Cerpen

Kepiting Merah

August 24, 2021

Cerpen Jeli Manalu

Tirai awalnya ragu-ragu dan sempat menolak ajakan berlibur ke pantai dari Lumut, suaminya, tepat di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh. Saat itu, Tirai berkata, bila pada bulan September, badai yang tak selalu disertai hujan suka datang seperti sebuah kejutan.  

“Ketinggian ombak bisa mencapai empat meter,” katanya.

Tirai juga sempat menunjukkan satu berita media daring melalui layar ponselnya. Saat bersamaan, sembari masih memikirkan tentang ombak yang bisa datang tiba-tiba itu, sisi lain dirinya perlahan membayangkan bagaimana seandainya ketika berlibur di pantai nanti ada seekor kepiting merah muncul dari dasar lautan menghampiri dirinya—pastilah itu akan jadi peristiwa menyenangkan. Dalam pikirannya yang mulai berharap itu, ia membiarkan dirinya merasakan kaki-kaki si kepiting dari punggung tangan bergerak terus ke kedua paha telanjangnya, dan ia, sudah sangat lama memimpikannya. Cuaca ekstrem, atau, menunda bermain-main dengan kepiting karena mencemaskan situasi yang bahkan belum tentu terjadi? Dan bagaimana bila ini juga merupakan momen terakhirnya bersama Lumut. Lumut lebih tua darinya. Selisih lima belas tahun. Dan Tirai percaya, orang yang lebih tua pastilah lebih dulu matinya.

“O-ok,” jawab Tirai, kemudian—ia benar-benar sudah mengenyahkan pikiran buruk tentang cuaca. Kelak bila tiba masa kesendiriannya, ia tak lagi dihantui perasaan bersalah sebab selalu teringat tidak memenuhi pemintaan terakhir Lumut, yaitu berlibur ke pantai tepat di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh.

Selain itu, ia juga tidak ingin seperti Nuna. Lansia pemurung, tetangganya, yang hatinya direnggut sepi serta kehilangan api hidup akibat ditinggal mati suami. Membiarkan rambut lurus dan lebatnya menjadi kusut berpilin, juga rontok. Pada baju hitamnya, yang sudah lama tidak diganti, tampak bintik-bintik ketombe. Satu gigi depannya pun dibiarkan rompal tak dipasang yang baru. Tirai tidak mau seperti Nuna. Ia ingin masa depan kesendiriannya nanti berjalan sempurna. Ia sudah punya konsep tentang itu.

Sesudah mendengar kata ya dari Tirai, tentang istrinya itu tidak lagi ragu untuk menerima ajakannya berlibur ke pantai di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh, Lumut bergegas ke mobilnya. Kado yang sudah dipersiapkan ia sembunyikan ke bagasi. Ia berencana memberikannya nanti dengan cara membuka kotak kado, lalu menuntun isinya bergerak-gerak ke arah Tirai. Dan ia akan membiarkan Tirai merasa kado itu—seekor kepiting—datangnya dari kedalaman laut. Sebab ia tahu, istrinya menyukai momen bertemu kepiting ketika berlibur ke pantai.

Warna laut sama dengan langit ketika mereka tiba di sana. Biru, kesukaan Tirai. Hempasan angin juga tidak terlalu keras seperti pemberitaan media daring bulan September. Tak jauh dari tempat Tirai berdiri ia melihat para remaja membuat pola di atas pasir. Gambar manusia. Lelaki dan perempuan. Di sebelah gambar itu mereka buat gambar satu lagi. Lelaki berlari ke arah pepohonan yang ranting-rantingnya melambai. Si perempuan mengangkat ujung gaunnya hingga setinggi paha dan dengan rambut diterjang badai mengikuti serpihan ombak pulang ke tengah laut.

Tirai belum melepas sweter panjangnya sewaktu menyaksikan gambar-gambar itu dibuat para remaja. Dan tak lama setelahnya, ia berdecak kagum pada ombak yang bergerak ke luar. Ombak yang ia lihat kali itu datangnya serupa gorden berwarna cokelat susu serta berumbai. Saat gorden menghadang gambar buatan para remaja, serempak mereka berseru. Sedangkan Tirai melangkah mundur karena gugup, dan sekali lagi, ia memang sudah begitu lama tidak pernah ke pantai.

“Tidak apa-apa!” teriak Lumut dari titik yang tidak terlampau jauh, untuk menenangkan hati Tirai.

“Hei, aku bahkan menyukainya,” balas Tirai, ia tidak ingin terlihat ketakutan sedikit pun. Ia juga berbicara keras-keras agar suaranya tak habis ditelan angin.

Kemudian ia memperhatikan Lumut yang sedang tidur-tiduran. Lelaki ini memang sungguh sudah tua, batinnya. Lengan Lumut bergelambir. Pipinya melorot. Uban, kerutan, juga bercak-bercak kehitaman pada kulit. Tirai membayangkan hari-hari pertama ketika nanti ditinggal mati lelaki itu. Ia mungkin masih menyeduh teh sebanyak dua cangkir—sebuah kebiasaan yang tak mungkin lepas dalam sekejap. Bila terjadi demikian, pada hari berikutnya ia akan mengganti jenis minumannya menjadi air kelapa muda campur krim kental manis, minuman yang sering ia nikmati sebelum menikah dulu. Hal lain, seandainya ia pergi ke pasar lalu pedagang langganan menyadari ada yang kurang kemudian membuka obrolan: tumben sendirian—biasanya diantar suami—ia juga mesti mengubah kebiasaan. Yaitu, mulai mencoba berbelanja di tempat baru. Pagi hari juga ia akan mengganti rutinitas, dari membaca berita media daring menjadi joging. Joging dengan rambut dikucir tinggi seperti gadis remaja. Sepatu merah muda. Beha berbusa, yang membuat payudara tampak montok.

Setelah sendiri nanti ia tidak mau rapuh serta kehilangan hasrat hidup. Ia justru semakin aktif berkegiatan. Belajar bermain TikTok dengan anak-anak muda di kompleks tempat tinggalnya. Ikut membahas herbal awet muda di komunitas ibu-ibu. Juga ikut bergosip-gosip kecil untuk mempererat tali persahabatan khas perempuan. Janda atau duda mana yang baru menikah lagi. Siapa baru ditinggal pasangan namun sudah punya pacar untuk diajak ke pantai.

Tepatnya, Tirai tidak mau seperti Nuna. Selain tak mengurus tubuh, Nuna juga membiarkan rumah layaknya tak berpenghuni. Tumpahan bubur nasi terakhir suaminya di taplak meja berwarna burgundi dibiarkan mengerak. Setiap sore duduk di balkon, tempat favorit ia dan suaminya biasa memandang matahari terbenam ditemani dua gelas teh ungu dari seduhan kembang telang yang diberi perasan lemon, dan ia tak merasa risih ketika salah satunya hanya dicicipi semut. Bila nanti Lumut sungguh telah tiada, Tirai tidak mau seperti tetangganya itu.

Ia bisa saja mencari keberadaan Frater, mantan kekasihnya. Bila bertemu, ia akan mengajaknya menikmati air kelapa muda ditambah krim kental manis. Dan saat itu, mungkin ia boleh bertanya: apa kamu pernah punya kekasih lagi setelah hubungan kita berakhir waktu itu, di tepi pantai, yang biru, dan sejak itu, aku kehilangan kepiting gendut dan sedikit genit?

Sejak berpisah, Tirai dengan Frater memang tak sekalipun pernah berjumpa lagi. Dulu, sekitar tujuh bulan menjadi kekasih Frater, setiap minggunya, Tirai pasti memasak kepiting. Dan kepiting-kepiting yang akan dimasak itu selalu Tirai pesan kepada Lumut.

Lumut waktu itu berprofesi sebagai pedagang seafood. Kepiting-kepiting yang Tirai beli akan dijadikan sup dengan tambahan bumbu kincung yang tinggal dipetik saja di belakang rumahnya. Jika hujan datang disertai angin sehingga Tirai malas keluar rumah, ia tinggal menelepon Lumut. Tak perlu menunggu lama, Lumut sudah berdiri di depan rumah Tirai dengan sekresek kepiting gendut-gendut, serta masih lincah menjelajahi celemek yang dikenakan Tirai. Hingga suatu hari ketika sebulan penuh Tirai tak ada kabar lalu di hati Lumut tumbuh sepotong rasa kangen, tiba-tiba, Tirai datang menemuinya, dan bertanya apakah Lumut mau jadi pacar Tirai. Tirai bercerita bila dirinya dengan Frater sudah putus. Frater masuk biara lagi supaya tiga tahun berikutnya bisa menjadi pastor. Kau tidak bersedih, tanya Lumut, sekadar memastikan. Waktu itu Tirai menjawab tidak terlalu. Ia tahu Lumut menyukai dirinya sejak lama, dan yakin lelaki itu pasti berusaha menghangatkan hatinya.

“Tirai, kemarilah,” teriak Lumut. Ia sudah tak sabar untuk membuka kado supaya Tirai segera menghampirinya.

Tirai berlari datang, dan segera melepas sweter panjangnya. Sebelum berbaring di samping Lumut dan menerima ciuman lelaki itu, sebentar ia memandanginya. Lengan, pipi, uban, dan bercak-bercak kehitaman pada kulit Lumut kian kentara. Ketika rasa sedih sedikit menyusup ke hati Tirai, ia cepat-cepat menghempaskannya. Kemudian memusatkan pikiran pada rancangan masa depan kesendiriannya.

“Kepiting merah!” teriak Tirai. Refleks bibirnya lepas dari bibir Lumut. Sedangkan angin bertiup kencang menerbangkan rambutnya. Juga botol-botol air mineral mereka yang sudah kosong terombang-ambing dalam pelukan arus ombak.

Seekor kepiting hitam kemerahan namun Tirai menganggapnya berwarna merah. Kepiting itu ia biarkan menggapai-gapai punggung tangannya, lalu bergerak miring melampaui kedua pahanya yang telanjang.

Para remaja yang menggambar dua manusia di atas pasir sudah tak ada. Hati Tirai sempat bertanya ke mana mereka pergi, tapi buru-buru ia tebak sendiri jawabannya. Mungkin mereka sudah puas bermain di pantai lalu lapar dan pulang. Atau mereka mendapat telepon bahwa nenek-kakek mereka baru saja mengembuskan napas terakhirnya.

Tirai memandangi laut lagi, dan untuk kesekian kali ia melihat gelombang air serupa gorden berwarna cokelat susu serta berumbai, megah, dan tingginya mencapai empat meter atau lebih ia tidak tahu persisnya.  

“Ya Tuhan, mestinya kita membawa keranjang tadi!” Tirai berteriak takjub tidak hanya mendapatkan seekor kepiting merah tapi juga menyaksikan ikan-ikan seolah menyerahkan diri.

Ia lalu membentangkan sweter panjangnya dan meletakkan kepiting di sana. Karena begitu asyik menangkapi ikan-ikan ia tak menyadari badai angin tak disertai hujan sudah menghempas-hempaskan bulan September, bulan ulang tahun pernikahan mereka.

Ia juga tak mendengar teriakan Lumut yang sudah semakin jauh meninggalkan bibir pantai. Ia, sekarang menuju kedalaman laut mengejar kepiting merah yang meninggalkan sweternya.****

Riau, April 2021


Jeli Manalu, senang menulis dan berkebun. Ia lahir di Padangsidimpuan pada 2 Oktober, dan saat ini tinggal di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *