Puisi

Puisi Norrahman Alif

Sawah-sawah berwarna kuning tua
dengan kulit tanah bengkak dan berduka
kaum kaum tani gerah, tak lelah, tak keluh
memanggil-manggil hujan tiba, agar segala
yang bernama kemarau di langit, basah
menjadi pohon hujan di bumi.

Continue Reading...

Esai

Abstraksi Diri Manusia

Ada pendapat yang mengatakan bahwa moralitas manusia berkembang seiring berlalunya waktu. Itulah sebabnya kini perbudakan, pembunuhan hewan, ataupun pemberian hukuman mati kepada tersangka kriminal mulai dilarang dan ditentang di berbagai belahan bumi ini.

Continue Reading...

Cerpen

Senja di Pont Des Arts

Pada Juni yang kering, aku mengenang suatu masa ketika kali pertama kita dinikahkan oleh semesta. Ketika itu, rambutmu yang hitam panjang dan terurai disepuh sinar matahari yang terik. Bola matamu menyala seperti purnama yang sempurna. Kau menjelma Hawa ketika aku adalah Adam yang kesepian.

Continue Reading...

Cerpen

Dapur Tempat Ibu Bersembunyi

Meski bapak baru saja dimakamkan, ibu tetap memilih menghabiskan waktunya di dapur. Begitu para pelayat pulang dan keluarga yang datang kembali ke kehidupannya masing-masing, ibu lantas bergegas ke dapur. Duduk di salah satu kursi usang yang sama seperti ibu, termakan waktu dan menjadi tua, terabaikan di dalam sebuah dapur kecil.

Continue Reading...

Cerpen

Api yang Melahap Semua Kenangan

Jika ada yang bertanya kenapa Ami mati, maka itu salah saya. Benar-benar salah saya. Ami mati dilahap api kelaparan yang sejak saya menyalakannya, maka api itu selalu merongrong minta diberikan makan. Tak pernah kenyang dan selalu merasa lapar.

Continue Reading...