Cerpen

Kereta Tak Lekang Waktu

October 26, 2021

Cerpen Rania Alyaghina

BABAK I

Aku terbangun dengan napas memburu. Dahiku terantuk sesuatu. Mimpi aneh barusan mungkin turut andil dalam alasan dikembalikan lagi aku ke dunia nyata. Kutolehkan kepala ke sebelah kiri. Sebilah jendela kaca menjagaku agar tidak terjengkang ke rel kereta. Pandanganku disuguhi hamparan sawah yang terbentang luas, cahaya matahari pagi menyorot tanpa malu-malu, memperindah penampakannya. Namun, kedua pasang mataku tidak bisa diajak kompromi. Mau sebagus apa pun pemandangan yang disuguhi, aku kembali memejamkan mata, tidak menghiraukan guncangan kereta yang semakin ganas melarangku untuk kembali ke alam tidur.

Napasku lagi-lagi memburu. Awalnya kukira karena lanjutan mimpi barusan, tetapi kedutan yang berasal dari sudut mataku mau tidak mau membuatku membuka mata. Kulihat orang-orang di sekitarku mengerutkan alis ke arahku. Mulanya sempat membuatku geer dan mencoba mengingat-ingat kesalahanku, namun rupanya mereka tidak benar-benar melihat ke arahku. Aku berdiri, melihat semua orang menoleh ke kiri. Selayaknya orang latah, kutolehkan juga kepalaku ke arah jendela. Kantukku sontak sirna. 

Kali ini bukan sawah yang menggugah nyawa, melainkan sebanyak dua puluhan orang berderet menyamping, mengangkat sebilah kertas yang besar. Cukup besar hingga tulisannya mampu tertangkap mata, hanya saja guncangan kereta membuatku sulit berfokus pada tulisan yang tertera. Aku bertatap mata dengan salah satu bocah berumur lima tahunan. Tatapannya menghunus hati, ekspresinya kosong, membuatku sulit menangkap dan menduga-duga deretan kata yang menghiasi kertas tersebut.

Aku tidak lagi berpikir panjang. Meski masih dihantam kebingungan, aku bangkit dari kursi, berjalan ke tempat masinis berada. Sembari melangkahkan kaki, mataku tak pernah lepas dari dua puluh — tunggu, rupanya deretan orang tersebut tidak hanya puluhan, kertas yang diangkat pun tidak hanya sebilah. Orang-orang yang berderet ini terdiri dari semua kalangan umur. Dari balita hingga lanjut usia, semuanya bersama-sama memegang kertas sehingga benda lemah itu dapat berdiri tegak, melawan usaha angin yang berusaha menerbangkan kertas tersebut. Sepanjang jalan berderet orang yang turut mengangkat kertas berisi tulisan hingga membentuk suatu pesan.

Aku sontak berlari. Kuberanikan diri membuka pintu yang membatasi penumpang dengan masinis. Beberapa petugas sempat mencoba menghentikanku, aku tetap mengelak dan menerobos masuk. Dengan terengah-engah, kuucapkan dua patah kalimat, mengulang pesan yang tertulis di rentetan kertas tadi, “Tolong hentikan kereta. Ada kaki yang tersangkut di rel.”

Para penumpang lain rupanya sudah berada di belakangku. Kurasa mereka tidak mendengar ucapanku, tetapi mereka sudah pasti melihat ke arah jendela dan seratus persen mendukungku, membuat para petugas lantas menoleh ke arah jendela. Sang masinis pun tak ambil pusing. Ia sontak mengusahakan agar permintaanku terkabulkan. Kali ini, terdengar suara ribut-ribut dari luar. Mereka tidak lagi berdiri berderet. Kepanikan menyerang mereka, mereka berlarian seperti hendak menghalang kereta. Aku mencoba melihat jendela. Kubayangkan nasib orang yang kakinya dibui rel, tak bisa ke mana-mana. Hanya mukjizat yang mungkin dapat membantunya saat ini. 

Orang bernasib nahas itu mulai tampak batok kepalanya. Penumpang di dalam kereta sontak turut memekik, seolah-olah bentuk penyemangat untuk masinis. Tampaknya hal tersebut hanya membuat sang masinis semakin kewalahan, namun ia tak tampak ingin menyerah. Ia melipatgandakan usahanya, krunya turut melakukan hal yang sama. Para petugas meminta para penumpang kereta untuk kembali ke kursi masing-masing, demi meminimalisasi korban baru. 

Aku menuruti petugas, berusaha menjadi penumpang yang kooperatif, walaupun pantatku tidak kerasan dan kerap kali berdiri untuk memastikan kami benar-benar berhenti sebelum melindas habis kaki orang tersebut.

BABAK II

Sang masinis, ditemani sejumlah petugas lain, segera turun setelah kereta berhasil dihentikan. Orang yang kakinya tersangkut ini sendirian, tak tampak orang-orang yang mengangkat kertas tadi menemani. Sebegitu detailnya perhitungan mereka untuk memastikan jarak mereka jauh dari orang ini. Lagi pula, tiada kaki yang sanggup mendahului laju kereta. 

Para penumpang tidak mencoba mengganggu proses penyelamatan. Semua orang duduk di kursinya masing-masing, berharap-harap cemas. Tidak satu pun lontaran perkataan yang menuding korban karena keteledorannya. Semua orang pun tahu tidak ada orang yang bermimpi menaruh kakinya di bawah rel kereta api.

Lagi-lagi, pantatku tidak bisa diajak kompromi. Rasanya ingin turun dan menemani, kali-kali ada yang dibutuhkan sang masinis. Kutahan keinginan itu dengan tetap mengamati dari jendela. Terlihat sang masinis tengah bercakap-cakap dengan korban. Anehnya, mereka tidak segera menolong orang itu. Semua petugas seolah habis melakukan kontak mata dengan Medusa yang sontak membekukan tubuh mereka.

Aku kembali menoleh ke arah masinis dan para rekannya. Cara mereka berdiri tak ada bedanya dengan pahatan seniman ulung; begitu kokoh dan tegap. Aku tak sabar, tak kuhiraukan lagi anjuran petugas, toh kereta sudah tidak lagi berjalan. Aku bangkit dan berlari keluar, kemudian langsung memaki tanpa berpikir lagi. Sesulit itukah membantu korban terbebas dari jeratan rel? Lantas bagaimana nasib perjalanan kami yang tertunda begini?

Kuulurkan tanganku pada sang korban, korban yang tengah dirundung nasib. Mataku menyipit, melihat dengan seksama. Di mana kakinya? Tidak tampak sedikit pun warna kulit yang dihimpit rel.

Oh. Oh?

Satu kakinya memang tidak ada. Ujung lututnya yang terbungkus kulit sempurna ia istirahatkan di bawah rel. 

Sebelum aku bereaksi, orang-orang yang berderet dan membopong kertas tadi keburu muncul—entah sejak kapan mereka tiba di sini—berebutan masuk ke dalam kereta. Rupanya sedari tadi mereka menyembunyikan senjata tajam di bawah baju mereka. Ditariknya langsung senjata mereka dari sana, kemudian ditebas habis kepala para penumpang tanpa pilih bulu. Sebagian yang tidak memegang senjata, tampaknya ditugaskan untuk meretas tas-tas, baik yang ditaruh di lantai dekat kursi, maupun di atas bagasi kursi. Tanpa perlu mengecek apa isi tas, mereka langsung buru-buru menggondol tas keluar. 

Aku melongo melihat banyak darah terbuang percuma. Aku mendesakkan tubuhku di sela-sela kursi penumpang, berharap aku tidak kasat mata. Tak lagi kupedulikan nasib tasku yang mungkin tengah menanti-nanti untuk diambil.

Bertubi-tubi pertanyaan muncul di benakku, misalnya mempertanyakan maksud mereka melakukan ini pada kami, yang jelas-jelas tidak mengenal keberadaan mereka hingga detik ini. 

Apa salah kami? Apa yang mereka mau?

Apa yang kami miliki hingga meyakinkan mereka untuk menempuh ide sebengis ini?

BABAK III

Waktu rasanya telah menempuh beribu-ribu jam. Tapi semenjak teror menginjakkan kaki di kereta ini, durasinya hanya kurang lebih lima belas menit. Aku memang tak henti-henti mengecek arloji di pergelangan tangan kiri, membuat jarum jam malu untuk maju karena ditatap melulu. Entah untuk apa aku mengecek waktu. Entah mengapa waktu menjadi satu-satunya hal yang kupikirkan di kala genting begini. Aku tetap tidak akan keburu sampai di stasiun. 

Pekikan para penumpang kembali memenuhi pendengaranku. Aku mencoba menepisnya dengan mengucap ‘pergi’ beberapa kali, mengulang-ulangnya di dalam hati layaknya mantra. Bedanya ini tidak mengandung arti apa pun selain menginginkan pergi suara-suara manusia yang dilanda kepanikan, mengharapkan kepergian diriku dari situasi semacam ini.

Kepalaku berpaling ke kanan, merasakan kedutan di ujung mataku — hal yang biasa kualami ketika ada yang memperhatikanku. Kudapati lelaki paruh baya yang menatapku dengan mata merahnya. Ia tengah menyembunyikan seorang anak, mungkin sekitar tujuh tahun, di antara lengan dan tubuhnya. Anak itu tampak patuh, tidak mencoba menyusahkan bapaknya dengan tidak bergerak sama sekali. Hingga sulit bagiku untuk melihat apakah ia telah ditenangkan bapaknya, atau telah mati di pelukannya—aku tidak mau tahu.

Kali ini kutolehkan kepalaku ke kiri, berharap pemandangan yang menenangkan menanti. Seorang perempuan dengan mulut dan leher menganga menyuguhkan penampakannya padaku, yang kusambut dengan ringisan spontan. Kepalaku kembali menoleh ke kanan, memastikan apakah bapak dengan anak itu melihat apa yang barusan kulihat. Ia masih menatapku, dengan anaknya yang sekarang juga menatapku. Matanya sama merahnya seperti bapaknya. 

Kurasakan sudut mata kiriku kembali berkedut. Tetapi bukan di posisi perempuan tadi, tepatnya di arah jam sepuluh. Nenek-nenek dengan bergelimang emas menghiasi kulitnya —benda ini tak mampu kuabaikan dari penggambaranku karena begitu mencuri perhatian — sedang menahan guncangan dalam dirinya agar keberadaannya tidak begitu ketara. Kuarahkan kembali pandanganku kepada lelaki paruh baya tadi, memastikannya juga melihat apa yang kulihat. 

Ia menatap mataku, kemudian mengangguk pelan. Kulihat sang anak sudah kembali menyembunyikan wajah di ketiak bapaknya. Kupastikan nenek tadi juga melihat keberadaan kami, yang dikonfirmasinya pula dengan anggukan. 

Di masa-masa sulit seperti ini, bahasa tubuh hanya andalan kami. Tapi selalu ada kemungkinan salah interpretasi. Muncul gerakan dalam hatiku, yang mungkin juga tumbuh dalam diri mereka. Aku lantas membalas anggukan mereka dengan anggukan pula.

Dalam diam, kami bertiga telah mencapai suatu mufakat, bersepakat tanpa tersurat, dan percaya diri dengan rencana yang disetujui.

Kutengadahkan kepalaku, menyiapkan nyaliku.

BABAK IV

Tanpa pandang bulu, tanganku mengarah ke abdomen seseorang yang baru saja selesai menebas lengan seorang penumpang. Kuhantam perutnya tanpa ampun, hingga tajak terlepas dari tangannya, kemudian disambut baik tajak tersebut oleh lelaki paruh baya tadi. Sembari menggandeng anaknya, ia memenggal kepala-kepala yang tadinya mengincar kepala orang lain pula. Hawa dingin mulai menggerogotiku. Selain karena sebegitu gampangnya orang-orang ini menemui ajal, tetapi aku takut kalau-kalau bapak itu salah sasaran dan malah memisahkan kepala para penumpang dengan tubuh mereka. Namun, aku menaruh kepercayaan tinggi padanya. Bisa dibilang tidak sulit membedakan penampilan kami, penumpang kereta, dengan para perampok tidak tahu diri ini. 

Nenek-nenek tadi juga turut membantu dengan menanggalkan salah satu perhiasannya, kemudian ia gores kuat-kuat ke arah wajah seseorang. Hingga saat ini, aku baru memahami manfaat lain memiliki perhiasan.

Sesosok perempuan keluar dari persembunyiannya, menendang tepat di ulu hati salah satu perampok. Tampaknya aksi kami menggerakkan hatinya. Rupanya tindakan heroik kami berefek sebesar itu: mulai bermunculan sejumlah orang dari bawah kursi, dibalik kursi, dibalik pintu toilet. Semua, yang mulanya pasrah, seolah tumbuh harapan. Mereka memberanikan diri melawan perampok-perampok ini tanpa senjata. Setelah lawannya terkapar, baru direbutnya senjata itu, lalu mereka gunakan lagi kepada kawannya. Suatu siklus yang menggetarkan, membuatku tidak lagi melanjutkan aksiku selain terbujur kaku. 

Tak tersisa lagi tangan yang menyerang. Genangan darah dan aroma anyir membuat pening kepala. Namun, hal itu tak lagi jadi soal, karena rasa lelah yang tiada duanya. Bisa kupastikan tiga perempat penumpang sudah jadi mayat, tetapi hampir seluruh dari para perampok itu sudah tidak lagi bernyawa. Beberapa mungkin tengah meregang nyawa, tapi tak bakal bertahan lama.

Salah satu penumpang kloter depan tiba-tiba berlari ke arah kami. Belum sempat ia menghentikan lari, mulutnya telah membuka, “Sang masinis telah mati. Tubuhnya bahkan entah ada di mana.”

Aku spontan mengatupkan rahang bawah dan atas dengan keras. Pupus harapanku menjumpai sanak saudara di seberang sa — tunggu. Semoga harapanku masih mungkin terwujud.

Aku cepat-cepat berlari, melewati penumpang pemberi wahyu tadi, melewati korban yang kebanyakan awak kereta api. Aku segera mengecek kondisi radio lokomotif, yang kudapati dengan kondisi yang tidak bisa digunakan lagi. Tubuhku kuambrukkan ke pintu. Berapa lama mereka merencanakan aksi perampokan semacam ini hingga hal sekrusial ini tak mereka lewatkan?

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan. Sang masinis telah berpulang. Kami tak bisa pulang. Satu per satu penumpang menuruni kereta. Kami berjalan ke arah pedesaan yang dekat dari lokasi tanpa ditinggali penghuni lagi. Ingatanku kembali terlempar pada kejadian yang… berapa lama waktu telah berlalu sejak kejadian tadi?

Kembali kuperiksa arlojiku yang telah dilumuri bercak merah. Sudah jam empat sore, atau tepatnya hanya satu jam semenjak peristiwa tadi berlangsung. Kembali teringat olehku anak kecil yang beradu pandang denganku dari jendela kereta. Entah di mana ia sekarang. Mungkin salah satu lengannya masih tertinggal di dalam kereta.

Dengan tiadanya petugas kereta yang tersisa, kami tidak tahu mesti bagaimana. 

BABAK V

Di sini memang tidak ada kalender, tetapi kami mencoba menghitung seadanya dan menduga sudah dua tahun waktu berlalu semenjak kejadian itu. Tidak ada bantuan yang datang. Mungkin mereka datang, dan mengira kami semua sudah mati. Atau mungkin dinyatakan hilang ketika korban-korban diidentifikasi.

Sesekali kami memang pergi ke rel itu, mencoba meminta bantuan kepada kereta lain yang mungkin melintas. Kami sesekali kembali, melihat apabila ada kereta lain yang menghampiri. Mayat yang bergelimpangan masih terkapar di sana. Mungkin pertolongan tidak pernah benar-benar datang. Mungkin pula mereka tidak mau berurusan dengan orang yang bukan penumpang.

Tetapi kami tak bosan menjenguk rel setiap waktu. Kami selalu menaruh harapan dan kembali ke sana, menunggu sampai ada kereta yang melintas. Selebaran kertas telah kami siapkan, lengkap dengan tulisan di atasnya. Lengkap dengan sebilah parang di balik baju kami. Hingga tiba waktunya kami beraksi lagi. 


Rania Alyaghina, saat ini menetap di Tangerang. Kegiatan sehari-hari berkutat dengan rentetan kata, menciptakan pengalaman membaca semakin bahana. Email:raniaaghina@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *