Cerpen

Lucy di Bulan

November 22, 2022

Cerpen Febriana Widyat Sari

Lucy, seorang anak gadis berusia belasan yang terhitung pendiam. Ia lebih sering terlihat duduk sendiri. Membayangkan dirinya menjadi seorang astronot dan pergi ke luar angkasa. Sejak kecil ia selalu takjub keindahan langit. Ia sering membayangkan dirinya terbang ke luar angkasa, menjadi astronot. Melihat bulan dari dekat, bermain bersama bintang seperti dalam video musik Twinkle Twinkle Little Star yang sering ia lihat. Lucy mulai menyadari betapa besar tak terukur luasnya angkasa raya. Ketika ia melihat bumi, tempatnya tinggal bersama bapak ibunya, ia merasa kecil. Bumi nampak cukup besar dan ia selalu merasa bagaikan sebuah butiran pasir kecil di luasnya padang gurun Sahara. Kemudian, ia teringat sebuah teori yang dikemukakan oleh John Dalton yang pernah ia baca di buku mengenai atom. Ya, ia merasa ia adalah atom, begitu juga manusia lainnya. Partikel paling kecil di dalam suatu ruang, begitu kecilnya ia sehingga tak dapat lagi dibagi.

Lucy terpana melihat luasnya angkasa raya. Melihat dan merasakan di kedalaman ruang hitam yang sebelumnya selalu ia perhatikan ketika ia di bumi, jauh di bawah sana. Ruang hitam diantara kedipan bintang satu dan lainnya, dan yang mengelilingi bulan.  Kini Lucy memahami apakah bumi itu bulat. Apakah ia berputar. Apakah ia justru dikelilingi dengan gerakan memutar dari objek lain. Apakah bintang dan bulan dapat berpijar terang dengan kekuatannya sendiri, dan ataukah ada kekuatan lain di balik kedipan kilauan mereka.

Lucy melihat Jupiter, planet terbesar di alam semesta, dan planet terjauh dari bumi. Ia pernah membaca dari bukunya tentang tata surya. Lalu ia ingat ketika di bumi, ia sering tidak sepaham dengan pendapat kebanyakan orang. Saat itulah ia selalu berpikir ingin tinggal di Jupiter saja dan menjauh dari kebanyakan orang.

Akan tetapi, Lucy lalu merindukan senyuman manis ibunya. Ia juga merindukan pelukan sayang bapaknya. Baginya, bapak ibunya adalah dua manusia berjiwa lembut yang paling memahaminya. Tempat bertukar gagasan tentang memahami bagaimana dunia dan manusia di dalamnya berpikir. Berdiskusi tentang diri Lucy sendiri dalam menghadapi dunia dan semesta, kelak bila ia hidup sendiri tanpa ibu bapaknya. Membantu Lucy memahami bagaimana bertahan hidup, salah satunya dengan menjadi orang baik. Lucy ingat kata ibunya, ia boleh terbang setinggi apapun ia bisa, tapi ia tidak boleh lupa untuk kembali memijakkan kakinya ke tanah. Kata bapak, karena tanah adalah sepenuhnya kesadaran manusia.

“Lucy, makan dulu, Sayang”, panggil Ibu.

“Iya, Bu”, jawab Lucy.

Lucy turun dari rumah pohonnya kemudian, dan berlari menemui ibunya, menceritakan pengalamannya kepada ibu dan bapaknya yang sedang menunggu Lucy di ruang makan. Lucy mencuci tangannya lalu bergabung dengan ibu bapaknya di ruang makan.

“Jadi hari ini Lucy ke mana?”, tanya Bapak.

Bapak selalu tahu, Lucy selalu menghabiskan harinya sepulang sekolah di rumah pohon, di kebun belakang rumah mereka. Kebun itu langsung dapat terlihat dari dapur dan ruang makan, karena pintu keluar dan masuk dari ruang dapur dan ruang makan ke arah kebun terbuat dari kaca. Pertanyaan bapaknya mengacu kepada imajinasi Lucy hari ini di rumah pohon. Setiap kali ke rumah pohon, Lucy selalu berimajinasi bahwa dirinya berada di ruang dan waktu yang berbeda. Buku-buku kesayangannyalah yang selalu membawanya ke dalam imajinasi. Tempo hari, imajinasinya membawanya ke Inggris abad 19. Ia mengikuti detektif kesukaannya; Sherlock Holmes dan sahabatnya Dokter Watson menyelesaikan kasus petualangan Silver Blaze.

“Ke bulan, Pak”, jawab Lucy. Lalu Lucy menceritakan semua, sampai pada panggilan ibu untuk makan. Ibu dan bapaknya menyimak ceritanya dengan antusias.***


Febriana Widyat Sari, lahir dan menetap di Surakarta, Jawa Tengah. Seorang ibu, guru sekaligus murid. Pecinta kata-kata, penghayat realita. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *