Buku Resensi

Menanyakan Identitas: Orang Korea di Jepang

April 14, 2020

Oleh Setyaningsih

Dituturkan dalam empat generasi merentang selama 80 tahun, novel Pachinko (2019) garapan Min Jin Lee adalah rekonsiliasi panjang nan rumit orang-orang Korea di Jepang. Terutama diwakili oleh generasi kedua, tokoh perempuan bernama Sunja dinikahi dan diselamatkan misionaris Kristen asal Pyongyang, Baek Isak, dari Busan ke Osaka. Saat itu masa-masa kolonialisme Jepang di Korea. Sunja dihamili oleh seorang Korea yang mapan tapi telah beristri dan memiliki tiga anak di Jepang. Sunja menolak menjadi istri simpanan.

Bersama Isak yang siap mengakui anak di perut Sunja sebagai anak sendiri, Sunja memulai kehidupan yang sama sekali berbeda. Di Osaka, Jepang, orang-orang Korea ditempatkan di wilayah terkumuh, sulit memiliki properti strategis, dikondisikan bekerja lebih rendah dari orang Jepang, dicap malas dan kriminal. Diskriminasi di negeri penjajah tidak terelakkan, tapi tanah air yang ditinggalkan pun dalam kondisi krisis. Myung Oak Kim dan San Jaffe (The New Korea, 2013), membabarkan bahwa orang Korea di Jepang terbagi dalam dua kelompok yang sama-sama terdesak, rakyat miskin yang memilih pindah untuk mencari pekerjaan dan yang terpaksa pindah untuk bekerja di tambang dan pabrik demi membantu Jepang pada masa Perang Dunia II.

Situasi politik yang kacau, desakan ekonomi, ketiadaan makanan, membuat orang-orang Korea bermigrasi ke Jepang di masa kolonial dan bertahan sampai generasi keempat atau kelima. Namun, mereka tetap saja dianggap asing atau disebut dengan istilah ambigu-menyakitkan, Zainichi (penduduk asing yang tinggal di Jepang). Hidup yang telah sedemikian berkompromi menjalani naturalisasi yang tidak mudah, tetap menempatkan orang-orang Korea sebagai pihak “lain” dan “luar”.

Min Jin Lee benar-benar memilih tokohnya di Pachinko sebagai representasi kekuatan dari kalangan bawah yang terpinggirkan. Para perempuan meski tidak terpelajar begitu tangguh menderita dan tetap bekerja untuk membesarkan anak-anak. Mereka memberesi urusan domestik berbekal cara hidup tradisional yang kuat dan ulet. Secara psikologis, para perempuan Korea lebih memiliki tameng untuk bertahan menjalani hidup.

Memutus

Noa, anak lelaki pertama Sunja, menjadi generasi yang sadar bahwa modernitas, kebebasan individu, kesetaraan, dan kebebasan tanpa diskriminasi harus diraih dengan intelektualitas. Namun dalam perjalanan akademis yang membuatnya bertemu aneka manusia dengan beragam cara pikir, ia justru semakin mengalami kehampaan identitas. Puncaknya ketika Noa marah kepada kekasih Jepang tak rasisnya, Akiko. Noa marah justru karena sikap Akiko yang terlalu santai dan abai pada identitas “kekoreaan” Noa seolah hal itu sangat eksotis dan menantang. Diceritakan,“… sebab Akiko tidak akan pernah percaya dia tak ada bedanya dengan orangtuanya, bahwa melihat Noa hanya sebagai orang Korea—baik atau buruk—sama saja dengan hanya melihatnya sebagai orang Korea yang buruk. Akiko tidak bisa melihat sisi manusiawi Noa, dan Noa menyadari inilah yang paling diinginkannya: dilihat sebagai manusia” (hal.361-362).

Di babak inilah, semakin memuncak kerapuhan jiwa seorang Noa yang semasa kecil begitu berbakti, berjuang untuk diakui bermartabat, ingin setara dengan Jepang, dan berambisi masuk kuliah untuk membanggakan keluarga serta hidup terhormat. Ditambah terkuak bahwa ayah kandung Noa seorang gengster atau yakuza, kehampaan semakin menjadi-jadi. Noa memutuskan hubungan dengan keluarga, meninggalkan kuliah, bekerja di arena pachinko, dan menikah. Semua ini berhasil dijalani dengan pertaruhan dilematis, menyembunyikan serapat-rapatnya identitasnya sebagai orang Korea. Bunuh diri akhirnya dipilih Noa untuk memutus seputus-putusnya dunia yang selalu meragukan identitasnya.

Mozasu, adik Noa-anak Sunja dan Isak, sebaliknya sejak kecil begitu membenci sekolah dan belajar. Ia lebih berkompromi dengan situasi diskriminatif dengan cara berkelahi atau melawan. Mozasu memilih bekerja di pachinko dengan keteladanan yang gemilang meski lagi-lagi, pekerjaan ini jelas dicap buruk bahkan oleh Noa. Yang dilakukan tetap berupaya hidup dengan keras, “Negara ini tidak akan berubah. Orang Korea seperti aku tidak bisa pergi. Kami mau ke mana? Tapi orang Korea di kampung juga tak berubah. Di Seoul, orang seperti aku dijuluki bajingan Jepang, dan di Jepang, aku hanya orang Korea kotor berapa pun yang kudapat atau sebaik apa pun aku. Lalu kenapa? Semua orang yang kembali ke Utara mati kelaparan atau ketakutan setengah mati” (hal. 440). Mozasu sadar bahwa uang dan kesuksesan tidak bisa mengubah identitas sebagai orang Korea. Pun tidak mampu mengubah cara pandang orang Jepang atas orang Korea.

Noa ataupun Mozasu yang mewakili dilema orang Korea sejak awal abad ke-20, mewakili dilema identitas hari ini. Batas geografis negara memang ada, tapi tidak menampik setiap orang menjadi bagian dari dunia. Sedang kekerasan, stigma, atau prasangka atas nama identitas di mana pun masih begitu lekat terjadi. Hal ini mengingatkan pada penuturan biografis jurnalis cum sastrawan Amin Maalouf (2004) saat disodori pernyataan apakah merasa “lebih Prancis” atau “lebih Lebanon”? Pertanyaan ini tidak sekadar memosisikan di antara dua negara, tapi juga bahasa dan tradisi budaya pembentuk identitasnya. Dalam pertalian fundamental yang bersifat etnis, religius, nasional, rasial ini, akhirnya setiap orang dipaksa menonjolkan identitas tunggal. Ramuan lain misalnya selera makanan, minat berbahasa, cita rasa kesenian tidak dihitung sebagai “pengalaman yang subur dan memperkaya bila si anak muda tersebut merasa bebas untuk menghidupinya sepenuhnya, bisa ia didorong untuk menerima segenap keberagamannya.”

Dan Korea yang merengkuh abad gemilangnya hari ini lewat teknologi dan budaya pop, terutama atas Jepang, belum akan selesai menanyakan identitas lewat Pachinko. Permainan pachinko memang tidak terelakkan dari kesan kotor dan citra sosial yang rendah serta tidak terhormat. Min Jin Lee menggunakannya untuk menandai gejolak-gejolak memaknai identitas. Ada pilihan untuk terus berekonsiliasi atau bersekutu dengan kematian. Bagi Mozasu, hidup memang seperti permainan pachinko, “yang pemainnya bisa mengatur tombol tapi juga mengantisipasi ketidakpastian dari faktor yang tak bisa dikendalikannya […] sesuatu yang tampak sudah pasti tapi tetap menyisakan ruang untuk ketidakteraturan dan harapan.”


Setyaningsih, esais dan penulis Kitab Cerita (2020). Bisa dihubungi lewat surel: langit_abjad@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *