Cerpen

Ketakutan Memandang Kepala

June 1, 2021

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Bangkrut sudah perusahaan Jendra. Habis kekayaannya. Tak tersisa. Tagihan utang mengalir. Kadang penagih begitu keras, kasar dan memaksa. Bahkan seorang penagih utang, kekar bertato, begitu kalap. Menghantam kepala Jendra. Seketika Jendra tergeletak. Tak terhindarkan kepalanya membentur lantai. Keras. Jendra tak sadarkan diri.

Sehari semalam lamanya Jendra pingsan. Tergeletak di rumahnya yang kosong. Istri dan kedua anaknya sudah lebih dulu kembali ke rumah mertua. Rumah megah yang ditempatinya itu pun disita bank. Jendra sudah tak memiliki semua hartanya. Tinggal dirinya sendiri, kebangkrutan, dan kepalanya yang memar nyeri.

Sungguh kaget Jendra. Dia melihat kepala keledai terpantul pada cermin itu. Lama Jendra terdiam, merenung, terheran-heran. Mestinya yang terpantul pada cermin itu kepalanya sendiri, bukan kepala keledai. Tangan Jendra mengepal. Menghantam cermin. Seketika cermin retak.

Masih saja yang terpantul dalam cermin retak itu kepala keledai. Jendra meraba-raba kepalanya. Masih seperti bentuk sediakala. Tapi kenapa yang dipandanginya dalam cermin, bukan kepala manusia?

“Kepala keparat!” kutuk Jendra. Dia sangsi, mungkin bukan kepalanya yang berubah bentuk. Tapi matanya yang tak dapat dipercaya. Toh dia merasa malu meninggalkan rumah pada siang hari. Takut bila mata orang juga salah memandang kepalanya sebagai kepala keledai.

Tak mungkin Jendra tinggal di rumah megahnya untuk beberapa hari. Rumah itu sudah disita bank, dan dia mesti segera pergi. Belum dimengerti, ke mana ia mesti pergi. Dia belum memiliki tempat tinggal baru.

Berlindung dalam gelap malam, Jendra meninggalkan rumah. Tanpa tujuan. Tanpa harapan. Terbersit keinginannya untuk mendatangi rumah bekas tukang kebun kantornya. Jendra bimbang. Betapa jauh perjalanan menuju rumah bekas tukang kebun itu. Asal mengayunkan langkah, Jendra meninggalkan rumah. Tanpa bekal, tanpa uang. Lewat rumah mertuanya, laki-laki itu sempat termangu. Istri dan kedua anaknya tinggal di rumah mewah itu. Dipandanginya seluruh jendela dan pintu yang tertutup, serta kelebukan malam yang menyelimutinya. Harga diri Jendra menahan langkahnya untuk memasuki pelataran rumah mertuanya. Dia bisa memohon maaf pada mertua dan minta perlindungan.

Teringat Jendra akan sepasang mata bapak mertuanya yang sinis, merendahkan, di saat menjelang perusahaannya bangkrut. Mata itu menindas. Jendra tak ingin menyelamatkan diri. Dia menanggung semua malapetaka sendirian.

Lama Jendra berdiri macam tonggak terpancang di tepi jalan depan rumah mertuanya. Ada yang membuatnya lebih malu lagi: mungkin mertua, istri dan kedua anaknya tak mengenali dirinya, lantaran mereka memandangnya berkepala keledai. Ia benar-benar gundah, belum bisa menerima pandangan matanya sendiri.

Kini berkembang rasa cemasnya menjadi rasa malu yang menikam. Ia malu dilihat orang. Kepercayaannya pada diri sendiri sudah hancur. Tak mungkin ia menampakkan diri sebagai manusia berkepala keledai, menjadi tontonan, dan takut diikuti orang-orang. Ia pernah mendengar dongeng tokoh manusia berkepala sapi dan manusia berkepala kerbau yang sakti, melawan dewa-dewa. Tapi manusia berkepala sapi dan manusia berkepala kerbau itu dihancurkan kepalanya, dengan jalan dibenturkan, hingga pecah—darah dan otak berhamburan. Yang membunuh pun manusia yang terkutuk menjadi seekor kera, lantaran kesalahan masa lalu.

Jendra pun merasakan keserakahan, dosa, dan ketamakan di masa lalu. Kini dia melihat kepalanya sendiri dengan keinginan memancungnya. Menjadi manusia berkepala keledai, sungguh memalukan. Sama sekali tak ada kewibawaan, kegarangan, dan kebanggaan.

Dalam gelap malam Jendra bergegas meninggalkan kota. Ia memutuskan untuk tinggal di desa yang sunyi di lereng gunung, menyepi, atau bahkan—kalau mungkin—bertapa.

Berhari-hari Jendra berjalan, menahan lapar juga haus. Dia takut bertemu manusia, dan tak bisa membaur dengan binatang. Bila rasa lapar datang, dia masih membayangkan nasi, dan bukan rumput, yang harus dimakan. Jendra cuma minum, meneguk air yang mengalir di sungai-sungai. Dalam pantulan air, bayangan kepalanya masih saja kepala keledai.

Ada ketakutan pada diri Jendra untuk meraba kepalanya sendiri. Takut bila kepalanya benar-benar kepala keledai. Berhari-hari bersembunyi agar tak bertemu manusia, membangkitkan kerinduan hati Jendra untuk bisa tersenyum, bertegur sapa, dan mengadukan suasana hatinya pada orang lain. Ia dicekam keinginan berbincang-bincang. Begitu sadar yang tertangkap pada cermin, kepalanya membentuk bayangan kepala keledai, Jendra berhenti berbincang-bincang. Ngeri rasanya mendengar suara seekor keledai dari mulutnya sendiri.

***

Di lereng sebuah gunung, pagi berkabut, Jendra menemukan desa bekas tukang kebunnya. Dia tak tahu persis letak rumah si tukang kebun. Lagi pula, kakinya sudah sangat letih. Tubuhnya gemetar, lapar, lemas, tanpa daya. Tergeletak.

Ketika siuman, Jendra melihat bekas tukang kebunnya tersenyum. Di sisi bekas tukang kebun itu seorang lelaki tua berjenggot putih.

“Kau berada di rumah guru saya,” kata bekas tukang kebun.

“Apa kepala saya jadi kepala keledai?”

“Yang berubah bukan kepalamu. Tapi pandanganmu,” balas guru berjenggot putih, meyakinkan.

“Apa pandangan saya bisa normal?”

“Butuh waktu, Nak,” sahut guru berjenggot putih. “Kau tinggal di lereng gunung ini beberapa waktu, menyepi. Tenteramkan dirimu. Kalau kau sudah melihat kepala sendiri seperti sediakala, boleh turun gunung.”

“Berapa lama, Guru?”

“Jangan pikirkan berapa lama tinggal di sini. Jalani saja!”

Saat Jendra bisa melihat kepalanya bukan lagi kepala keledai, ia sudah sangat kerasan tinggal di rumah guru berjenggot putih. Tak terhitung matahari muncul dan tenggelam, Jendra selalu mengikuti guru berjenggot putih menyepi di goa, di lereng gunung, menenteramkan hati. Dia telah akrab dengan hutan, kicau burung, desis ular, aroma kemarau yang menyengat, dan dingin kabut malam. Dia telah menjadi bagian kehidupan guru berjenggot putih dan bekas tukang kebun yang kembali bertani.

Telah terbiasa bagi Jendra mencangkul ladang sampai telapak tangannya lecet berdarah, tubuh bercucuran keringat. Tubuhnya yang semula gendut, kini ramping berotot. Wajahnya sejuk, menampakkan ketenteraman.

“Sudah saatnya kau meninggalkan lereng gunung ini, Nak,” kata guru berjenggot putih.

“Apa guru tak mau ketempatan saya lagi?”

“Bukan begitu, Nak. Bukan di sini tempatmu. Kembalilah ke kota.”

“Saya ingin tinggal di sini bersama guru.”

“Apa kau tak ingin melindungi istri?”

“Tidak.”

“Apa kau tak ingin melindungi anak-anak?”

Tak bisa menjawab, Jendra memandangi tatapan guru berjenggot putih. Kebimbangan hati Jendra makin menggoncang.            

“Anak-anakmu terlantar, butuh pertolongan.”

Memasuki kota, Jendra merasa bagai binatang purba yang tersesat, asing dan aneh. Tak seorang pun mengenalinya. Yang mula-mula dilakukannya, kembali bergulat dengan kehidupan kota, kebisingan dan kerakusannya. Tanpa tempat tinggal, kehilangan keluarga, kehilangan kekayaan dan bawahan, Jendra mencari kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan dan rumah kontrak.

Terbiasa mencangkul, bekerja pada terik matahari, Jendra menerima pekerjaan sebagai tukang kebun dan pesuruh. Tak terpikirkan, ini pekerjaan yang hina tak bermartabat. Sudah tak dihiraukannya lagi cemoohan orang.

Malam turun, Jendra berjalan meninggalkan kamarnya yang pengap di sudut kota. Berjalan menyusuri trotoar, sampailah ia di depan rumah mertuanya. Berdiri termangu di depan pagar besi, memandang ke dalam rumah. Malam larut, Jendra belum menemukan tanda-tanda kebenaran pesan guru berjenggot putih bahwa anak-anaknya terlantar.

Menjelang pagi, ketika angin mengembuskan embun, Jendra terperanjat. Sebuah mobil yang ditumpangi seorang bos dan istri Jendra, memasuki halaman rumah mertuanya. Jendra berlindung di balik rimbunan pohon asam.

Kedua orang itu turun dari mobil, tertawa-tawa, berangkulan. Jendra terkesiap melihat keduanya bermesraan. Aneh, selama beberapa detik, Jendra melihat keduanya berkepala kucing. Tak tahu malu, mereka persis kucing bercumbu. Tersipu-sipu sendiri, Jendra makin memasuki kegelapan naungan pohon asam. Ia terbiasa menahan diri untuk tak murka. Didengarnya suara kucing-kucing mengeong dan dua bocah—anak Jendra, lelaki yang sulung dan perempuan yang bungsu—tertawa tertahan di ambang jendela kamar.

Ditonton dua anaknya yang bersembunyi di balik tirai, istri Jendra bukannya surut, malah marah.

“Apa yang kaulihat!” hardik istri Jendra.

“Kuciiing!” seru dua anak itu.

Terperanjat, Jendra mendengar kedua anaknya menirukan suara-suara kucing, gaduh, bersahut-sahutan. Apa mereka—anak-anak itu—juga memandang ibunya berkepala kucing?

Malam berikutnya, Jendra kembali lagi berlindung dalam kegelapan pohon asam, menanti istrinya pulang. Turun dari mobil bersama seorang lelaki, tampak mereka berkepala anjing. Lagi-lagi dua anak Jendra menyalak-nyalak garang. Merinding ketakutan Jendra, setelah memandangi kenekatan istrinya bercumbu, dan keliaran anak-anaknya.

Dalam pandangan Jendra, tiap malam kepala istrinya berubah-ubah. Ia tak ingin mendekat, hanya memandangi istrinya bercumbu dengan laki-laki lain. Di kejauhan ia menanti suara anak-anaknya yang menirukan suara binatang. Kadang didengarnya suara serigala, kadang suara macan, kadang suara gajah.

Ketika istri Jendra pulang bersama seorang lelaki lain, tak ada suara apa pun yang terlontar dari mulut anak-anaknya di ambang jendela kamar. Dia merasa curiga. Diam-diam dia mendekati pohon asam, mengintip ke pelataran rumah. Tampak istrinya dan lelaki itu berkepala badak. Barangkali anak-anak tak bisa menirukan suara badak. Mereka membungkam. Ketakutan. Ngeri. Anak perempuan Jendra menjerit-jerit. Histeris. Anak lelakinya marah dan memberontak.

“Apa yang kamu lakukan? Pergi sana! Pergiii!” usir istri Jendra.   

Naluri Jendra mengusiknya untuk menenteramkan anak-anaknya. Dia menghambur ke pelataran, mengejutkan istrinya dan lelaki itu. Anak-anak memburu Jendra. Terutama anak perempuannya, memeluk, meminta gendong. Anak lelakinya dituntun. Mereka meninggalkan dua manusia yang tampak berkepala badak, sedang mabuk cumbu.**

Pandana Merdeka, Mei 2021


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *