Buku Resensi

Memorabilia Visioner Si Perempuan Kuli Bangsa

January 15, 2019

Oleh: Anton Suparyanta

Kemunculan buku ini di pengujung tampuk jabatan kementerian NKRI, cukuplah menjadi goresan memorabilia. Tahun politik ini segera akan mengubahnya kembali. Isi buku tak begitu istimewa, tetapi lentingan dan pijar pikir si perempuan Susi justru menjadi bara bagi para perempuan di Indonesia. Kodrat perempuan tidak semata-mata ditakdir menjadi babon yang kolot. Atau melulu menjadi pecundang di tengah kemiskinan perempuan cerdas tanah air. Kinilah saat zaman perempuan melenting menjadi jago.

Miskinnya figur trengginas (visioner) di tanah air menggugah Presiden Jokowi jengah mengolah bahari. Cap negara maritim adalah jemawa para pakar. Panen ikan melimpah milik cukong dan tengkulak yang menjadi pecundang negara. Nelayan tetap nelangsa. Kemelut ini menyulut insting Jokowi mengincar perempuan “beride gila” Susi Pudjiastuti. Semula Susi kontroversi menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.

“Pak Jokowi, saya surprised, Bapak angkat saya jadi menteri. Bapak kok percaya pada saya?” kata Susi.

“Ya, saya memang butuh orang “gila” untuk melakukan terobosan. Saya senang cara kerja Bu Susi dalam jam-jam pertama, membuka kesadaran publik tentang potensi laut Indonesia yang dicuri asing. Saya yakin Bu Susi berkarakter melayani, seperti sigap menggendong ibu yang sudah sepuh ini,” kata Jokowi seraya mengunggah foto Susi ke medsos.

“Saya terima pekerjaan ini, dengan pengalaman 33 tahun di perikanan dan 10 tahun di penerbangan, mudah-mudahan membantu Indonesia menjadi lebih baik. Membangun ekonomi mandiri dan menumbuhkan kebanggaan diri,” pungkas Susi (hlm 138).

“Kegilaan” Susi bagi Jokowi adalah visinya yang out of the box. Karakter ini gayut dengan gaung slogan: kerja, kerja, kerja! “Ide gila”-nya menjadi fighting spirit, kawah candradimuka inspiring woman, super woman, atau wadona pinunjul yang menyabet puluhan gelar penghargaan lokal, nasional, pun internasional. Susi menjadi orang ketiga peraih gelar Doktor Honoris Causa dari ITS Surabaya setelah Hermawan Kertajaya dan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini.

Buku ini menjadi bernas bagi generasi milenial yang sadar berpikir kritis dan tidak dibuai gawai teknofil. Biarlah Rhenald Kasali atau Hermawan Kertajaya berkoar tentang ancaman era disrupsi 4.0 yang serba digital dan melelahkan bibir. Anutlah visioner Menteri Susi dari kecil, remaja, dewasa, muda, tua, hingga ribuan tahun ke depan. Susi berani melakukan pilihan “gila” dan memimpikan hal besar yang dinilai “gila” menurut segelintir pakar.

Filosofi keheranan sebagai warisan buah kecerdasan dari filsafat Yunani seakan-akan menaungi langkah Susi. Susi kecil hobi berdiri berlama-lama di tepi pantai Pangandaran. Heran, kagum, takjub ia menatap laut lepas tanpa batas. Angan melambung tinggi, ia membayangkan diri sebagai ratu penjaga laut dengan sekian kapal selam yang bisa mengawasi rahasia alam di palung samudra. Ketika dewasa, ia sungguh menguasai luasnya lautan dan dipercaya menjaganya (hlm 2).

Dari SD, SMP, hingga kelas II SMA, Susi berprestasi. Ia jago berbahasa Inggris, bahkan suka belajar bahasa Belanda. Kosakata dan dialog bahasa asing diperoleh dari hobi membaca novel classic romance seperti karya-karya William Shakespeare dan Agatha Christie. Ia haus literasi seperti komik, majalah, seri filsafat, Mahabarata. Gilanya lagi sewaktu kelas VI SD, ia sudah menyukai filsafat eksistensialisme Jean Paul Sartre. Jusuf Muda Dahlal, Frederich Engels, Das Kapital Karl Max, Adam Smith, Il Principe-nya Machiavelli pun dibacanya (hlm 44). Junilnya Susi ini diinisiasi teman sebangku kelas I SMA, Dwikorita Karnawati, yang menjadi Guru Besar Teknik dan Longsoran serta mantan rektor UGM.

Susi remaja kukuh meninggalkan bangku kelas II SMA, padahal orangtuanya juragan tajir. Susi membundel banyak impian. Berawal dari jatuh-bangun bakul ikan, ia menjadi pengusaha sukses yang bisa mengekspor sendiri hasil tangkapannya. Impian terbesarnya memiliki pesawat terbang sendiri untuk mengoperasikan usahanya. Fakta mencatat, Susi sukses memiliki puluhan pesawat terbang perintis, Cessna Caravan, dengan jenama Susi Air beserta sekolah penerbangan, Susi Flying School berdiri tahun 2008. Ia sukses mengekspor hasil tangakapan lautnya dengan merek Susi Brand.

Susi disindir tidak nasionalis. Nalarnya, dari 179 pilot, 175 pilotnya asing. Ia beralibi cerdas, banyak pilot Indonesia lulusan terbaik tidak berminat gabung Susi Air. Mereka bermental feudal dan gengsi. Mereka prestisius jika langsung memiloti Boeing Airbus. Mereka enggan terbang ke daerah-daerah pelosok Indonesia. Pilot asing bervisi beda: Indonesia eksotis, Susi Air menjamin kesejahteraan lebih. Manajemennya banyak orang asing. Butakah anak bangsa tercinta?

Hikmah kesuksesan ini, Susi menjamin dengan resolusi kritis. Memimpikan hal besar (yang menurut sebagian orang) dianggap “gila” dan tak mungkin terwujud bukanlah sesuatu yang salah. Kesalahan terbesar justru jika kita hanya berhenti pada mimpi tanpa mau berusaha mewujudkan impian. Pendidikan memang penting, tetapi mengarungi hidup yang terpenting adalah integritas atau kejujuran dan dibarengi sikap disiplin dalam segala hal (hlm 51).

Buku ini mengantar pembaca ke tapak-tapak Susi masa kecil, keberanian, jiwa kepemimpinan, kewirausahaan, dan empati pada Indonesia. Misi-visi Susi: kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas; “jalasveva jayamahe”, di laut kita jaya!***

Anton Suparyanta, alumnus FIB UGM, editor buku PT Intan Pariwara Klaten-Jateng


Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *