Cerpen

Penderitaan

October 8, 2019

Cerpen Ardy Kresna Crenata

Sekawanan hyena mengepung seekor zebra. Herbivora malang itu terpisah dari kawanannya, setelah ia berlari dan terus berlari menghindari kejaran seekor hyena yang kini dilihatnya tengah bersiap-siap menyergapnya—bersama hyena-hyena lainnya. Tak ada mukjizat, tentu. Setelah menggeram cukup lama salah satu hyena itu menyergapnya dan beberapa hyena lain melakukan hal yang sama dan zebra itu harus merelakan kehidupannya berakhir; sebuah gigitan yang kuat dan bengis di leher membuatnya mati dalam waktu singkat. Ia pun tinggal jasad, tinggal tubuh yang lekas dingin. Dengan gigi-giginya yang runcing berliur hyena-hyena itu mencabik-cabik si zebra dan memakannya seakan-akan herbivora tersebut tak pernah hidup. Dan mereka benar-benar mencabiknya, memisahkan bagian tubuh yang satu dengan bagian tubuh yang lain, tanpa lebih dulu memberikan penghormatan atau apa. Dalam beberapa jam kemudian yang tersisa dari zebra tersebut hanyalah sedikit tulang dan noda darah—yang tercecer di tanah berumput.

Saat pembunuhan dan pembantaian tersebut berlangsung, hyena-hyena itu tentu tak sedikit pun memikirkan karma, dosa, atau semacamnya. Dan mereka juga pastilah tidak merasa bersalah telah melakukan hal tersebut, bahkan menganggapnya hal biasa saja. Benar-benar hal biasa saja. Mereka lapar, dan mereka butuh makan. Dan makanan mereka adalah daging, bukan nasi, atau roti, atau rumput. Dan kebetulan zebra tersebut berada dalam jangkauan mereka,  dan begitulah mereka memilihnya—sebagai santapan mereka. Tak ada kebencian, dendam, atau semacamnya. Ini murni sebuah proses alam semata; terkorbankannya sesosok makhluk hidup untuk kelangsungan hidup makhluk(-makhluk) hidup lain. Jauh sebelum dirimu dilahirkan, leluhur-leluhur mereka telah melakukannya, dengan tingkat kebuasan yang bisa jadi sama.

___

Miyuki menyadari seseorang sedang mengikutinya. Dini hari yang sunyi. Langkah-langkah cepatnya menyisakan bunyi yang memantul-mantul di belakangnya dan menyebar ke kanan dan kirinya, menjelma teror yang membuatnya merasa terancam sehingga ia tak berani menoleh dan hanya terus menatap ke depan saja. Dengan kedua tangannya, ia memeluk dirinya sendiri erat-erat; ia memeluk dirinya erat-erat seakan-akan mantel hitam tebal selutut yang dikenakannya tak mampu lagi melindunginya dari terpaan angin. Lampu-lampu dari bangunan-bangunan yang dilewatinya menyala; sebagian terang dan sebagian redup. Miyuki merasa bibirnya kering. Ia berani membayar mahal seseorang untuk sekadar menciumnya dan memeluknya kuat dan menemaninya menuju kamar apartemennya yang masihlah berjarak belasan menit lagi.

Seseorang itu sudah mengikutinya sejak ia keluar dari kelab. Begitu Miyuki meyakini. Ia memang baru menyadarinya lima menitan kemudian, tetapi ia yakin itu pastilah disebabkan ia masih teramat memikirkan apa yang dialaminya di kelab setelah jam operasi berakhir. Si pemilik kelab, seorang perempuan berusia tiga puluh sembilan yang masih terlihat begitu muda dan memesona, menghampirinya dan membisikkan di telinganya bahwa ada sesuatu yang ingin ia bicarakan berdua saja dengannya. Saat itu, Miyuki baru saja berganti pakaian, dan sedang mematut-matut diri di depan cermin, sambil memeriksa riasan wajah.

Di cermin besar di hadapannya, Miyuki mendapati bayangan perempuan itu mengedipkan mata kepadanya, sambil menyunggingkan senyum yang seketika diartikannya sebagai ajakan untuk bercumbu. Dan benar saja, mereka memang bercumbu, berdua saja, di ruangan pribadi si pemilik kelab yang terletak jauh di sayap lain. Awalnya mereka sekadar bicara, lalu perempuan itu mulai memosisikan dirinya di belakang kursi di mana Miyuki duduk, dan tanpa ragu mengelus-eluskan telapak tangannya yang lembut ke lengan Miyuki, lalu ke pundaknya, lalu ke lehernya, lalu ke rambutnya, lalu ke wajahnya. Miyuki tahu lambat laun percumbuan ini akan terjadi. Dan ia tak menolaknya, meski ia merasa sesungguhnya ia bukanlah tipe orang seperti itu; ia masih jauh lebih memilih bercumbu dengan lelaki kendatipun si perempuan sangatlah menarik dan menyegarkan mata. Miyuki tahu, perempuan pemilik kelab itu telah menyukainya sejak lama, dan telah mengincarnya juga sejak lama, dan ia tak memendam kebencian atau perasaan buruk apa pun kepadanya.

Mereka bercumbu, dalam gairah yang semakin lama semakin tinggi, semakin seperti mendidihkan cairan dalam tubuh mereka dan membuat degup jantung mereka seakan berdentum dan berdentum. Miyuki pada akhirnya menanggalkan apa yang dikenakannya. Begitu juga perempuan itu. Tak ada lagu atau musik atau bunyi latar lain. Mereka berdua seolah-olah bersepakat untuk menikmati percumbuan tersebut dalam hening.

Setelah percumbuan tersebut berakhir, ketika Miyuki mengambil ponselnya untuk mengecek jam, ia mendapati ia sudah meluangkan waktu untuk si pemilik kelab lima puluh sembilan menit lamanya. Gara-gara itu ia terpaksa pulang sendirian. Biasanya Miyuki akan berjalan dengan dua hostess lain di kelab tersebut sampai mereka tiba di perempatan kedua atau ketiga; perempuan satu akan berbelok ke kiri dan yang satu lagi ke kanan sementara Miyuki menyeberang lurus; lurus dan terus lurus. Kali ini saat Miyuki berdiri di luar pintu masuk kelab ia dihadapkan pada kesunyian, keheningan, kesendirian. Tetapi di detik itu ia belumlah menyesalinya. Belum, sebab selama lima menitan sejak meninggalkan kelab Miyuki masih sangat memikirkan apa yang baru saja dilakukannya dengan si pemilik kelab, yang rupa-rupanya menumbuhkan sesuatu yang hangat di dalam dirinya. (Barangkali Miyuki sebenarnya tidaklah setegas yang ia kira.)

Dan sekaranglah, saat ia terus mempercepat langkah-langkahnya, rasa sesal itu datang, menyergapnya, menghimpitnya, membebaninya, membuatnya merasa ia begitu cepat lelah dan kehabisan napas padahal biasanya ia selalu baik-baik saja saat tiba di depan pintu kamar apartemennya. Miyuki berharap ini hanya perasaannya saja, tetapi seseorang yang mengikutinya itu seperti semakin dekat; seperti jarak antara seseorang itu dan dirinya terus memendek dan memendek. Miyuki bisa mendengar langkah-langkah cepat seseorang itu berseteru dengan langkah-langkahnya sendiri. Masih lebih dari sepuluh menit lagi. Kini Miyuki mencengkeram kedua lengannya, seolah-olah ia ingin sekuat tenaga mencabiknya.

___

Di detik zebra itu menyadari ia akan menjadi santapan para hyena, apa yang mungkin terbit di benaknya? Apakah ia teringat kawanannya, dan ia kecewa pada mereka karena tak satu pun dari zebra-zebra tersebut tergerak untuk menolongnya, atau setidaknya sekadar mengkhawatirkannya? Ataukah ia justru tengah mengingat-ingat rupa tiap-tiap hyena yang akan mencabik tubuhnya dan melenyapkannya, membuat keberadaannya di kehidupan yang dijalaninya itu terasa fiktif, sambil di dalam hati berjanji akan menghantui hyena-hyena itu di sisa hidup mereka? Ataukah justru, ia sedang memikirkan apa itu kematian dan apa sesungguhnya itu kehidupan, dan apa makna dari menyerahkan kehidupannya demi kelanjutan hidup hyena-hyena tersebut? Ataukah ternyata, ia sama sekali tak memikirkan apa-apa?

___

Seseorang itu akhirnya menyergapnya sebelum sempat ia berbelok di perempatan terakhir. Miyuki sebenarnya sudah mencoba berlari, tetapi lari seseorang itu jauh lebih cepat dan ia sendiri sialnya terhambat oleh sepatu boot berhak tinggi yang dikenakannya. Tak butuh waktu lama bagi seseorang itu untuk menyudahi perlawanan Miyuki; ia menekankan ke hidung Miyuki lipatan sapu tangan yang dibasahi cairan tertentu berbau kuat. Miyuki berusaha mengumpulkan informasi tentang seseorang itu di detik-detik sebelum kesadarannya hilang, dan tiga hal inilah yang ia dapatkan: (1) kaus dan mantel hitam; (2) sepasang sarung tangan yang juga hitam; (3) wajah yang tampan dan barisan gigi yang bersih-rapi.

Ketika kesadarannya kembali, Miyuki mendapati ia berada di sebuah ruangan yang tak ia kenali. Sebuah kamar. Mungkin di sebuah apartemen tak jauh dari perempatan tadi. (Bisa jadi tak jauh juga dari apartemennya!) Miyuki menelentang, di sebuah ranjang. Kedua tangan dan kakinya terikat oleh tali kuat-tebal ke ujung-ujung penyangga ranjang, menjadikan ia jika dilihat dari atas serupa huruf X besar dengan satu tonjolan kecil di atas—kepalanya. Miyuki merasa ruangan itu begitu dingin dan ia lekas memahaminya saat ia mengangkat kepala, mencoba melihat perut dan mungkin kakinya. Di ranjang itu ia dalam keadaan telanjang. Telanjang setelang-telanjangnya.

___

Seandainya zebra itu tak berlari saat seekor hyena menghambur ke arahnya, ia mungkin tidak akan terjebak dalam posisi tadi—berada dalam kepungan sekawanan hyena. Bisa jadi, zebra-zebra lain pun masih akan ada di sekitarnya, menghindarkan ia dari merasa sendirian, dan tak berdaya. Tetapi kalaupun itu terjadi, ia agaknya tetap akan mati. Seekor hyena itu sudah berniat membunuhnya saat memutuskan untuk berlari ke arahnya, dan ia diperlengkapi dengan taring dan cakar dan hal-hal lain yang memungkinkannya melumpuhkan zebra tersebut dalam waktu singkat. Si zebra bisa saja mengeluarkan suara-suara dengan maksud meminta hyena tersebut membatalkan niatnya, tapi sudah pasti itu sia-sia. Sia-sia belaka. Kita harus ingat bahwa “bahasa” zebra bisa jadi tidaklah sama dengan “bahasa” hyena. Dan lebih dari itu, keinginan si hyena untuk beroleh makan malam tak akan teratasi hanya oleh permohonan naif semacam itu.

Jadi kau pun membayangkannya seperti ini: zebra itu mati, dan hyena itu mulai mencabik-cabiknya, mengoyak-ngoyak perutnya yang gemuk dan penuh daging. Zebra-zebra lain mungkin berada tak jauh dari sana, tetapi mereka sama sekali tak melakukan apa-apa; paling-paling mereka hanya mengamati dan dalam hati berbelasungkawa dan bersyukur bukan mereka si zebra yang bernasib malang itu. Hyena-hyena lain? Sangat mungkin mereka berdatangan; mereka mencium kematian si zebra dan mereka tak rela daging empuk si zebra habis tanpa mereka beroleh bagian sedikit pun. Pada akhirnya, mendapati sekawanan hyena itu dengan bengis melenyapkan keberadaan si zebra, zebra-zebra lain mungkin pergi juga, menjauh, mencoba menjaga diri mereka tetap aman setidaknya satu-dua hari lagi. Dengan demikian si zebra yang mati itu kembali sendirian. Ia sendirian dan ia mati dan ia lekas tiada—hampir-hampir tak berbekas. Semuanya sama saja. Herbivora malang itu harus mati karena ia tak diperlengkapi hal-hal yang membuatnya bisa bertahan hidup dalam situasi seperti itu. Si hyena, di sisi lain, bisa mengatasi rasa laparnya—dan karenanya ia bertahan hidup lebih lama—karena ia diperlengkapi dengan hal-hal yang membuatnya bisa melakukannya.

___

Seseorang yang tadi menyergapnya itu muncul. Ia telah telanjang; kini Miyuki bisa melihat wajah lelaki itu yang tampan dan barisan giginya yang bersih-rapi. Miyuki tak tahu siapa lelaki itu, juga tak tahu mengapa lelaki itu menyergapnya dan membawanya ke kamar ini (dan mengikatnya dalam posisi hina ini), tetapi ia tahu apa yang akan segera dialaminya, apa yang tak lama lagi akan dilakukan si lelaki terhadapnya. Si lelaki akan menusuk-nusukkan alat kelaminnya yang mengeras ke lubang kemaluannya. Itu pasti. Miyuki mulai membayangkan seberapa sakitnya hal itu. Atau mungkin, lebih tepatnya, seberapa menghinakannya hal itu. Memang ia pernah beberapa kali bersanggama dan belum satu jam yang lalu ia membiarkan jari-jari si pemilik kelab bermain-main di lubang kemaluannya, tapi ia belum pernah diperkosa, dan itu tentu berbeda.

Miyuki tak mengenal lelaki itu. Mulanya ia sempat menduga lelaki itu adalah salah satu pelanggannya yang menaruh dendam padanya namun berapa kali pun ia mencoba mengingat-ingat wajah lelaki itu tetaplah asing. Asing dan benar-benar asing. Maka itu berarti: kau akan disetubuhi oleh seseorang yang sama sekali tak kau kenal, pikirnya. Ia akan menyakitimu, menyakitimu dan menyakitimu, dan kau tak punya sedikit pun peluang untuk menghindar, sambungnya. Dan lebih menyedihkan dari itu, lanjutnya, kau bahkan tak bisa mencoba bunuh diri untuk menyelamatkan dirimu dari penghinaan tak tertanggungkan itu.

Miyuki bisa berteriak, sebenarnya. Lelaki itu entah kenapa tak menutupi mulutnya dengan plester atau yang lainnya. Ia juga tidak dalam pengaruh obat tertentu yang membuatnya kehilangan suaranya. Miyuki bisa berteriak, mengaum, bahkan melolong jika ia mau. Tetapi ia tak melakukannya. Ia tahu lelaki itu tidak bodoh. Ia tahu lelaki itu telah memperhitungkan kemungkinan dirinya berteriak, dan itu berarti satu hal: percuma saja mencobanya.

Lelaki itu menghampirinya, berdiri tepat di samping kirinya. Miyuki kembali bisa melihat wajah lelaki itu yang tampan dan barisan giginya yang bersih-rapi. Di tangan kanannya rupanya tergenggam pisau. Sejenis pisau yang bisa kaugunakan untuk membersihkan perut ikan mati yang akan kau masak dan kau makan. Miyuki tahu betul lelaki itu akan menggunakan pisau tersebut untuk melukainya; menorehkan di tubuhnya beberapa luka yang akan selalu mengingatkannya pada kekejian ini. Miyuki membayangkan pisau tersebut justru tergenggam di tangannya, dan tangannya itu tidak terikat dan bebas bergerak, dan ia menikamkan pisau tersebut kuat-kuat ke dadanya—agak ke kiri, tepat di mana jantung-hidupnya bersemayam.

___

Baiklah kita bayangkan zebra itu masih hidup. Ia belum dikepung sekawanan hyena tadi, bahkan belum bertatapan muka dengan si hyena yang mengejarnya. Yang dilakukannya adalah mengunyah rumput adalah buang air kecil adalah tidur adalah berjalan adalah minum adalah mencoba kawin adalah berak. Ia tak melakukan keburukan apa pun. Ia tak melakukan sesuatu yang tak semestinya dilakukan seekor zebra. Ia bergerak bersama kawanan. Ia tumbuh menjadi sebentuk herbivora dengan wujud yang serupa dengan para anggota kawanan. Ia hewan baik. Ia nyaris tak menyakiti hewan-hewan lain. (Nyaris, sebab beberapa kali ia mungkin pernah menginjak serangga-serangga tanpa sengaja dan ia tak menyadarinya.) Ia menghabiskan bertahun-tahun hidupnya tanpa melakukan kebengisan apa pun, tanpa terlibat dalam kekejian apa pun. Dan begitulah ia mati, seperti yang kausaksikan di layar televisi tadi. Ia mati dan ia dicabik-cabik dan keberadaannya hampir-hampir tak berbekas. Kau merasa kasihan kepadanya. Kau berbelasungkawa, dan kau mendoakan hal-hal baik untuknya, di kehidupannya yang selanjutnya. Seekor zebra adalah seekor zebra semasa ia hidup, dan seekor hyena adalah seekor hyena semasa ia hidup. Kau mengulang-ulang kalimat ini dalam benakmu, dan terus mengulang-ulangnya, dan terus mengulang-ulangnya. Dan tiba-tiba kau merasa, kau bisa membuat sebuah cerita dari apa yang kausaksikan itu.

___

Seseorang itu sudah mulai memasukinya dengan kasar dan Miyuki baik-baik saja dan baik-baik saja. Itu bohong, tentu. Jelas-jelas Miyuki kesakitan, meski ia entah kenapa menahan diri untuk tak berteriak; ia hanya sedikit mengerang dan mendesah nyaris seperti apa yang dilakukannya tadi bersama si pemilik kelab. Ia memejamkan mata, dan sebisa mungkin berusaha membuat bibirnya tertutup. Ia telah mencoba melepaskan diri dengan menarik dan mengibas-ngibaskan kedua tangan dan kakinya, namun terbukti itu sia-sia. Ia merasa kotor; kotor dan sangat kotor. Dan ia mulai membenci dirinya sendiri, seseorang itu, juga apa yang tengah (dan entah sampai kapan) dialaminya ini.

Pada akhirnya Miyuki mencoba pasrah saja dan menganggap rasa sakit yang menyerangnya itu fiktif belaka—begitu juga rasa sakit dari sejumlah luka toreh di perut dan lengan dan pahanya. Ia akan membiarkan seseorang itu melakukan apa yang ingin dilakukannya, sampai ia puas, sampai ia bosan, sampai ia jenuh, sampai ia muak. Miyuki terus memejamkan mata, dan ia mulai membayangkan dirinya berada di kamar apartemennya sendiri, dan waktu dengan cepat mundur ke bulan-bulan lalu, dan berhenti di sebuah malam di mana ia pernah hampir mengakhiri hidupnya sendiri. Tali gantungan sudah siap. Televisi menyala tanpa suara dan surat berisi kata-kata terakhir telah selesai ia buat. Kepada siapa surat itu ia tujukan? Kepada kekasihnya. Lebih tepatnya, mantan kekasihnya. Lelaki itu memutuskan hubungan mereka tepat di hari jadi mereka yang kelima; memutuskan hubungan tersebut dengan sebuah meeru berisi permintaan maaf dan penyesalan betapa selama setahun terakhir ia tak pernah bisa benar-benar mencintainya lagi, sebab ia menyadari ia telah jatuh cinta kepada seseorang yang lain—seorang lelaki. Di hari jadi mereka yang kelima itu, Miyuki ingat, ia mencoba menelepon si lelaki sebelas kali namun tak juga si lelaki mengangkatnya. Tak juga, atau lebih tepatnya, tak bisa. Lelaki itu menggantung diri beberapa lama setelah ia mengirim meeru perpisahan tadi. Miyuki tak pernah menyangka, seseorang yang ia yakini akan selalu bersamanya justru meninggalkannya dengan cara seperti itu.

Sementara rasa sakit dari tusukan seseorang itu terus menyerangnya, Miyuki masih berusaha mempertahankan gambaran tentang malam di mana ia hampir bunuh diri itu. Sial sekali aku. Sial sekali aku batal melakukannya, pikirnya. Tadi ia memang berniat pasrah saja dan berharap setelah semua kebrengsekan ini selesai ia akan berpura-pura melupakannya dan mencoba melanjutkan hidupnya seperti biasa, menjalani hari-harinya seperti biasa. Tapi kini ia ragu; ia ragu ia akan bisa melakukannya, bahkan satu detik saja. Lagipula tak ada jaminan semua kekejian ini akan berlalu. Begitu ia kemudian berpikir. Seseorang itu bisa saja belum akan puas dan itu artinya ia masih harus menghadapi perasaan terhina ini lagi dan lagi. Atau, seseorang itu bisa saja menyakitinya lebih jauh dan ia akan semakin tak sanggup lagi menanggungnya. Bisa juga, seseorang itu membunuhnya, segera.

Miyuki akan memilih yang ketiga. Setidaknya itu akan menghindarkannya dari menderita lebih lama. Tetapi apakah ia dalam situasi bisa memilih? Ia kira tidak. Ia sekarang mulai bertanya-tanya kenapa ia mengalami hal ini, seolah-olah lebih dari dua puluh lima tahun hidup yang dijalaninya begitu penuh dengan perbuatan buruk yang dilakukan olehnya. Ia yakin sekali, selama ini ia hanya melakukan apa yang sewajarnya dilakukannya. Kalaupun benar ia melakukan sesuatu yang buruk, menurutnya itu pastilah tanpa kesengajaan dan bukan sesuatu yang teramat besar, sehingga seberapa pantas ia mengalami kebusukan ini menjadi sebuah pertanyaan tersendiri baginya.

Tetapi percuma. Miyuki tahu betul memikirkan hal tersebut saat ini percuma. Seseorang itu akan terus menusuknya dan menusuknya. Seseorang itu akan terus menyakitinya dan menyakitinya. Dan ia akan di sana, memejamkan mata, menahan bibirnya yang kering itu tertutup. Dan ia akan di sana, merasa dirinya begitu hina, dan tak berdaya.***

—Cianjur, 11-12 April 2017


Ardy Kresna Crenata menulis esai, puisi, cerpen, dan novela. Buku termutakhirnya adalah sebuah kumpulan cerpen: Sesuatu yang Hilang dan Kita Tahu Itu Apa (Beruang, 2019). Novelanya, yang dari segi bentuk cukup problematis, akan terbit dalam waktu dekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *