Cerpen

Kunang-Kunang di Mata Julian

November 27, 2019

Cerpen Dody Wardy Manalu

Pemuda itu berdiri di bawah pohon kemboja di samping gereja. Ia menatap kupu-kupu yang hinggap di kelopak mawar. Julian, demikian namanya. Namun teman-temannya lebih sering memanggil namanya tanpa huruf N. Julia. Ia tak kuasa berontak saat mereka mengejek dirinya dengan nama itu.

“Aku ingin berbagi bekal denganmu.”

Solura menghampiri. Ia sudah lama mengintip dari balik jendela gereja. Julian tergeragap mendapati gadis pemurung itu berdiri di sebelahnya. Tangan Solura menenteng sebuah rantang.

“Aku tidak mau kalau menunya nasi goreng lagi.”

“Aku tahu kamu suka sekali roti bakar isi cokelat.”

Julian mengekor di belakang Solura. Mereka menuju batu besar tepat di depan gereja. Kelompok muda-mudi sedang latihan natal. Solura sering merasa lapar hingga terpaksa bawa bekal ke gereja. Latihan berlangsung hingga sore. Solura melepas tutup rantang. Aroma cokelat menguar di udara.

“Makan roti bakar membawaku ke masa tiga belas tahun silam. Ayahku selalu membelikannya setiap pulang dari pasar.”

Julian bercerita sembari melahap roti pemberian Solura. Persahabatan mereka sudah terjalin selama dua tahun lima bulan saat pertama kali masuk jadi anggota muda-mudi gereja. Siapa mau berteman dengan gadis pemurung dan pemuda bermata sendu? Tidak ada. Mereka dipertemukan oleh nasib serupa.

“Tampaknya kamu bahagia hari ini.”

“Dari mana kamu tahu.”

“Ribuan kunang-kunang di matamu memancarkan cahaya.”

Bibir Julian tersenyum. Gadis pemurung itu pintar sekali menggombal. Mana bisa kunang-kunang berdiam dalam bola mata.

“Apa ayahmu masih membelikan roti bakar hingga sekarang?”

Wajah Julian mendadak muram. Cahaya kunang-kunang di matanya meredup. Ayahnya berubah seiring bertambah usia Julian. Ia sering dipukul gara-gara kedapatan main boneka dengan anak perempuan tetangga.

“Salah bila laki-laki tidak suka main bola?”

Mereka saling tatap. Cahaya kunang-kunang di mata Julian benar-benar redup.

“Apa salah bila perempuan tidak suka lipstik?”

Solura balik bertanya. Julian menggeleng. Ketika masih kecil, ayahnya kerap memaksa dirinya menonton bola semalam suntuk.

“Lelaki itu harus suka nonton bola, bukan nonton kartun barbie. Duduk di samping ayah. Temani ayah nonton. Kamu tidur di luar bila mengantuk.”

Julian ketakutan. Setengah mati menahan mata untuk tidak tidur. Menonton acara TV tidak kita suka sama dengan memaksa diri menyantap makanan busuk. Julian dipaksa berteriak ketika terjadi gol, meski air mata tak henti berjatuhan.

*

Solura belajar memoles wajah, menyapukan lipstik pada bibir. Hasilnya tidak terlalu buruk. Wajahnya terlihat lebih cantik terpantul di cermin. Solura ingin berubah di mata Julian. Bukan lagi gadis pemurung ber’aroma bunga ilalang. Ia pecahkan celengan demi membeli sebotol parfum ber’aroma bunga lili. Solura malu mengakui perasaannya. Takut perasaan itu membuat kunang-kunang di mata Julian terbang dan tak kembali.

Solura menerima Julian apa adanya. Julian tidak tahu banyak hal. Ia tidak tahu main bola, memanjat kelapa, menjaring ikan dan meng’kapak kayu. Namun Julian punya kelebihan. Ia pintar membedakan bumbu masak. Ia bisa mengubah masakan sederhana menjadi bercita rasa tinggi. Julian juga pintar menggambar model pakaian. Bahkan selalu mendorong Solura untuk tampil modis.

Solura ingin memiliki Julian bukan sebagai sahabat. Ia mencintai Julian layak seorang gadis tergila-gila pada seorang pemuda. Solura sering bermimpi hadiri pesta dengan digandeng oleh Julian. Ingin tunjukkan pada orang-orang bila mereka bukan pasangan aneh.

Sebuah sms masuk di kotak pesan membuat khayalan Solura terhenti: Apa yang kamu lakukan? Kamu cantik. Tapi lipstikmu terlalu tebal. Gegas Solura berlari ke jendela. Julian tengah berdiri di halaman menatap lurus ke arah kamarnya.

“Bisa menemaniku malam ini?”

“Ke mana.”

“Menonton organ tunggal di kampung sebelah.”

“Aku segera keluar.”

“Jangan keluar sebelum lipstik tebalmu itu kamu hapus.”

Solura berlari sembari menghapus lipstik di bibir. Bersama Julian, ia bisa menikmati dunia. Ia bisa berubah menjadi gadis cerewet. Ribuan kunang-kunang di bola mata Julian seperti kerlip lampu pohon natal di bulan Desember.

*

Sehabis latihan, puluhan pemuda berlarian menuju lapangan bola. Di jalan setapak di bawah pohon pinus, Solura melihat kejadian itu. Hatinya beku bagai sebongkah salju melihat kunang-kunang di mata Julian enggan bercahaya.

“Jangan bergabung dengan kami.”

Salah satu dari mereka mendorong Julian hingga tersungkur.

“Hanya ingin melihat kalian main bola. Apa tidak boleh?”

“Kami enggan berteman dengan orang tak jelas jenis kelaminnya.”

Ribuan kunang-kunang di mata Julian tenggelam dalam pusaran air bah. Matanya berkaca-kaca. Solura menerobos kerumunan dan membawa pergi Julian. Mereka melewati koridor gereja, melintasi rumah Pendeta dan belok kiri menuju bangunan tua berada di puncak bukit.

“Apa benar aku tidak berguna?”

Julian mematung di tengah ruangan. Solura tak kuasa menatap ribuan kunang-kunang di mata Julian berdengung mirip tangisan.

“Setidaknya kamu berguna untukku.”

Julian dongakkan wajah, menatap Solura berdiri di hadapannya. Rambut Solura digerai. Ia memakai baju tipis. Bibirnya merah jambu. Polesan make up minimalis membuat Solura bagai bidadari. Ia cantik sekali. Solura meloloskan pakaian hingga jatuh ke lantai. Cahaya senja menerobos masuk dari ventilasi menyinari seluruh tubuh Solura. Julian terkesiap.

“Aku mencintaimu sejak dulu. Seperti cinta dimiliki Juliet pada Romeo dalam kisah roman itu. Bukan cinta seorang kakak pada adiknya.”

Solura meraih tangan Julian, lalu meletakkan tangan itu di atas dada membusung. Berharap pemuda itu mengelus dan mengecupnya. Ke mana hasrat itu? Tak ada niat untuk menikmati. Julian memaki diri. Buru-buru menarik tangan, lalu memungut pakaian tergeletak di lantai.

“Pakai kembali bajumu. Aku tidak bisa.” ujar Julian sembari berjalan menuju sudut ruang.

“Apa kekuranganku.”

Solura rela merendahkan diri demi cinta. Julian tetap menolak.

“Justru kekurangan itu ada di sini. Di hatiku.”

Julian menunjuk dada. Tangisnya pecah. Rasa itu tak pernah ada.

“Hatiku tidak tergerak.”

Julian memukul-mukul dada sekuat tenaga.

“Apa aku tak pernah ada di hatimu?”

“Kamu selalu ada di hatiku. Namun sebagai sahabat. Selamanya jadi sahabat.”

Ribuan balok menghantam dada Solura. Tak ada lagi kesempatan untuk dapatkan Julian. Ruang itu telah tertutup. Selamanya jadi sahabat.

“Kamu bilang, di mataku bersarang ribuan kunang-kunang. Bila kamu sedih, kunang-kunang itu akan menangis. Mereka tidak akan mengeluarkan cahaya lagi.” ujar Julian sembari menarik tangan Solura keluar. Ia tahu ke mana membawa Solura pergi. Padang ilalang!

*

Sudah tiga hari Julian tidak hadir latihan. Tidak biasanya pemuda itu absen. Pulang dari gereja, Solura gegas ke rumah Julian.

“Mau ditaro di mana muka ayahmu ini.”

Suara dari dalam rumah urungkan langkah Solura. Ayah Julian marah-marah. Solura berlari ke samping rumah mengintip dari celah jendela. Julian diikat pada sebuah tiang. Wajahnya lebam-lebam. Ada kemarahan di bola mata Julian. Ribuan kunang-kunang itu mengeluarkan cahaya api.

“Lebih baik kamu kedapatan membuntingi anak gadis orang dari pada kedapatan berciuman dengan laki-laki.” bentaknya ayahnya. Sekujur tubuh Julian lebam membiru. Solura masuk dari jendela setelah ayah Julian keluar.

“Maaf tidak bisa menolongmu.”

Solura menangis menatap wajah Julian yang hancur. Matanya bengkak.

“Aku malu dilihat olehmu dalam keadaan seperti ini. Aku ingin mati saja.”

Cahaya ribuan kunang-kunang di mata Julian meredup.

“Aku bawa makanan kesukaanmu.” ujar Solura sembari membuka plastik. Roti bakar isi cokelat. Solura mengambil satu iris, lalu menyuapkan ke mulut Julian.

“Kelak, bila kamu punya anak laki-laki, latih ia main bola. Cukup aku mengalami nasib buruk ini.”

Kembali Solura menyuapkan roti ke mulut Julian. Segerombol kunang-kunang keluar dari matanya. Seluruh ruangan dipenuhi ribuan kunang-kunang. Perlahan, kelopak mata Julian tertutup. Tertutup selamanya!***


Dody Wardy Manalu. Lahir di kota Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Menghabiskan masa remaja di kota Sibolga menjadi salah satu siswa di SMA Katolik di kota itu. Awal tahun 2015 mulai serius menulis. Beberapa karya fiksinya pernah dimuat di beberapa media.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *