Cerpen

Perawan Rumah Suci

November 16, 2021

Cerpen Romi Afriadi

“Kalau kau nanti jadi biarawati, pasti kita akan jarang bertemu.”

Eben Mare masih mengunyah lepat yang dilahapnya dengan nikmat. Itu sudah bungkus keempat yang ia tandaskan. Eben Mare memang merasa terpukau dengan tampilan lepat yang dibungkus daun pisang dan menemukan isi yang manis dari parutan kelapa di dalamnya. Ia menikmati semenjak dulu pertama kali mencicipinya. Tapi itu tak mampu mengusir sendu di matanya.

“Bukannya kamu juga mau jadi polisi, wajar saja kita akan jarang bertemu.”

Estin, gadis di sebelahnya menjawab. Bedanya, gadis itu mengucapkannya dengan intonasi biasa. Tak ada penekanan berlebihan, layaknya Eben Mare barusan. Sebab, semenjak lama ia sudah menanti dengan sepenuh hati kesempatan menjadi biarawati di Rumah Suci. Mengabdi di gereja, menjadi pelayan Tuhan dengan meninggalkan semua kehidupan duniawi.

“Apakah kau akan balik lagi ke sini setelah jadi biarawati?”

Estin menggeleng, bukan karena ia menjawab tidak, tapi tepatnya entahlah.

Ingatan Eben Mare malah berpulang pada tahun-tahun nan lampau. Saat mereka sama-sama baru tiba di kota ini, dan tempat ini baru hitungan sebelah jari mereka datangi. Estin pernah bilang, bahwa kota ini tak memberinya kesan yang baik. Hanya ada tanah gersang yang penuh minyak, air jernih yang susah didapat, hawa panas yang menyengat, laut yang tak menyimpan banyak ikan. Kalau pun ada yang ada pantas ia banggakan, adalah pelabuhan internasionalnya yang dihinggapi banyak kapal, yang senantiasa pula memuntahkan dan menelan ratusan orang dari segala penjuru. Agaknya waktu tak jua mampu mengubah penilaian Estin.

“Kalau aku sepertinya akan tetap kembali ke sini, setidaknya sekali setahun saat perayaan Natal,” ujar Eben Mare tanpa didahului pertanyaan apa pun, suaranya masih sendu.

Estin paham, orang tua Eben Mare sejak tahun lalu memang memilih menjadi warga tetap kota ini. Saat jabatan ayahnya semakin penting di kantor syahbandar, mereka sepakat untuk meletakkan kota ini sebagai bagian dari masa depan. Berbeda dengan Estin yang tinggal di kota ini dengan pamannya. Sejak kedua orangtuanya meninggal secara tragis lewat insiden berdarah di negeri ini nyaris dua dekade lalu. Rumah dan toko mereka dibakar oleh orang-orang dengan wajah mendendam. Belakangan, Estin tahu, wanita yang sebangsa dengannya juga diperkosa ketika itu. Momen itu membuat kehidupan Estin berpindah-pindah dengan keluarga pamannya.

“Apa kau tak ingin mengunjungi tempat ini lagi?”

Estin tahu kesedihan Eben Mare. Sejenak ia menatap wajah Eben Mare yang masih mengunyah lepat, tapi kali ini dengan kunyahan yang payah.

“Kamu udah mau jadi polisi kok masih cengeng.”

“Aku tahu kamu tidak punya banyak alasan untuk kembali ke kota ini,” balas Eben Mare mengabaikan pendapat Estin.

“Tenang saja. Jika memungkinkan, aku akan tetap kembali ke sini. Menjenguk paman dan bibi, mengunjungi sepetak tanah kosong ini, lalu sekalian menemuimu.”

Kali ini Eben Mare menatap dengan mata berbinar, lebih-lebih saat didapatinya Estin tersenyum. Senyum yang pertama kali ia lihat di minggu-minggu pertama ia datang ke kota ini. Ketika itu, Eben Mare nyaris tak punya teman, ia kerap dikucilkan, dianggap tak layak bergabung dengan teman sebayanya karena statusnya yang bukan anak asli sini. Sementara Estin menjadi manusia linglung karena tak ada satu pun dunia yang sanggup menghiburnya. Bagaimana pun, Estin masih sukar menerima kenyataan, ia telah jauh meninggalkan teman-teman sepermainannya di Tapanuli.

“Sore saat dulu pertama kali kau menemukan aku di sini, kau persis tersenyum seperti sekarang.”

Estin jadi tertawa kecil mendengarnya, ia membenarkan letak anak rambutnya yang dikibas angin. Estin mengingat sore itu, hari paling berkesan baginya sejak menjejak kaki di kota ini karena menemukan kawan seperjuangan. Pada sebuah tanah kosong yang ditumbuhi ilalang, persis di sebelahnya ada lapangan sepakbola.

“Kenapa kamu tak ikut main,” tegur Estin. Dulu.

Eben Mare menoleh sebentar, tapi tak langsung menyahut.

“Biasanya anak lelaki yang tak ikut main bola itu anak yang cengeng,” lanjut Estin.

“Katanya aku ini anak baru, belum bisa ikutan main,” jawab Eben Mare dengan mata nyalang. “Awas saja! Aku akan buat perhitungan dengan mereka semua.”

Itulah saat Eben Mare melihat Estin remaja tersenyum. Senyum yang mengubah dunia Eben Mare sesudahnya.

***

Malam itu Eben Mare memutuskan untuk tidak pergi ke gereja mengikuti misa malam Natal, ia justru memilih berkunjung ke sepetak tanah kosong itu. Ilalang-ilalang sedang meninggi, rumput di lapangan bola juga ikut memanjang. Dari situ, Eben Mare bisa mendengar nyanyian-nyanyian kudus bersenandung memuji Tuhan di gereja. Berpadu pula dengan suara azan yang baru saja usai memanggil-manggil jamaah melaksanakan Isya.

Ini tahun kelima semenjak mereka sama-sama meninggalkan kota ini. Estin pergi dan mengabdi pada salah satu Paroki Keuskupan di Bandung. Sementara Eben Mare merintis karier menjadi polisi.

Rencana Eben Mare untuk sekadar merayakan Natal bersama Estin tak kunjung terealisasi sejak itu. Setiap tahun, ada saja hambatan yang memaksa mereka harus berjauhan. Eben Mare sebisa mungkin memang meminta cuti libur pada perayaan Natal, dan memilih balik ke kota ini. Cuma sekali ia tak pulang, karena pada tahun itu ia jadi saksi dalam persidangan seorang pejabat yang tertangkap oleh KPK. Sialnya, pada tahun itulah Estin memilih kembali, berselang beberapa hari setelah pamannya meninggal.

“Barangkali kau telah lupa tempat itu.”

Eben Mare pernah mengirim pesan pendek pada Estin di handphone-nya. Sebulan kemudian, barulah jawaban muncul.

“Aku bukannya tidak mengingat, tapi kesibukan di gereja benar-benar memangkas hubunganku dengan dunia lain.”

Kadang Eben Mare sering bingung, untuk apa ia masih menanti kedatangan Estin yang nyaris mustahil. Ia paham, menjadi biarawati berarti mencabut semua urusan lain selain yang berkenaan dengan Tuhan. Itulah mengapa Eben Mare kadang benci dengan pilihan Estin. Pada kenyataannya, kondisi itu mengharuskan impian-impian yang dulu dicanangkannya serasa hambar. Eben Mare kadang berpikir, Tuhan merampas Estin darinya.

“Kau tahu, menjadi biarawati merupakan keinginanku sejak lama,” akui Estin dalam salah satu pesannya.

Eben Mare masih tak mengerti dan tak ingin memahami keputusan itu. Baginya, menjadi biarawati berarti mengisi hari-hari dengan kehampaan sekaligus kesunyian. Betapa hidup akan sangat monoton. Sejak kecil, ia memang merasa bukanlah manusia yang taat. Jarang berkunjung ke rumah Tuhan, meski orangtuanya selalu mewanti-wanti tiap Minggu pagi.

Jika sampai Estin memutuskan mengucapkan janji kaul untuk menjadi suster abadi, otomatis ia tak akan menikah seumur hidup. Entah mengapa, Eben Mare merasa hidupnya serasa sial kalau sampai itu terjadi.

“Proses menjadi biarawati abadi itu sungguh panjang.” Tetiba Eben Mare jadi ingat salah satu perkataan Estin. “Pertama harus masuk masa Aspiran dan Postulan, semacam masa persiapan, lamanya masing-masing setahun. Setelahnya baru masuk masa Noviciat, katanya pada saat itu para suster akan dibekali bagaimana hidup dengan doa dan bermeditasi.” Panjang lebar Estin menerangkan. Tak satu pun dipahami Eben Mare. “Nah! Setelah itu barulah para biarawati mengucapkan kaul perdana dan dianggap sebagai anggota resmi biara.”

Eben Mare tidak akan terkejut jika Estin akan mengejar keinginannya menjadi suster abadi. Apalagi sekian hari, Eben Mare merasa Estin kian berjarak dengannya. SMS-nya lebih sering diabaikan. Termasuk pesannya terakhir sebelum pulang kemarin. Niatnya untuk mengajak pulang Estin bersama tak pernah mendapat jawab, meski Eben Mare terus menunggu hingga ruang tunggu bandara.

***

Sehari setelah perayaan Natal usai, Eben Mare memutuskan untuk kembali ke kantor, lebih cepat dari jatah cuti yang didapatnya. Tapi saat melangkah keluar rumah, Eben Mare dihadang saudara sepupu Estin sambil mengulurkan amplop.

“Kak Estin mengirim surat untuk Bang Eben.”

Eben Mare menerima surat itu, membacanya lekas.

Semoga kebaikan selalu menaungi kita.

Aku tidak tahu berapa lama lagi sanggup berada di biara ini. Sepertinya memang bukan di sini tempat terbaik untukku melanjutkan hidup. Maaf Eben, aku tidak pernah jujur padamu. Aku tahu semenjak dulu kau tak pernah suka dengan ide aku menjadi biarawati. Ternyata kau benar, meskipun barangkali, apa yang aku alami di biara sama sekali tak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya. Biara tak ubahnya tempat bersemayamnya seorang pastor bermuka dua. Di saat tertentu ia menjadi imam para jemaat, tapi di lain kesempatan ia menjelma serigala yang merenggut kehormatan para suster.

Ya, aku sekarang bukan lagi orang yang suci, Eben. Bertahun-tahun aku disuruh bungkam, sembari terus melayani nafsu bejat seorang pastor. Gerak-gerikku selalu dimatai, bahkan aku dilarang berkomunikasi dengan siapa pun di dunia luar.

Jika surat ini sampai kepadamu, itu tandanya petugas keamanan di gereja ini berhasil menyelundupkan dan mengirimnya dengan baik. Barangkali ia merasa iba denganku, dan aku bersyukur setidaknya masih ada orang baik di sini..  

Aku merasa berada di neraka saat ini.

Ada yang basah di mata Eben Mare. Ia meremas surat itu sebelum melemparkan ke bandar depan rumah. Terngiang lagi percakapannya pada Estin.

“Kalau menjadi biarawati, berarti selamanya kau akan jadi perawan?”

Estin hanya menanggapi dengan senyuman kala itu. Tapi sekarang air mata Eben Mare justru makin deras menetes, tersebab kesedihan sekaligus kemarahan. Sebab sekarang Estin bukan lagi perawan, dan itu justru tanggal di rumah suci. ***


Romi Afriadi, dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau, pada tanggal 26 November. Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Beberapa cerpen dan tulisannya pernah tayang di media online dan cetak. Saat ini, penulis tinggal di kampung kelahirannya sambil mengajar di MTs Rahmatul Hidayah, dan menghabiskan sebagian waktu dengan mengajari anak-anak bermain sepakbola di SSB Putra Tanjung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *