RAGAM

Pameran Seni Rupa “Gemati”: Ekspresi Kritis Astuti

March 8, 2019

Oleh Wahyu Indro Sasongko

Keluarga itu duduk dan berkumpul di dalam sebuah ruang tamu berwarna cerah. Sepasang orang tua, dan ketiga anaknya yang duduk saling berdekatan. Kebersamaan yang menggambarkan bentuk keluarga yang ideal dan penuh kedekatan. Namun, sebuah benda kecil yang tergenggam di tangan orang-orang itu membuat jarak yang sebenarnya saling berdekatan terasa berjauhan.

Poster Acara
Pameran Seni Rupa Gemati

Luruhnya rasa kemanusiaan, mungkin, itu kata yang tepat mewakili Pameran Seni Rupa bertajuk “Gemati” yang digelar di Bentara Budaya Surakarta tanggal 24 Februari – 4 Maret 2019. Pameran yang mengusung karya tunggal perupa perempuan dari Yogyakarta, Astuti Kusumo, ini menampilkan sederet karya-karyanya yang menangkap kegelisahan sang perupa tentang hilangnya rasa “gemati” dalam diri manusia seiring dengan kemajuan teknologi.

“Ditengah perkembangan dunia yang serba digital saat ini, percepatan teknologi lambat laun mengikis aspek-aspek kedirian kita sebagai manusia. Percepatan ini pula yang menyebabkan munculnya egoisitas dalam diri kita, hingga acuh pada sekeliling kita. Di lingkungan sosial kita saat ini, lihatlah, tegur sapa antar tetangga, sopan santun, kemesraan keluarga semakin luntur,” kata Astuti.

Seorang pengunjung menikmati lukisan karya Astuti Kusumo dalam pameran tunggalnya yang bertajuk Gemati. (ideide.id/Wahyu Indro Sasongko)

Pameran yang dipersiapkan Astuti selama dua bulan tersebut, menangkap dengan jelas kegelisahan-kegelisahan perupa perempuan ini dalam beberapa karya lukisannya, antara lain yang berjudul: Keluarga Android, Busy Couple, Happy Alone, Android Party, dan Follow Me. Pada lukisan-lukisan tersebut, perasaan tentang kesepian dan berjarak dengan orang-orang yang sebenarnya berada di sekelilingnya sangat kental terasa. Selain itu, Astuti juga memamerkan sederetan karya yang memiliki ekspresi tak kalah kuat, seperti Temu Rasa, GoShopping, dan Sejoli. “Pameran ini merupakan satu bentuk ungkapan ekspresi saya sebagai perupa atas kikisnya kesadaran dan sensitivitas kita sebagai manusia. Melalui karya dalam pameran ini, saya ingin mengajak menilik kembali definisi dan praktik asah, asih, asuh. Menilik kembali perhatian atas diri dan sesama yang mengedepankan “rasa-pangrasa”,” ujar Astuti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *