara terang untuk pulang. Cukup bagiku untuk mendengar kabar tentang Indonesia dari sini, meski kabar itu bukan disampaikan langsung oleh adikku sendiri.

Kubuat pengakuan kalau memang ini sudah menjadi bulat keputusan. Yang aku ingin kalian tahu setidaknya aku rindu kampung halaman meski tak sudi aku pulang. Bukan sekadar tak sudi karena pada kenyataannya aku tidak akan pernah bisa pulang. Semua sudah habis seperti yang sudah kutulis sebelumnya.

Beruntung. Bisa kukatakan demikian karena setidaknya aku masih bisa bernapas hingga sekarang, lain daripada beberapa temanku yang jejaknya sampai sekarang hilang. Ada dua hal yang ingin kukatakan yaitu tentang penyesalan dan harapan, meski aku sendiri tidak lagi sepenuhnya percaya dengan semua itu. Segalanya sudah sepantasnya kukubur, sekarang aku hanya lelaki tua yang kerap menggerutui nasibku di tengah segala yang makin hari makin asing saja bagiku.

Sumarjo kakakmu ini masih sama seperti dulu. Masih sesekali suka bercanda meski lebih banyak marah. Jika kelak kita bertemu karena kamu ke sini aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, bahkan aku bingung harus menaruh mukaku sendiri di mana.

 Ingin aku mengubur atau menyimpan wajahku, bahkan sudah jauh-jauh waktu ingin kulakukan layaknya aku telah melupakan penyesalan dan harapan, seperti aku mengubur dendam masa lalu. Tapi itu semua susah untuk kulakukan bahkan hingga sekarang.

Betapa aku bodoh, tersadar akan segalanya ketika seorang kawan bercerita dan terus memberi nasihat. Mungkin kalian, dua adikku tidak perlu susah payah menganggapku kakak karena aku sudah menabur garam pada luka kalian. Surat ini terasa perih bagiku. Aku memang benar-benar tidak berguna. Dalam segala sesal aku tulis semua ini. Jika harapan masih ada, kelak kalian akan terbang ke negeri kincir angin ini. Kutulis alamatku dalam surat, tanya tentang lelaki tua bernama Jo. Satu harapanku lagi tentang semua, entah aku masih hidup atau sudah mati, bawakan aku setangkai bunga kemboja putih. Hanya itu yang kuinginkan, tak lebih. Jika kelak aku sudah mati taruh itu di pusaraku.

Rindu kalian semua, rindu tanah airku, jelas itu tak bisa kubantahkan. Tapi kerinduan yang paling hakiki menurutku adalah kerinduan yang kali ini buntu, tanpa sebuah pertemuan. Sudah jelas segala kerinduan ini kutahan, biar begini adanya. Jauh dari sini di pengasingan dan aku memang benar-benar asing, kakakmu hanya ingin kemboja putih itu, kemboja yang selalu membawa kerinduanku pada tanah air. Memang selayaknya kerinduan adalah kesucian yang seperti terpancar dari bunga yang kuiingikan itu. Kemboja yang selalu saja membuatku terpanggil akan segala kehidupan keluarga kita dulu, sebelum aku pergi jauh dan tak pernah kembali lagi.   

Salamku,

Sumarjo, kakakmu.


Ruly R, bagian dari Kamar Kata dan Rusamenjana Books Store & Club. Suratmenyurat:riantiarnoruly@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *