Cerpen

Lelaki yang Berjalan Bersisian

Seekor gagak berteriak parau, terbang di atasku, hinggap dari ranting flamboyan satu ke ranting lain. Ia mengikuti langkahku dari sejak kumasuki jalanan sunyi ini. Tak pernah kusukai hewan bersayap yang satu itu. Tidak mata hitam dan bulunya yang pekat, terlebih kicau paraunya yang tak bernada. Seperti suara terompet sumbang dari neraka. Makhluk yang senantiasa menyeret aura gelap dunia orang mati.

Continue Reading...

Puisi

Puisi Jonah Mario

Pernah kulihat lampu merah yang terus-menerus merah
kuperhatikan dan aku jadi teringat
orang-orang yang mengetik sampai malam.
“Sampai jumpa besok ya.
Kerongkonganku kering sekali.
Aku juga harus mencuci baju
dan sempat lupa harus menyiram tanaman.”

Kargo-kargo melintas.
Teluk gelap.
Membengang.

Continue Reading...

Buku | Resensi

Pisau Bedah di Ruang Informasi Serbamedia

Meminjam kacamata Deleuze, masyarakat era informasi serbamedia sebenarnya sedang mengidap skizofrenik. Sebuah masyarakat yang meletakkan yang nyata dan semu pada posisi yang sama. Kondisi ini menjadikan individu mengenggam berbagai kebenaran sekaligus, sehingga ia berbasis pada absurditas. Ini sebagaimana paradoks logika yang berkembang di tengah masyarakat: ingin bebas makan tetapi tubuh tetap langsing, ingin tubuh yang sehat tetapi tetap begadang, dan seterusnya. Inilah fenomena yang terjadi dewasa ini.

Continue Reading...

Cerpen

Klub Pemakan Daging

Hellena menyaksikan adegan itu dengan perasaan iba. Pria itu mungkin berusia sekitar 50 tahun. Rambutnya sebagian telah memutih. Berkemeja biru, dengan dua kancing terbuka di bagian dada. Pada saku kemejanya, menyembul kertas putih persegi empat yang menyerupai amplop.

Continue Reading...

Cerpen

Dewi Sri

Jika semua selamat, seharusnya kamu anak kelima yang lahir dari rahim Dewi. Meski dalam hitungan orang-orang, kini kalian lebih familier dengan sebutan empat serangkai. Orang-orang pastinya tidak tahu apa yang akan aku katakan ini.

Continue Reading...

Puisi

Puisi Moh. Rofqil Bazikh

di angkringan ini, kita sepakat
cara paling baik mencintai
adalah mengakhiri
lalu menjalani hari sendiri-sendiri
selebihnya kita hanya diperbolehkan
untuk saling mengenang
atau berciuman meski hanya
bayang-bayang

Continue Reading...

Buku | Resensi

Musik dan Kegilaan

Musik, selayaknya karya seni lain, memang selalu ditafsirkan beragam oleh publik. Interpretasi subjektif atas karya seni adalah keniscayaan. Lalu, muncul pertanyaan: untuk apa ada ulasan musik? Jika memang semua orang memiliki interpretasi, mengapa harus ada seseorang yang ditasbihkan menjadi “jurnalis musik” dan memiliki hak khusus untuk menyampaikan selera dan interpretasinya pada publik?

Continue Reading...

Buku | Resensi

Catatan, Kisah, dan Pengakuan

Dari beberapa yang ditulis dan dikaji Michael itu, kita patut menduga, para sastrawan moncer tidak bisa lepas dari imaji tempat mukim di sekelilingnya.Baik itu menyoal kota, sejarah, rasialisme, uang, rumah, dan sosial-masyarakat yang lekas dilihatnya. Perkara itu menjadi semacam ramuan yang patut diceritakan dalam sebuah karya, seperti cerita pendek dan novel.

Continue Reading...

Cerpen

Di Kedai Nori

Tuan Am sudah pernah mendengar cerita tentang dua bulan ini Nori tidak lagi dikirimi biji kopi oleh petani langganan. Sekilas Tuan Am menangkap, si petani kopi langganan kehilangan semangat untuk apa saja, termasuk mengerjakan ladang. Ia ditinggal pergi perempuan yang dicintai. Rumor beredar mengatakan, si perempuan naik perahu menuju pulau seberang karena tidak tabah hidup serba terbatas di desa, dan katanya, bahkan pernah terlihat makan malam romantis dengan entah siapa.

Continue Reading...

Buku | Resensi

Kopi: Sengsara dan Nikmat

Episode pedih dimulai pada 1711 saat kiriman kopi dari Jawa memecahkan harga lelang tertinggi di Amsterdam. Sejarah mulai bernafsu laba. Pada 1726, kopi asal Jawa menguasai pasar kopi di Eropa. Segala capaian itu mengesahkan penciptaan sengsara di Parahyangan melalui perjanjian VOC dengan bupati dalam misi penanaman kopi. Di halaman sejarah, orang bisa mengingat itu Koffie-stetsel atau Preanger-stetsel. Ribuan ton kopi berhasil dikirimkan ke Eropa, merangsang selera para peminum di Eropa untuk memuja kopi asal Jawa. Sejarah memanjang dengan kehadiran Daendels dan Van den Bosch. Kopi “memahitkan” nasib bumiputra dan mengingatkan Cultuur-Stetsel (1830-1870).

Continue Reading...