Cerpen

Lubang Besar di Kepala Poni

September 20, 2022

Cerpen Dia Gaara Andromeda

Sudah lama Lendra tak melihat istrinya—Lian—berjalan-jalan keluar rumah. Yang dikerjakan sehari-hari hanya merenung, makan biskuit, kemudian membaca buku di sudut ruangan. Lama juga Lendra tak melihat Lian sibuk mengurusi Poni, kucing persia kesayangan mereka. Lian seperti kehilangan sesuatu yang amat berharga, namun tidak punya gairah untuk mencarinya.

“Menurutmu … hari apa Tuhan pasti tertidur lelap?” Lian bertanya pada Lendra, wajahnya serius. Dahi Lendra berkerut untuk kesekian kali, gamang. Lendra melirik wajah Lian beberapa detik, mencoba menebak apa yang dipikirkan Lian. Pertanyaan yang sama, sejak seminggu lalu, yang saban malam selalu terulang dari bibir Lian membuatnya semakin was-was. Satu alis lelaki itu bertaut, ia pijit-pijit kemudian. Tak tahu harus menjawab apa.

“Mungkin senin,” jawab Lendra asal. Ia kembali pada aktivitasnya, membaca komik, sementara istrinya menganguk-anguk, mengangkat buku, membaca. Sesekali wajah Lendra mencuri pandang wajah istrinya yang seperti tegang.

“Bukankah,” istrinya menyela ucapan Lendra, “Senin itu hari sibuk. Mana mungkin Tuhan tidur di hari sibuk,” Lian nampak merenung, ia berdiri, mondar-mandir, mendekati meja makan, tempat suaminya menyeruput kopi.

“Kau sepertinya terlalu lelah, kau perlu tidur, Sayang. Tidak usah baca buku lagi,” Lendra merangkul istrinya, mencium lehernya dengan lembut.

“Tapi,”

***

Lian memerhatikan bagian belakang kepala suaminya ketika tidur. Bayinya—Audrey—sudah ia susui, dan ikut tertidur pulas. Pandangannya semakin khidmat, ia usap rambut Lendra beberapa kali, mencari-cari sesuatu yang seperti kasat, sesaat ia melenguh, karena tidak menemukan apa-apa. Seharusnya Lian percaya, tidak akan ada apa-apa—selain dirinya—yang bersarang di otak suaminya. Ia tahu cinta Lendra hanya untuk Lian. Tidak ada yang lain.

***

Esoknya, Lian bangun pagi sekali. Sengaja memasak nasi goreng untuk sarapan suaminya yang akan berangkat kerja. Bayi Audrey masih terlelap. Perasaan Lian begitu gempita, si bayi yang saban malam tidak rewel, membuatnya bisa bangun lebih pagi. Ketika Lendra selesai mandi, Lian menengok ke arah suaminya sejenak, memerhatikannya dengan saksama, Lendra hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawah, otot-otot tangan Lendra mencuat di sana-sini, tampak kekar dan gagah, pun bagian perutnya yang berlekuk-lekuk serupa binaragawan membuat Lian sejenak teringat perkataan sahabat-sahabatnya dulu.

“Suamimu itu putih, ganteng, badannya berotot, siapa cewek yang tidak suka melihat cowok kayak gitu, Li!” Sandra, kawan SMA-nya nyeletuk. Sandra berbicara sambil mengeryit genit, mungkin membayangkan badan Lendra yang seksi.

“Iya Lian, rawan punya suami kayak suamimu tahu, bikin jantung perempuan kreces-kreces gimana gitu. Kamu harus benar-benar jaga deh pokoknya, jangankan cewek, cowok aja kalau lihat suamimu jantungnya bisa kebat-kebit, huuu!” Alona–sahabat Lian yang lain, yang kini menyahut, diiringi tawa tipis di ujung pipi kirinya yang lesung.

Lian hanya meringis, tidak menjawab apapun perkataan kedua sahabatnya, ia hanya memainkan makanan di depannya tanpa punya keinginan untuk menghabiskan, pertemuan dengan sahabat-sahabatnya hari itu, membuat selera makan Lian rontok. Pun hatinya dikecam perasaan gelisah, takut apa yang dikhawatirkan kedua sahabatnya menjadi kenyataan. Seharusnya Lian tidak memikirkan hal ini sampai berlarut-larut, tapi nyatanya omongan teman-temannya itu sudah merasuki pikirannya sedemikian pelik. Lian cemburu pada sesuatu yang belum tahu apa. Itu sungguh di luar nalar.

“Kok malah bengong?” Lendra kini sudah ada di belakang punggung Lian, memberikan kecup kecil di bibirnya yang ranum,  pipi Lian merona. Lendra memang suami yang romantis. Senyum tipisnya terpeta. “Nah gitu dong, kan cantik kalau senyum gitu!”.

“Kamu,” Lian tersipu. Lantas tangannya dengan sigap menyendokkan nasi goreng ke atas piring Lendra, menaruh mentimun, bawang goreng, serta kerupuk di atasnya. Lian kemudian memberikan piring itu ke Lendra.

Setelah Lendra berangkat kerja. Lian kembali memikirkan hari itu: hari di mana Tuhan pasti tertidur lelap. Tidak tahu mengapa, otaknya bisa mengelana sejauh itu. Namun ia penasaran tentang lubang bersuara itu. Pun setelah seruan-seruan ejek tentang “Bunuh aku kalau kau bisa!” yang menghantui kehidupannya setiap kali ia melihat lubang besar di kepala Poni, mendulang beragam stigma-stigma negatif dalam kesehariannya. Lontaran-lontaran Lendra yang tak acuh jika Lian menanyakan hal yang sama. Hatinya benar-benar dilanda gemuruh. Masygul, karena Lendra kerap tak sependapat. Jam delapan pagi, Lian melirik jendela. Ia menatap Poni yang sedang membersihkan diri dengan menjilati seluruh tubuh. Poni yang dulu berbulu lebat dan cantik, teman segala duka dan suka sejak ia menikah dengan suaminya beberapa bulan lalu, namun kini fisik Poni telah berubah. Penyakit scabies menyerang beberapa bagian tubuh kucing itu dengan ganas sejak satu minggu yang lalu. Melihat Lian tengah memerhatikannya, kucing itu balas melirik ke jendela, lekas Poni segera berhenti menjilati seluruh tubuhnya dan mendekat ke arah pintu. Mengeong keras–sembari menatap mata Lian penuh manja. Lian salah tingkah, melengos, menutup gorden cepat-cepat, berbalik arah, kemudian duduk di kursi tamu. Ingatan akan ucapan suaminya kembali mengudara.

“Kenapa sekarang kau membenci Poni, padahal dulu kau sangat menyayanginya. Apa kau jijik dengan scabies yang dideritanya, kau sudah putus asa lantas kau ingin membunuhnya!” Lendra bertutur dengan rentetan kalimat menyudutkan. Lian melotot ke arah Lendra, tatapannya sinis, bibirnya belum bersua apa pun, bergetar. Seperti ada taring yang mencabik-cabik tubuhnya, posisi Poni di matanya sama seperti Lendra, tapi kejadian beberapa hari silam membuat hati Lian begitu patah, ada sebak yang meluber seperti api menyembur-nyembur.

“Aku jijik sama Poni bukan karena scabiesnya, tapi karena hal lain!” Lian berteriak lantang, membela diri.

“Lalu apa? Apa yang membuatmu membenci Poni?” Lendra bertanya, menyudutkan. Lian masih terpaku di kasur, tidak menyahut, tak lama Lian masuk ke dalam kamar, mengambil guling dan memelintir-melintir ujung sarungnya. Sesekali Lian menahan nafas, mendengus-dengus, kemudian melepaskan, emosi telah merajam kepalanya bak air panas yang meletup-letup. Aku benci Poni, aku tidak suka dibohongi, gusarnya, sambil terisak.

***

Beberapa menit Lian berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Lubang yang menganga di kepala Poni membuatnya teringat tentang kejadian menjijikkan itu. Poni seperti halnya Lendra adalah miliknya–utuh, namun ketika Poni tidak lagi setia kepada Lian, dan memilih wanita lain sebagai mahkota hati. Itu membuat Lian jijik. Satu minggu yang lalu, Poni seringkali kelayapan, pergi dari rumah diam-diam,  dan pulang ke rumah saat mau makan atau mandi saja, esoknya Lian mengikuti Poni ke mana kucing itu berkeliaran. Poni menyambangi sebuah rumah tak jauh dari tempatnya tinggal. Seorang wanita muda mengenakan scarf hijau dan blus dengan warna senada keluar dari rumah bergaya klasik eropa itu dan memberikan Poni makanan kaleng, jari-jari lentiknya mengelus-elus bulu-bulu Poni dengan penuh kasih sayang. Sore hari, Lian melihat kepala Poni memiliki lubang sebesar lingkaran bola tenis, sosok wanita muda itu tergambar di kepala kucing itu. Hal inilah yang membuat Lian merasa tersisih dan jijik kepada Poni. Lian tidak suka diduakan.

“Hari ini hari senin, aku akan melakukannya!” Lian menyambar kunci sepeda motor, menggendong Audrey, dan memasukkan Poni ke dalam kandang. Lian menstarer motornya– terburu-buru.

***

Setengah jam kemudian. Lian sudah sampai ke gym DeQuote, tempat Lendra bekerja. Dari kejauhan Lian melihat sosok yang tak asing. Suaminya tengah berbincang akrab dengan seorang wanita muda berpakaian ketat dekat peralatan kettlebells. Wanita muda yang sangat ia kenal. Sambil menenteng Poni di tangan kiri dan menggendong bayi Audrey, mata Lian melotot, murka, angkaranya ruah, otaknya memutar memori tentang ucapan Lendra beberapa waktu silam, mata Lian mengerucut, kian liar menelusur gerak-gerik keduanya dari kejauhan, Lian berjalan pelan-pelan, berusaha tidak menimbulkan suara. Lendra masih membelakanginya.

Lian semakin maju, dan maju, matanya terus menerus memerhatikan kepala Lendra yang kini tampak berlubang besar, ada sosok wanita lain tergambar di sana. Lian jijik. Lubang itu sama seperti yang dipunyai Poni. Kecamuk prasangka mengaliri darah di kepalanya, perasaan marah mendentum-dentum tanpa henti.

Barrbell yang ada di sebelahnya ia angkat. Keduanya menoleh bersamaan, dalam hitungan detik Lian mengayunkan barrbell itu ke kepala Lendra disusul si wanita.

“Aku sudah mengakhirinya, aku sudah mengakhirnya. Aku yakin Tuhan tidak akan melihat perbuatanku!” oceh Lian berulang-ulang.

Lendra dan wanita itu terkapar. Tawa Lian pecah berderai-derai. Darah tumpah bak air bah, hal itu membuat Lian bertambah jijik.***


Dia Gaara Andromeda. Pencinta kuliner dan penyuka warna hijau. Hobinya membaca buku, menulis, dan memasak. Ibu dua anak. Kumcernya Percakapan Sepasang Takdir (Penerbit Mediakita, 2014). Bisa dihubungi di IG: @diagaara atau FB: Dia Gaara Andromeda atau email: diepotter85@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *