Buku Resensi

Maut, Bahari, dan Kilas Balik

September 22, 2020

Oleh Udji Kayang

Cerita tentang Radhar Panca Dahana—yang kerap kali saya dapati—hampir selalu tentang sakit yang sudah lama dideritanya. Geger Riyanto, misalnya, mencatat itu dalam Asal-usul Kebudayaan: Telaah Antropologi Penalaran terhadap Advokasi Intelektual Diskursus Kebudayaan Indonesia (2019). “Beberapa saat berselang dari kepulangannya dari Paris yang, menurutnya, didorong perasaan tak bisa tinggal diam melihat kondisi Indonesia yang memprihatinkan selepas reformasi, ia terserang penyakit ginjal… Penyakit ini juga beberapa kali menimbulkan komplikasi yang mengharuskannya dirawat berhari-hari di rumah sakit dan bahkan mengalami kritis,” tulis Geger.

Penyakit tidak menghabisi daya kreatif Radhar. Geger bilang, “… ia tetap prolifik menulis baik esai, cerpen, puisi, bahkan menyutradarai lakon teater dan cerita ini cukup menggugah.” Kenekatan Radhar untuk tetap berkarya menunjukkan bahwa penyakitnya sama sekali bukan halangan. Alih-alih menganggapnya sebagai kesialan, nasib buruk, atau bahkan kutukan, Radhar memilih menerima penyakitnya dengan rendah hati. “… yang paling mengguncang, memesona, dan insyaAllah mencerahkan adalah karunia penyakit akut dan kronis yang saya terima sejak 2001,” aku Radhar.

Pengakuan Radhar itu hadir dalam LaluKau: Sekumpulan Puisi (2020). Penyakit adalah sinyal maut. Radhar menulis, “… saya merasakan maut sungguh terasa begitu dekat.” Saya merasa mustahil tidak teringat puisi terkenal Subagio Sastrowardoyo kala membaca pengakuan Radhar: “… dan kematian makin akrab.” Keakraban Radhar pada maut terpancar betul oleh puisi-puisi terdepan dalam LaluKau. Puisi-puisi yang Radhar tampilkan di depan semuanya ditulis pada 2019, masih baru dan segar.

Puisi pertama Radhar dalam LaluKau berjudul “Berdo’a Aku Berdua Kau”. Kesan spiritual terasa sejak judul. Radhar menulis: tanah pasir kini berputar, menari/ jadi thawafku memutar semiliar semesta/ ruang jadi waktu, aku jadilah tentu/ jasad melulu debu, langit tiada satu/ … / semua cuma sunyi/ tak apa pun tak/ tak satu pun tak/ kecuali berdo’a aku/ berdua Kau. Mengingat maut barangkali sinonim mendekatkan diri secara spiritual kepada Yang Absolut, yang dalam bahasa sederhana sering kita sebut Tuhan.

LaluKau rupanya seperti perjalanan kilas balik. Puisi-puisi Radhar dalam buku itu diurutkan mundur, dari tahun terbaru (2019) hingga terlawas (1985). Saya mengikuti kilas balik itu pelan-pelan. Semakin ke belakang, puisi-puisi Radhar semakin bagus. Sepanjang 2018, Radhar gemar memuisikan masjid. Ada tiga puisi tentang masjid yang Radhar tulis: “Masjidku Untukmu”, “Masjidmu Untukku”, dan “Dimana Masjid”. Lalu, mundur setahun ke 2017, Radhar masih memuisikan hal-ihwal spiritual-keagamaan. Sementara, pada 2014–2015, puisi-puisinya sangat eksistensial.

Pada 2013, puisi-puisi Radhar terasa menyimpan gagasan bahari. Simak saja puisi berjudul “Dunia Batu Dalam Air” berikut: bila gunung tegak dan bergeming/ dari utara berderap legiun asing/ di sini, sampan tetap bergoyang/ laut setia bergelombang/ dunia air terus menghilir, abadi mengalir/ dunia batu tergerus aus, samudera tiada haus. Radhar memang dikenal kerap mengampanyekan kebudayaan bahari sebagai jati diri asli bangsa kita.

Pesan lebih jelas terasa dalam puisi Radhar berjudul “Dalam Ayunan Sepi Laut”: kawanku bersampan,/ kini darat kian lapuk berkarat/ tanah dimana kita hidup pernah/ tinggal batubatu berdarah/ tinggal zombie-zombie serakah/ dan nafsu yang marah./ …/ tunailah telah/ ludah kata di bibir retorik kita/ bom persaingan di gladiatorisasi budaya/ kekejaman pada tanah yang melahirkan/ dimana jasad kita dikuburkan/ bencana dan bencana yang adab ini wariskan.

Mengutip Geger, seorang yang barangkali menangkap maksud Radhar dengan baik, “Argumentasi pokok Radhar, bila boleh saya menafsirkannya, adalah jati diri yang sejati dari Indonesia telah terselubungi oleh proses pelupaan yang masif dan berlarut-larut. Proses pelupaan ini terjadi akibat penjajahan peradaban-peradaban daratan dan Radhar menolak apabila kolonialisasi ini dikatakan hanya dilakukan oleh Eropa. Kolonialisasi ini juga terjadi sejak pengaruh India dan kebudayaan kontinentalnya mencangkokkan modus menata kehidupan yang menyimpang dari khittah bahari para penduduk di Nusantara, dan mirisnya kebudayaan daratan ini acap dianggap sebagai jati diri asali karena telah dihidupi sebelum penjajahan bangsa Barat.”

Maka, jelas bahwa “dari utara berderap legiun asing” dalam puisi Radhar merujuk pada kolonialisasi Barat ke Nusantara pada masa silam. Kolonialisasi melanggengkan kebudayaan daratan. Bangsa Barat membuka lahan-lahan perkebunan (kopi, teh, dan lain-lain) di tanah Nusantara yang molek, kemudian mempraktikkan tanam paksa. Kala kolonialisasi usai, Indonesia lahir, dan terutama setelah Orde Lama berganti Orde Baru, slogan “negara agraris” tetap diyakini dan dikampanyekan.

Namun, sebagaimana Geger tangkap dari pokok argumentasi Radhar, Barat bukan pemula indoktrinasi kebudayaan daratan di Nusantara. Kebudayaan daratan telah dianut dan diamalkan sejak kolonialisasi Barat belum menjamah Nusantara, sehingga—kendati Radhar merasa miris—kemunculan keyakinan kebudayaan daratan sebagai jati diri asali bangsa menjadi masuk akal. Kebudayaan daratan tercatat dalam teks-teks sejarah, yang merentangkan riwayat kerajaan-kerajaan, kota-kota serta pusat perdagangan masa silam, dan sebagainya.

Teks-teks sejarah bisa menangkap kebudayaan daratan dengan baik karena artefak kebudayaan daratan mudah ditemukan. Sementara, kebudayaan bahari kerap kali hanya bergantung pada mitos-mitos oral. Kendati akan terasa sangat simplifikatif, saya kira Safar Banggai, pengarang muda yang lahir-tumbuh dalam kebudayaan bahari, memiliki pandangan yang layak dipikirkan-direnungkan. Sejarah kebudayaan bahari, meminjam sekutip frasa dalam cerpen Safar, “menjadi dongeng.” []


Udji Kayang, editor buku menyambi penulis lepas. Penulis buku Keping-keping Kota (2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *