Cerpen

Kisah Cinta Abalawa dan Pohon-Pohon

March 24, 2020

Cerpen Sulung Pamanggih

“Sebenarnya ini sebuah rahasia dan cukup sensitif, tapi aku perlu menceritakannya padamu,” bisik Jafar dari balik punggungku, saat kami berboncengan naik sepeda menuju sekolah. “Jadi, aku lihat sendiri bagaimana Abalawa menggumuli pohon mangga di depan rumahnya.”

Saat itu, yang kuingat, Jafar suka mengoceh untuk sekadar mengisi kekosongan sebelum kami sama-sama tiba di sekolah. Sudah lebih dari dua tahun setiap pagi kami berangkat dengan cara seperti ini, tepatnya semenjak kami memasuki sekolah menengah pertama. Namun baru kali itu, apa yang dia katakan bikin aku nanap.

Tentu aku mengenal siapa Abalawa, bahkan sering menghabiskan waktu di rumahnya. Sekalipun aku berusaha tak memercayai ocehan kawanku, darah remajaku waktu itu teramat penasaran, bagaimana mungkin seseorang bercinta dengan sebatang pohon?

Abalawa memang menyukai tanaman, dan kupikir itu bukan sesuatu yang aneh apalagi patut dicurigai. Setiap hari, dengan postur tubuhnya yang kekar, ia berjalan mengelilingi tanaman sambil membawa ember, kadang bila hari sedang terik, ia menyemprotnya pakai selang air untuk sekaligus mengangkat debu-debu. Ia juga tak segan menceraikan akar benalu yang merambati tanamannya, dan tak pernah terlambat memberi mereka pupuk. Begitulah hari-hari Abalawa lalui. Meski sudah 55 tahun, ia kelihatan lebih muda dan selalu tampak ceria saat mengerjakan semua itu. 

“Kau jangan mengada-ada,” aku menegur kawanku sambil tetap memandang jalan dan terus memancal pedal sepedaku. “Ia memang mencintai tanaman, sama seperti orang pelihara sapi, mereka bakal habiskan banyak waktu dengan binatang itu.”

“Dengar ya, saat itu awalnya aku berniat tidur di rumah kakek, tapi larut malam tiba-tiba aku kepingin sekali pulang,” Jafar terus menjejalkan ceritanya. “Malam berangin dan dingin, tapi aku tak peduli dan terus berjalan kaki sambil menutupi kepalaku dengan sweater. Sampai di pelataran rumah Abalawa, tiba-tiba sekelebat bayangan muncul dari balik pohon, aku sempat mengira monyet, tapi mataku belum pikun untuk memastikan bahwa sosok tersebut ternyata Abalawa. Kau tahu apa yang dilakukannya? Dia memeluk sebatang pohon sambil menggoyang-goyangkan pantatnya seolah sedang mendekap tubuh wanita. Hei, kau masih mendengar aku?” Jafar menepuk pundakku.

“Siapa tahu dia sedang pipis.”

“Kau pikir aku tak bisa bedakan antara kencing dan kentu?” sembur Jafar di dekat telingaku, membuat sepedaku sempat oleng. 

Kuakui, saat kedua orangtua Jafar sedang pergi haji, kami pernah menonton film porno bersama-sama dari kaset vcd koleksi ayahnya. Banyak sekali kaset porno milik ayahnya, rata-rata terbitan Amerika, dan itu pertama kalinya jantungku berdebar tak keruan sampai-sampai susah bernapas. Dari pengalaman itu, kukira ia punya banyak bekal melihat adegan persetubuhan.

Sambil membonceng, kadang Jafar pura-pura membantu aku mengayuh sepeda dengan menempelkan kakinya di pedal bersebelahan dengan kakiku. Sekilas kami seperti kompak mengayunkan sepeda bersama-sama, tapi aku tahu dia tidak mengeluarkan tenaga, kakinya cuma menempel saja. Sialnya aku tak mungkin memintanya bergantian duduk di depan, sebab ia tak becus mengendalikan sepeda.

“Kau tetap tidak percaya?” Ia terus meraba-raba pikiranku. Aku diam saja, memandangi jalan yang membentang di hadapanku.

*

Kalau saja yang Jafar ceritakan adalah penjaga sekolah, atau petinju bernama Burhan yang membuka toko matrial di perempatan jalan, mungkin aku tidak akan begitu peduli. Tapi dia tahu, aku kerap bermain di rumah Abalawa karena kebetulan rumah kami bersebelahan. Saat suntuk, aku biasa memboyong buku-buku dan tiduran di bawah pohon mangganya untuk mencari udara segar sambil menggarap soal matematika.

Abalawa tinggal di rumah induk keluarganya seorang diri, sebab ia tak pernah punya istri apalagi anak. Sementara tujuh saudaranya yang lain sudah membangun keluarga dan hidup terpisah-pisah. Rumahnya tidak begitu besar, hanya saja memiliki halaman yang luas dan dikerumuni banyak pohon.

Dulu pelataran rumahnya pernah dijadikan lapangan bulu tangkis, dibangun dengan bambu sebagai garisnya. Satu-satunya lapangan yang pertama kali dimiliki kampung kami, begitu Abawala sering membanggakan masa lalunya. Sampai kemudian muncul lapangan lain yang lebih menawan, dilengkapi lampu penerangan dan bangunan gedung yang mampu menepis angin. Sejak itu orang jarang bermain bulu tangkis di sana, dan Abalawa kian menumbuhkan minatnya berkebun dengan menanam banyak pohon.

Ia akan menyetorkan mangga, jambu air, delima, sirsak, kelengkeng atau apa pun yang tengah berbuah kepada juragan yang setiap musim panen sering kujumpai berkeliling kampung sambil membawa keranjang besar. Sebagai ganti mereka memberinya uang yang akan Abalawa pakai untuk menopang keperluannya. Jadi wajarlah bila ia teramat mencintai tanamannya, dan tak rela tangan-tangan jahil mengusiknya.

Pernah sepulang sekolah Jafar diam-diam memanjat pohon mangganya. Lalu Abalawa yang mengendus tingkahnya dari dalam rumah langsung keluar sambil meraup kerikil dan menyambarnya. Bunyi kerikil yang menghantam daun mirip hujan deras. Itu membuat kawanku tersungkur dan langsung terbirit-birit.

Seorang pengamen yang tak tahu apa-apa juga pernah kena sial. Ia sedang berteduh di bawah pohon jambu sambil menghitung uang. Mendapati banyak jambu air bergelayutan siap santap, dia tergoda memetiknya. Tak lama setelah itu, lonjoran kayu balok mendarat persis di mukanya. Ia melejit sekencang-kencangnya sampai-sampai melupakan beberapa uang receh yang sedang disortirnya. Beruntung, satu-satunya gitar yang ia miliki masih menempel di pundak.

Meski begitu, aku tahu Abalawa menyayangiku. Saat berusaha menggapai buah di dahan yang tinggi, ia kerap membantu mengambilkan galah. Sering pula ia menyisakan panen mangganya untuk sengaja diberikan kepadaku, bahkan mau mengupas kulitnya untuk aku. Mungkin karena hampir setiap hari aku berada di sana untuk menemaninya. Aku tak pernah menolak saat ia memintaku membelikan rokok, atau memijat badannya saat ia mengeluh pegal-pegal dengan cara menginjak-injak punggungnya. 

“Kau sering makan buah, tapi berat badanmu tak bertambah juga,” ia sering berkata begitu. 

Ketika aku pulang, ia tidak jarang membawakan aku sekantong jambu, atau pepaya yang hari itu kebetulan sedang berbuah. Karena kebaikannya, kadang ibuku memintaku membawakan lauk untuk Abalawa. Kami pun menjadi seperti keluarga. Aku curiga jangan-jangan Jafar cuma iri kepadaku, dan mulai mengarang cerita yang bukan-bukan. Aku tahu, banyak kawanku mendambakan mangga Abalawa yang terkenal manis dan tak pernah cukup bila hanya melahapnya satu butir.

Tapi ucapan Jafar benar-benar sudah mengotori kepalaku. Membayangkan bagaimana Abalawa menempelkan kemaluannya pada pohon mangga membuat aku tiba-tiba merinding. Itukah yang membuat rasa mangganya teramat enak? Brengsek betul Si Jafar. Tak lama aku pun menghentikan sepeda, menoleh ke belakang, dan berkata, “Kalau kau menyebar cerita yang bukan-bukan, silakan turun sajalah.”

Namun si mulut jahanam kawanku itu tetap membatu, tak beringsut sejengkal pun dari sepedaku.

“Lebih baik kita buktikan sendiri nanti malam,” katanya, tak bosan meyakinkan aku. “Buruan, nanti kita terlambat.”

*

Aku tidak pernah memungkiri, apapun yang ditanam Abalawa selalu subur, berbuah lebat, dan rasanya juga lebih memikat bila dibandingkan dengan buah yang tumbuh di tempat lain. Misalnya saja dengan pohon mangga yang berdiri di belakang kelas kami, meski satu jenis rasanya tak ada apa-apanya. Demi tujuan itukah Abalawa akhirnya tidak menikahi manusia?

Suatu hari ibuku pernah bercerita, Abalawa sempat berpacaran dengan anak seorang pegawai pabrik gula. Namun satu hari setelah ia melamarnya, perempuan itu ketahuan main serong dengan pria lain. Sejak itu Abalawa memutuskan menjadi kader sebuah partai politik, dan aktif mengikuti berbagai kegiatan. Namun begitu pemilu tiba, partainya selalu kurang peminat dan ia tak pernah dapat jatah duduk di kursi dewan. Untuk menjaring banyak suara, kata ibuku, dia sempat membangun lapangan badminton di halaman rumahnya. 

Bisa jadi karena patah hati, Abalawa akhirnya lebih memilih menggumuli pohon. Pohon-pohon memang tak pernah berbohong. Tapi memikirkan itu membuat perutku mual, kepalaku mendadak pusing. Gara-gara Jafar, rasanya aku ingin memuntahkan seluruh isi perutku. Mestinya aku tidak usah peduli dengan ucapannya. Tapi apa yang ia katakan sungguh-sungguh meyakinkan. Bahkan ia berani bersumpah tertabrak mobil bila berbohong. 

Saat itu, akhirnya aku memboyong rasa penasaranku kepada Pak Yosi, guru yang kerap berdiri di depan kelas untuk mendongengi kami betapa bahayanya seks bebas. Ketika bel istirahat menggiring anak-anak ke kantin, aku buru-buru mencegat Pak Yosi yang tengah berjalan di depan ruang kelas, dan memberanikan diri bertanya.

“Mungkinkah manusia menikahi pohon?”

Mendengar pertanyaanku, dia malah meringis. “Kau kesurupan apa tiba-tiba ngelantur begitu?” 

“Tetanggaku begituan dengan pohon,” aku menjelaskan. 

“Begituan, maksudmu berhubungan badan dengan pohon?”

“Semua orang bilang begitu.”

“Omongan orang kau percayai,” ia melangkah menuju ruang guru sambil menenteng bukunya, tapi aku terus membarenginya.

“Mereka bersumpah sudah melihatnya, jadi sebenarnya aku cuma ingin tahu, apa mungkin manusia menjalin asmara dengan pohon selayaknya hubungan suami istri?”

Entah bagaimana dia kemudian berhenti dan menatapku selama beberapa saat. Aku balas memandangi matanya dengan tatapan berharap. Sambil memegang pundakku, dia mengajak duduk di kursi panjang di depan ruang guru. Setelah itu ia memberiku penjelasan, yang menurutnya untuk sekadar pengetahuan. 

“Begini, kau juga mesti tahu, ada juga seseorang yang hasrat seksnya bisa langsung melonjak saat melihat sebuah mobil tabrakan.”

“Mana mungkin?”

“Itulah yang dinamakan kehidupan. Ia begitu luas.”

“Jadi, seseorang juga bisa berhasrat dengan pohon?” aku mendesak.

 “Istilahnya Dendrophilia,” katanya. “Tapi kasusnya cukup jarang, sebagian besar dari mereka hanya suka memeluk pohon untuk kesenangan, tidak sampai dorongan ke arah hubungan badan, meski tetap saja hal seperti itu benar-benar ada.”

Tak lama setelah itu, aku cepat ke toilet, mengunci pintu, dan muntah.

*

Terus terang itu rahasia besar kehidupan yang pernah kudapatkan di usia remajaku. Memang sulit kucerna, tapi paling tidak aku sedikit memahaminya. Aku tak mengira akan mengenang semua itu setelah dua puluh tahun kemudian, saat aku berada di dalam kereta untuk menghadiri pemakaman Jafar. Aku mendapat kabar dari grup WA alumni sekolah, bahwa kawanku meninggal akibat tersedak saat makan salak. 

Ada banyak peristiwa yang sudah kulewati, namun semuanya tak benar-benar bisa hilang. Sekalipun aku bersikeras melupakannya, saat-saat tertentu kenangan itu terangkat lagi, lalu menyalak-nyalak seperti anjing kelaparan. Meski tak sampai menggigit, ia membuat gaduh. Aku sudah berusaha menguburnya dalam-dalam dengan meninggalkan kota itu, tapi kenangan ternyata memang tidak pernah kemana-mana. 

Malam itu, ketika Jafar mengajakku mengintip Abalawa untuk membuktikan perkataannya, aku menolak dan bahkan mengusirnya dengan beralasan sedang tak enak badan. Tapi aku terus diserang gelisah dan rasa penasaran sampai sulit memejamkan mata. Pukul 02.00, akhirnya aku nekat sendirian keluar kamar dengan hati-hati agar tidak sampai menimbulkan suara, lalu mengendap menuju rumah Abalawa. 

Aku terkejut mendapati Abalawa sudah berdiri di sisi pohon. Dari balik semak, sambil menahan gigitan nyamuk di kakiku, aku terus menyembunyikan diri. Dalam keremangan, tiba-tiba aku seperti melihat sosok perempuan yang kukenal, ia mirip ibuku, menyembul dari balik pohon. Dengan kaki bergetar, aku memaksa diri untuk terus diam dan menahan napas. 

Di hadapanku kini terbaring kuburan Jafar. Aku terlambat mengikuti prosesi pemakamannya, lalu menyusul ke kuburan. Gundukan tanah masih terlihat basah. Sampai sekarang, aku tak pernah menjelaskan pada kawanku apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Pemalang, 2020


Sulung Pamanggih, tinggal di Pemalang, Jawa Tengah. Menyelesaikan kuliah di Universitas PGRI Semarang 2014, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kini Wartawan di Radar Tegal. Cerita pendeknya pernah dimuat Basabasi.co, Harian Kompas, Suara Merdeka, serta terhimpun di beberapa antologi cerpen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *