Cerpen

Mantra Gaib Sanjiwini

March 30, 2021

Cerpen Nur Khafidhin

/1/ Kematian Sentanu.

Dewa Trimurti yang terdiri dari Siwa, Wisnu, dan Brahma menciptakan dunia menjadi tiga dunia. Mayapada[1], madyapada[2], dan marcapada[3]. Hal itu dilakukan untuk menyeimbangkan alam semesta. Namun, keseimbangan semesta itu hancur tatkala terjadi peperangan antara pihak dewata yang dipimpin oleh Resi Brihaspati dan pihak raksasa yang dipimpin oleh Sukrasarya. Pintu madyapada dan marcapada terbuka. Awalnya pintu itu hanya dapat dilalui seratus makhluk setiap hari, baik dari madyapada atau dari marcapada. Namun, sekarang pintu keduanya terbuka sangat lebar, ribuan makhluk dapat keluar masuk dengan bebas.

Peristiwa itu pun tak menghentikan peperangan. Pihak dewata tak pernah mau menyerah walau selalu kalah melawan para raksasa dalam peperangan yang berkepanjangan sampai berabad-abad. Mereka akan terus bertempur untuk membawa kembali Kacha—putra dari Resi Brihaspati yang disembunyikan pihak raksasa. Namun, tak ada satu pun kemenangan yang dimenangkan oleh pihak dewata karena Sukrasarya memiliki mantra gaib sanjiwini. Mantra tersebut dapat menghidupkan siapa saja yang mati. Alhasil, para raksasa yang mati dihidupkan kembali dengan mudah.

Resi Brihaspati dengan tipu muslihatnya lantas menyuruh Sentanu untuk berguru kepada Sukrasarya. Diam-diam Resi Brihaspati telah menuliskan kutukan di punggung Sentanu. Hal itu dipergunakan untuk berjaga-jaga jika Sentanu berkhianat. Kutukan itu tak hanya berlaku ketika ia hidup, tetapi juga semua keturunannya. Sentanu disuruh tapa brata sampai tujuh tahun. Bertapa yang tak hanya untuk menyucikan jiwanya. Namun, juga untuk memperkuat kutukan tersebut. Tujuh tahun pun berlalu, ia pergi ke istana Wrishaparwa untuk mengutarakan niat berguru kepada Sukrasarya.

“Hamba Sentanu, hamba ke sini atas utusan Resi Brihaspati. Hamba diutus untuk berguru kepada Sukrasarya.” Sentanu bersujud di hadapan Sukrasarya.

Sesuai tradisi yang luhur, seorang guru tak boleh menolak permintaan dari seorang murid yang hendak berguru. Sukrasarya yang seorang arif bijaksana tak bisa menolak siapa pun yang ingin berguru kepadanya walau seorang utusan dari musuh perangnya. Ia berkata, “Aku menghormati Resi Brihaspati. Aku akan menerimamu sebagai muridku.”

Sentanu seorang murid yang patuh dan mempunyai niat yang murni untuk berguru. Ia selalu melakukan perintah dari Sukrasarya. Alhasil, putri Sukrasarya—Dewi Gangga suka kepadanya. Mereka akhirnya menikah. Namun, kabar itu pun tersebar di kalangan raksasa. Mereka takut Sentanu dapat menguasai mantra gaib sanjiwini. Ilmu tersebut menjadi senjata pamungkas dalam setiap peperangan yang dimenangkan pihak raksasa.

Sukrasarya meminta Sentanu mencari rumput guna makanan sapinya. Kesempatan itu dipergunakan Rukmakala yang sebagai pemimpin raksasa untuk membunuh Sentanu. Rukmakala yang ahli membuat strategi pun dengan mudah dapat menjebak Sentanu. Beberapa raksasa mengikutinya secara hati-hati, menyekapnya, dan lantas memutilasi tubuhnya. Sore harinya, Sentanu tak pulang ke rumah Sukrasarya. Ia merasa khawatir karena biasanya ketika sore hari Sentanu akan pulang. Lantas Sukrasarya mengucapkan mantra gaib sanjiwini. Tubuh Sentanu yang telah terpotong-potong mulai bersatu di hadapannya.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi?”

“Rukmakala memimpin raksasa untuk membunuhku dan tubuhku dimutilasi.”

Keesokan harinya, Sukrasarya sedang sibuk dan tak bisa melatih Sentanu. Alhasil, memintanya untuk melakukan bertapa brata seorang diri di mebaong[4]. Namun, Rukmakala dan prajuritnya diam-diam mengikutinya. Mereka melakukan hal yang sama, menyekap tubuh Sentanu lantas memotongnya menjadi dua bagian tepat di tengah-tengah pusarnya. Tubuh bagian atas yang terdiri dari kepala, dua tangan, dan setengah perut di kubur ke gunung. Bagian tubuh bawahnya yang terdiri dari perut, dan kedua kakinya di larung ke laut.

Berhari-hari, Sentanu tak pulang dan Sukrasarya mencarinya ke mebaong. Namun, tak bertemu dengan Sentanu. Sukrasarya mengucapkan mantra gaib sanjiwini. Bola mata Sentanu datang di hadapannya. Ia tak bertanya seperti biasanya, memilih untuk mengambilnya, dan melihat semua kejadian yang ada melalui bola mata Sentanu. Sukrasarya melihat kejadian beringas yang dilakukan para raksasa. Sentanu dipukul oleh ratusan raksasa, tubuhnya tak lagi utuh, bola matanya keluar, dan setelah tak bernyawa tubuhnya dipotong Rukmakala menjadi dua bagian. Namun, Sentanu tak mau melawan karena menghormati Sukrasarya. Ia tak mau menyakiti hati gurunya walau risikonya adalah kematian.

/2/ Impian Dewi Gangga.

Dewabrata terlahir menjadi sosok raksasa dalam wujud yang sempurna, sesuai dengan mantra sanghyang sarasija maya hireng[5]. Raksasayang memiliki wajah galak, mata yang melotot, mempunyai taring, serta mempunyai rambut api. Ia langsung dapat berjalan, berlari mengelilingi ibunya, tetapi matanya melihat percikan darah di baju ibunya—Dewi Gangga. Darah itu memicu naluri raksasadalam tubuhnya untuk menggigit ibunya. Namun, Drupada berusaha menghalaunya, tetapi nasib sial menimpanya. Dewabrata menggigit lehernya sampai putus. Hal itu membuat semua orang yang menunggu Dewi Gangga melahirkan menjadi murka.

Dewi Gangga dengan sisa tenaganya menghunjamkan ngad[6] tepat di leher anaknya. Seketika kekuatan raksasadalam tubuh Dewabrata melemah. Ia memeluk anaknya penuh kasih sayang, berusaha melindungi dari amukan warga, dan berusaha menjelaskan semuanya. Namun, semua sia-sia, tak ada yang mau mendengarnya.

“Bunuh bayi sialan itu!” Durna berusaha mengambil Dewabrata dari pelukan Dewi Gangga.

“Dia telah membunuh pamannya!” kata Kresna dengan penuh luapan emosi.

“Dasar anak sialan! Bunuh dia sekarang!” Kripa marah melihat Drupada tergeletak tak bernyawa.

“Aku akan membunuhnya!” kata Rukmakala yang sejak dulu mempunyai rasa iri terhadap Sentanu.

“Kita bunuh dia sekarang!” ujar semua warga.

Dewi Gangga merasa sedih melihat semua orang ingin membunuh anaknya. Ia pun berkata, “Aku tak akan membunuhnya! Aku akan merawatnya.”

“Kalau kau berniat merawatnya, pergi dari desa ini!” kata Durna penuh emosi. Beberapa warga berusaha untuk mengejar Dewi Gangga. Namun, Durna menghentikannya karena Dewi Gangga telah memenuhi janjinya untuk meninggalkan desa.

Dewi Gangga membawa anaknya ke mebaong. Ia bertapa brata untuk meminta pertolongan kepada Sukrakarya. Dewi Gangga memanggil Sukrakarya sampai beberapa kali. Namun, tak ada jawaban. Alhasil, Dewi Gangga menggigit jari telujuk kanannya, menuliskan mantra di tanah dengan darah yang keluar dari jari telunjuknya, dan melafalkan mantra: Segara minaka dasarku, danu minaka rangi ulunku, ih teka engko buta dengen, tluh tranjana, wani engko lumabu ring sagara danu, wani engko lamubu ring sagara danau, wani engko lumabu ring sagara danu, wani engko ring awak sariranku, tan wani engko lumabu ring sagara danau, tan wani engko ring awak sariranku, teka ngeb, teka ngeb, teka ngeb[7].

Seketika di depannya ada Sukrakarya. Ia bersemadi di ranting pohon dengan kondisi kepala di bawah. Dewi Gangga menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sukrakarya perlahan turun dengan santai, berjalan di atas udara, dan mengucapkan mantra pamugpug desti[8]: Ono sang bua raja pati, ring kenetasira alungguh, yan ana leyak bebai ring rajianku, poma sira ngapusana ong sing akarya ala ring aku, poma alihakena saguna penaruhe ono sidi rastu tastastu astu, ono lang bang bang nama suaha. Sukrakarya memetik satu daun dan mengikatnya dengan sehelai rambut untuk dijadikan kalung. Hal itu dipergunakan untuk melemahkan kutukan Resi Brihaspati dalam tubuh Dewabrata.

“Anakku jangan bersedih, tak ada ujian yang melebihi ketabahan hati manusia. Kau pasti dapat mengatasi ujian ini!”

“Kutukan dari Resi Brihaspati telah tertanam dalam anakku.”

“Jika kau dapat menghadapi ujian ini. Kau akan berada di alam yang lebih tinggi dari mayapada, anakku!”

“Selama ini tak ada impian yang aku inginkan. Namun, sebelum mati aku hanya ingin anakku terbebas dari kutukan ini. Tolonglah cucumu!”

Sukrakarya mendekat pada Dewi Gangga dan mencium keningnya. “Setiap orang akan menanggung takdirnya masing-masing.” katanya. “Aku merasa orang yang paling bersalah dalam perang yang berkepanjangan ini.” Tubuh Sukrakarya perlahan mulai menghilang untuk menyucikan diri.

***

Lima belas tahun kemudian, Sentanu datang ke tempat Sukrakarya bertapa dengan tatapan yang muram dan tak bergairah hidup. Menceritakan proses ketika dapat hidup kembali. “Air hujan akan bermuara ke laut. Tubuhku yang telah membusuk dan telah bersatu dengan tanah perlahan mengikuti air hujan. Sedikit demi sedikit semua tubuhku telah bertemu di laut dan menjadi satu. Aku pikir aku sudah mati, tetapi mantra gaib sanjiwini dapat menghidupkan aku kembali.”

“Kau menjadi sengsara karena kesalahanku. Maafkan aku!” Sukrakarya bersujud di kaki Sentanu. Namun, Sentanu mencegahnya.

“Sukrakarya telah menjadi guru yang baik. Maafkan hamba yang sebagai muridmu membuat para raksasa murka.” Sentanu hendak bersujud di kaki Sukrakarya, tetapi dicegah.

Sentanu meminta maaf dan meminta izin pamit. Seiring kepergiannya, matahari yang mulai terbenam bergerak ke arah timur, ribuan makhluk dari madyapada dan marcapada bergerak mengikutinya. Semua korban peperangan antara pihak dewata yang dipimpin oleh Resi Brihaspati dan pihak raksasa yang dipimpin oleh Sukrasarya pun juga melakukan hal yang sama.

Sentanu terbang ke langit, tubuhnya berubah menjadi kereta kematian yang terbuat dari tengkorak. Ribuan makhluk yang mengikutinya satu demi satu masuk ke dalam kereta kematian, perlahan meluncur melewati panorama yang sunyi, dan muram. Sejauh mata memandang hanya terlihat ribuan makhluk dari madyapadadan marcapadadalam hamparan lautan api, terombang-ambing dalam ombak api yang menggulung tinggi, tercipta buih api yang terus bergerak mengikuti angin, dan menciptakan suara deburan ombak yang menyayat jiwa. Angin bergerak dengan cepat dan menciptakan angin topan. Mereka tersapu angin topan sampai menggapai langit, terus berputar-putar, meliuk-liuk, dan terdengar raungan kematian yang menyedihkan. Semua makhluk yang ada di dalam kereta kematian seketika diam mematung, tak ada satu pun yang berani bersuara, dan mereka ketakutan.***

                 Di Ruang Sang Hyang Widhi, 31 Desember 2020 – 6 Februari 2021


Nur Khafidhin, berdomisili di Demak. Alumni PBSI di Universitas Islam Sultan Agung Semarang.


[1] Dunia para dewa-dewi.

[2] Dunia bagi demit, jin, dan makhluk halus.

[3] Dunia yang dihuni oleh manusia, raksasa, dan margasatwa.

[4] Hutan yang mempunyai bentuk seperti leher manusia.

[5] Mantra untuk berubah menjadi raksasa berwajah angker dan galak.

[6] Pisau yang terbuat dari bambu.

[7] Mantra yang terdapat pada lontar wrespati kalpa.

[8] Mantra untuk menghidupkan jimat sebelum dipakai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *