Buku Resensi

Pengenalan dan Penambahan

August 20, 2019

Oleh Bandung Mawardi

Pekerjaan serius dan besar dibuktikan Anton Kurnia berupa Ensiklopedia Sastra Dunia. Buku berukuran besar dan tebal pantas mendapat pujian. Ikhtiar semakin mengenalkan sastra dunia ke pembaca di Indonesia. Buku itu biru, memberi ajakan berkelana dengan penasaran dan ketakjuban mengenali para pengarang tenar dari pelbagai negara, dari masa ke masa. Ensiklopedia cenderung ke tokoh meski agak memberi uraian mengenai buku dan pemerolehan penghargaan. Keinginan mengenali pengarang tak lekas bermula di sampul buku. Di situ, pembaca tak usah berharap melihat foto para pengarang. Gambar di sampul anggaplah penghiburan, sebelum pembaca terjerat di renungan atau terpana tak berkesudahan.

Buku dipersembahkan ke pembaca di Indonesia yang bernafsu membaca ratusan buku sastra dari pelbagai negara dan memiliki daftar pengarang pujaan. Di Ensiklopedia Sastra Dunia, kita masih mendapat lega bahwa ada nama-nama pengarang asal Indonesia “diakui” termasuk pengarang bertaraf internasional: Pramoedya Ananta Toer dan Eka Kurniawan. Jumlah memang sedikit ketimbang para pengarang asal Jepang, Tiongkok, Amerika Latin, Rusia, Prancis, Jerman, Inggris, Spanyol, Arab, India, Afrika, dan Amerika Serikat. Buku susunan Anton Kurnia itu memang pantas meresmikan dua pengarang Indonesia di tatapan sastra dunia, tak cuma lingkup nasional.

Sekian nama pengarang besar sudah dikenalkan melalui terjemahan-terjemahan, sejak awal abad XX. Dulu, para pengarang di masa 1920-an sudah getol menerjemahkan sastra dunia ke bahasa Indonesia. Pada masa 1950-an, kerja penerjemahan itu semakin menguat untuk menjadikan sastra dunia terbaca atau tebar pengaruh di Indonesia. Pesta sastra terjemahan terasa di masa 1970-an. Buku-buku persembahan para pengarang meraih Nobel Sastra dan Pulitzer Prize berlimpahan dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia. Sekian babak menentukan pengenalan pengarang dan buku sastra bertaraf internasional itu tercatat rapi dan dokumentatif dalam buku berjudul Dari Khasanah Sastra Dunia (1985) susunan Jakob Sumardjo. Buku sudah langka, tak ada di daftar pustaka dalam Ensiklopedia Sastra Dunia. Anton Kurnia mungkin pernah membaca tapi sengaja tak memilih jadi referensi.

Pada 1991, pembaca atau peminat sastra Prancis dimanjakan dengan penerbitan Kamus Karya Sastra Perancis susunan M Bouty. Kamus bermutu memuat ulasan buku-buku sastra Prancis dan cuilan-cuilan biografi. Kamus dibaca dengan pengenalan ke buku-buku tercatat penting di sejarah kesusastraan Prancis atau dunia. Buku itu pernah digunakan dalam pengajaran sastra di sekolah dan penuntun bagi penerjemah. Buku juga berwarna biru tapi tak dipilih Anton Kurnia sebagai referensi.  

Kita menemukan para pengarang Prancis mendapat perhatian besar di Ensiklopedia Sastra Dunia. Pembaca berkenalan dengan Albert Camus, Alexander Dumas, Anatole France, Andre Breton, Andre Gide, Andre Malraux, Antoine de Sain-Exupery, Arthur Rimbaud, Emile Zola, Francois Mauriac, Guillaume Apollinaire, Guy de Maupassant, Honore dan Balzac, dan lain-lain. Anton Kurnia memiliki cara kerja dan selera berbeda untuk mengenalkan para pengarang dunia ke pembaca di Indonesia. Ia menjelaskan: “Sebagai sebuah ensiklopedia sederhana dan pengantar menjelajah khazanah sastra dunia, buku ini memuat ikhtisar sejarah sastra dunia sejak ribuan tahun lampau, profil 335 sastrawan terkemuka dari pelbagai penjuru dunia dan zaman.” Bahan-bahan diperoleh dari buku, majalah, koran, situs internet, ensiklopedia digital, dan catatan pribadi.

Pembeli dan pembaca Ensiklopedia Sastra Dunia dijanjikan mendapat pengantar bermutu. Di halaman 38, kita melihat foto dan membaca profil Andre Gide (1869-1951), pengarang asal Prancis. Ia meraih Nobel Sastra 1947. Pembaca di Indonesia sudah bisa membaca gubahan Andre Gide melalui terjemahan Chairil Anwar berjudul Pulanglah Si Anak Hilang (1948). Dulu, sastra dunia lekas terbaca dan memikat para pengarang di Indonesia tak perlu menunggu lama di edisi terjemahan bahasa Indonesia. Novel pertama Andre Gide berjudul La Orte etroite (1909). Novel apik dan sudah difilmkan berjudul La symphonie pastorale (1919). Kita beruntung meski terlambat mendapat edisi terjemahan bahasa Indonesia oleh Apsanto Djokosujatno, dijuduli Simfoni Pastoral (1987) terbitan Djambatan.

Kita pun disuguhi profil peraih Nobel Sastra 2017 bernama Kazuo Ishiguro. Nama sudah dikenali para pembaca di Indonesia meski tak setenar Haruki Murakami. Novel-novel gubahan Kazuo Ishiguro sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia tapi tak selaris terjemahan novel-novel Haruki Murakami. Dua pengarang itu bersaing meraih Nobel Sastra, berbeda resepsi umat pembaca di Indonesia. Anton Kurnia menginformasikan ke pembaca: Kazuo Ishiguro dilahirkan di Nagasaki, 1954. Ia hijrah ke Inggris, tekun menulis cerpen dan novel. Sekian novel telah terbit dan mendapat penghargaan: A Pale View of Hills (1982), An Artist of the Floating World (1986), The Remains of the Day (1989), Unconcoled (1995), dan When We Were Orphans (2000).

Pengarang sudah meraih Booker Prize, Nobel Sastra, dan Pulitzer Pirze memang belum menjamin mendapat pembaca fanatik di Indonesia. Pada masa lalu, ada nama-nama besar meraih Nobel Sastra dan Pulitzer Prize tapi jarang diperbincangkan di kalangan sastra Indonesia. Buku mereka sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Nasib mereka belum untung. “Sial” berlanjut gara-gara tak dikenalkan Anton Kurnia meski cuma uraian singkat.   

Pada 1972, terbit buku berjudul Barabas gubahan Par Lagerkvist, peraih Nobel Sastra 1951. Novel mula-mula terbit di Swedia (1950) itu “dituturkan kembali dalam bahasa Indonesia” oleh B Simorangkir. Pembaca buku berpenampilan sederhana terbitan BPK Gunung Mulia beruntung mendapat secuil biografi pengarang. Par Lagerkvist lahir di Swedia, 1819. Selama hidup, ia pernah tinggal di Denmark, Prancis, dan Italia. Pada 1930, ia menetap di Stockholm, Swedia. Barabas telah diterbitkan di Indonesia tapi tak menjadi sumber perbincangan dan memicu kekaguman. Buku itu berlalu.

Para pembaca sastra dunia pernah pula disuguhi buku berjudul Desa Kita. Buku drama tiga babak gubahan Thorton Wilder itu diterjemahkan oleh Bakdi Soemanto, diterbitkan Sinar Harapan, 1992. Penerjemah memberi keterangan mengenai penulis dan buku. Desa Kita itu terjemahan dari Our Town (1938). Buku menjadi pemenang Hadiah Pulitzer. Pengarang asal Amerika Serikat itu semula menulis novel berjudul The Bridge of San Luis Rey (1928), mendapat pula Hadiah Pulitzer. Buku berjudul Desa Kita sulit laris dan belum menjadikan umat sastra dan teater di Indonesia untuk (semakin) mengenali Thorton Wilder.

Dua pengarang tak mendapat halaman pengenalan atau dimunculkan dengan foto di Ensiklopedia Sastra Dunia. Dua nama itu cuma ada di daftar peraih Nobel Sastra dan Pulitzer Prize. Kita tak usah menggugat Anton Kurnia atas pengabaian dua pengarang besar asal Swedia dan Amerika Serikat. Kita mendingan menuliskan profil mereka di kertas lalu menaruh di sela-sela halaman buku.

Sejak mula, Anton Kurnia sudah menginsafi: “Buku semacam ini tentu juga akan memicu kontroversi—mengapa penulis ini tidak dimasukkan…” Pengerjaan Ensiklpoedia Sastra Dunia memiliki patokan-patokan belum tentu dimufakati para pembaca. Anton Kurnia pun mengingatkan bahwa pemilihan pengarang ditentukan pencapaian dan pengaruh buku-buku dalam peta sastra dunia. Pekerjaan serius dan besar sudah dipersembahkan ke pembaca. Kita mengaku “untung” saja ketimbang sewot tapi malas mencari informasi-informasi tambahan. Begitu.  


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi. Penulis di pengenangpuisi.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *