Ilustrasi Cerpen Priyo Handoko
Cerpen

Kupu-Kupu di Atas Ranjang

April 7, 2020

Cerpen Priyo Handoko

Kamu membangunkan aku dengan sentuhan sayapmu saat pagi mulai terasa hangat-hangat kuku. Tak jelas bagaimana kamu bisa masuk ke rumahku. Tubuhku sampai membeku. Aku sama sekali tidak mengenalmu. Kamu memintaku dengan sedikit memaksa agar mau menjahit sayap sebelah kananmu yang robek dan mulai melayu.

Sayap yang sungguh aneh. Sudah sering aku membaca cerita atau melihat gambar peri-peri mungil bersayap yang tinggal di hutan. Cuma seingatku tak ada yang bentuk sayapnya seperti sayapmu. Bentuknya bulat sempurna dengan bulu-bulu biru serupa mahkota bunga di kedua ujungnya. Satu lagi, kamu tidak mungil. Telingamu pun tidak runcing memanjang ke atas. Penampilan fisik kita tak terlalu jauh berbeda. Hanya, aku laki-laki dan kamu perempuan.

Kulihat ada cairan kental yang merembes keluar dari robekan sayapmu. Mungkin itu darah. Warnanya putih. Aku jadi teringat cerita tentang Yudistira. Seorang ksatria Pandawa yang tingkat keikhlasannya tiada tara.[1] Dewa pun menganugerahinya darah berwarna putih. Darah yang tak membawa perih ketika kulit tubuh terluka. Sungguh ingin kubertanya, apa kamu seperti Yudistira? Tapi, aku tak berani menanyakan itu kepadamu.

Kepalamu mulai bergerak sesaat setelah aku selesai menjahit robekan sayapmu dengan benang berwarna hitam. Bibirmu bergetar. Pasti menahan perih yang teramat sangat. “Maaf, aku tak punya obat bius untuk meredam rasa sakitmu. Untungnya, katamu, benang apapun bisa kupakai untuk menjahit lukamu. Kalau saja kamu mau ke rumah sakit.”

Tiba-tiba aku melihat kembali getaran itu. Getaran tubuh yang menyiratkan rasa sakit. Tanpa sadar mataku ikut bergetar. Benar-benar menahan perih yang teramat sangat. Sudah tiga puluh delapan jam, aku sama sekali tidak sempat tidur. Dan, tadi belum genap satu jam aku menikmati ketidaksadaran yang sangat menyenangkan itu.

Suaramu terdengar lirih ketika mengucapkan terima kasih. Suaramu bertambah lembut ketika meminta maaf setelah tahu kehadiranmu mengganggu tidurku. “Tak apa, jawabku, “Sekarang lebih baik kamu istirahat dulu. Aku sebenarnya sangat ingin mendengar semuanya, tapi ceritanya nanti saja. Kamu aman di sini. Aku mau tidur lagi.”

“Jangan tidur dulu. Temani aku,” katamu, sambil memandangku dengan mata berkaca-kaca. Dongkol karena kepala yang kian menebal dan pusing, spontan aku menjawab dengan nada suara tinggi. “Pokoknya aku mau tidur di kamar sebelah. Aku sudah tidak tahan.”

“Tolong jangan tidur dulu,” kembali bisikmu. Kamu mulai menangis. Emosiku tambah tak keruan. Sebelum aku beranjak, dengan cepat kamu meraih tanganku dan menggenggamnya.

“Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendirian di kamar ini. Silakan rebah di sebelahku atau di mana pun yang kamu mau. Tapi, tolong jangan tidur. Aku mohon, jadilah teman bicaraku. Jaga aku agar tidak terlelap selama darah masih merembes dari celah luka ini. Sebab, itu akan membunuhku.”

Kali ini aku tak kuasa menolak permintaanmu, walau kedua mataku sebenarnya juga sudah tak kuasa untuk terus dipaksa terjaga. Aku bingung, tapi kuhampiri juga kamu. Kemudian duduk di ranjang tepat di sebelahmu. Sesaat aku merenungi nasibmu kini, mungkin juga nasibku beberapa puluh jam yang lalu.

Aku meringis. Ternyata ada persamaannya. Kita sama-sama sempat menjadi takut dengan tidur. Kamu tak boleh tidur selama sayap itu belum sembuh. Entah apa sebabnya. Karena jika tertidur, itu berarti kematianmu. Sementara aku, selama tiga puluh delapan jam yang lalu juga tak boleh tertidur. Ada setumpuk laporan yang harus aku selesaikan, karena sudah masuk deadline. Jika sampai tak selesai, aku akan dipecat dari kantor dan karier yang telah aku rintis selama sepuluh tahun akan hancur. Bagiku itu juga kematian.

Kamu tersenyum mendengar ceritaku. Aku juga sudah mulai merasa agak nyaman dengan kehadiranmu. Entah dari mana mulanya, namun seperti terhipnotis, lapis demi lapis sinopsis kehidupanku mengalir membanjiri udara kamar ini. Sementara kamu, hanya diam mendengarkan dengan penuh perhatian.

Tak lama, aku sampai kepada cerita tentang istriku yang kini sedang menempuh S2 di Belanda. Terakhir dia pulang ke rumah ini sekitar enam bulan lalu, sekalian mengumpulkan data-data penelitian untuk keperluan tesis yang sedang dia kerjakan. Tak lupa aku juga bercerita tentang Soka dan Modya yang sejak kemarin sore bersama neneknya pergi ke Batam untuk mengisi waktu liburan mereka.

Modya berusia sepuluh tahun, sedangkan adiknya Soka enam tahun. Benang yang kupakai menjahit luka itu milik si sulung yang biasa dia pakai untuk bermain layang-layang. Praktis di rumah ini, kini aku sendirian. Mbok Rah, pembantuku, kebetulan sedang pulang kampung. “Lantas luka di sayapmu itu karena kecelakaan?” tanyaku sambil kembali memeriksanya.

“Bukan kecelakaan, tapi serangan.”

“Astaga! Diserang siapa? Pelakunya sudah ditangkap? Mereka tidak mengikuti jejakmu ke rumah ini kan?” tanyaku penuh khawatir. Aku tidak mau sampai terlibat dalam masalah yang tidak aku pahami.

“Justru mereka sama sekali tidak merasa sebagai penjahat. Bagi mereka, apa yang dilakukan adalah perjuangan yang direstui Tuhan.”

“Aku tidak mengerti.”

“Ini memang teramat sulit untuk dimengerti.”

Ceritamu berlanjut. Pagi tadi, kamu sedang menikmati cappuccino di kafe hotel terbesar di utara kota ini. Tak ada firasat buruk sebelumnya. Tiba-tiba terdengar ledakan keras beserta guncangan dahsyat. Asap menumpuk melahirkan cendawan besar. Semua orang jatuh rebah ke tanah. Kaca-kaca gedung pecah. Segalanya menjadi berantakan lalu hening. Dua detik, tiga detik, dan pada detik selanjutnya mulai terdengar riuh jerit dan tangis kesakitan.

“Sekelilingku banyak korban, termasuk aku. Tentu saja, aku harus langsung pergi. Tidak boleh ada orang yang menyadari kehadiranku. Termasuk, kamera fotografer atau televisi. Tapi, karena sayapku robek, aku tidak bisa pergi jauh.”

Aku hanya diam mendengar ceritamu. Mencoba untuk memahaminya. Aku menatapmu. Kamu ternyata sudah menatapku terlebih dahulu. Aku menunduk. Tak kuasa melihat matamu yang mendadak menjelma gerhana matahari. Sesaat kurasa gelap. Mataku tak bisa menangkap cahaya.

Akhirnya, kubiarkan jemari tanganmu menggapai jemari tanganku. Membimbingnya pelan ke pipimu setelah sempat melewati belahan dada dan celah bibirmu yang berembun. Jemariku dan sekujur tubuhku bergetar. Pelan-pelan, kucium keningmu yang putih bersih dan dingin bagai bengkoang.

“Aku ngantuk. Sangat mengantuk,” kataku.

“Aku juga. Cepat cium aku. Buat aku terus terjaga,” sahutmu dengan panik.

Puluhan menit pun meluncur dengan cepat dan tahu-tahu hening. Hanya desah napas kacau yang terdengar sesekali. Di luar langit sudah sangat terang. Aku merasa telah melakukan pengkhianatan besar.

Nada panggil ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku agak kaget dan merasa bersalah setelah tahu itu panggilan dari istriku. Aku ambil ponselku yang kuletakkan di atas meja dan kembali duduk di bibir ranjang.

“Halo, Sayang. Ada apa?”

“Syukurlah, kamu ternyata masih di rumah. Aku benar-benar khawatir.”

Kudengar suara tangisan pelan. Dingin segera merambat cepat ke sekujur tubuhku. Hatiku serasa diiris-iris. Aku cemas sesuatu telah terjadi padanya di sana.

“Memangnya kenapa?”

“Kamu belum lihat berita TV?”

Aku terbatuk beberapa kali sebelum menjawab. Tenggorokanku mendadak serasa diserang kemarau. “Belum, seharian ini aku di rumah. Tidur. Sebenarnya siang ini aku berencana pergi ke kantor untuk menyerahkan laporan yang sudah selesai kukerjakan. Tapi, aku masih terlalu lelah.”

“Kamu harus bersyukur sayang. Ibu dan anak-anak barusan menelepon dari Batam. Kata mereka, ada bom berkekuatan besar barusan meledak di halaman depan gedung kantormu. Mereka lihat di TV. Semuanya berantakan dan banyak jatuh korban. Ini adalah bom kedua yang meledak di kota kita sejak tadi pagi. Yang pertama, di kafe hotel tempat kita menginap menyambut pergantian tahun. Untung kamu tidak ada di sana.”

Aku tertegun mendengar apa yang disampaikan istriku. Dalam sehari ada dua bom yang meledak. Salah satunya, di halaman gedung perkantoranku, tower berlantai 50. Jika tadi aku sudah berangkat ke kantor, mungkin saja aku ikut terdata di daftar nama korban. Tengkukku merinding. Berarti, peri bersayap yang sekarang bersamaku adalah korban dari ledakan bom yang pertama. Aku melirik ke kasur. Tidak ada siapa-siapa. Mungkin dia sedang ke kamar mandi.

“Ibu dan anak-anak sangat khawatir dan sudah mencoba menghubungimu. Mungkin karena sedang tidur, kamu tidak dapat mendengar nada panggil di ponselmu. Kamu harus segera menelpon mereka setelah ini.”

“Iya, mereka pasti akan segera aku telepon.”

“Aku kangen kamu. Tadi aku bermimpi. Kita berhubungan. Begitu agresif, polos, dan meledak. Rasanya seperti malam pertama kita dulu. Anehnya kita melakukan itu di atas tubuh seekor kupu-kupu raksasa yang terbaring menutupi ranjang.”

Isi dadaku kembali berdetak tak karuan. Benar kata orang, kalau naluri perempuan memang sangat sensitif. Mereka tidak bisa dibohongi. Mereka selalu tahu, tetapi sering berlagak tidak tahu untuk menjaga perasaan kita, para laki-laki. “Kamu jangan aneh-aneh. Bersabarlah. Minggu depan kamu harus pulang ke tanah air. Kamu tidak lupa dengan hari ulang tahun Soka, kan?”

“Aku pasti pulang untuk Soka, Modya, ibu, dan tentunya kamu. Aku sudah kangen dengan harum tubuhmu. Tesisku juga sudah selesai dan sekarang sedang dipelajari lagi oleh dosenku. Tapi, aku tak mau di ranjang kita ada kupu-kupu raksasa.”

Istriku tertawa. Aku juga ikut tertawa. Aku tahu dia cuma bercanda. Aku maklum dia bermimpi. Tapi, aku sama sekali tidak sedang bermimpi. Benarkah? Untungnya, pembicaraan berakhir. Ponsel kututup. Aku segera menoleh ke belakang, tapi kamu tetap tidak ada. Yang kutemukan hanya beberapa helai bulu lembut berwarna biru yang menempel di bantal, guling, selimut, dan sprei lusuh. Pelan kuberbisik, terima kasih atas segalanya buat kamu yang namanya pun tak sempat aku tanyakan. Mudah-mudahan kamu cepat sembuh. Sekarang semuanya harus segera aku bersihkan, karena istriku akan pulang. ***


Priyo Handoko, mantan jurnalis (2006-2018), kini menjadi komisioner KPU Provinsi Kepulauan Riau, kampung halamannya. Karyanya tersebar di pelbagai media.


[1] Dikutip dari buku Jiwo J#ncuk karya Sujiwo Tejo.

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *