Cerpen

Kita Memang Bukan Sepasang Kekasih

March 12, 2019

Cerpen Mawar Dani

/1/

Padahal aku tahu betul bahwa tidak ada pertemanan murni di antara dua orang dewasa lawan jenis kecuali adanya rasa saling nyaman.

Suatu masa pertemuan terjadi karena campur tangan seseorang yang sangat kita kenal. Beliau yang menjadi perantara adalah temanku juga sepupumu. Tidak jelas motifnya apa tapi setelah perkenalan itu kita menjadi akrab.

Aku wanita berusia dua puluh delapan tahun. Sudah kenyang dengan pertanyaan ‘kapan nikah?’. Khatam rasanya sesak ketika di-bully dengan ucapan jodohnya sudah mati. Hari-hariku sungguh membosankan. Dari rumah ke kantor begitu sebaliknya, rutinitas hari efektif kerja.

Kau lelaki berusia hampir sama denganku. Memiliki kemiripan kisah dalam kehidupan. Bosan dicecar pertanyaan serupa denganku dan beberapa kali pernah gagal menjelang pernikahan.

Kita sama. Mungkin karena kemiripan pengalaman tersebut obrolan kita nyambung istilah zaman sekarang.

/2/

Perkenalan di hari ke empat puluh lima. Kita sama-sama punya urusan di sebuah kota bahkan di lokasi yang sama pula. Sebagai wanita yang merasa nyaman berhubungan denganmu, aku berharap kau punya inisiatif mengajak bertemu.

Sudah selesai urusannya?

Kau jawab sudah dan dalam perjalanan pulang.

Kenapa tidak menunggu aku? Supaya kita ketemu lagi.

Sekali lagi jawabanmu membuat dadaku sesak; punya urusan lain.

Perlu kau ketahui, pada saat aku mengutarakan keinginan untuk bertemu, wajahku memanas menahan rasa malu.

Baiklah kumaafkan. Barangkali ucapan sepupumu benar, kau lelaki pemalu. Meskipun aku terluka untuk pertama kalinya atas sikap itu, kita masih seperti biasa.

/3/

Memasuki hitungan enam puluh hari. Tidak ada tanda-tanda kemajuan yang berarti. Hubungan kita sebatas obrolan aktivitas sehari-hari. Meskipun kadang kau curhat serius masalah kehidupan pribadi di antaranya tentang keluarga.

Aku berkaca dari pertemanan yang sudah-sudah, di mana aku juga pernah berteman akrab dengan seorang laki-laki. Suatu hari ketika dia mengatakan akan menikah dengan perempuan lain, hatiku terluka.

Tidak ingin lagi terjadi hal yang sama.

Aku menggiringmu untuk bercerita tentang masa depan. Kehidupan berumah tangga. Kata orang, itu salah satu cara memberikan sinyal kepada seseorang yang disukai.

Ya. Senang mendengar rencana itu tapi tidak dengan kriteria pasangan impianmu. Harusnya aku segera menyadari.

/4/

Suatu hari dan aku tak ingin lagi menghitung bilangannya, kita kembali punya urusan di kota dan lokasi yang sama.

Kita akan bertemu.

Aku tersenyum malu membaca pesanmu. Selama mengenalmu, aplikasi perpesanan milikku menjadi ramai. Tidak ada lagi yang bernama kesepian.

Baiklah. Selesai urusan kita bertemu.

Sahutku penuh semangat. Aku berharap setelah pertemuan kedua ini, hatinya menjadi peka.

Masa itu tiba. Kita masing-masing telah menyelesaikan urusan.

Jadi bertemu?

Terserah.

Yakin nggak?

Terserah.

Harusnya aku sadar dan lebih awal membaca nasihat tentang kata terserah yang keluar dari mulut lelaki. Terserah adalah ungkapan menghargai perasaan wanita yang memiliki penolakan secara halus.

/5/

Aku memang bukan seorang istri. Kita belum menikah. Tapi sudah hampir dua minggu firasatku mengatakan ada yang berbeda. Ada yang berubah dari dirimu.

Aku bertanya sesuatu boleh?

Sangat jarang aku meminta izin seperti itu. Artinya ada sesuatu yang sifatnya penting.

Silakan.

Apa kau sedang menjalin hubungan dengan seseorang?

Kenapa bertanya demikian?

Jawab saja ya atau tidak?

Iya. Aku sedang melakukan penjajakan dengan seseorang. Seperti inginku, dia cantik dan menarik. Memiliki pekerjaan yang layak diperhitungkan.

Oh, ada rencana untuk serius?

Doakan saja. Aku berharap begitu.

Baiklah. Aku senang mendengarnya.

Padahal aku tahu betul bahwa tidak ada pertemanan murni di antara dua orang dewasa lawan jenis kecuali adanya rasa saling nyaman.

Setelahnya, obrolan dari aplikasi perpesanan kuhentikan. Aku menuju cermin lalu berkaca. Wajah ini barangkali tidak memiliki nilai lebih menurut pandanganmu.

Ingin rasanya mengumpat tentang keputusan orang dalam menjatuhkan pilihan hati. Tapi menyalahkan pemberian Tuhan adalah dosa besar.

Sebagai seseorang yang sedang belajar meniti karir di dunia menulis, aku lumayan banyak membaca tulisan. Kata senior, untuk menjadi penulis hal penting selain latihan adalah banyak membaca. Dan aku pernah menemui sebuah nasihat; yang pergi akan segera mendapatkan ganti.

Entah siapa yang tepat dikatakan pergi, aku atau dirimu. Yang jelas setelah kuyakin kau benar-benar tertidur, segala aplikasi yang selama ini menjadi penghubung di antara kita kuputus. Aku dan kau pasti menemukan pengganti.

Aku tak peduli apakah kau butuh dukunganku di saat terjatuh atau tidak. Aku tidak ingin lagi menjadi pendengar setiamu tentang hobi, pekerjaan atau masalah yang menimpa.

Kita memang bukan sepasang kekasih. Meskipun kutahu aku menyimpan rindu yang besar untukmu.

BP Mandoge, 18 Februari 2019

Mawar Dani, berasal dari desa BP Mandoge Asahan. Saat ini tercatat sebagai pramubakti di KUA setempat. Penyayang kucing dan suka membaca kisah romantis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *