Cerpen

Manna dan Buah Merah

July 23, 2019

Cerpen Karisma Fahmi Y

Manna, lelaki kurus dan pendiam yang selalu memiliki hasil panen terbaik di kampung kami. Dulunya ia bocah yang sangat menyenangkan dan ceria. Kini,  ia nyaris seperti patung. Hanya sesekali ia terlihat berbicara pada tanaman-tanamannya.

Langit ungu tua membuat sore itu tampak murung. Udara kering. Angin berhembus tak tentu, meniupkan debu-debu. Matahari masih enggan pulang meski langit hitam mulai bergulung datang. Musim kemarau belum undur. Manna menatap halaman depan rumahnya yang dipenuhi kuncup-kuncup bulat kemerahan, kuncup-kuncup ranum buah naga. Beberapa masih merupa kembang dengan kelopak yang gugur di pangkal-pangkal dahan. Mungkin bulan depan buah-buah naga merah yang tumbuh lebat itu bisa dipanen. Ia akan memetik satu per satu buah yang ranum itu dengan gunting besar yang telah ia siapkan.

Manna suka membaca buku dan bertanam. Kepada dua benda itulah seolah ia bisa tenggelam kapan saja. Aku masih ingat suatu ketika di masa kanak-kanak, ia membaca buku di pasar loak, pasar di perbatasan desa. Bapak kadang menyuruhku membeli tembakau ke pasar. Aku mengajak Manna, Didu, dan Baji. Keramaian pasar membuat kami selalu merasa harus mengunjunginya, setidaknya dua minggu sekali. Meski Bapak tidak menyuruh membeli tembakau pun, akhirnya kami akan tetap pergi ke sana. Sesekali kami menonton sirkus monyet dengan ular yang melingkar-lingkar di kepala pawangnya. Melihat penjual obat yang menyembuhkan berbagai penyakit hanya dengan mengoleskan salep atau meminum ramuan yang dijualnya dalam botol-botol kecil dengan akar-akar di dalamnya. Keramaian itulah yang kami cari.

Di pasar kami berpisah, dan berkumpul di tempat pertama, yaitu di mulut pasar, di dekat kusir-kusir bendi. Manna selalu mendatangi pedagang buku. Ia betah berjam-jam di lapak buku loak yang sebagian bukunya telah menguning dan apak. Suatu saat ia membaca buku cerita tentang arwah putri raja yang menjelma ikan setelah memakan buah merah. Arwah putri raja itu menjelma seekor ikan besar yang tinggal di dasar laut. Manna tergila-gila pada buku itu hingga sepanjang jalan pulang ia mengulang-ulang ceritanya. Kami bosan mendengarnya sementara ia terus nyerocos menceritakan kisah itu. Satu-satunya orang yang sabar mendengar ceritanya adalah Bu Guru, seorang pendatang yang juga suka bercerita di depan kelas. Kami selalu menyimak cerita Bu Guru tentang tempat tinggalnya, atau tentang negeri-negeri lain di luar sana.

Siang itu seperti biasa, kami bertemu kembali di mulut pasar. Semua sudah berkumpul, kecuali Manna. Hari semakin siang, dan kami harus tiba di rumah sebelum Asar. Tapi aku merasa Manna di lapak buku. Aku putuskan untuk ke sana. Benar  saja, aku melihatnya. Ia gelisah. Matanya menatap ke arah penjual buku. Dengan cepat ia memasukkan buku ke dalam kausnya yang lusuh dan kebesaran. Pedagang buku tak mengetahuinya. Ia sedang berbincang dengan pemilik warung di sebelah lapaknya. Aku nyaris tak percaya Manna mencuri buku.

Aku menghampirinya. Ia pucat, dan tanganku ikut  gemetaran. Kami berjalan lurus, tak berani menoleh ke belakang. Sepanjang perjalanan, aku dan Manna sama-sama bungkam. Hanya Baji dan Didu yang bercerita tentang peramal yang datang hari itu.

Keesokan harinya, Manna membawa buku berjudul “Menanam Jagung” ke sekolah. Dari mana kau memperoleh buku itu, Manna? tanya Bu Guru. Manna diam menunduk. Di kampung kami yang sangat miskin, membeli buku, sekalipun buku loak adalah hal yang tidak wajar. Kepemilikan buku sangat mencurigakan. Seolah tahu dari mana buku itu diperoleh, Bu Guru tidak memarahinya. Baiklah, hari ini kita menanam jagung bersama-sama.

Bu Guru  menugaskan setiap anak menggali tanah dan menanam biji-biji jagung yang telah disiapkan. Setiap anak mendapat sepuluh bibit jagung. Bergantian kami memupuk dan menyiramnya sebelum dan setelah pelajaran usai secara bergantian, namun hanya pohon jagung milik Manna yang tumbuh sempurna. Jagung-jagungnya tumbuh lebat, nyaris tiga hingga empat pokok jagung di tiap pohonnya. Bu Guru  memuji hasil panennya. Ia ditugasi menanam jagung di kebun sekolah, sebidang tanah yang masih kosong di belakang sekolah. Tak hanya jagung, ia juga menanam cabai, jahe, dan beberapa tanaman lain. Bu Guru  lagi-lagi memujinya. Ia bangga. Sejak saat itu ia tahu, baginya bertanam adalah sebuah suratan.

Sore itu langit semakin gelap sempurna. Manna, lelaki pendiam itu masih menatap halaman depan rumahnya, pada batang-batang buah naga yang kasar dan kersik berduri itu. Ia takjub, tak menyangka tanaman itu tumbuh dengan cepat. Halaman yang dulunya lengang menjadi penuh dan gelap. Tanaman itu memenuhi halamannya dengan kuncup-kuncup merah yang semakin lama semakin membesar. Sebagian dahannya menjalari pagar dan bahkan beberapa tampak mengoler melintas keluar pagar. Ia tak henti-hentinya membelalakkan mata setiap kali menatap duri-duri yang tumbuh di sepanjang dahannya. Tanaman itu tumbuh mendesak ke arah mana saja. Halaman rumahnya seolah menjadi hutan kecil yang tak terawat. Batang-batang bersilangan mengabaikan perasaan ngeri yang melapisi dirinya setiap kali menatap hutan kecil liar di hadapannya.

Ia ingat kisah yang dibaca dari buku yang dicurinya, putri raja berubah menjadi ikan setelah memakan buah merah. Ia hidup abadi dalam lautan sebagai ratu para ikan. Ia ingat hari ketika Bu Guru pergi. Bersama pendatang yang lain Bu Guru pergi ke arah sungai. Dengan terburu Bu Guru memberikan pesan padanya agar ia menanam bibit buah merah di halaman sekolah. Tanamlah tanaman berduri di halaman, agar tak lagi mudah orang-orang merusak tanamanmu. Tanaman berduri itu akan menjagamu. Bu Guru  berlari ke arah sungai dan menceburkan diri ke sungai karena kejaran orang-orang. Arus sungai sangat deras. Beberapa kali penduduk di kampung nyaris mati di batang sungai itu.

Sore semakin gelap. Manna menutup pintu rapat-rapat. Langit hitam sempurna jatuh di halaman. Ia tak pernah melupakan hari itu, hari ketika Bu Guru memintanya mengantarkan jagung pada pedagang buku loak. Bu Guru memintanya memberikan jagung pada pedagang buku sebagai ganti dari buku yang dicurinya. Guru itu mengajarimu mencuri? tanya seseorang yang duduk tak jauh dari lapak buku. Mereka memang benar-benar pencuri ulung! Tak hanya tanah dan kebun yang mereka ambil! Anak-anak kita pun mereka ajari menjadi maling!

Lelaki itulah yang mengejar Bu Guru hingga ke tubir sungai. Lelaki dengan parang terhunus yang menghabisi semua tanaman di halaman sekolah. Beberapa hari setelah hari itu, orang-orang mengejar dan menyerang para pendatang. Lelaki itu pulalah yang merusak seluruh tanaman Manna. Sejak saat itu Manna menjadi pendiam. Ia hanya bicara seperlunya saja, dan terkadang kulihat ia berbicara pada tanaman-tanamannya.

Suatu ketika ia melihat lelaki itu duduk di pinggir sungai, lelaki yang menghunus parang dan merusak tanamannya. Lelaki itu sedang menunggui baju-bajunya yang dijemur di atas semak-semak daun peniti. Manna menghampiri lelaki yang matanya setengah memejam tertidur itu dan mendorongnya ke arah mata air. Lelaki setengah tertidur itu jatuh ke arah sungai. Ia yakin arusnya yang deras membuat lelaki itu tenggelam dalam waktu sekejap. Tak pernah ada orang yang selamat di arus sederas itu. Di hilir, orang-orang menemukan jenazahnya tiga hari kemudian. Orang-orang mengatakan ia jatuh ke mata air saat ia mengejar salah satu pakaian yang tertiup angin.

Angin sore berdesir kering, menjatuhkan kelopak bunga-bunga. Sesekali buah-buah mungil yang masih rawan itu bergerak dimainkan angin. Manna menutup pintu, merebahkan diri di kasur. Ia mengambil buku cerita tentang putri raja yang berubah menjadi ikan di bawah bantal. Aku tahu, Manna mengambil buku itu saat mencurinya, dan menyimpannya di punggung, di balik kausnya yang kebesaran. Ia tidak mengakuinya di depan Bu Guru sebagaimana ia tidak pernah mengakui yang ia lakukan kepada lelaki itu. Sering ia menghibur diri, bahwa Bu Guru telah menjelma seekor ikan dan menjadi guru bagi ikan-ikan di sungai, dan lelaki itu menjadi salah satu muridnya.

Rumah Ladam, Desember 2017


Karisma Fahmi Y, lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di majalah Kalpadruma, harian Solopos, harian Joglosemar, majalah Papirus, tabloid Cempaka, Nova, majalah Pesona, harian Suara Merdeka, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Majalah Budaya Sagang, Buletin Sastra Pawon, Joglo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi. Tinggal di Solo. Buku terbarunya Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian (Basabasi, 2017), dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *