Esai

Narasi Perempuan dalam Bingkai Internet

July 23, 2019

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Gembar-gembor Internet of Things (IoT) menjadikan hampir segala hal di kehidupan kita mencuat ke permukaan dan berebut panggung untuk jadi konsumsi publik. Hal-hal yang tak terjamah akses internet mudah tertuduh sebagai wujud ketertinggalan, tertutup, asing, dan bahkan aneh. Era kiwari sungguhan membaiat kita sebagai manusia-manusia latah jumawa berkat kecerdasan buatan yang hadir dalam bentuk alat-alat elektronik berteknologi sentuh. Kemudahan mengakses informasi mengenai segala hal menjadikan manusia-manusia merasa tahu, gemar dan (seolah-olah) pandai dan merasa berhak bicara apa aja.

Salah satu tema yang jadi pokok bahasan “seksi” berkat gembar-gembor internet beserta kroni-kroni turunannya ialah menyoal perempuan dan kemudian juga seksualitas. Setidaknya dua tahun terakhir ini internet mengabarkan massifnya gerakan perempuan. Di akar rumput, para penggerak perempuan terus mendampingi perempuan-perempuan penyintas kekerasan seksual untuk mendapat pendampingan yang layak dan manusiawi. Kabar yang dihembuskan internet memberitahu keberadaan sekian penyintas berani mengungkap kasus yang menimpanya. Hal yang begitu jelas memantik api keberanian bagi perempuan-perempuan lain yang mengalami kasus serupa.

Jelang akhir tahun 2018, Tirto.id, The Jakarta Post, dan Vice Indonesia membentuk tim investigasi khusus bertagar #NamaBaikKampus untuk meliput perkara kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi. Liputan-liputan mendalam yang dilakukan ketiga media tersebut lekas tersebar dan turut menyulut keberanian para perempuan (lebih-lebih penyintas) untuk bersuara. Gerakan massa memprotes ketidaktegasan kampus menindak para pelaku terus bermunculan. Kita juga disodori kasus Baiq Nurul yang terkriminalisasi justru karena ia melaporkan pelecehan seksual yang menimpanya. Berkah internet memudahkan perempuan satu dengan perempuan lain yang berada di pelbagai daerah merasa satu, senasib sepenanggungan dan sudah saatnya tak takut atau malu untuk bicara.

Mendengar Para Penyintas

Para penyintas kekerasan seksual mencuat keharibaan publik internet melalui beragam cara. Setelah menyimak kisah-kisah penyintas di ranah perguruan tinggi melalui kompilasi produk jurnalistik bertajuk #NamaBaikKampus, di malam yang lebih mutakhir saya bertatap muka dengan beberapa penyintas kekerasan seksual melalui medium film. Bulan menggantung di langit Solo yang senantiasa ramah dan santun. Teater Kecil Institut Seni Indonesia Solo yang agak dipaksakan fungsinya sebagai ruang tonton terasa penuh. Sejak Magrib lepas, orang-orang membentuk antrean mengular guna menunggu jatah presensi di bagian depan Teater Kecil. Gurat wajah mereka begitu antusias menjelang pemutaran film Telur Setengah Matang (Reni Apriliana, 2019).

Film pendek berdurasi 16 menit itu diputar perdana pada 12 Juli 2019 lalu. Apa yang coba disampaikan film kepada penonton bukan suatu hal yang baru apalagi asing. Digawangi lima perempuan muda yang tergabung dalam satu kesatuan di Larasati Creative Lab, film menampakkan kepada penonton persoalan remaja tergoda dan terjerumus pergaulan seksual tanpa pengetahuan atau informasi yang memadahi soal dampak setelahnya. Anisa dan Adit ialah sejoli berusia Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang terduga kuat berhubungan badan dengan motif coba-coba berkemauan seru dan menyenangkan.

Berlatar perdesaan dan menyoroti cerita hidup kelas ekonomi menengah ke bawah, film ini melahirkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak penonton. Kendati sempat menyembunyikan fakta kehamilannya, Anisa akhirnya bercerita kepada bapaknya hampir tanpa hambatan yang berarti. Sebagai gadis “setengah matang”, Anisa tampak begitu menguasai diri saat menceritakan permasalahannya. Anisa bahkan dengan sigap memiliki pilihan-pilihan logis nan bijak seperti keinginannya untuk aborsi dan memberi pelajaran kepada Adit untuk turut merasakan malu dan menanggung akibat atas perbuatannya. Dengan demikian, tokoh Anisa justru terasa ganjil. Anisa adalah perempuan “setengah matang” yang alpa atau kebablasan terintervensi sosok-sosok peracik film sehingga latah tampil sebagai tokoh yang begitu matang.

Terlepas dari film Telur Setengah Matang, yang lebih menarik untuk disimak adalah kisah orang-orang di baliknya. Dalam diskusi pasca menonton, produser dan moderator tak segan-segan mengaku dirinya adalah penyintas kekerasan seksual. Sementara empat perempuan lain yang tergabung dalam tim produksi film punya pengetahuan dan pengalaman mendapati kisah-kisah bertaut kekerasan seksual yang menimpa para perempuan di sekitarnya. Sekira dua atau tiga tahun lalu, lima perempuan berbagi cerita dan berakhir serius. Kebetulan perempuan-perempuan itu punya latar konsentrasi yang sama, film dan grafis. Maka dipilihlah film sebagai medium untuk mereka berbicara.

Gara-gara Internet

Saya tak sepakat dengan argumen yang menyatakan “perempuan” adalah isu yang kering dan tak menarik. Di era “internet adalah segalanya”, isu perempuan terus berkembang menjadi pokok bahasan yang seksi dan massif diperbincangkan baik di jagat maya maupun di kenyataan. Orang-orang dari pelbagai kalangan kian santer memperbincangkan, berdebat, mengkaji ulang, menghasilkan karya dari isu-isu seputar perempuan. Gagasan-gagasan dan kemudian juga gerakan aplikatif bertaut perempuan terus memperbarui diri.

Kita semua jadi saksi betapa massifnya desakan publik supaya RUU Kekerasan Seksual lekas-lekas disahkan, banjirnya dukungan kepada para penyintas untuk berani bersuara, terus bertumbuhnya gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan yang didasari atas kesadaran untuk kreatif dan berdikari. Dan internet, salah satunya melalui kedigdayaan media sosial mengabarkan dan menautkan kisah-kisah haru ataupun pilu para perempuan dari pelbagai daerah. Dengan demikian, naluri untuk merasa dan menjadi dekat satu dengan yang lain begitu mudah terjadi. Kemudahan akses internet bagi para perempuan di pelbagai daerah di Indonesia meski belum secara keseluruhan, setidak-tidaknya terus-menerus berkemauan mengentaskan para perempuan dari tumpukan permasalahan yang membayangi keseharian mereka. Isu-isu soal perempuan tak lagi terkungkung dalam jerat eksklusivisme dan isolasionisme seperti yang dikhawatirkan Muhammad Nurkhoiron dalam pungkasan tulisannya yang berjudul Identitas Perempuan Indonesia: Menyintas di Tengah Pusaran Kapitalisme Global (Desantara Foundation, 2010, hlm. 199). Tsah!***


Rizka Nur Laily Muallifa, pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lainnya.

Only registered users can comment.

  1. Kekerasan seksual akan terus meningkat kalau tidak adanya kesadaran dari perempuan itu sendiri, maka dari itu perlunya pemahaman yang lebih dalam terkait dengan penindasan yang dilakukan oleh kaum laki- laki terhadap kaum perempuan dalam bentuk kekerasan seksual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *