Cerpen

Pasar Malam

February 26, 2019

Cerpen Eko Setyawan

“Kau tak ingin pulang barang sebentar untuk menilik ibumu?”

“Tidak untuk kali ini.”

“Mengapa?”

“Aku tak punya bekal untuk ke sana.”

Jalanan riuh dengan lalu-lalang kendaraan. Ia masih duduk di bangku taman dan menikmati deru motor dan mobil yang berseliweran. Gelap mulai turun dari langit. Matanya menatap jauh. Menerawang entah ke mana. Tatapannya kosong tanpa ada tujuan. Ia melamun memikirkan percakapan dengan kekasihnya. Lebih dari itu, ia sedang memikul beban di pundaknya, bahwa ia harus segera pulang. Menemui ibunya yang sedang sakit.

Ibu Jatmika sakit. Ia tak bisa menengok barang sebentar. Paling mentok hanya bisa mengirim uang. Itu pun tak seberapa jumlahnya. Di Jogja, ia sedang berusaha merampungkan kuliahnya dan berupaya mengumpulkan uang dari bekerja paruh waktu di kafé tengah kota. Jika dipikir itu cukup, maka salah besar. Uang itu habis dalam waktu sekejap. Untuk makan, membayar sewa kamar kos, juga memenuhi kebutuhan lain yang bisa dibilang tak membutuhkan banyak uang; fotokopi atau mencetak tugas kuliah.

Jatmika sendiri sebenarnya ingin segera pulang. Menemui ibunya dan memeluk dengan erat. Tapi apa boleh buat, keinginannya itu harus ditahan selama mungkin. Dipendam dalam rasa ingin yang terus bergolak. Serupa teror yang menakutkan dan selalu terngiang di kepala. Memburu tiada henti di dalam kepala. Sebuah pertemuan akan terlaksana jika ada niat dan yang paling utama adalah bekal. Karena pertemuan tanpa bekal berarti serupa masakan yang dihidangkan tanpa bumbu. Hambar dan tak dapat dinikmati. Begitulah rumitnya keinginan dan segalanya harus dipendam sedalam mungkin. Mengubur harapan dan keinginan yang lahir di dalam kepala.

“Kau tak ingin minum? Akan kubelikan,” kata Marina.

“Tidak. Lebih baik kau di sini saja menemaniku,” jawab Jatmika dengan asal. Lamunannya buyar seketika.

Di taman itu, mereka duduk berdua. Langit mulai meremang, pertanda malam mulai mengintip mereka. Tak jauh dari sana, di lapangan yang dekat dengan kantor bank sedang digelar pasar malam. Sebuah perayaan kecil untuk manusia yang sedang merindukan dan memerlukan kebahagiaan. Di pasar malam, banyak hal yang diciptakan oleh manusia. Bahkan sebuah kebahagiaan pun diciptakan dan senjaga dijajakan kepada manusia lain.

“Aku sudah lama sekali tidak mengunjungi pasar malam. Apa kau tak ingin ke sana?” tanya Jatmika pada kekasihnya itu.

“Ya. Tentu saja,” Marina mengiyakan. Diikuti langkah kaki mereka berdua menuju pasar malam.

Langkah kaki mereka berkejaran. Tak pernah bisa berbarengan. Menandakan suatu takdir yang harus diterima, bahwa cara berjalan tak lain adalah takdir manusia. Ketika bergerak bersama, maka akan lebih menyulitkan untuk berkembang. Selalu ada yang saling mendahului antara kedua kaki. Langkah kaki menunjukkan cara belajar yang paling sederhana, bahwa sebuah usaha untuk maju haruslah mengikhlaskan dan merelakan salah satu berjalan lebih dulu.

Sesampainya di sana, Marina mengajak Jatmika membeli arum manis. Aroma arum manis selalu menahan setiap hidung yang menghirupnya. Entah mengapa hal itu bisa terjadi dan selalu saja berulang. Arum manis menerbangkan manusia dewasa pada masa kekanak yang membahagiakan.

“Sebaiknya kita beli dua untuk masing-masing atau cukup membeli satu untuk berdua?” tanya Marina dengan centil. Sebuah pertanyaan basa-basi yang digunakan untuk membuka percakapan. Sebab tentu saja jawabannya sudah diputuskan oleh dirinya sendiri, yakni mereka akan membeli satu bungkus arum manis yang ukurannya besar dan akan mereka nikmati berdua.

Naluri Marina sebagai perempuan begitu kuat. Ia merasa ada yang aneh dengan Jatmika. Ya, kekasihnya itu sangat kaku dan tidak seperti biasanya, seperti ada hal yang begitu berat dipikirannya. Marina melihat kening Jatmika mengerut dan senyum terpaksa. Perempuan tahu bagaimana perasaan lelaki. Bahkan terkadang, ia malah lebih paham dari diri lelaki sendiri. Intuisi seorang perempuan adalah intuisi seorang ibu. Dari hal itu semua orang tahu bahwa seorang ibu memahami apa yang ada dipikiran suami dan anak-anaknya. Jadi jika ada perempuan yang tak memahami hati seorang lelaki, maka pantas dipertanyakan sifat keperempuannya.

“Kau kenapa?” tanya Marina. Jatmika terkaget mendengar pertanyaan yang memecah lamunannya itu.

“Kalau sedang di pasar malam begini, aku selalu mengingat ibuku.” Jatmika menjawab datar dan sedang mencoba berpikir untuk memberikan pilihan jawaban yang dirasanya tidak salah jika terdengar Marina.

“Apa karena pertanyaanku di taman tadi?” Marina merasa bersalah. Ia mencoba menyakinkan diri bahwa memang dialah yang membuat Jatmika seperti itu.

Mereka berdua berjalan menjauhi penjaja arum manis. Menyibak kerumunan manusia yang tumbuh serupa jamur di musim penghujan. Marina memutuskan untuk mengajak Jatmika duduk di dekat bianglala. Banyak orang di sana, tapi tidak duduk melainkan memilih berdiri untuk mengantre menaiki roda besar yang berputar di ketinggian itu. Sebagian lagi, segerombol keluarga menunggu bagian dari keluarga mereka yang sedang hanyut ditelan roda-roda raksasa itu. Ibu menunggu suami dan anaknya, nenek menunggu anak dan cucunya, dan segerombol lelaki yang sedang memandangi wanita-wanita yang mereka anggap berpotensi untuk mereka dekati.

Segalanya hanyalah pelengkap bagi Marina dan Jatmika. Tidak ada kebahagian yang dapat diciptakan oleh orang lain. Segala kebahagian adalah bagi mereka yang berani melahirkannya sendiri. Kebahagiaan terlahir dari buah perjalanan yang tak menjemukan. Segalanya bisa direalisasikan dengan cara yang berbeda tiap manusia dan manusia yang lain. Tak ada kesamaan. Setiap manusia adalah penguasa penuh bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain, manusia adalah tuhan bagi dirinya sendiri.

Tentu saja hal ini tidak bertujuan untuk menyombongkan diri atau melebihi kekuasaan dan kehendak Tuhan. Hal itu tak lain adalah jalan yang sudah dirancang sedemikian rupa. Bahwa dalam tujuan penciptaan manusia, Tuhan memberikan kekuasaan penuh bagi manusia untuk memilih jalannya sendiri. Itu bukanlah hal yang melanggar, tetapi sudah digariskan. Kita tidak bisa memilih takdir, tapi dapat menentukan jalan.

“Apakah di pasar malam ini ada yang menjual bintang?” tanya Jatmika pada Marina. Ia mengulangi pertanyaan ibunya dulu. Hal itulah pertanyaan yang dari tadi mengusik pikiran Jatmika.

Ibu Jatmika pernah menanyakan hal itu padanya. Pada saat itu − ketika Jatmika baru saja masuk SD− bapaknya belum lama pergi dan tidak ia ketahui tujuannya. Ibunya hanya bilang jika bapaknya sembunyi dari kejaran orang-orang yang katanya mempertahankan negara. Dengan dalih itulah bapaknya memutuskan pergi dari rumah. Tapi saban ibunya menceritakan hal itu, selalu saja diiringi isakan dan berakhir dengan mata sembap.

Seperti ada yang tidak beres dari cerita yang meloncat dari mulut ibunya. Tetapi hal itu baru disadari Jatmika ketika sudah masuk ke perguruan tinggi. Kedewasaanlah yang mengajarkan dan menurunkan kesadaran itu. Bapaknya telah diculik oleh orang-orang utusan pemerintah. Atau paling buruk, ia tahu nama orang-orang itu dengan sebutan Petrus. Memang, hal itu ia tahu dari beberapa mulut yang pernah mengabarkan hingga sampai di telinganya.

Jatmika membuat kesimpulannya sendiri; bahwa bapaknya hilang diculik oleh orang-orang Petrus, dan yang paling buruk adalah bapaknya mati dan jasadnya entah dikuburkan di mana. Dan tentu saja yang paling buruk, bapaknya dibuang di tengah belantara hutan dan tidak ditemukan kembali. Semua tetangganya tahu itu. Dulu, kata mereka, bapak Jatmika adalah orang yang menguasai parkir Pasar Kliwon. Ia memeroleh uang dari sana. Selain itu, bapak Jatmika juga meminta jatah pada pedagang pasar. Tak banyak memang, tetapi meminta dengan memaksa. Jika boleh dikatakan dengan sejujurnya, bapak Jatmika memalak pedagang pasar.

Tapi hal itu tidak dipedulikan Jatmika. Yang ia tahu, kini ia hanya hidup bersama ibunya. Ia hanya berpikir cara bagaimana agar dirinya dapat menyelesaikan kuliah dan dapat mengirimkan uang ke ibunya yang sudah sepuh.  Bapaknya tak pernah kembali lagi setelah pertanyaan terakhir ibunya di pasar malam. Pertanyaan tentang apakah di pasar malam menjual bintang. Kini pertanyaan itu dilemparkan pada Marina. Dengan pertanyaan yang sama. Tanpa menambah dan mengurangi.

“Apakah di pasar malam ini ada yang menjual bintang?” Jatmika mengulangi pertanyaannya pada Marina, kekasihnya kini yang berada di tempat yang jauh dari ibunya.

“Apa kau mengigau?” Marina terheran dengan pertanyaan itu.

“Kuharap ada yang menjual bintang di pasar malam,” kata Jatmika dengan sebongkah harapan, “aku ingin membelinya lantas memanjatkan harapan agar bapak kembali. Begitulah yang kurasakan ketika ibuku mengajukan pertanyaan itu padaku. Dan kini aku menginginkannya juga. Ingin bertemu bapak dan juga mengunjungi ibu.”

***

EKO SETYAWAN, lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017). Karya-karyanya tersiar di media lokal dan nasional. Surel: esetyawan450@gmail.com

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *