RAGAM

Melihat Peta Baru Perupa Indonesia

May 7, 2019

Pameran Seni Rupa “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme”

Galeri Nasional Indonesia kembali menggelar Pameran Seni Rupa Nusantara 2019. Acara tersebut sudah dimulai pada 23 April hingga 12 Mei 2019. Gelaran ini bersifat terbuka dan memberikan kesempatan bagi para perupa di seluruh Indonesia untuk berpartisipasi, menunjukkan potensi dan kreativitas, serta eksistensinya dalam ajang seni rupa bertaraf nasional, baik bagi para perupa muda maupun para perupa handal yang telah lama berkecimpung di dunia seni rupa dalam lingkup nasional maupun internasional. Karena itu, pameran ini sekaligus menjadi media pemetaan perkembangan mutakhir seni rupa di tanah air.

Foto-foto: Dok. Galeri Nasional Indonesia

Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto mengatakan, Pameran Seni Rupa Nusantara 2019 berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya. Kali ini, pameran ini tidak hanya menitikberatkan pada keterwakilan suatu wilayah, namun lebih menekankan pada keterampilan (skill) para perupa Indonesia yang diwakili dari hasil karyanya yang tentu sesuai dengan tema pameran yaitu “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme”.

“Pameran ini dimaksudkan sebagai sebuah pergulatan luar biasa sesuatu tanda dari berbagai proses kombinasi, dan dari pergulatan itu memungkinkan lahirnya tanda baru. Kelahiran tanda baru akan terus berulang-ulang mengikuti hukum alam sepanjang masa. Persoalan apakah yang baru akan sama dengan yang lama atau lain sama sekali adalah kehendak yang harus kita terima sebagai sebuah proses dialektika,” kata Pustanto.

Menurut Pustanto, modernisme dalam seni seharusnya menghasilkan spirit “shock of the new”, di mana menyuguhkan ‘kebaruan’ adalah ukuran utama dalam perkembangan seni. “ Pada pameran ini, kita ingin melihat kembali kaitan gagasan penciptaan karya masa kini dengan gagasan, ide, pemikiran tradisional yang sesungguhnya terus berkembang. Tradisionalisme di Indonesia berjalan dengan sama lajunya dengan perkembangan modernisme sebagai negara-bangsa poskolonial, walau keduanya berbeda konsep, namun pada praktik sosial kulturalnya bercampur baur membentuk rangkaian gagasan dan praktik yang tak terhingga,” ujar Pustanto.

Pada pameran yang dikuratori oleh Asikin Hasan, Sudjud Dartanto, Suwarno Wisetrotomo, Bayu Genia Krishbie, dan Teguh Margono ini, menampilkan 55 karya dari 55 seniman yang diperoleh melalui mekanisme seleksi yang sangat ketat. 36 di antaranya merupakan hasil seleksi 886 karya dari 677 seniman yang dijaring melalui aplikasi terbuka, sedangkan 19 seniman dan karyanya merupakan undangan secara khusus berdasarkan pertimbangan kuratorial. Keseluruhan karya-karya yang ditampilkan menunjukkan eksplorasi media yang kaya, di antaranya lukisan, patung, grafis, batik, dan instalasi.

Dari proses panjang itu, deretan karya-karya dari perupa seperti Nasirun, Ade Pasker, Sasha Yuliana, Prabu Perdana, Tri Wahono, Ayu Laksmi, Heri Dono, dan nama-nama perupa lainnya bisa dilihat di sana. Salah satunya, karya Hono Sun yang bertajuk “Merti Desa” yang menggambakran tentang upacara adat Jawa saat memberikan sesaji kepada danyang atau leluhur desa setempat. Sesaji berasal dari kewajiban setiap keluarga untuk menyumbangkan makanan. Merti Desa dilakukan oleh masyarakat desa untuk membersihkan desa dari roh-roh jahat yang mengganggu, maka sesaji diberikan kepada danyang, karena danyang dipercaya sebagai penjaga sebuah desa.

Ada juga  karya Ajeng Martia Saputri, dengan “Happiness for Sale #2” yang mengingatkan bahwa menjual kebahagiaan adalah sesuatu yang kita lakukan setiap hari, seringkali tanpa disadari. Kebanyakan manusia bertahan hidup dengan cara menukar waktunya dengan uang, yang kemudian uang itu akan ditukar dengan materi yang dianggap bias mendatangkan rasa bahagia dan kepuasan batin.

Konsep lokalitas lainnya juga bisa kita tangkap seperti pada karya I Made Djirna yang menampilkan warna lokal Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui karya “Warna-Warna NTT”. Warna lokal tersebut terinspirasi dari kain tenun tradisional NTT. Wilayah NTT bagian barat dominan dengan warna cokelat, bagian tengah didominasi warna hitam, sedangkan bagian timur merupakan perpaduan cokelat dan hitam dan I Wayan Sujana dengan karyanya “Di Atas Tulang Belulang Agraris” juga menampilkan tradisi melalui kletekan: alat tradisional terbuat dari bambu yang berfungsi sebagai pengusir burung. Pada lukisan digambarkan ribuan kletekan berebutan menyangga sang calon presiden periode 2019-2024 sebagai analogi posisi masyarakat dan pemimpinnya. Lukisan ini diperkuat dengan instalasi kletekan.

Selain pameran, perhelatan ini juga dilengkapi dengan Program Publik berupa Diskusi Seni Rupa “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme” dan Kunjungan ke Museum MACAN, pada 24 April 2019 lalu. Diskusi Seni Rupa dirancang untuk menajamkan wacana yang diusung melalui presentasi karya-karya di ruang pamer, dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidang seni rupa. Sedangkan Kunjungan memberikan kesempatan kepada para perupa peserta pameran untuk mendapatkan pengalaman visual artistik sekaligus memperkaya informasi dan sudut pandang yang bertujuan untuk mendapatkan inspirasi berkarya.

Pustanto berharap, Pameran Seni Rupa Nusantara “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme” ini mampu memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya informasi atau pengetahuan terkait seni rupa, mengingat pameran ini juga diselenggarakan bertepatan untuk menyambut Hari Pendidikan Nasional. Selain itu, pembukaan pameran pada 23 April bertepatan dengan tanggal wafatnya Raden Saleh yang saat ini sedang dalam usulan rancangan sebagai tanggal peringatan Hari Seni Rupa Nasional Kami berharap publik dapat mengenal lebih dekat tokoh-tokoh beserta karya para perupa Indonesia yang tak kalah dengan para perupa luar negeri, baik dari segi kedalaman konsep maupun artistik visualnya. Selain itu, pameran ini diharapkan menjadi sarana wisata edukasi kultural yang mampu menarik perhatian publik dalam negeri maupun mancanegara. Juga yang tak kalah penting, diharapkan pameran ini mampu mengisi titik-titik penting perkembangan seni rupa Indonesia sekaligus mendorong perkembangan tersebut demi kemajuan seni rupa Indonesia,” pungkas Pustanto. [] Wahyu Indro Sasongko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *