RAGAM

Menyuarakan Papua Melalui Seni Rupa

July 24, 2020

Dua puluh dua tahun yang lalu, 6 Juli 1998, ketika media-media di Indonesia lebih banyak menuliskan berita tentang seputar kerusuhan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, saat itu di Papua, tepatnya di Biak, terjadi demonstrasi. Aksi itu dibubarkan paksa oleh aparat dan berakhir dengan kematian beberapa orang, penyiksaan terhadap beberapa lainnya, serta hilangnya banyak pengunjuk rasa. Beberapa hari kemudian di pantai-pantai di Pulau Biak ditemukan potongan-potongan tubuh manusia yang hanyut dan terdampar. Pusara Tanpa Nama, Nama Tanpa Pusara, begitulah orang Papua menyebut hari nahas itu. Satu dari banyak peristiwa kekerasan yang terjadi di Papua yang tidak pernah menemui penyelesaian hingga saat ini.

The Red Guardian karya Ignasius Dicky Takndare

Mengusung semangat yang sama dengan apa yang belum lama terjadi di Amerika, ketika seorang pemuda bernama George Floyd harus meregang nyawa di tangan seorang polisi. Kabar kematian itu pun menyebar, tidak butuh waktu lama demonstrasi besar-besaran yang mengusung isu anti diskriminasi ras datang bergelombang memenuhi jalan-jalan di berbagai negara bagian Negeri Paman Sam. Menanggapi isu tersebut, Kelompok Udeido menggelar sebuah pameran seni rupa bertajuk Tonawi Mana secara virtual selama satu bulan, mulai tanggal 15 Juli-17 Agustus 2020 melalui laman udeido.com.

Pameran ini dimaksudkan untuk mengumpulkan suara-suara berbagai fenomena sosial, politik, dan humaniora yang terjadi di Papua dan mengemasnya pada sebuah ruang tersendiri yang menempatkan penghargaan terhadap hidup manusia Papua sebagai sesuatu yang penting untuk diperjuangkan. Karena sampai saat ini, Papua selalu digambarkan sebagai tempat kaum primitif dan barbar. Sedangkan seniman-seniman yang terlibat adalah gabungan seniman-seniman Papua dan seniman-seniman dari luar Papua, antara lain Ignasius Takndare, Taring Padi, Andreas Wahjoe, Fitri DK, Ina Wossiry, dan sederet seniman lainnya.

“Begitu banyak jenis seni yang menggunakan semua jenis medium untuk berbicara tentang Papua. Itu mengingatkan saya bahwa solidaritas, seperti pameran ini, berasal dari beragam kelompok yang menggunakan media mereka sendiri untuk menyampaikan pesan. Menarik melihat bagaimana seniman-seniman non-Papua ini peduli dan bersolidaritas terhadap isu Papua dan ikut berdiri, bersuara bersama orang Papua. Ini merupakan pesan penting yang kami harapkan berkembang kepada ranah lainnya,” kata Ligia Giay, aktivis yang terlibat dalam pameran.

Selain itu, pameran ini juga menempatkan konsep spirit Tonawi Mana yang eksklusif ke dalam aktivitas seni yang lebih luas, di mana Tonawi Mana bertransformasi menjadi suara-suara yang dihasilkan lewat karya seni dengan pendekatan dan interpretasi yang lebih bervariasi. Hal ini sejalan dengan apa yang ingin sampaikan oleh Komunitas Udeido bahwa permasalahan Papua perlu dibawa ke berbagai panggung yang tidak terbatas secara eksklusif untuk golongan tertentu saja. Tetapi menjadi masalah bersama yang kelak menumbuhkan tunas solidaritas yang jauh lebih besar lagi, yang menembus sekat sosial, ras, golongan, agama, dengan bentuk dan manifestasi yang beragam.

“Salah satu poin penting yang diungkap dalam pameran online ini adalah rakyat Papua yang dihantam berpuluh tahun oleh virus diskriminasi, rasisme, penindasan. Keseluruhan ekspresi tersebut tertindas oleh hiruk pikuk jargon kebesaran negeri ini yang menindih kebebasan bersuara rakyat Papua,” kata I Ngurah Suryawan, antropolog yang juga terlibat dalam pameran Tonawi Mana. [] Wahyu Indro Sasongko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *