Cerpen

Kotak Pandora

March 22, 2022

Cerpen Kristophorus Divinanto

Tubuh sutradara dibiarkan menggantung dengan tambang yang melingkar di lehernya. Lampu sorot utama gedung pertunjukan menyoroti tubuhnya yang tergantung, seolah-olah sutradara itu tengah bermonolog tentang kematiannya sendiri. Belum ada yang berani menurunkan jenazah itu dari atas sana. Orang-orang masih menunggu produser datang. Seorang penata artistik duduk meringkuk di bibir panggung sebelah kanan. Seorang aktris terisak-isak di sebelah asisten sutradara yang sedari tadi tidak melepaskan rangkulannya dari bahu si aktris. Seorang pemain musik berjalan dari samping panggung mendekati jenazah sutradara yang tergantung tepat di tengah panggung sambil memainkan Wiegenlied Op. 49 No. 4 karya Johannes Brahms.

“Hei! Jangan sembarangan!” hardik asisten sutradara dari bangku penonton.

Pemain musik itu langsung menghentikan permainan biolanya.

“Maaf. Hanya berusaha mencairkan suasana. Lalu sekarang bagaimana?”

Asisten sutradara kini yang menundukkan kepalanya.

“Semuanya akan jelas ketika produser datang,” kata penata artistik.

Produser masuk ke gedung pertunjukan melalui pintu utama. Lima detik lamanya ia tidak bergerak memandang tubuh sutradara pementasannya tergantung di tengah panggung. Dua orang petugas dari rumah sakit ikut bersama produser dengan membawa tandu dan peralatan lainnya. Mereka berdua segera mendekat ke arah panggung untuk menurunkan jenazah. Produser menghampiri asisten sutradara dan memeluknya. Tangis asisten sutradara tidak terbendung. Penata artistik melompat dari bibir panggung dan mendekati produser. Aktris yang sedari tadi menangis masih tersedu di tempat duduknya. Pemain musik ikut mendekat ke produser sambil menenteng biolanya.

“Siapa yang menemukan jenazahnya pertama kali?” tanya produser.

“Dia,” jawab pemain musik menunjuk aktris yang masih menangis.

Produser menghampiri aktris dan duduk di sebelahnya.

“Kita semua berduka. Aku turut berduka atas kematian tunanganmu. Tapi bisakah kamu menceritakan kepada kami, bagaimana kamu menemukannya?” tanya produser.

Sutradara dan aktris memang menjalin hubungan asmara sejak lima tahun yang lalu. Keduanya bertemu dalam satu sanggar kesenian di Yogyakarta. Di tahun keempat mereka memutuskan bertunangan dan sejak saat itu sutradara memutuskan untuk membentuk kelompok teaternya sendiri.

Tiada yang menyangka kelompok teater besutan pasangan sutradara dan aktris ini berkembang pesat. Seluruh kursi gedung pertunjukan terjual habis pada pementasan pertama. Pujian demi pujian datang dari seniman, dosen seni, mahasiswa seni, hingga orang-orang awam yang tidak terlalu menikmati bahkan peduli tentang seni.

Kelompok teater mereka menancapkan bendera kesenian pertamanya dengan mementaskan naskah Mahkamah karya Asrul Sani. Pementasan perdana memperkuat pondasi keyakinan mereka untuk terus menekuni jalan kesenian. Orang-orang mulai berbondong-bondong bergabung ke kelompok teater tersebut. Anggota kelompok bertambah seiring bertambahnya donatur dan sponsor.

Pujian demi pujian datang di setiap pementasan selanjutnya, hingga tiba hari dinas kesenian mendatangi sutradara untuk menawarkan kerja sama. Dinas meminta almarhum sutradara untuk mementaskan sebuah lakon kisah cinta Tan Bun An dan Siti Fatimah yang populer di pulau Kemaro. Almarhum sutradara langsung menerima tawaran tersebut.

Namun proyek tersebut ternyata memekarkan konflik antara almarhum dengan kekasihnya. Aktris merasa keberatan ketika diminta memerankan tokoh Siti Fatimah. Almarhum sutradara berang ketika kekasihnya menolak menjadi pemeran utama dalam pementasan penting ini.

Keduanya cukup sering adu mulut selama proses latihan. Beberapa kru dan anggota teater lain selalu tidak enak hati ketika mendengar pertengkaran para pendiri kelompok teater ini di atas maupun belakang panggung. Tidak ada yang pernah berani mencoba melerai pertengkaran mereka berdua. Semua orang memang mengetahui bahwa semangat kesenian aktris sudah melemah, sedangkan kekasihnya masih berapi-api untuk terus tekun di kesenian. Setiap orang yang melihat si aktris dapat menilai bahwa segala tindakannya dilakukan untuk memenuhi keinginan kekasihnya sebagai sutradara, bukan untuk membahagiakan dirinya sendiri.

“Kalau aku boleh memilih, aku ingin hidup di tempat yang lebih luas dari panggung pertunjukan yang hanya sejengkal,” begitu ucap si aktris ketika tengah mengobrol di sesi istirahat latihan pementasan Tan Bun An dan Siti Fatimah. Semua orang menaruh rasa iba, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Segala hal di kelompok teater, ditentukan oleh sutradara–tunangan si aktris itu sendiri. Pendengar keluh kesah aktris hanya anggota biasa bahkan anak magang yang tidak bisa berbuat banyak.

“Saya dan aktris yang menemukannya,” kata penata artistik.

“Kami berdua datang lebih awal. Almarhum meminta aktris datang lebih awal untuk olah rasa. Kebetulan saya harus datang lebih awal untuk menyelesaikan properti yang belum selesai dikerjakan. Kami berdua datang bersama dan ketika memasuki gedung, almarhum sudah tergantung seperti ini,” perkataan penata artistik kian melambat seiring tangis aktris yang terdengar kian menyayat.

Produser menghela napasnya yang berat. Ia menatap jenazah sutradara yang telah ditutup dan diangkut oleh dua orang petugas rumah sakit dengan tandu.

“Kita bawa dulu ke rumah sakit,” kata produser.

Asisten sutradara dan penata artistik memapah si aktris yang berjalan sempoyongan, mengikuti dua petugas yang membawa jenazah sutradara. Produser dan pemain musik yang berjalan paling belakang.

Setelah merasa berjarak agak jauh dengan rombongan yang ada di depan, pemain musik menahan lengan produser hingga keduanya berhenti melangkah.

“Sebentar, Pak!” ucap pemain musik.

Produser menghentikan langkahnya karena terkejut dengan sikap pemain musik.

“Ada apa?” tanya produser.

“Saya menduga sutradara dibunuh oleh salah satu dari mereka. Entah mbak aktris, mbak penata artistik, atau mbak asisten sutradara itu,” bisik penata musik.

“Ngawur kamu, Bung! Jangan sembarangan menuduh!” bentak produser dengan nada lirih, berharap agar percakapan mereka barusan tidak terdengar oleh rombongan yang ada di depan.

Weh, bapak itu, lho! Saya bilang men-du-ga. Bukan me-nu-duh. Saya menduga seperti itu karena skandal mereka di masa lalu.”

“Skandal? Skandal apa?”

“Bapak ini terlalu lama di kantor jadi tidak pernah tahu apa-apa. Almarhum sutradara itu suaminya penata artistik dulunya. Tapi mereka saling tutup mulut.”

Produser membalikkan posisi badannya, menatap pemain musik yang ada di belakangnya. Mata pemain musik tampak berbinar karena perkataannya berhasil menarik perhatian produser.

“Begini ceritanya, Pak. Penata artistik itu dan almarhum sutradara sudah menikah dua tahun sebelumnya. Tapi entah apa alasannya mereka cerai. Nah, lalu sutradara kasmaran sama aktris hingga mereka tunangan. Eh, usut punya usut, di acara tunangan sutradara dan asisten sutradara tepergok salah satu tamu undangan sedang berciuman di kamar mandi. Saya dulu diajak almarhum sutradara untuk mengurus uang tutup mulut, Pak.”

“Sembrono! Kebiasaan bercandamu ini sudah keterlaluan. Ceritamu terlalu ngawur!” hardik produser.

“Silakan bapak mau percaya atau tidak. Saya itu sudah kenal almarhum sutradara sejak SMA. Saya sangat paham dengan almarhum, apalagi urusan perempuan yang ditidurinya. Tidak ada yang lebih mengenal almarhum dibanding saya, Pak.”

Produser hanya menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Omonganmu terlalu ngawur. Jangan sok tahu! Ada yang lebih penting dari memfitnah pembunuh atau mencari aib-aib yang almarhum punya semasa hidupnya. Kita harus berpikir cara agar pertunjukan ini tetap berjalan. Pemerintah sudah memberi uang banyak kepada kita. Pertunjukan ini harus tetap berjalan.”

Produser langsung bergegas menyusul rombongan di depan yang telah berada di luar gedung pertunjukan.

 “Ya sudah kalau nggak percaya,” gerutu pemain musik.

***

Malam hari sebelum sutradara tergantung di tengah panggung, desah dari sebuah kamar hotel tersamarkan suara televisi yang dinyalakan dengan volume lantang. Kamar hotel mewah di lantai 30 selalu memberikan ruang untuk cinta yang liar, namun sepadan dengan rahasia yang disembunyikan dengan rapat.

Sutradara terjatuh di pelukan produser. Mereka berdua saling menatap sebelum bibir keduanya saling melumat. Peluh dari kedua tubuh menyatu. Produser mengelus-elus rambut sutradara.

“Kapan kamu akan menceritakan semuanya?” tanya produser.

Mendengar pertanyaan itu, sutradara segera beranjak dari kasur. Selimut yang menutupi tubuh telanjang keduanya tersingkap. Sutradara mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan mulai mengenakannya satu per satu.

“Ini yang terakhir. Aku telah mencintai aktris itu. Seutuhnya,” kata sutradara.

Produser melotot ke arah sutradara.

“Kamu mau meninggalkanku? Katamu cinta tiada berbatas?”

“Maaf, kita harus berpisah. Cinta kita adalah sebuah kesalahan.”

Sambil berpakaian, sutradara menambah volume pada sebuah liputan tentang pernikahan sesama jenis yang ditayangkan salah satu stasiun TV.

Karena asyik menyimak ulasan tentang pro dan kontra pernikahan sesama jenis, sutradara tidak menyadari bahwa produser mendekatinya dari belakang dengan sabuk di tangan. Produser tidak memberikan sedikit saja kesempatan kepada sutradara untuk berteriak. Jerat sabuk di leher sutradara kian erat dan tubuhnya kian melemas hingga sama sekali tidak bergerak.

Sutradara sudah tidak mengetahui lagi alur cerita selanjutnya. Ia tidak mengetahui saat dirinya dimasukkan ke bagasi mobil, dibawa ke gedung tempat latihan. Digantung di tengah panggung dengan lampu utama yang menyoroti tubuhnya. Sutradara itu sama sekali tidak tahu.

Nyawanya sudah tidak mendiami tubuh itu.***

Madiun, 19 Februari 2021


Kristophorus Divinanto, lahir di Cilacap sebelum pindah ke Kutoarjo. Bekerja sebagai guru sekolah dasar. Memiliki kegemaran membaca manga dan masih setia menanti tamatnya manga One Piece. Pemilik akun Instagram @kristophorus.divinanto.

Leave a Reply

Your email address will not be published.