Cerpen

Multatuli

May 31, 2022

Cerpen Robbyan Abel Ramdhon

Jakues menatap mikrofon yang berdiri di hadapannya. Kepala mikrofon yang bulat dan perak, mengingatkan Jakues pada bola besi yang memborgol kaki seorang budak bernama Addictus dalam sebuah kisah dari Romawi Kuno.

Nada-nada hip-hop berputar secara otomatis. Bunyi-bunyi yang mengusungnya, terekam secara digital menjadi sebuah komposisi musik. Kesan perlawanan mengambang seperti udara kental. Badan Jakues berayun-ayun ke depan dan ke belakang, seolah tulang punggungnya terbuat dari batang gandum.

“Sejarah proletar / ditulis dengan darah dan anggur…”

Penonton pecah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama melakukan tarian pogo, dan kelompok kedua melakukan breakdance. Di antara mereka, ada lagi kelompok ketiga yang berperan sekadar menjadi tim hore dengan menyalakan cerawat dan mengaktifkan bom asap yang memagari tempat pertunjukan berlangsung. Asap-asap membubung, ditepis para pejalan kaki yang melintas di atas jembatan.

Suara mesin kendaraan dan klakson menjadi instrumen musik insidental, yang berfungsi sama seperti hentakan kaki para penonton.

“Modernitas mengeras di kepalaku / bagai batu vulkanik yang tersesat / di sebuah piknik masa depan / sedangkan cintaku entah di mana / menjadi limbah…”

***

Beberapa penonton duduk di tepi jalan sempit bawah jembatan itu, yang di dekatnya, sungai mengalir seperti garis-garis partitur. Pasukan mural memberikan olesan warna terakhir pada gambar di dinding yang tersambung dengan badan jembatan; tergambar sosok makhluk berkepala babi mengenakan seragam polisi. Bagian matanya ditutupi semacam kain, persis seperti yang dikenakan oleh patung Themis dari mitologi Yunani.

“Wartawan dari majalah kiri mau minta wawancara,” kata Helena, seraya membuka tutup botol minuman. Lantas menuangkan isinya ke mulut Jakues, seperti melepas ikan ke aliran sungai yang tenang.

“Kamu mengundang mereka?” tanya Jakues, selesai menenggak.

Helena mengangguk. Anggukannya kecil, nyaris tak terdeteksi sebagai jawaban yang berarti ‘ya’.

Wartawan itu datang sendiri. Dia sedang mengamati barang-barang di lapak merchandise milik Jakues. Dari caranya memerhatian setiap barang yang dilalui matanya, wartawan dengan lingkaran mata cekung itu sepertinya sedang mencari pertanyaan tambahan untuk Jakues di luar dari yang sudah dibawanya.

Saat dipanggil, wartawan itu berjalan di belakang Helena, dengan gelagat antusias yang ganjil.

“Jakues, perkenalkan, dia wartawan paling diandalkan di majalah kiri.” Ferdinan membungkuk, memberi hormat, seraya diperkenalkan oleh Helena, sebelum mengambil posisi duduk bersila di depan Jakues yang bersandar ke dinding. “Dan Ferdinan, mungkin ini pertama kalinya kamu melihat Jakues secara langsung. Tapi seharusnya, bagi wartawan dari majalah kiri sepertimu, nama Jakues tidaklah terlalu asing.”

Jakues mengamati gerakan bola mata Ferdinan yang sekonyong-konyong liar. Pertama-tama, wartawan itu seperti tertarik pada topi beanie kuning yang dikenakan Jakues. Ada tulisan “penjara” menempel pada bagian depan topi itu. Saat membacanya secara sekilas, Ferdinan menyeringai. Bola matanya kemudian mengarah ke kaus kutang yang membungkus badan Jakues. Di dada kiri, tercetak tulisan: “ada konser musik di dalam sini”.

Ferdinan menghentikan pengamatan. Dia buru-buru mengingat tujuannya datang saat menyadari kemungkinan Jakues merasa sedang diteliti. Ferdinan pun membuka percakapan dengan sedikit gelapan:

“Saya suka semua merchandise yang anda jual.”

“Belilah kalau begitu,” kata Jakues.

“Belum gajian.” Ferdinan tersenyum, menampakkan gigi-giginya yang kecil dan rapat. Juga kuning, khas gigi seorang perokok.

“Tidak sambil merokok?”

Ferdinan mengulang jawaban yang sama. Ekspresinya juga tidak berubah. Dia membuka buku catatan dan meraih pulpen dari dalam tote bag. “Boleh saya mulai?” tanyanya.

“Tentu, usahakan pertanyaannya yang sederhana saja.”

Jakues melempar sebuah isyarat pada Helena yang duduk di sampingnya. Helena menangkap isyarat itu, lalu mengambil botol minuman, dan pelan-pelan menuangkan isinya ke mulut Jakues, sekali lagi, seperti melepas ikan ke aliran sungai yang tenang.

“Apakah ini akan menjadi tour terakhir anda?”

“Sebenarnya saya tak terlalu suka menyebutnya sebagai tour, tapi bagaimanapun, apa yang saya lakukan memang tampak seperti itu. Dan benar, ini yang terakhir. Selanjutnya saya mau istirahat untuk waktu yang lama.”

Ferdinan mencatat penjelasan Jakues secara garis besar. Dia menunggu kelanjutan penjelasan.

“Alih-alih menyebutnya sebagai tour, saya lebih senang kalau orang-orang mengenalnya sebagai perjuangan Multatuli.”

“Multatuli?”

“Betul, Multatuli. Berasal dari bahasa latin yang berarti; aku sudah banyak menderita.”

Ferdinan menarik udara melalui mulutnya. Tarikan itu membuat tubuhnya bergerak mundur, seperti ditarik oleh tangan yang lembut. Dia berusaha keras untuk mengendalikan pandangan. Tetapi bola matanya tetap bergerak melihat bagian kiri dan kanan tubuh Jakues yang seharusnya ditumbuhi lengan.

“Anda sudah mengerti yang saya maksud?” tanya Jakues.

Helena bangkit dari duduknya, meninggalkan mereka berdua, seakan menghindar dari kobaran api yang muncul dari retakan bumi.

Suasana di bawah jembatan semakin ramai. Tidak semua orang datang untuk menonton seorang rapper buntung menyanyi. Kehidupan di bawah jembatan itu sudah seperti kebudayaan dari planet lain. Berbagai kegiatan yang tak pernah tampak di kota di atasnya terjadi di sana. Mengonsumsi obat-obatan terlarang, bertukar pasangan untuk melakukan seks, hingga diskusi-diskusi yang mengarah pada rencana kudeta dan mengganti sistem kenegaraan dengan situasi baru yang cenderung anarki, adalah pemandangan yang biasa ditemukan di bawah jembatan. Walau rombongan polisi sering pula membubarkan pemandangan itu, mereka tetap saja muncul kembali. Seperti siklus terbit-tenggelam matahari.

Seakan membaca ekspresi Ferdinan yang menyerupai puzzle belum lengkap, Jakues menambahkan: “Kondisi saya ini bisa disebut malformasi lengan. Sebabnya bisa diduga-duga. Dulu ayah saya bekerja sebagai penjaga tempat pembuangan mobil bekas, sedangkan ibu saya bekerja di pabrik lem kaleng. Menurut cerita ibu, yang meneruskan analisis dokter, malformasi lengan yang saya alami disebabkan oleh faktor dari apa yang dimakan, diminum, dan dihirup ibu saya. Dari latar belakang pekerjaan kedua orangtua saya saja, kita bisa mengira-ngira bahwa potensi malformasi lengan bukan tidak mungkin dapat terjadi pada saya. Singkat cerita, saya lahir seperti ini dan mereka tetap membesarkan saya sebagaimana orangtua pada umumnya. Tetapi entah kenapa, saya malah tak ingin terus-menerus hidup bersama mereka. Di usia lima belas, saya pergi meninggalkan rumah kami yang berada di dalam area tempat pembuangan mobil bekas, lalu mencoba ini-itu untuk bertahan hidup sendiri. Atau lebih tepatnya, mencari esensi hidup dengan menjadi gelandangan.”

 “Apakah karena itu juga, anda hanya menjual kaus kutang?” tanya Ferdinan. Pandangannya sempat berpaling ke lapak merchandise, kemudian kembali berhadapan dengan buku catatannya.

Jakues sedikit tersinggung dengan pertanyaan Ferdinan. Bukan karena Ferdinan sudah mencela kondisi fisiknya secara tidak langsung, melainkan karena wartawan itu seperti tak memedulikan penjelasan panjang yang sudah diuraikan Jakues. Namun karena malas mencari perkara, Jakues cuma menjawab: “Begitulah.”

“Lalu bagaimana anda bisa mengenal musik?”

“Anda tahu, beberapa mobil yang dibuang ke tempat pembuangan sebenarnya masih bisa digunakan. Setidaknya radio di dalam mobil-mobil itu masih aktif. Ayah sering mengajak saya mendengar acara-acara musik yang berlangsung di radio. Meski kelakar para pembawa acaranya kadang tak saya mengerti, selera musik mereka tetap tak bisa dianggap remeh. Selalu bagus, menurut saya. Kadang kalau ayah sedang kebetulan sibuk melakukan pekerjaan lain sampai tak punya waktu bersantai, saya akan melakukannya sendiri…”

Ferdinan mengerenyit, tidak percaya.

“Saya bisa menggunakan kaki untuk membuka pintu mobil dan menyalakan radio,” kata Jakues, berhasil membaca isi pikiran Ferdinan.

“Anda tidak takut ditangkap polisi karena punya musik terkesan terlalu subversif?”

Sesaat sebelum menjawab, seseorang mendatangi Jakues, meminta paraf di kaus kutang putih yang dibelinya dari lapak merchandise. Sambil membubuhkan paraf dengan menjepit spidol menggunakan jari kakinya, Jakues menjawab:

“Sedikit. Tapi apa boleh buat, saya Multatuli. Penderitaan atau yang semacam itu adalah esensi hidup saya.”

Orang yang meminta paraf itu pergi.

“Apa judul lagu yang anda bawakan terakhir tadi?”

“Kejahatan modernitas.”

“Apakah kebanyakan lagu anda bersikap anti-modernitas?”

“Di dalam cangkang modernitas, bahasa bergerak menindas kaum-kaum lemah. Makna yang diproduksi pabrik bahasa modernitas, hanya berpihak pada borjuis dan senantiasa hadir untuk kepentingan mereka. Saya, bersama musik yang saya bawa, ingin membuat bahasa sebagai sesuatu yang independen. Kalaupun perlu tidak independen, bahasa harus berpihak pada kaum-kaum lemah…” Seolah teringat sesuatu, Jakues mengerem penjelasannya: “Pokoknya begitulah.”

Saat mendengar penjelasan Jakues, Ferdinan beberapa kali tertangkap memperhatikan Helena. Mulanya Helena sedang berdiri membelakangi mereka. Tapi mungkin karena ia merasakan tatapan Ferdinan menusuknya dari belakang, Helena berbalik badan, dan mengangkat salah satu alisnya. Tidak spesifik untuk siapa tanda sapaan itu dikirim. Namun Jakues merasa sapaan itu melambung ke arah Ferdinan.

Seakan tak menyembunyikan apa-apa, Ferdinan berbicara:

“Berhubung saya bekerja di majalah kiri, saya sependapat dengan anda. Bahwa bahasa mestinya berpihak pada kaum lemah. Sebenarnya apa pun di dunia ini memang harus berpihak pada mereka. Namun saya kira bahasa tidak pernah tidak independen. Bahasa tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Ada pun makna yang lahir di balik tabir bahasa cenderung mengarah pada kelompok yang bukan kelompok lemah, saya yakin, itu pasti cuma bersifat sementara. Karena demikian, bahasa itu dikatakan independen. Mungkin, bahasa bisa menjadi milik semua orang, tapi sekaligus bukan milik semua orang. Bagaimana ya menyebutnya – umpama anak gelandangan yang mencoba berbagai hal untuk bertahan hidup dengan semangat oportunis dan, menerima semua belas-kasih orang-orang yang ingin menolongnya. Tapi tak berarti dia ingin dimiliki, kan?” Setelah selesai menjelaskan, Ferdinan mengetuk-ngetuk giginya dengan pulpen. Seolah-olah penjelasannya adalah keluarga kata yang tinggal di dalam mulutnya, dan hanya akan keluar bila pintu rumah mereka diketuk. Tetapi tak ada lagi penjelasan yang keluar. “Maaf, saya sepertinya terlalu banyak bicara.”

Jakues tidak berkata apa-apa. Kini ia mendeteksi bahwa wartawan yang memiliki bola mata cekung dan susunan kumis berantakan di hadapannya tidak benar-benar ingin melakukan wawancara. Ada maksud lain kenapa wartawan itu datang. Maksud lain itu sepertinya berhubungan dengan sikap dan perilakunya yang seakan lebih tertarik dengan keberadaan Helena. Perempuan yang menjadi pacar Jakues sejak dua tahun lalu. Helena adalah seorang breakdancer, sekaligus penggemar Jakues yang mengikuti perjalanan karirnya sebagai “Multatuli”. Singkatnya, mereka akhirnya saling mengenal dan saling memahami, hingga memutuskan berpacaran. Helena juga berperan sebagai semacam manajer yang mengatur jadwal perjalanan Jakues, dan mengurus keuangan dari hasil penjualan merchandise. Di samping itu, nama Helena semakin terkenal setelah diketahui berpacaran dengan Jakues yang dapat dikategorikan sebagai artis “bawah tanah”. Bahkan lama-kelamaan pamor Jakues justru bergantung pada sosok pacar cantiknya itu.

“Anda mengenal pacar saya?”

Jakues menarik punggungnya dari dinding tempatnya bersandar. Ia menyeringai menyaksikan reaksi Ferdinan yang seakan berkata bahwa dugaan Jakues lebih dari sekadar betul.

Ferdinan diam sebentar, menimbang-nimbang kata yang akan digunakan untuk menjawab.

“Sejujurnya, kami dulu pernah berpacaran. Kisah lama sepasang mahasiswa, rasanya tak terlalu sopan untuk dikenang lagi. Setidaknya untuk sekarang. Maafkan saya sulit berusaha jujur sejak awal.”

“Tidak masalah, kawan.” Ingin rasanya Jakues menahan reaksi tubuh Ferdinan yang tak mengenakkan itu dengan tangan. Seandainya bisa.

Di saat-saat seperti ini, terkadang, Jakues kasihan kepada dirinya sendiri karena kondisi tubuhnya yang tidak lengkap. Kondisi yang membuatnya tak pernah bisa mengarahkan ritme tarian penonton dengan gerakan melambai-lambaikan sebelah tangan sembari tangan satunya memegang mikrofon. “Apakah Helena sudah jago ngeseks sejak dulu?” tanya Jakues. Bermaksud mencairkan kecanggungan yang membeku di wajah Ferdinan.

“Saya rasa tidak.”

Mereka tertawa bersamaan. Helena mengerenyit dari jauh, menerka-nerka arah pembicaraan Jakues dan Ferdinan.

“Dia paling suka gaya apa?” tanya Jakues. Spontan tanpa berpikir.

“Doggy style,” jawab Ferdinan. Cepat. Bahkan sebelum pertanyaan Jakues dilengkapi dengan kata ‘apa’.

Jakues sontak mengingat saat dirinya melakukan “doggy style” dengan Helena. Mereka memang jarang menggunakan gaya itu, karena Jakues tak mungkin bisa melakukannya secara sempurna. Gerakan itu akan lebih lengkap kalau bagian pinggul perempuan ditarik maju-mundur saat melakukan penetrasi. Mengingat bahwa ia tak mampu melakukannyasecara sempurna pada Helena, gambaran sosoknya yang tercetak di ingatan itu menghilang. Digantikan dengan sosok Ferdinan. Bagaikan sobekan foto yang menemukan sambungan baru.

“Saya rasa anda tak dapat melakukan yang seperti itu, kawan,” kata Ferdinan, seraya menyeringai, yakin telah berhasil membaca isi pikiran Jakues.

“Sepertinya anda terlalu jujur, kawan,” kata Jakues. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi ketersinggungan.

Helena tiba-tiba berjalan ke arah mereka dengan langkah yang agak cepat. Ia memberitahukan bahwa polisi dikabarkan akan segera datang. Tak ada kesan kepanikan pada wajah kerumunan orang-orang di bawah jembatan itu. Dengan santai mereka menyembunyikan barang-barang yang sekiranya akan dipermasalahkan oleh polisi, bagai tupai yang menyembunyikan kacang untuk persiapan musim dingin.

“Mereka mengincarku,” kata Jakues.

Setelah menyampaikan kabar tersebut, Helena lantas pergi mengemasi lapak merchandise. Cuma sedikit barang yang mereka bawa selama “tour”, selain merchandise, perlengkapan mandi, dan pakaian ganti sekadarnya. Rekaman musik yang mengiringi Jakues beryanyi tersimpan dalam flashdisk. Sementara alat-alat lain yang diperlukan untuk sebuah konser kecil – seperti sound system, mikrofon, laptop, dan sebagainya – selalu disediakan oleh kelompok-kelompok bawah tanah yang mereka kunjungi.

“Sepertinya mereka juga akan menangkap anda, mengingat kita berada di sayap yang sama,” ujar Jakues, sambil membaca tulisan “majalah kiri” di tote bag Ferdinan.

Ferdinan mengangkat bahunya. Seolah peringatan yang barusan dikatakan Jakues adalah sesuatu yang biasa dia dengar.

Tak lama setelah Helena selesai mengemasi barang-barang, polisi sudah tiba di dekat tebing yang mengarah ke bawah jembatan. Sebelum membantu Jakues berdiri seperti membangunkan sebuah boneka peraga di toko baju, Helena sempat bersitatap dengan Ferdinan. Tatapan yang bermakna dalam sampai-sampai tak bisa dikatakan sebagai sekadar salam perpisahan.

Helena dan Jakues berlari ke arah yang berlawanan dengan arus sungai yang memantulkan cahaya kekuningan matahari sore. Agak jauh di belakang, Ferdinan terpaku sambil memandang ke arah mereka.

Helena terus memandang ke depan tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Ia berlari sambil memikul tas carrier berisi merchandise dan perlengkapan perjalanan. Kendati mungkin, ia merasakan punggungnya dihujam tatapan Ferdinan dari jauh. Jakues menyadari suasana itu, dan seketika beryanyi dalam hati: “Sedangkan cintaku entah di mana / menjadi limbah…”

Seraya berusaha mengimbangi kecepatan langkah Helena yang berlari di depannya, sesekali Jakues menengok ke belakang. Menengok kekacauan yang sengaja dibuat pasukan “bawah tanah” agar polisi mengabaikan keberadaan Jakues dan Helena. Tetapi bukan pemandangan itu yang bersarang di kepala Jakues. Sekarang, sembari berlari, dia justru membayangkan bahwa, dirinyalah yang semestinya diborgol polisi, bukan Ferdinan. Sedangkan Ferdinan, mungkin akan lebih cocok berlari bersama Helena sambil bergandengan tangan menuju arah yang berlawanan dengan arus sungai. Namun tentu saja Jakues segera tersadar, kalau semua itu tak mungkin terjadi. Dia tak punya tangan untuk diborgol, dan juga tak punya tangan untuk digandeng saat berlari.

Jakues tetap berlari bersama Helena. Sekencang-kencangnya. Seolah kakinya baru saja terbebas dari bola besi.****


Robbyan Abel Ramdhon, aktif menulis cerpen dan bekerja sebagai wartawan. Turut bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram.

Leave a Reply

Your email address will not be published.