RAGAM

Menengok Wajah Sumatera Lama Dari Lensa Kamera

March 8, 2019

Pameran Foto Warna Warni Kehidupan Sumatera 1947

Oleh Wahyu Indro Sasongko

Undangan Pembukaan Pameran Foto Warna Warni Kehidupan Sumatra 1947

Gunung besar di daerah Toba, Sumatera Utara pada masa purba meletus dahsyat, hampir semua badan gunung terangkat  ke udara dan terlempar hingga ratusan kilometer jauhnya. Letusan ini mengakibatkan punahnya makhluk hidup di sekitarnya.  Letusan tersebut membuat lubang yang sangat  besar dan dalam, lubang tersebut kemudian menjadi danau besar yang dikenal dengan nama Danau Toba. Kedalaman Danau Toba mencapai 300 sampai 500 meter, dapat dibayangkan bagaimana  dahsyatnya letusan tersebut. 

Ribuan tahun yang lalu, Taprobane, Rami atau Ramni, Azebai atau Azebani, Lameri, Swarnadwipa, Indalas atau Andalas, Sobormah, Samandar, Zamatra, Zamara, Java Minor, Ophir, adalah sejumlah variasi nama bagi pulau yang kini dikenal sebagai Sumatera, akhirnya pulih dan menjadi tujuan migrasi. Salah satu  peradaban yang menarik minat penjelajah dan penulis masa silam untuk menuliskan segala sisik melik di dalamnya. 

Selain wajah Sumatera yang berubah karena bencana alam, melihat situasi dan kondisi Sumatera kala itu; aspek sosial, agama, budaya, politik, dan seluk beluk sejumlah daerah di Sumatera, dari perspektif orang-orang dari negeri atas angin. Seperti perebutan kekuasaan antar suku, bahkan antar keluarga kerajaan, baik di zaman Sriwijaya, Majapahit, Pagaruyung, Samodra Pasai maupun Batak. Pengaruh agama Islam yang masuk lewat saudagar-saudagar Muslim dari Mesir, Persi, dan India lewat pelabuhan Gujarat telah membuat peradaban di Sumatra berubah total juga selalu menarik untuk disimak. Bahkan, sejumlah reportase kemudian menjadi dokumen vital bagi rekonstruksi sejarah Sumatera, khususnya catatan perjalanan 1850 – 1950.

Itulah sedikit pengetahuan umum tentang Sumatera, pulau terbesar kedua setelah Kalimantan, sebagai pengantar pameran fotografi yang digelar oleh Bentara Budaya Yogyakarta dari tanggal 2 -10 Maret 2019 dengan tajuk Warna Warni Sumatera 1947. Sumatraantjes atau Sumatera Kecil adalah judul sebuah buku terbitan tahun 1947 yang memuat warna-warni kehidupan di Pulau Sumatra. Buku ini memuat banyak sekali foto-foto yang mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat seantero Sumatra, mulai dari kehidupan transmigrasi masyarakat Jawa yang menetap di Metro Lampung hingga industri minyak dan Gas BPM  dan diakhiri dengan monument  perang dan kehidupan di Aceh,” kata Manager Bentara Budaya Yogyakarta, Yunanto Sutyastomo.

Ramai pengunjung terlihat pada
Pameran Foto Warna Warni Kehidupan Sumatera 1947. (ideide.id/Wahyu Indro Sasongko)

Halaman pertama buku karangan H.C. Zentgraaff dan W.A. Van Goudoever terbitan Uitgeverij W. Van Hoeve. ‘s-Gravenhage Belanda itu diawali dengan pemandangan jalan setapak di tengah hutan belantara di Lampung,  kemudian kehidupan yang amat sangat sederhana atau kemiskinan dari masyarakat Jawa yang menjadi transmigrasi di Lampung. Dalam buku itu juga terdapat gambar ladang jagung di daerah Metro yang dijaga seorang kepala desa yang berpakaian Jawa. Di daerah Palembang tergambar jalur perniagaan di sungai  dengan sampan-sampan dan pasar di tepi sungai . Kemudian ada foto  Jalan Trans Sumatra di Jambi yang dikerjakan dengan membuka hutan, lalu ada foto perkebunan cemara yang menghasilkan terpentin, kebun kopi, di Sungai Gerong, Bengkulu .

Kehidupan Ninik Mamak di Minangkabau menjadi objek foto yang menarik. Di sana ada kaum lelaki yang berpakaian adat Minang dan tidak ketinggalan para wanita Minang yang dengan anggunnya berdiri berjajar dengan pakaian adat kebesarannya. Tidak hanya kehidupan masyarakatnya saja, alam Sumatera tidak lepas dari jepretan kamera sang penulis, seperti  Danau Maninjau, Danau Singkarak, dan Danau Toba yang legendaries, tidak ketinggalan juga  artefak-artefak Batak Kuno yang sudah bertahan ribuan tahun yang lalu. Pada acara tersebut, sederetan foto-foto yang didominasi warna hitam putih dipajang berjajar. “Sebenarnya kami mendapatkan buku tersebut sudah cetakan ke-5, berarti pertama kali dicetak kami perkirakan tahun 1940-an awal atau sebelum kedatangan penjajah Jepang ke Sumatra. Hanya sayang kami tidak menemukan nama fotografernya di buku tersebut. Semoga pameran ini dapat menambah pengetahuan kita tentang kepulauan di tanah air, terutama di Pulau Sumatera,” ujar Yunanto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *