Cerpen

Lelaki yang Memilih Jalan Memutar

August 18, 2020

Cerpen Iin Farliani

Lelaki itu datang lagi. Ia berjalan seperti biasanya. Ia memakai kacamata. Wajahnya selalu tampak pucat dan tak bertenaga. Aku memandangnya dari konter kedai milikku. Ia sudah memutari jalan sebanyak tiga kali. Artinya, ia juga sudah tiga kali memutari kedaiku. Trotoar ini cukup lebar, berada di depan gedung kesenian. Ada halaman bercoran semen juga yang bersambungan dengan trotoar. Di pinggirnya, pedagang kaki lima menggelar dagangannya. Aku pernah beberapa kali masuk ke dalam gedung kesenian, mengantar pesanan mi ayam dan bakso untuk seniman-seniman yang mengadakan pertemuan di sana. Mereka sangat senang berkumpul, berbicara yang tidak-tidak dan merencanakan hal besar yang tak pernah diwujudkan. Sedikit banyak aku mengetahui apa yang terjadi di gedung kesenian itu. Tapi, laki-laki ini, baru pertama aku melihatnya ketika tak sengaja aku memperhatikan penampilannya yang mencolok.

Beberapa hari terakhir ini, ia suka mengitari gedung kesenian. Ia berjalan sendirian di sepanjang trotoar. Ia akan menempuh jalan memutar untuk kembali lagi ke titik yang sama. Wajahnya selalu tampak serius seakan begitu banyak beban ditimpakan begitu saja di pundaknya dan ia tak punya kuasa untuk menolak. Lelaki itu berjalan, menatap lurus ke depan. Tubuhnya yang jangkung dengan kedua pundak yang berayun-ayun secara perlahan menghilang kemudian di belokan yang menghubungkan jalan lain menuju arah trotoar di belakang gedung.

Kali lain karena terlalu sering memperhatikannya lewat, aku menghitung sudah berapa putaran yang diselesaikannya. Aku yakin sembilan putaran. Kadang aku mendapati ia menggenapinya menjadi sepuluh. Tapi, pada hari itu ketika putarannya baru mencapai angka lima, ia berhenti di depan kedaiku. Ia duduk, terengah-engah membetulkan posisi kakinya yang diluruskan. Ia melepas kacamatanya. Kacamata yang menampakkan lelaki itu sebagai seorang kutu buku. Terlihat bintik-bintik keringat berkumpul di bawah hidungnya.

“Mi ayam atau bakso?” tanyaku. Pertanyaanku rupanya cukup mengejutkannya. Ia baru sadar ada seorang laki-laki yang berdiri di belakang konter.

“Pesan minum saja. Jus kalau ada,” katanya sambil melirik ke arah gedung kesenian.

Aku mengangguk. “Alpukat, jeruk, atau leci?”

“Alpukat? Ada alpukat, ya? Berikan alpukat kalau begitu,” pintanya masih dalam tekanan suara yang sedang mengatur irama napas agar dapat bercakap dengan tenang.

Ketika aku datang ke mejanya dan meletakkan gelas jus alpukatnya, lelaki itu tiba-tiba berkata, “Istri saya hilang.” Suaranya begitu datar hingga terdengar tidak nyata. Seolah ia sedang memberitahu peristiwa biasa di hari yang sangat biasa. Ia mengaduk jus alpukatnya, memiringkan gelasnya sedikit, memicingkan mata sebentar lalu menyereputnya perlahan, memiringkan gelas lagi seakan tengah memastikan apakah jus yang telah diseruputnya benar-benar jus alpukat.

“Hilang. Menghilang begitu saja. Malam terakhir ketika ia tampil di gedung kesenian ini,” lelaki itu berhenti sebentar lalu menunjuk gedung kesenian dengan sedotan limunnya. “Ia menyanyi tiga lagu. Menyanyi sambil bermain musik. Lalu dia menghilang. Sampai sekarang belum kembali. Teman-teman satu grup musiknya tidak tahu apa-apa tentang kepergiannya. ‘Kami tidak tahu. Bagaimana mungkin?’ begitu kata mereka. Dia terlihat baik-baik saja malam itu. Tidak terlihat ada sesuatu yang mencurigakan. Menyanyikan tiga lagu, berjingkrak di atas panggung, berpeluh bersama anggota grup yang lain. Lalu mengapa ia menghilang? Sampai kini tidak ada yang tahu. Tidak ada yang berhasil menghubunginya.”

Aku terdiam. Ia masih muda. Meskipun ketika mengenakan kacamata tebal, umur di wajahnya terlihat bertambah sedikit. Tetapi, tetap saja roman muka yang memancar darinya akan membuat orang-orang tidak menyangka ia sudah menikah. Aku menunggu kata-kata berikutnya. Aku ingin bertanya apakah ia sudah melapor  polisi. Tapi, rasanya pertanyaan itu kurang pantas. Benar-benar tak pantas diucapkan. Bila mengingat lagi hari-harinya yang dihabiskan untuk berjalan memutari gedung kesenian ini setiap sore, mengingat upayanya yang tampak betul-betul gigih, meminta bantuan polisi bukanlah suatu hal yang mesti dilakukan. Bahkan mungkin terdengar tidak penting.

“Lalu Bung memutari jalan ini setiap hari agar suatu saat bisa bertemu dengan istri Bung?”

Lelaki itu mengenakan kacamatanya kembali. Ia terdiam sebentar sambil mencecap sisa-sisa jus yang tertinggal di sudut bibirnya. “Tidak juga,” katanya.

“Saya setiap hari berjalan memutari gedung kesenian ini karena jalan memutari gedung ini memberikan kepada saya semacam ketenangan. Perasaan tenang yang sukar dijelaskan. Pokoknya, setelah mengelilingi gedung ini berkali-kali, pikiran yang semula kusut mendadak dapat diurai lagi. Setelah itu, saya dapat tertidur dengan nyenyak di malam hari. Saya kira hanya dengan pikiran yang tenang saya dapat mengumpulkan sedikit demi sedikit petunjuk tentang alasan kepergian istri saya.” Ia menyerahkan gelas jusnya yang sudah kosong lalu meletakkan uang pembayaran di atas konter. Ia sangat senang dengan jus buatanku. Benar-benar enak, katanya.

Sejak hari itu, lelaki berkacamata setiap kali lelah berjalan atau sesudah menyelesaikan putarannya akan datang ke kedaiku memesan jus alpukat. Kadang-kadang ia mengaku ia tak sempat makan dulu di rumah. Maka, ia memesan juga mi ayam. Menyantap mi dengan mulut penuh. Menyudahinya dengan meneguk jus alpukat. Orang-orang memandang heran. Melihatnya tiap sore berjalan memutari gedung tanpa terlihat bosan. Ada saja yang menasihatinya, kalau mau berolahraga pergilah ke taman kota. Di sana disediakan banyak jalur untuk mereka yang suka lari-lari kecil. Jangan di trotoar ini. Trotoar ini milik pedagang kaki lima. Di sini orang duduk-duduk, kongko-kongko sambil makan dan minum. Tiap kali diberitahu seperti itu, lelaki itu menggeleng. “Istri saya hilang,” jawabnya ringan. Lalu meninggalkan wajah-wajah yang terbengong- bengong kebingungan.

Kalau mengingat lagi cerita lelaki itu, aku mengingat seorang perempuan bernama Win. Aku juga baru sadar, akhir-akhir ini ia tidak pernah terlihat lagi di gedung kesenian. Dari balik jeruji gerbang pendek, aku tidak melihatnya lagi berlari-lari memutari lapangan rumput hijau di sana bersama aktor-aktor yang berlatih olah tubuh. Di gazebo yang dinamakan “kuil rembulan” tempat anak-anak belajar mengarang cerita, Win juga tidak ada. Dulu aku sering melihatnya bergurau bersama anak-anak kelas sastra di sana. Aku cukup mengenalnya sekilas. Ia pernah beberapa kali memesan mi ayam kala jam latihan telah rampung. Aku pernah menyaksikan pertunjukannya, dua atau tiga kali barangkali. Ia aktris teater yang cukup bagus menurutku. Ia perempuan muda yang menarik.

Suatu hari aku memberanikan diri bertanya pada lelaki berkacamata itu siapakah nama istrinya. Ia terdiam menatapku seakan aku telah mengajukan pertanyaan yang terlarang.

“Win. Namanya Win,” katanya pelan.

Aku benar-benar terkejut. Jadi, perempuan muda yang kukagumi selama ini ternyata adalah istri dari lelaki berkacamata? Dan kini ia telah hilang?

“Win? Win aktris teater itu?” tanyaku gugup.

Lelaki itu memandangku bingung. Ia menaikkan sedikit alisnya. “Bukankah sudah pernah saya ceritakan pada Bung kalau istri saya menghilang sesudah ia menyanyi dan bermain musik bersama kawan-kawannya di gedung kesenian ini?”

“Saya ingat, Bung! Saya ingat betul. Tapi, nama Win itu, saya kenal juga seorang bernama Win. Tidak kenal dekat. Hanya tahu ia cukup menonjol di lingkaran seniman. Pernah juga saya menonton pertunjukan teaternya. Jadi, selama ini selain menjadi aktris teater, Win juga punya grup musik?”

Lelaki itu bertambah bingung. Ia terdiam lalu lagi-lagi melihatku dengan pandang tajam. “Win siapakah yang Bung maksud? Win istri saya adalah penyanyi grup musik. Grup musiknya sedang naik daun dan sering diundang mengisi acara di gedung kesenian ini.”

“Nah! Apakah memang ada dua perempuan bernama sama? Dua perempuan bernama Win yang juga sering berkegiatan di gedung kesenian ini? Karena itulah saya bertanya, Bung. Win aktris teater itu juga akhir-akhir ini tidak pernah terlihat lagi di gedung kesenian. Saya kira, istri Bung adalah Win aktris teater itu. Tapi, sejauh pengamatan saya, saya tidak pernah melihatnya menyanyi dan bermain musik.”

Lelaki itu terdiam lagi. Ia menundukkan wajahnya dan menatap hampa pada buku menu yang ada di meja. Cukup lama ia terdiam. Lipatan di keningnya semakin berkerut. Ujung jari-jarinya mengetuk meja. Lalu ia mengangkat wajahnya, masih dalam roman muka seorang yang tengah berpikir keras.

“Sejujurnya…” Ia berhenti sebentar seolah sedang mencari kata-kata yang tepat.

“Sejujurnya, Bung. Saya tidak tahu apa-apa tentang istri saya. Tidak tahu perihal dunianya. Apakah ia memang hanya bernyanyi bersama grup musiknya? Apakah ia bermain teater? Saya tidak tahu. Benar-benar tidak tahu.”

Bagaimana mungkin? pikirku. Kau suaminya. Mustahil kau tidak tahu kehidupan istrimu di luar rumah? Tapi, aku tidak berkata apa pun. Aku diam seturut dengan diamnya yang sedang bersiap mengeluarkan kata-kata.

“Bagaimana bisa aku suaminya tidak tahu apa-apa? Barangkali Bung berpikir begitu. Tidak. Tidak. Pastinya berpikir seperti itu. Aku beritahu, hidupku memang terpisah dengan dunianya. Ia berkembang di kota ini. Terus berkembang. Sementara aku bekerja di daerah terpencil, pantai teluk yang jauh perjalanannya lima jam dari kota. Sebut saja aku ilmuwan. Aku mengurus segala macam tentang kerang di balai kelautan milik pemerintah di sana. Aku bekerja setiap hari di laboratorium dan sangat jarang punya kesempatan untuk pulang ke rumah. Tidak juga punya kesempatan untuk berbicara tentang kesenian. Tentu saja kami tetap berkomunikasi. Tetapi, tahun-tahun yang panjang itu ternyata lebih banyak diisi oleh cangkang kosong.”

“Bung tahu mengapa saya sebut cangkang kosong? Di laboratorium balai juga ada bertoples-toples cangkang kosong. Cangkang dari kerang-kerang yang sudah pernah dipanen. Tiap kali melihat cangkang kosong itu, aku teringat hubunganku dengan Win. Aku tahu ia berkesenian. Tapi, bagaimana hasratnya terhadap seni yang digelutinya itu, kendala apa yang ia hadapi, apa yang tidak ia suka atau apa yang betul-betul ia sukai, pandangannya terhadap sesuatu yang disebut seni, sungguh semuanya hanya dapat diraba. Ibaratnya, aku ini hanya penonton yang mencoba mengamati dari seberang tembok. Apa yang ada di sebalik tembok itu hanya kudapatkan sedikit, sangat sedikit. Tak sampai seujung jari.”

Karena itulah, ketika aku berkesempatan menonton pertunjukan musiknya, aku benar-benar dibuat terkagum-kagum. Ia menyanyi dan bermain musik dengan amat memukau. Bagaimana bisa aku baru menyadarinya? Win benar-benar hebat. Dan aku baru bisa melihat kenyataan itu di malam pertama aku menyaksikan pertunjukan musiknya. Melihatnya di panggung sudah membuatku tergila-gila. Usai pertunjukan, aku menemuinya di belakang panggung. Aku berkata dengan sungguh-sungguh aku akan meninggalkan duniaku dan ikut terjun ke dunianya. Tentu maksudku adalah aku akan pindah kerja dari pantai teluk yang sunyi itu agar kami terus saling berdekatan. Mari anggap saja kita memulainya dari awal lagi. Win tampak bahagia dan tak percaya. Aku menunggunya di luar gedung. Tapi malam itu ia tidak juga keluar. Ia menghilang. Menghilang begitu saja. Aku tahu pada akhirnya ia memang memutuskan untuk pergi.”

Lelaki itu menghela napasnya seakan beban berat telah ditimpakan lagi padanya. Ia seperti menyesal telah menceritakannya padaku. Ia lalu menatap tajam padaku dan berkata, “Jadi, bila Bung berpikir suami istri pasti saling mengetahui satu sama lain, pasti saling mengenal, Bung keliru! Kalau Bung berpikir seperti itu, Bung betul-betul keliru!”

Hari-hari berikutnya aku masih sering melihat lelaki berkacamata itu menempuh jalan memutar seperti biasanya. Namun, ia tidak lagi singgah di kedaiku. Ia bahkan tidak memberi sapaan hangat seperti dulu ketika secara tak sengaja pandangan kami bertubrukan. Hari-hari berlalu, aku tidak lagi terlalu memedulikan perubahan sikapnya itu.

Suatu hari tibalah hari yang tidak biasa ketika secara mendadak seniman teater menggelar pertunjukan di depan gedung kesenian, di halaman bercoran semen dekat lapak para pedagang kaki lima. Laki-laki dan perempuannya mengenakan pakaian serba hitam. Mereka menghias wajah dengan celak yang amat tebal, menyisakan bentuk lingkaran di bawah mata yang tak sepenuhnya selesai. Mereka berjalan beriringan mengikuti seorang pemuda berambut gimbal yang memegang lonceng. Mereka menggumamkan sesuatu bersama-sama, terdengar seperti sebuah mantra dalam ritual pemanggil setan. Orang-orang yang kebetulan lewat, mendadak berhenti lalu menepikan kendaraan mereka. Orang-orang mengeluarkan tustel dari saku dan memotret para aktor itu.

Hening sesaat. Para aktor membentuk lingkaran. Si pemegang lonceng menghampiri satu-satu aktor yang berdiri. Ia mengelilingi sambil membunyikan lonceng di dekat telinga mereka. Lalu tiba-tiba dari arah yang berlawanan, seorang perempuan muda mengenakan pakaian serba hitam dan penutup mata berlari ke arah lingkaran, memasukinya dengan paksa. Gerakannya melompat indah. Ia melakukan gerakan meroda dan mendaratkan tubuhnya yang ramping. Orang-orang memotret, bertepuk tangan. Mereka bertepuk tangan meski tak tahu maksud dari pertunjukan itu. Barangkali itulah yang disebut teater kontemporer. Serba baru, serba mengundang banyak tafsir.

Pertunjukan selesai. Orang-orang bertepuk tangan lagi. Perempuan yang masih mengenakan penutup mata itu menghadap ke penonton. Aku terkejut. Itu Win! Tidak salah lagi, itu Win! Aku bisa menandai bentuk wajahnya meski ia mengenakan penutup mata. Aku segera ingin menghampirinya. Tiba-tiba aku teringat dengan lelaki berkacamata. Langkahku terhenti. Aku berdiri di tempatku. Siapa yang peduli apakah ia memang Win? Apakah ia adalah Win yang kukenal atau Win, istri lelaki berkacamata itu? Ataukah Win kedua-duanya?       Aku mengedarkan pandang. Barangkali di antara penonton ada lelaki berkacamata itu. Tapi, tidak. Trotoar dipenuhi orang-orang yang masih mengira pertunjukan akan berlanjut. Aku tidak dapat meneliti dengan cermat. Barangkali di hari berikutnya aku akan tahu istrinya itu telah kembali atau tidak dengan melihat sendiri, apakah di hari esok lelaki itu masih tetap memilih jalan memutar?

Pejarakan, Juli 2020


Iin Farliani, lahir di Mataram, Lombok. Alumnus Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mataram. Menulis cerpen, puisi, dan esai. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Lombok. Kumpulan cerita pendeknya yang telah terbit berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (2019).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *