Cerpen

Mimpi-Mimpi Erina

February 19, 2019

Cerpen Ardy Kresna Crenata

Kali ini pun perempuan itu kembali mengenakan kemeja putih. Lehernya yang terbuka lebar jadi terlihat lebih putih, dan semakin lama mengamatinya Erina semakin yakin ia benar-benar menyukainya. Ia bisa mencium bau laut, dan merasakan angin yang datang membawa rahasia ikan-ikan. Ia pun bisa mencecap asin yang berubah pahit di lidah, dan mendengar suara-suara parau yang tersapu dari tempat-tempat jauh. Dan perempuan itu, si perempuan yang tengah duduk di samping pengacaranya yang buruk rupa itu, berada di sana, berdiri di sana, di pantai itu, bersamanya. Erina membayangkan ia dan perempuan itu berdekatan, bersisian, dalam jarak yang membuat mereka bisa menangkap gumaman masing-masing, dalam kesunyian yang membuat mereka bisa mengkhidmati degup jantung masing-masing. Ingin sekali Erina meraih tangan perempuan itu, dan menggenggamnya. Erat. Namun dalam bayangan sekalipun, rupanya ia masih saja sulit melakukannya.

***

Pertama kali Erina menyadari ia menyukai perempuan itu adalah sebelas hari yang lalu. Ia sedang lelah dan malas melakukan apa pun, dan televisi yang dinyalakannya menyajikan sebuah persidangan kasus pembunuhan yang sedang ramai dibahas di mana-mana. Ia bukannya tak tahu apa pun tentang kasus ini; justru, ia tahu cukup banyak sebab sekali waktu, karena kelewat penasaran, ia sempat membaca-baca sejumlah tulisan di media-media daring yang membahas kasus itu. Ia tahu seperti apa akar permasalahannya, siapa-siapa saja yang mungkin terlibat dan siapa-siapa saja yang mungkin dirugikan—atau diuntungkan. Bahkan, yang satu ini adalah kebiasaannya ketika sedang begitu memikirkan sesuatu, ia sempat mencatat beberapa hal penting tentang kasus tersebut di sebuah kertas HVS kosong, dan seperti seorang detektif amatiran ia mencari-cari keterhubungan antara satu hal dengan hal lain, dan mengolah semua itu di dalam benaknya sampai ia tiba pada satu kesimpulan: perempuan itu memang bersalah. Pada saat itu Erina merasakan semacam kepuasan dan ia tersenyum. Tetapi tak lama kemudian, senyumnya itu lenyap. Erina menyadari apa yang baru saja dilakukannya itu tak ada gunanya; ia bukanlah siapa-siapa dalam kasus itu dan penilaiannya sama sekali tak akan mengubah apa pun. Dan begitulah ia memutuskan untuk tak lagi ambil pusing soal kasus tersebut.

Akan tetapi malam itu, barangkali karena Erina sedang kehabisan tenaga sehingga memindahkan channel pun tak juga dilakukannya, hal-hal tentang kasus tersebut kembali bermunculan di hadapannya, dan seperti membuncah menghampirinya. Untuk pertama kalinya ia menyaksikan perempuan itu di sebuah persidangan, dan ia bisa melihat betapa perempuan itu merasa tak nyaman dan terancam. Cara perempuan itu mendekatkan tubuhnya pada si pengacara, bagaimana ia menggerakkan bibirnya yang tebal dan sesekali menutupi dengan tangannya, serta sorot matanya yang selalu redup seolah-olah tak lama lagi akan padam, mengarahkan Erina pada penilaiannya itu. Dulu, saat ia masih tinggal di Jepang, ia pernah begitu menggandrungi serial televisi Amerika berjudul Lie to Me; sebuah film yang mengangkat penggunaan ilmu membaca gestur dan mimik muka dalam penyelidikan suatu kasus kejahatan. Erina melakukan analisis tadi berdasarkan apa-apa yang diingatnya dari menonton serial televisi tersebut.

Sejujurnya Erina tak peduli akan menjadi seperti apa persidangan itu. Kendatipun memang banyak informasi terhantar begitu saja padanya, tidak lantas berarti Erina memikirkannya. Informasi-informasi itu datang seperti kerumunan yang tak dibutuhkannya dan tak membutuhkannya, dan Erina bertahan di posisinya berada seakan-akan kerumunan itu tak berarti apa-apa baginya. Kalaupun ada yang menarik perhatiannya, itu adalah si perempuan tadi. Ya, si perempuan yang menjadi terdakwa di kasus tersebut. Si pembunuh. Erina mendapati dirinya telah cukup lama mengamati si perempuan, dan ia yang semula hanya membaca raut muka dan gerak-geriknya telah tanpa disadarinya mengamati juga tampilan fisiknya. Tulang pipi perempuan itu, misalnya, menurutnya sedikit terlalu menonjol, sementara dagunya lumayan runcing dan rahangnya terkesan maskulin. Perempuan ini diberkahi sejumlah kekurangan, pikir Erina, saat ia memandangi leher perempuan itu yang kurang panjang dan sedikit gemuk. Satu-satunya yang dianggap kelebihan oleh Erina adalah buah dada perempuan itu yang tampak menonjol dan berisi. Agaknya kemeja putih yang dikenakan perempuan itu berbahan tipis sehingga Erina, ketika kamera difokuskan dan didekatkan pada si perempuan, bisa melihat bra putih yang tersembunyi di baliknya.

Itu adalah awal, dan bisa jadi awal yang buruk. Erina terus mencermati hal-hal tentang perempuan itu dan ketika ia meraih ponsel untuk melihat jam ia mendapati ia sudah bersandar di sofa dan tak melakukan apa-apa selain memandangi televisi selama sembilan belas menit. Erina semakin tak ingin melakukan apa pun. Ia hanya ingin bertahan dalam posisi itu dan tertidur, dan mungkin bermimpi indah. Dan beberapa menit kemudian keinginan pertamanya terkabul, meski yang kedua sayangnya tidak.

Erina bermimpi berada di sebuah pantai. Ia tak tahu nama pantai itu, tetapi ia merasa mengenalnya. Laut sedang tenang, dan hari belum malam; Erina masih bisa melihat sisa warna-warna terang jauh di hadapannya, membuatnya merasakan di dalam dirinya ada semacam rasa hangat yang menjalar, dan menular. Telapak tangannya terasa hangat, dan kehangatan ini lebih terasa lagi ketika Erina menekankan kedua telapak tangannya ke pipinya. Telapak kakinya pun begitu, meski itu mungkin lebih disebabkan oleh pasir yang menyimpan apa yang telah diberikan cahaya kepadanya.

Lalu tiba-tiba, tanpa pernah ia duga, seseorang sudah berdiri di sampingnya, di sebelah kirinya. Dari aroma tubuh seseorang itu Erina bisa menebak ia perempuan, dan ketika ia menoleh ia mendapati tebakannya ini benar. Satu hal yang tak pernah terpikirkan oleh Erina: perempuan itu adalah si perempuan yang tadi dilihatnya di televisi; si pembunuh itu.

“Aku suka pemandangan seperti ini. Langit yang belum gelap, laut yang belum hitam. Tak ada siapa pun di pantai ini selain kita berdua. Kita bisa melakukan apa saja. Kita bisa meneriakkan apa saja. Sesuatu yang buruk terjadi di sebuah tempat yang jauh dan kita tak perlu memikirkannya. Di sini, kita bisa bahagia.”

Si perempuan di sampingnya mengatakan semua itu, dengan tenang, dengan intonasi yang seperti membawa misi damai dan dengan suara yang mampu mencairkan yang telah beku. Erina, dalam diam, memandangi perempuan itu.

***

Erina terlahir di sebuah keluarga yang tak menginginkannya. Ibunya seorang politikus yang percaya terlahir sebagai perempuan di negeri itu adalah sebuah kesalahan, sedangkan ayahnya seorang novelis gagal yang batal menikahi ibunya dengan alasan yang hanya ia sendiri dan Tuhan yang tahu. Sejak kecil, Erina dibesarkan oleh adik kandung ibunya, seorang perempuan penggila takarakuji—lotere—yang di masa mudanya pernah berkarier sebagai aidoru—dari idol. Ia sebenarnya tak menyukai perangai perempuan gemuk-pendek ini—menurutnya perempuan ini terlalu banyak mengoceh dan hampir mengeluhkan apa saja—dan ia juga merasa suami perempuan itu bukanlah lelaki baik-baik seperti yang ditunjukkannya di rumah. Tetapi pasangan suami-istri ini memiliki seorang anak perempuan yang baik; seorang anak berkulit pucat yang setiap hari mengajaknya bicara dan menghabiskan waktu dengannya. Kelak anak ini menjelma sesosok cahaya yang kehadirannya selalu membuat orang-orang di sekitarnya mengamatinya; aura yang memancar darinya mengingatkan orang-orang akan sosok ibunya semasa muda. Erina menyadari ia jatuh cinta pada perempuan ini, di tahun keduanya di SMA. Lima tahun kemudian ia berusaha mengutarakan apa yang dirasakannya ini dan itu adalah awal dari masa-masa paling suram dalam hidupnya.

Erina memanggil perempuan itu Mai. Kendati mereka sudah sangat dekat, bahkan kerap melakukan hal-hal intim yang pastilah akan membuat orang-orang menggigit bibir seandainya mereka tahu, Mai rupanya tak melihat Erina sebagaimana Erina melihatnya. Mereka pernah tidur dalam satu ranjang dan berpelukan, tetapi bagi Mai ini tak lebih dari sebuah upaya untuk mengatasi dinginnya malam. Mereka juga pernah menggunakan ofuro—bak mandi untuk berendam—bersama-sama dan tentunya saat itu keduanya sama-sama telanjang, tetapi bagi Mai ini hanyalah sesuatu yang dilakukan untuk membuat aktivitas mandinya sedikit berbeda. Semacam penyegaran. Katakanlah begitu. Erina kecewa mendapati Mai berkata tak bisa membalas perasaannya. Tetapi Erina tak membencinya, tak bisa membencinya, bahkan tak bisa menjauhkan diri darinya, sebab Mai masihlah sosok yang sama setelah pengungkapan tadi; seolah-olah di mata Mai pengungkapan tersebut tak pernah ada. Erina menghabiskan waktu-waktu luangnya dengan Mai seperti biasa. Kedekatan mereka, yang justru semakin intim saja, dianggap Erina sebuah perangkap yang mengekangnya sekaligus membuainya.

Setidaknya sampai tiga tahun lalu, Erina menikmatinya. Tentu ia berharap suatu hari Mai akan membalas perasaannya, tetapi kalaupun hari itu tidak datang juga ia merasa akan bisa menerimanya. Yang penting kami jadi semakin dekat dan melakukan hal-hal menyenangkan bersama-sama, pikir Erina. Satu hal yang luput diperhitungkannya adalah bagaimana seandainya Mai menemukan seseorang yang kepadanya ia ingin menyerahkan seluruh dirinya. Dan sialnya, pada akhirnya, itulah yang terjadi.

Hari itu mereka berada di sebuah pantai. Musim panas. Mereka mengenakan bikini dan berdiri bersisian dengan tangan saling menggenggam dan kaki terpacak pada pasir—air laut secara berkala menyentuhnya. Orang-orang lain di pantai itu sibuk dengan urusannya masing-masing, dan mereka tak peduli. Ketika mereka saling menatap satu sama lain, mereka akan tersenyum seolah-olah itu sesuatu paling istimewa di dunia.

Lalu tiba-tiba Mai berkata, “Aku jatuh cinta pada seseorang. Dia lelaki yang baik, dan dia mencintaiku.”

Erina merasa di dalam dirinya sebuah gelas seketika pecah dan air yang semula mengisinya semuanya tumpah. Gelas itu sendiri, mungkin, sudah ada di sana sejak lama.

“Aku akan menikahinya. Aku akan mendampinginya dan kami akan membangun sebuah rumah tangga dan keluarga yang hangat. Kami akan membangun kebahagiaan yang akan kami rasakan berdua, selamanya.”

Erina meyakini di dalam dirinya sesuatu kembali pecah, tetapi bukan gelas itu.

“Kamu tahu, di kehidupan ini seseorang akan menyakiti seseorang yang lain. Tak mungkin tidak, seseorang akan menyakiti seseorang yang lain. Dengan cara itulah kita manusia bertahan. Pada akhirnya kita ini makhluk egois; kita akan mementingkan kebahagiaan kita sendiri dan mengabaikan kebahagiaan orang lain. Sedari dulu, kita selalu seperti itu.”

Erina tahu, ia semestinya berhenti menatap Mai; berhenti mendengarnya.

“Kamu mungkin akan menilai aku mempermainkanmu, memanfaatkanmu, memperalatmu. Silakan. Aku tak keberatan. Mulai besok, kita akan menjadi dua orang yang saling asing.”

Erina merasakan genggaman Mai yang begitu kuat di tangannya. Perempuan itu kembali tersenyum, tetapi kali ini matanya berkaca-kaca. Erina tak tahu apakah ia sendiri tersenyum atau tidak, apakah matanya sendiri berkaca-kaca atau tidak. Sore itu, di perjalanan pulang, mereka tak saling bicara dan tak saling menatap.

***

Dalam sebelas hari terakhir ini Erina sudah mengalami mimpi itu delapan kali. Garis besarnya sama: ia mendapati dirinya berada di sebuah pantai dan tak lama kemudian perempuan itu muncul; setelah beberapa saat perempuan itu mengatakan beberapa hal dan ia selalu terpukau oleh apa-apa yang dilihatnya dan dirasakannya selama itu; dan ia akan terbangun tanpa sempat mengatakan apa pun kepada perempuan itu. Saat terbangun itu, Erina merasa begitu lemas; seakan-akan ia baru saja melakukan sesuatu yang benar-benar menguras pikiran dan tenaga. Ia selalu butuh waktu kira-kira setengah jam untuk menelentang dan tak melakukan apa pun selain menatap langit-langit kamar. Tadi pagi, ia hanya bisa melakukannya sebelas menit saja. Seorang teman yang juga kliennya menelepon dan memintanya mengirimkan hasil terjemahan pesanannya sebelum pukul empat.

Kini sambil menonton persidangan perempuan itu di televisi, Erina mencoba mengingat-ingat apa saja yang telah dilakukannya dalam tiga tahun terakhir. Ia keluar dari perusahaan periklanan tempat ia bekerja; ia tinggalkan kamar apartemennya dan berkelana selama tiga bulan dengan berbekal tiga potong baju saja; ia bertemu beberapa orang baru namun segera melupakan mereka; ia mencoba peruntungannya di mesin pachinko dan takarakuji; ia pindah ke sebuah pedesaan dan memelihara seekor kucing yang diberinya nama Nyanko; ia mengajar bahasa Inggris di sebuah bimbel lokal dengan bayaran rendah; ia menerjemahkan tulisan-tulisan dari bahasa Inggris ke bahasa Jepang dan sebaliknya; ia dikejar-kejar seorang lelaki yang adalah ayah dari seorang muridnya; ia mencoba mengiris pergelangan tangannya yang kiri; ia mencoba membekap dirinya sendiri dengan bantal di tempat tidur; ia mencoba membenamkan dirinya begitu lama di sebuah pemandian air panas yang sedang sepi; ia mencoba penampilan baru dengan memotong pendek rambut hitamnya dan mewarnainya; dan tahun lalu, ia mencoba membuka lembaran baru dengan mengambil kesempatan berkarier di negeri ini, Indonesia, sebagai pengajar bahasa Jepang dan penerjemah-awal.

Ia telah banyak berubah. Semestinya begitu. Sebelum memutuskan untuk hijrah ke Indonesia ia melakukan sejumlah penelusuran yang membawanya pada kesimpulan bahwa orang-orang di negara yang akan ditujunya itu cenderung sulit menerima hal-hal “baru”, terutama sesuatu yang dianggap bertentangan dengan norma dan agama, dan Erina melihat ini sebagai sesuatu yang menguntungkannya. Terkesan tidak toleran, memang, tetapi justru Erina berharap lingkungan seperti itu akan memaksanya berubah, menjadi normal—meski sesungguhnya ia sadar itu hanya alasan belaka sebab yang sebenarnya diinginkannya adalah melupakan apa-apa yang pernah dialaminya dulu. Kini, setelah ia lumayan menguasai bahasa Indonesia, dan setelah ia memiliki sejumlah teman dan klien orang-orang Indonesia yang kebanyakan adalah laki-laki, apa yang diinginkannya itu, semestinya, terwujud. Ia menjadi dirinya yang baru, yang normal. Namun begitulah sebelas hari yang lalu ia tersadar: ia, ternyata, masihlah sosok yang sama.

“Kamu tahu, kita manusia tak bisa bertahan hidup tanpa menyakiti manusia lain. Pada akhirnya begitu,” ujar si perempuan di televisi, dalam mimpinya tiga hari yang lalu. Ketika terbangun Erina langsung teringat pada Mai, dan ia berusaha membayangkan sosoknya, tetapi gagal; sosok yang kemudian terbayang jelas di benaknya justru si perempuan di televisi tadi, si pembunuh itu, dan ia menjadi kesal namun di saat yang sama bergairah. Erina jadi membayangkan ia dan perempuan itu di sebuah ranjang dalam keadaan telanjang, dan mereka berpelukan, dan mereka berciuman, dan mereka berciuman ….

***

Perempuan di televisi itu kembali menggigit bibir bawahnya. Saat ia menegakkan tubuh untuk membenarkan ikatan rambut, mata Erina tertuju pada buah dada perempuan itu yang membusung, lalu pada leher perempuan itu yang terbuka lebar. Aku ingin memeluknya. Aku ingin menciumnya. Ingin sekali, pikir Erina. Ia lantas memejamkan mata, membayangkan ia tengah berada di pantai itu, mengkhidmati sisa siang yang kian tersamarkan kesunyian, membiarkan tubuh rapuhnya terbuka menyerap setiap warna dan suara.

“Barangkali,” gumam Erina, “hidup bagiku adalah tentang menyakiti diri sendiri. Pada akhirnya begitu.” (*)

Bogor-Cianjur, 2016-2019

Ardy Kresna Crenata, menulis cerpen, esai, dan puisi. Ia bergiat di Pembacaan Baru; sebuah komunitas ngobrol-ngobrol di Bogor.

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *