Cerpen

Kupu-Kupu di Kamar Mei

August 20, 2019

Cerpen Tiqom Tarra

Aku tidak tahu bagaimana kupu-kupu itu muncul dan memenuhi setiap jengkal kamar Mei, kakak perempuanku. Mereka hinggap di lemari, beterbangan di atas ranjang, dan berkerumun di meja rias. Aku pikir ratusan kupu-kupu itu berasal dari taman bunga tak jauh dari rumah kontrakan Mei, tapi aku salah; tak ada taman bunga di sekitar permukiman di mana Mei menyewa sebuah rumah. Kupu-kupu itu tidak berasal dari mana pun, melainkan muncul begitu saja di kamar Mei seolah mereka berkembang biak di sana.

“Kakak memelihara kupu-kupu?” tanyaku saat pertama kali memasuki rumah kontrakan Mei. Sudah empat tahun ini Mei merantau ke ibu kota untuk melanjutkan pendidikan di bangku kuliah sembari bekerja.

Ini pertama kalinya aku mengujungi Mei. Dia selalu menolak ketika aku atau keluargaku yang lain ingin mengunjunginya. Namun, kali ini Mei mengiyakan permohonanku untuk tinggal sementara di kontrakannya sembari menghabiskan waktu libur sekolah.

Ketika kutanya perihal kupu-kupu di kamarnya, Mei tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa mereka semua hanya menemani dirinya.

“Sepi sekali karena jauh dari keluarga,” ucapnya.

Aku bisa mengerti. Hidup jauh dari keluarga demi melanjutkan pendidikan dan membantu ekonomi keluarga tidaklah mudah. Jujur, aku salut padanya; dia membiayai sendiri kuliahnya dengan bekerja, dan sebagai anak tertua Mei selalu mengirim uang untuk membantu keluarga dan adik-adiknya. Apalagi sepeninggalan Ayah ekonomi keluarga kami terus memburuk.

Mei menjadi kebanggaan Ibu. Setiap hari, Ibu bercerita tentang Mei yang kelak akan menjadi seorang sarjana. Kadang, aku cemburu ketika Ibu selalu membangga-bangga Mei secara berlebihan, tapi Mei memang telah melakukan segalanya demi pendidikan dan keluarga.

Setiap pagi jumlah kupu-kupu di kamar Mei terus bertambah hingga aku tidak bisa menghitung saking banyaknya. Ketika Mei keluar kamar, banyak sayap kupu-kupu yang patah menempel di tubuhnya, tapi dia tidak peduli. Mei hanya akan langsung masuk ke kamar mandi untuk membilas semua sayap-sayap itu.

“Pasti pekerjaan Kakak berat, ya?” basa-basi aku bertanya ketika kami menyantap nasi uduk untuk sarapan.

Mei terlihat sangat kelelahan dan aku baru tahu kalau dia pulang bekerja pukul tiga dini hari. Pasti sangat melelah, apalagi paginya Mei harus kuliah.

“Kakak sudah terbiasa. Ini tidak seberat yang kamu pikirkan,” jawabnya.

Ah, kakakku ini memang benar-benar pekerja keras. Diam-diam aku berdoa semoga aku juga bisa sepertinya; menjadi kebanggan Ibu dan keluarga.

“Hari ini aku harus langsung ke tempat kerja. Kamu tidak perlu menungguku pulang.”

Setelahnya Mei pergi dan hingga pukul lima dini hari dia belum juga pulang. Aku tentu khawatir meski berulang kali Mei mengatakan dia memang biasa pulang pagi karena kerja sif malam. Namun, tetap saja aku khawatir. Bagaimanapun, Mei adalah perempuan, dan berada di luar ketika malam sangatlah berbahaya.

Aku beranjak dari kamarku kemudian membuka pintu kamar Mei. Di sana kupu-kupu makin banyak jumlahnya, berebut tempat, berputar-putar di atas ranjang seperti angin puting beliung.

“Dari mana sebenarnya kalian berasal?” gumamku diikuti suara kunci yang diputar. Tak berapa lama Mei muncul dari balik pintu dengan wajah kusut kelelahan.

“Kamu tidak tidur?” tanya Mei sembari melangkah masuk. “Bukankah aku sudah bilang untuk tidak menunggu?”

“Aku bukan tidak tidur, tapi sudah bangun. Ini sudah subuh, Kak.”

Mei tidak menjawab. Dia hanya membuang napas berat sebelum menutup pintu kamar dengan ribuan kupu-kupu di dalamnya. Mei tidak keluar setelahnya. Dia baru keluar ketika hari sudah beranjak senja.

“Selesai makan Kakak ingin kamu ke minimarket depan gang untuk beli beberapa kebutuhan dan jangan pulang sebelum jam sepuluh.” Mei memberiku beberapa lembar uang dan daftar belanjaan.

“Kenapa aku tidak boleh pulang sebelum jam sepuluh?”

Mei tidak menjawab. Dia hanya melanjutkan makan, sedangkan aku diselimuti banyak pertanyaan tentang kakakku ini. Apa yang sedang disembunyikan Mei?

“Besok aku ingin melihat tempat kerja Kakak.” Entah apa yang aku pikirkan ketika mengatakan itu. Namun, aku tahu Mei menyembunyikan sesuatu dariku.

“Untuk apa?” Kali ada nada kesal yang begitu kentara dari suara Mei. Dia mendengus sebelum meletakkan sendoknya ke piring yang menimbulkan suara nyaring. “Bukankah kamu ke sini untuk liburan?”

“Aku hanya ingin tahu tempat kerja Kakak.”

“Tidak perlu. Sekarang pergilah ke minimarket dan jangan kembali sebelum jam sepuluh.”

Setelahnya tidak ada pembahasan lagi; Mei beranjak ke kamar, membanting pintu kamar dan tidak keluar lagi. Dan itu bukan terakhir kalinya Mei bersikap sedemikian rupa ketika aku membahas tentang tempat kerjanya. Mei selalu menghindari pertanyaanku.

***

Aku tahu ada yang disembunyikan Mei dariku. Di malam-malam tertentu dia menyuruhku ke minimarket dan tidak mengizinkanku pulang hingga waktu yang dia tentukan? Aku tidak tahu apa sebenarnya pekerjaan Mei. Dia selalu marah ketika aku memaksa untuk ikut ke tempat kerjanya. Kenapa dia selalu pulang pagi? Dan yang membuatku terus berpikir adalah mengapa kupu-kupu di dalam kamarnya kian banyak seolah akan meledakkan kamar itu? Ada yang aneh antara Mei, pekerjaannya, dan ribuan kupu-kupu di kamarnya.

Sejujurnya, ada satu kesimpulan yang diam-diam aku pikirkan tentang Mei. Namun, memikirkannya saja membuatku sedih. Tidak mungkin Mei melakukannya. Tapi lagi-lagi dia memintaku ke minimarket dan tidak boleh pulang sebelum pukul sepuluh malam.

Demi menyudahi rasa penasaranku, kuhentikan langkah. Aku harus mendapat jawabannya malam ini juga, maka aku berbalik arah. Setengah berlari aku menuju rumah kontrakan Mei. Di sana ada sebuah motor terparkir, padahal ketika aku berangkat ke minimarket tadi belum ada motor itu. Segera aku membuka kunci pintu dan melangkah masuk.

Mungkin harusnya aku tidak perlu kembali ke rumah Mei dan tetap bertahan di minimarket seperti perintahnya. Atau mungkin harusnya aku tidak perlu datang menyusulnya ke perantauan dan tetap di kampung dengan segala kebanggaan tentang kakakku itu. Namun, di sini, tepat di depan kamarnya aku melihat kenyataan tentang Mei.

Ketika kubuka kamar itu, aku melihat ribuan kupu-kupu beterbangan menyesaki kamar Mei. Kupu-kupu itu lahir dari dua tubuh di atas ranjang yang sedang mereguk kenikmatan.***


Tiqom Tarra, lahir dan tinggal di Pekalongan. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia, detik.com, Gogirl, Fajar Makassar, Harian Solopos, Radar Surabaya, dan ideide.id. Buku kumpulan cerpen perdana Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (JWriting Soul, 2018).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *