Cerpen

Percakapan Dua Ikan

December 1, 2020

Cerpen M.Z Billal

Dari rumahku, sekitar 35 kilometer, kita akan berhenti di perempatan. Makan siang di salah satu kedai yang menghadap langsung ke Tugu Patin yang elegan dan kokoh, berdiri pada bundarannya. Tugu itu adalah monumen kebanggaan kota Pematang Reba sebagai kota administratif di Indragiri Hulu. Dari kedai itu pula nantinya, kau bisa melihat dengan jelas sepasang ikan patin itu terlihat berenang riang saling bercengkerama satu sama lain di bawah naungan setangkai seroja merah muda. Membuatmu merasa seperti ikut berenang di dalam Sungai Indragiri yang cukup permai untuk disusuri. Namun belakangan, sayangnya sungai itu kian hari makin dangkal akibat penambangan pasir liar. Hal itu juga mengakibatkan pemukiman di sepanjang tepi sungai menjadi langganan banjir bila musim hujan tiba.

“Wah, kau memilih tempat dengan angle yang bagus untuk memandang tugu itu secara detail,” katamu saat kita baru saja duduk di dalam kedai seraya memesan masakan khas kotaku, yakni asam pedas ikan patin.

“Tentu saja. Sudah kukatakan padamu, aku tidak akan membuatmu kecewa bila mampir ke sini?” Aku tertawa kecil sambil memperhatikan sepasang matamu yang masih asyik memandangi tugu itu. “Apa kau mau berfoto di dekat tugu itu?” tanyaku kemudian.

“Ya ampun, aku senang sekali bila kau mau mengambil gambarku di sana! Itu akan jadi kenangan yang tidak terlupakan.” Kau kegirangan. “Tapi, pasti mengganggu kendaraan yang lewat.”

“Ah, tidak kok.” Aku cepat-cepat membuatmu merasa yakin. “Aku akan mengantarmu ke pinggir bundaran tugu itu, lalu aku mengambil gambarmu dari seberang jalan. Nanti kita atur pose yang bagus. Bagaimana?”

“Baiklah, aku akan menurut kata sang fotografer biar hasilnya bagus. Hehe.” Kau tersenyum ketika pelayan membawa hidangan makan siang yang kita pesan.

Sungguh, sampai detik ini aku masih tidak menyangka kalau kau benar-benar di hadapanku. Kau datang dari kota jauh untuk menemuiku. Padahal kita hanya berkenalan melalui sosial media Instagram. Bahkan bahan percakapan kita di sana pun tidak lebih dari seputar destinasi wisata, buku-buku yang kita sukai, atau sesekali kau menunjukkan artikel-artikel bagus yang kau tulis untuk media tempatmu bekerja, sementara aku memperlihatkan foto-foto hasil bidikanku di beberapa tempat yang pernah kukunjungi.

Aku berharap setidaknya kau akan menyukai salah satu hasil jepretanku yang masih amatiran. Aku bilang begitu karena aku yakin hasil foto buatanmu jauh lebih bagus, mengingat kau seorang jurnalis, sementara aku cuma tukang foto serabutan yang mencintai lanskap alam, bukan seorang fotografer. Pekerjaanku sebenarnya menjaga toko alat tulis dan fotokopi yang kurintis sendiri.

Entah apa yang membuat seorang sepertimu bisa serius menanggapi aku yang tidak terkenal. Bahkan benar-benar berkunjung ke kotaku ini.

Memang, kau punya alasan kuat untuk sampai kemari. Kau bilang ingin mencari inspirasi untuk artikel barumu. Sebab jiwa petualangmu merasa terpanggil meski kau  seorang perempuan. Tetapi, sekali lagi, aku betul-betul masih tidak menyangka itu akan sungguh terjadi. Aku sampai merasa sangat gugup mempersiapkan diri untuk menyambut kedatanganmu tatkala kau tiba-tiba mengirimi aku pesan di Instagram, bahwa kau akan datang ke tempatku. Aku jadi serba salah, takut kau kecewa karena aku tidak sekeren yang kaubayangkan ketika kita saling memuji di ruang chatting.

“Luar biasa! Ini masakan yang sangat lezat!” katamu sambil menyendokkan kuah asam pedas patin ke mulutmu.

“Apa kau betul-betul tidak pernah merasakan masakan ini?” tanyaku.

“Mungkin pernah. Aku tidak begitu ingat,” jawabmu seraya tersenyum. “Tapi yang kucoba sekarang ini benar-benar enak. Aku tidak merasa mual, padahal yang kutahu bau amisnya ikan patin cukup menyengat.”

“Wah, kau mahir juga menilai masakan.” Aku merasa senang bisa memujimu secara spontan. Kau langsung terlihat malu-malu. Kupikir jurnalis sudah kehilangan esensi malu-malu karena terlalu sibuk mengejar berita dan artikel yang dikejar tenggat waktu.Terlebih saat yang diburu berita-berita kriminal atau bencana alam.

“Aku tampak seperti juri Master Chef, ya?” Kau terkekeh. Membuat dadaku tiba-tiba dipenuhi perasaan yang tidak biasa. Ingin kukatakan tapi aku sendiri tidak tahu harus bilang apa. Jadi aku cuma bisa ikut terbawa dalam tawa kecilmu. Maka kutambahkan saja bahan candaan serupa agar suasana semakin santai. “Asal kau tidak salah membedakan gula dan garam tanpa mencobanya, kau sangat cocok jadi juri.”

Lalu kita saling diam. Menikmati menu masakan jelang siang di kedai sembari sesekali melempar pandangan ke arah orang-orang yang masuk dan keluar. Makin siang, warung makan semakin bertambah ramai. Suhu ruangan pun semakin hangat. Karena matahari bersinar cerah sekali hari ini.

“Eh, setelah ini kau mau ajak aku ke mana tadi? Aku lupa,” katamu membuka percakapan lagi.

“Danau Raja. Tempat pemandian para putri Raja Indragiri zaman dulu.”

“Wah, keren! Aku sempat melihat danau itu di internet kemarin. Nanti sekalian kauceritakan ya tentang kota itu. Biar aku tidak repot-repot membuka laman internet. Hehe.”

“Aku kurang tahu banyak,” jawabku sambil membalas senyumanmu yang manis berulang kali. “Tapi aku akan tetap cerita semua yang kuketahui. Aku yakin sekali, sepotong cerita yang kututurkan pasti bisa kautulis sebanyak lima lembar A4.”

Tiba-tiba tawamu meledak. Sampai membuat orang-orang di dekat kita menoleh dan merasa aneh. Aku sungguh tidak menyangka kau benar-benar tertawa karena kalimat yang kukatakan. Padahal aku percaya eksistensimu sebagai jurnalis, bukan untuk bercanda. Namun melihatmu tertawa lebar, aku jadi merasa sangat nyaman. Ya ampun, aku berhasil menaruh sesuatu yang menyenangkan di dalam hatimu. Aku jadi merasa kita mirip patung sepasang ikan patin yang berdiri artistik di pusat kota Pematang Reba ini. Kita saling bercengkerama apa saja yang membuat kita akrab dan saling mengisi satu sama lain. Hanya saja, kupikir kau bukanlah ikan patin betina di perairan Sungai Indragiri ini. Kau adalah seekor ikan dari perairan jauh yang singgah sejenak kemari. Mengunjungi aku, ikan asli penghuni kedalaman Sungai Indragiri.

“Baiklah, selepas salat Zuhur nanti, kita langsung ke Rengat ya. Tapi sebelumnya kau harus memotretku di dekat Tugu Patin itu. Aku betul-betul tidak sabar pamer foto bagus di Instagram-ku. Kalau bisa kita foto bersama.”

Mendengarmu mengajak aku foto bersama. Dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya. Saking senangnya aku ingin cepat-cepat keluar dari kedai dan memotretmu. Bahkan ketika ponselku berdering aku sampai tidak dengar. Padahal itu telepon penting dari seorang teman. Ah, perasaan suka kadang benar-benar membuat orang-orang kehilangan daya fokusnya.

Selesai makan kita langsung keluar. Aku memotretmu dan kita berfoto bersama. Mulai dari pose-pose yang bagus sampai kepada ekspresi yang lucu. Kita memastikan  apa yang kita lalui pada hari ini adalah cerita-cerita yang layak dikenang untuk waktu yang tidak terbatas. Sampai akhirnya kita tiba di tepian Danau Raja yang sejuk dan aku mulai bercerita tentang sejarah kota bertuah ini. Kau tampak betul-betul mendengar seluruh yang kututurkan, hingga tanpa sengaja aku mengucapkan kalimat yang seharusnya tidak boleh kuucapkan. Sepertinya aku telah mengacaukan suasana.

“Aku betul-betul senang sekali bisa bertemu denganmu, bahkan bisa menceritakan tentang kota ini. Aku berharap kau tidak pergi dan kita bisa berbincang lebih banyak lagi.”

Kau diam sejenak. Mengalihkan pandangan kepada gulungan ombak kecil di tengah danau. Menatap perahu mesin membawa beberapa pengunjung berkeliling dan menikmati sensasi mengambang di atas Danau Raja yang indah.

“Aku juga sangat senang bisa bertemu denganmu. Aku tidak salah memilih teman, meski lewat sosial media. Kau sangat ramah. Kota ini pun membuatku betah dan ingin tinggal lebih lama.” Kau mengatakan sesuatu yang membuat perasaanku tenang. “Tapi, sungguh maaf, aku tidak mungkin berada di sini. Kau akan selalu jadi salah satu teman terbaikku. Lain waktu aku akan kembali, atau saat kau mampir ke kotaku, aku akan mengajakmu berkeliling sampai puas.”

Aku mengangguk seraya tersenyum dan merasa lega. Tentu saja aku tidak bisa memaksamu, begitu pun dengan perasaanmu. Itu sikap yang konyol. Kupikir, dengan menyukaimu secara rahasia akan membuat hubungan ini akan baik-baik saja. Bukankah menjadi teman artinya kita bisa bebas menyatakan rasa suka?

“Hei, maukah kau naik perahu itu juga? Ayo!” Ajakmu seraya menarik tanganku.

***

Pagi-pagi sekali, di hari Minggu yang cerah, kau tiba-tiba mengirimi aku pesan melalui Whatsapp. Kau bilang: Kau harus baca ini! Kita keren!

Di bawah pesanmu tertera tautan sebuah laman online. Aku tahu betul itu laman berita resmi tempatmu bekerja. Tanpa pikir panjang segera kuklik tautan itu. Betapa tidak kusangka, foto-foto kebersamaan kita kau lampirkan sebagai foto pendukung artikel yang kautulis. Rasanya dadaku berdebar semakin cepat. Aku terharu, aku senang sekali, aku tidak tahu mau bilang apa. Aku semakin ingin pergi ke kotamu. Terlebih saat kaukutip sepenggal puisi yang kutulis di buku catatan kecilmu pada bagian akhir artikelmu. Hal itu semakin membuatku rindu ingin bertemu.

“Kita adalah sepasang ikan. Pembicaraan kita puitis. Nanti kita saling merindukan. Meski kita berenang di sungai yang berbeda.”**


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Karyanya termaktub dalam kumpulan puisi Bandara dan Laba-laba (2019, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali), Membaca Asap (2019), Antologi Cerpen Pasir Mencetak Jejak dan Biarlah Ombak Menghapusnya (2019). Karyanya tersebar di koran dan media daring. Fiasko (2018, AT Press) adalah novel pertamanya. Bergabung dengan Community Pena Terbang (COMPETER), Komunitas Pembatas Buku Jakarta, dan Kelas Puisi Alit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *