Buku Resensi

Pengarang Dodit: Alusi dan Obsesi, Biografis dan Spekulatif

May 7, 2019

Resensi oleh: Galeh Pramudianto

Ketika berbicara pelancong waktu dalam tatanan fiksi, ketika itu pula perulangan telah kali dilakukan. Begitu pula ketika kita berbicara kumpulan cerita pendek. Banyak pola dan konsep yang jatuh pada perulangan. Beberapa di antaranya mengambil karya-karya yang telah terbit duluan di media cetak, kemudian dianggit kembali dalam suatu buku. Tentu tidak ada yang salah dengan itu. Setidaknya bagi saya sendiri ketika membaca sebuah karya, ada hal yang kiranya bisa didapat, misal: (1) gagasan apa yang dituangkan atau tidak ada gagasan sama sekali untuk dituangkan (keduanya sama baiknya), (2) warna atau premis apa yang diangkat atau setiap cerita tidak memiliki warna yang sama (yang pertama memudahkan pembaca untuk mengklasifikasikan tema tertentu), (3) bagaimana teknik dan gaya dimainkan (narasi besar atau tema remeh temeh sekalipun akan menarik bila memperhitungkan ini).

Ketika seseorang secara sadar memutuskan untuk menulis, maka ia telah tahu masalah dan bobot kehadiran apa yang akan diangkat. Pengarang Dodit, kumpulan cerpen perdana milik Doni Ahmadi berjalan pada lintasan yang tepat. Ia tahu buku ini berjalan di lintasan mana, masalahnya apa dan bobot kehadiran yang bagaimana. Membaca Pengarang Dodit memaksa saya mengingat perjalanan setiap orang untuk menjadi kerani atau juru tulis atau penulis.

Perjalanan seorang yang biasa bercerita dengan lisannya akan jauh berbeda dengan perjalanan seorang yang biasa bercerita dengan ragam bahasa tulis. Seorang penulis kiranya bisa mengalami berbagai hal: kesepian, gangguan internal maupun eksternal, dan kompleksitas pikiran. Menulis selalu tidak mudah, bagi yang percaya menulis itu gampang maka daya jelajah dan tujuan menulisnya tidak seluas obsesinya. Berbicara obsesi maka berbicara hakikat hidup itu sendiri. Tentang perasaan-perasaan yang merasuki pikiran dan pertanyaan yang berkelindan. Hal itulah yang diamini Doni Ahmadi pada halaman awal buku ini. Ia menganggit pernyataan Budi Darma soal obsesi pengarang.

Berbicara obsesi, saya coba menerka obsesi Doni lewat teks-teks di Pengarang Dodit ini.

Cerita-cerita di dalam Pengarang Dodit tidak semuanya berlandaskan struktur dramatik Aristotelian: pembukaan, pengenalan, klimaks, antiklimaks, leraian, dan penutup yang menjadi template penulisan cerpen umumnya. Doni hendak menyuarakan bahwa cerita tidak semata tentang isi atau apa hal yang disampaikan, tetapi juga tentang bagaimana cara menyampaikannya.

Saya kira di rimba kesusastraan Indonesia yang tidak terlalu luas ini, setiap penulis hendak menyuarakan keresahan-kepentingannya. Ada yang menulis tentang kampung halamannya dengan semangat pariwisata, ada yang menulis tentang adat istiadat yang lekat dengan kehidupannya, ada yang menulis tentang negeri-negeri yang jauh dengan semangat turisme warga dunia ketiga, ada yang menulis tentang dirinya sendiri dengan semangat megalomania, ada yang menulis tentang nabi-nabi baru di setiap komunitas kebudayaan, ada yang menulis cinta dengan lika-liku perbudakannya, ada yang menulis angkasa luar dengan semangat pseudosains, ada yang menulis tentang isu-isu politik yang seksi, dan ada yang menulis tentang penulis itu sendiri dengan segala riwayatnya.

Fiksi Biografis dan Spekulatif

Doni saya pikir berada di pilihan terakhir dengan ragam upayanya. Ia secara terbuka memainkan makna tekstual dengan makna referensial. Ada keterkaitan antara semesta fiksi di dalamnya dengan realitas kesusastraan Indonesia itu sendiri. Saya membacanya sebagai gelagat untuk mempertanyakan, atau mengolok-olok (parodi) para gerombolan penulis dan hubungannya dengan sejarah serta kritik sastra. Doni dengan terbuka menjahit pengaruh yang ada pada karya-karya penulis Indonesia maupun dunia. Coba simak cerita yang panjang Dari Obituari Pengarang Dodit sampai Malam Celaka. Cerita itu adalahsebentuk alusi dengan obsesi yang imajinatif. Bahwa orang yang dekat dan bermanfaat dengan penulis bukanlah yang hanya memiliki nama besar, namun lebih kepada biografi-kisah di sebuah antara. Cerita berawal dari seorang penulis (Mustofa Sentot) yang mendapatkan banyak ilmu dan inspirasi dari penulis lainnya (Dodit).

Mustofa merasa kehilangan dan amat terpukul ketika penulis yang menginspirasinya dalam menulis, meninggal dunia. Konflik terjadi ketika seorang penulis lain (T.B. Simatupang) meninggal di hari yang sama. Cerita bergulir dengan ragam teknik dan gaya: pewaktuan retrospeksi dan cerita berbingkai. Kalau kita tidak membaca secara cermat dan hati-hati maka kita akan mudah tergelincir. Karena selain teknik dan gaya yang dimainkan, Doni juga memainkan tokoh-tokoh cerita di dalamnya dengan alusi. Dengan peristiwa-peristiwa yang lekat dengan rimba kesusastraan kita.

Ia adalah sastrawan avant-garde yang masyhur dan selalu menjadi pusat pembicaraan khalayak sastra. Hal itu ia dapatkan berkat sumbangsih beberapa karya besar yang beliau kerjakan, di antaranya adalah Merahnya Biru (2000) yang menyabet penghargaan nasional Bujur Sangkar Award. Lalu Jia-Ilah (2005) yang meraih penghargaan karya sastra terbaik Asia Tenggara. King Kooong (2011) yang menyabet dua penghargaan sekaligus (karya terbaik versi majalah Tempe dan pemenang Teen Booker Prize). Lalu Kerang (2017) yang meraih penghargaan sastra dari Pusat Bahasa serta masuk dalam 5 besar Teen Booker Prize. Lalu ada lagi kumpulan cerita pendek Tegak Ngaceng Dengan Langit (2015) dan Kumpulan puisi Malam Jubaidah (2013) yang masing-masing meraih sukses dengan terjualnya kedua buku tersebut sampai lima puluh ribu eksemplar. (hlm. 77)

Bagaimana? Saya kira itu familier bila kita mempertimbangkan dan mengais ingatan kita saat membacanya: Iwan Simatupang. Atau merasa hal yang imajiner sepenuhnya lahir dari gelas osong? Saya kira tidak. Coba intip siapa itu Johan Kartawijaya dan permainan alusinya. Ia berkorelasi dengan lagu Surabaya Johnny karangan Bertolt Brecht dan bagian dari drama musikal berjudul Happy End. Merasa terganggu ketika diberi tahu? Saya kira cerita yang baik bila diberi beberan (spoiler), tetap akan sesuai jalurnya dan kenikmatan akan membaca tidak akan berkurang. Kemudian ia menempelkan hal-hal yang ia suka untuk dielaborasi menjadi parodi yang bisa mengganggu atau justru memikat (tergantung horizon pembacaan).

M. Sentot Wijayanto (1987) merupakan penulis novel dan cerita pendek. Karya-karyanya yang telah terbit, novel: Sembilan Kunangkunang di Perempatan (2009), Catatan Panjang Pembunuh Arturo Belaño (2010), Raden Janggut di Rumah Jaga Lima (2011) dan Petualangan Olenka dan Alit di Trafalmadore (2018). Cerpen: Upaya Jonru Menjadi Anjing yang Masuk Surga (2012), Tujuh Tahun dalam Kendali Partai Setan (2014) dan Cerita Buruk yang Membuatmu Ingin Bunuh Diri (2015). Serta satu kumpulan esai: Mendengar Novel dan Membaca Audiobook (2017). (hlm. 105)

Kisah semacam fiksi biografis-parodi ini bukanlah hal yang baru di kolong langit dan di atas tanah. Bila sekadar menyebut: kisah-kisah seribu satu malam telah banyak diambil bentuknya untuk kepentingan cerita lainnya.  Borges dengan A Universal History of Infamy, Bolano dengan penulis sayap kanan di Amerika Latin lewat Nazi Literature in the Americas, dan Bartleby & Co. milik Vila-Matas. Genealogi semacam ini menunjukan betapa pentingnya horizon pembacaan akan sejarah sastra maupun otokritik itu sendiri.

Bentuk fiksi biografis lainnya terdapat di Cerita Dodit dan Rahasia Penulis Joni, Sebastian Bejo yang Fenomenal dan Soal Nasib. Di Cerita Dodit, Doni memilih jalur yang saya katakan sebelumnya: menulis tentang kepengrajinan (craftmanship) penulis itu sendiri. Bahwa penulis pada dasarnya memiliki peluang untuk menuangkan gagasannya dalam kesempatan apa pun. Mitos writer’s block saya pikir tidak ada. Ia hanya bentuk kemalasan homo sapiens yang identik dengan bentuk lainnya: homo ludens dan fabulans. Pada dasarnya setiap manusia bisa bercerita dan memanfaatkan setiap peluang yang ada setelahnya:

Oh iya, hal gila yang saya maksud itu adalah mengambil karya-karya dari pemenang Nobel Sastra masa depan untuk saya plagiasi. Tapi akhirnya saya memutuskan hanya mengambil tiga novel saja dari seorang pengarang bernama Billy Pilgrim, tepatnya pemenang Nobel sastra di tahun 2089. Untungnya format buku digital ini dapat saya ubah ke format lama agar dapat dibuka lewat komputer saya, memang teknologi masa depan itu betulan canggih! (hlm. 20)

Membuat tokoh fiktif dalam semesta fiktif bukanlah hal baru dan membuatnya hidup serta berguna dalam kerangka cerita itulah tugas penulis. Doni dalam hal ini tidak melanggar Chekhov’s Gun: apa yang ada di cerita semuanya berfungsi. Seperti di cerita Sebastian Bejo yang Fenomenal. Membaca kisah ini seperti hendak menonton Memento karya Nolan bersaudara. Bahwa ingatan yang buruk adalah titik pijak sebuah cerita bisa banyak berkelok. Dalam hal itu kita bisa memahami bahwa sebaik apapun dalam menulis, kalau akhirnya bermasalah dengan ingatan, maka nasibnya tak baik-baik amat. Seperti cerita Soal Nasib itu sendiri: ia mengisahkan pesepakbola, kalau boleh saya menebak maka itu adalah alusi dari David Beckham.

Setelah bermain di ranah fiksi biografis, Doni pun kembali bermain dengan persoalan waktu dan hal-hal spekulatif lainnya. Pada kisah Tentang Ucup Karbol yang Kelak Diperdebatkan, misal.Cerpen dibuka dengan maklumat kematian tokoh utama, yang dituturkan oleh sobat karibnya. Setelahnya kisah bergerak lewat dimensi pewaktuan retrospeksi. Secara kronologis cerita berjalan lewat pengakuan tokoh aku bersama Ucup Karbol menjalani hari-hari yang biasa saja atau sama sekali tidak biasa-biasa saja. Atau elaborasi keduanya. 23 Mei 2020, menjadi mula dari konflik. Cerita bergerak setelah Ibunda Ucup Karbol mengalami peristiwa yang kurang mengenakan. Setelahnya bisa diterka sendiri. 

Hal terpenting dari kisah fiksi ilmiah sebenarnya adalah tentang perabotan atau piranti apa yang digunakan. Karena medium cerita adalah meyakinkan banyak pihak dan persepsinya harus sama dengan batok kepala lainnya. Di kisah ini, bagaimana menemukannya dan fungsinya untuk apa? Lewat medium surat, akhirnya itu terjawab. Jelas tidak dipaparkan secara detil. Karena ruang untuk itu barangkali bisa dieksplorasi di novel atau lakon dan bentuk lainnya yang lewah dan memungkinkan.

Sebentuk alusi lainnya termaktub pada penamaan tempat yang familier: Rumah sakit Kepala Gadung, Kecamatan Bodong Gede dan Bodong Kecil. Elemen itu terbangun dengan terjaga dan tidak mubazir.  Entah kenapa saya membayangkan suatu saat nanti Ucup Karbol bisa berkolaborasi dengan Marty McFly, untuk menciptakan mesin waktu yang lebih spesifik dan berbentuk, misalnya, DeLorean DMC-12 di trilogi Back to The Future.

Persoalan waktu, gempa waktu, dan dejavu selalu bermain di pewaktuan yang tidak linear. Alih-alih manut pada biografi tubuh yang menghamba pada waktu, Doni menentangnya dan bermain-main di wilayah itu. Anto Lakban dan Beberapa Peristiwa di Sekitar Teh Hangatadalah manifestasi dari Hukum Murphy: ketika Anda merasa sial, maka kesialan itu keniscayaan. Bagi saya setiap orang punya mesin waktu versi mereka sendiri: ada yang bermimpi, ada yang mendengarkan lagu lama, ada yang membaca ulang lembar tertentu dalam jurnal, dan ada yang merasakan ketika membaca spektakel dan adegan-adegan di dalam cerita ini. Konsep manusia soal waktu dan masa depan memang menarik untuk diikuti.

Doni dalam kumpulan ini seperti memiliki agenda tertentu, misal dalam kisah distopia Sebelum Adam dan Eva Memulai Peradaban. Teori penciptaan ia kemas dengan subtil lewat rangkaian peristiwa. Peristiwa-peristiwa di dalamnya tak hendak mengatakan “akulah yang paling benar dan jawaban atas segala keresahan di muka Bumi.” Apa yang kita anggap baik, belum tentu dengan lainnya. Kebenaran tunggal tidak berlaku di zaman tsunami data seperti ini. Meski begitu, cerita-cerita di kumpulan ini tidak hanya bermain di wilayah alusi dan spekulatif. Ia bisa berupa realisme magis di Tentang Ki Mantep, Dodit dan Telur Bebek, bernuansa detektif-thriller di Misteri Jim dan Pembunuhannya, dan bernada liris-sentimentil di Bagaimana Lelaki Pemalu menjadi Filsuf dan Mati dan Trilogi Luca.

Selain cerpen-cerpen di atas, ada juga bentuk cerita mini (flash fiction), seperti Tanda Pagar, Seorang dari Masa Lalu di Sebuah Bus Kota, Takdir Buruk, dan Wawancara. Untuk bagian ini seperti ada kesan “dimasukan agar menambah bobot kehadiran”, terlepas dari itu, Pengarang Dodit mampu mengejawantahkan cerita yang tak melulu pada pakem Aristotelian. Saya pikir sepertinya itu perlu.

Bintaro, April 2019

Galeh Pramudianto, lahir di Tangerang Selatan, Banten, 20 Juni 1993. Bekerja sebagai tenaga pendidik dan salah satu pendiri media Penakota.id. Buku puisi keduanya berjudul Asteroid dari Namamu (basabasi, 2019).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *