Buku Resensi

Kuasa Seksualitas Kita

July 11, 2019

oleh Vera Safitri

Bagaimanapun, peradaban manusia diciptakan oleh seksualitas kita yang rumit. Seksualitas menciptakan bahasa, hubungan kekerabatan, penguasaan alat dan teknologi, norma, hukum, politik, struktur, hingga sistem ekonomi masyarakat kita.

Bisa jadi, kita akan berdiri dengan tegak kepala saat menghadapi argumen bahwa manusia terlahir dengan seperangkat kebebasan dan kesetaraan. Bahwa peran gender serta posisi perempuan dan laki-laki sekadar hasil konstruksi sosial saja. Sebuah hal yang diimani banyak masyarakat industrial modern, serta menjadi penguat banyak gagasan yang melindungi sekaligus mengacaukan gaya bermanusia kita lewat cetusan Hak Asasi Manusia.

Tapi bagaimana kalau sebaliknya? Bagaimana kalau kebebasan dan kesetaraan yang agung itulah hasil konstruksi besar-besaran kita? Dan peran gender serta posisi perempuan memang terjadi oleh rentetan persoalan seksualitas-reproduksi yang biologis dan masuk akal? Kita pasti lemas dan terbelalak, bahkan sampai marah.

Jared Diamond, sekali lagi merepotkan dirinya sendiri dengan berusaha menjawab pelbagai keganjilan kemanusiaan kita soal seksualitas dan reproduksi itu. Lewat bukunya, Why Sex is Fun: Evolution of Human Reproduction yang dalam edisi Bahasa Indonesia terbitan KPG dijuduli,  Evolusi Reproduksi Manusia (2019). Kita patut curiga, perubahan judul yang dilakukan KPG ini adalah demi menghalau imaji pembaca yang mengira buku ini sebagai buku panduan seks. Jared sendiri pun telah mewanti-wanti hal ini lewat kata pengantar yang ditulisnya.

“Buku ini tidak akan mengajari anda posisi-posisi baru untuk menikmati hubungan seks atau membantu anda mengurangi rasa tidak nyaman akibat kram ketika menstruasi atau menopause. Membaca buku ini juga tidak akan mengobati sakit hati akibat mengetahui pasangan anda berselingkuh. Tapi buku ini mungkin dapat membantu anda untuk mengerti, mengapa tubuh anda bertingkah laku sebagaimana sekarang” (hlm. xi).

Dengan begitu, tinggallah sisa judul serius, yang megah dan membosankan. Itu sama seriusnya dengan keteguhan Jared menggunakan pendekatan biologis-antropologis pada buku-bukunya, termasuk pada bukunya kali ini.  Melalui Evolusi Reproduksi Manusia,  Jared menjelentrehkan betapa sistem masyarakat manusia di bumi ini sangat berurusan dengan kesenjangan biologis dan penalaran fisiologis yang bukan hanya merobek-robek skripsiku seputar gender dan perempuan, tapi juga mengusik kedamaian dan heroisme feminis yang tegar sentosa berdiri di tengah-tengah kita sejak lama.

Di telinga kita yang modern, kita tentu tidak ingin mendengar tuduhan Jared bahwa, secara evolusioner, laki-laki dan perempuan tidak banyak berkembang mengenai pembagian kerja: “Laki-laki selalu lebih menghabiskan waktu memburu hewan-hewan besar, sementara perempuan mengumpulkan makanan berupa tumbuhan dan hewan kecil, serta mengurus anak. Pembagian kerja serupa bertahan dalam masyarakat industrial modern” (hlm 131). Karena kedua pernyataan Jared itu justru lebih terdengar seperti, kalau alasan biologis yang selama ini tidak kita percayai, nyata berkuasa dalam banyak segi sosial kita dan bahwa kromosom x dan y yang kita miliki diam-diam membangun maskulinitas-feminitasnya yang menyebalkan.

Jared Diamond bukanlah satu-satunya tersangka atas gonjang-ganjing ini, kita ingat ada Yuval Noal Harari (Sapiens, 2011) dan Ivan Illich (Matinya Gender, 1998) yang juga mengurusi hal serupa. Yuval Noah Harari malah sempat menyebut manusia memiliki gen patriarkis. Baginya dalam banyak hal, kesenjangan biologis antara laki-laki dan perempuan dengan sengaja telah membentuk sistem yang timpang. Tapi tentu masyarakat modern seperti kita ogah diusik dengan kenyataan seperti itu. Bertahun-tahun kita menyalahkan konstruksi sosial-budaya atas kenyataan pahit yang ditimbulkan patriarki. Beribu penelitian sudah dilakukan demi mengusir keraguan kita soal itu. Kita sekuat tenaga menyangkal bagian-bagian biologis ikut berperan dalam ketimpangan ini. Sehingga segala penjelasan Jared mengenai seksualitas dan reproduksi kita itu menggenapi pertanyaan besar yang sempat dilemparkan Yuval lewat buku Sapiens: “Jika sistem patriarkis didasari oleh mitos-mitos yang tak berdasar biologis, maka apa yang menyebabkan sistem itu menjadi sedemikian universal dan stabil?” (hlm. 190).[]


Vera Safitri Esais dan ilustrator anak, baru saja merampungkan skripsinya sebagai mahasiswi Sosiologi, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *